Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Keberanian Ariel Membawa Laras Masuk Ke Dalam Istananya


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Luna pun pamit pergi. Tadi malam, Ariel pulang jam tujuh malam, dan Luna sudah menjelaskan semuanya, bahwa hari ini ia akan pulang ke kampungnya dan membawa dua asisten rumah tangganya beserta sopir pribadinya. Awalnya Ariel keberatan, pasalnya ia ingin menemani Luna pulang, tapi ia gak bisa meninggalkan Laras gitu aja, terlebih di sini ia banyak pekerjaan. Ia merasa khawatrir jika membiarkan Luna pergi tanpanya, walaupun Luna membawa dua ART dan sopir pribadi, tetap aja sebagai suami ia merata khawatir dan was-was. Namun Luna berusaha meyakinkannya dan Ariel pun mengangguk setuju. Ariel juga menyarankan Luna pakai pesawat aja, tapi Luna menolak karena ingin pergi jalan-jalan dulu dan mampi di beberapa tempat. Karan Luna memasang wajah manis dan seperti memohon, hingga terlihat menggemaskan, Ariel pun mengangguk setuju dan hanya meminta agar Luna sering-sering kasih kabar dan Luna pun mengangguk setuju.


"Sayang, kamu hati-hati ya, dan harus sering-sering kasih kabar ke aku," ucap Ariel sambil memeluk Luna. Andai boleh melakukan sesuatu, Luna ingin rasanya mendorong tubuh Ariel karena ia jijik di peluk seperti itu. Namun ia harus bisa menahannya, agar Ariel tak curiga.


"Iya, Mas. Sejam sekali akku akan kasih kabar buat kamu."


"Beneran ya, kalau aku nelfon juga harus langsung di angkat," ujarnya lagi.


"Iya, Mas," jawabnya yang sudah merasa jengah.


"Bibi Imah, Bibi Neni, Dion. Saya titip Luna ya, jagain dia, kalau Luna ada apa-apa, kalian bertiga yang akan saya salahkan," ucap Ariel menitpkan istrinya itu.


"Iya, Tuan. Kami akan menjaga Luna dengan baik," sahut mereka bertiga bersamaan.


Setelah drama panjang yang memuakkan itu, akhirnya Luna pun bisa lepas dari suaminya itu. Luna segera pergi bersama mereka bertiga. Luna duduk di depan samping Dion. Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni, duduk di kursi belakang. Awalnya Ariel cemburu karena Luna memilih duduk di belakang, tapi karena Luna punya alasan ingin lihat pemandangan di depan, lagi-lagi Ariel mengalah, toh mereka gak akan melakukan apapun, karena ada dua ART nya yang ikut. Dan ia juga yakin, Luna gak mungkin mengkhianati dirinya.


Setelah itu, Dion pun mulai mengemudikan mobilnya setelah ia pamit kepada Ariel, Dion bisa melihat wajah Ariel yang tampak keberatan, namun Ariel gak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam aja, membiarkan istrinya di bawa olehnya.


Sepanjang jalan, Luna merasa sangat bahagia sekali, seakan ia bisa lepas dari banyak beban selama ini. Dion pun bisa melihat wajah Luna yang kemballi cerita setelah beberapa hari ini terlihat sendu. Bibi Imah dan Bibi Neni pun ikut bahagia dengan keceriaan Luna.


"Nanti kita mampir di warung lesehan ya, aku pengen makan nasi lalapan sama ikan lele, enak kayaknya," ucap Luna padahal mereka berangkat baru dua puluh menit.


"Iya, Non," jawab Dion yang gak bisa membantah ucapan majikannya itu.


"Kalau kalian ingin makan yang lain gak papa, bisa request kok," tutur Luna.


"Bibi mah apa aja di makan Non, pokok halal," balas Bibi Imah.

__ADS_1


"Sama Non. Bibi juga yang penting nasi aja, biar kenyang," sahut Bibi Neni.


"Kalau saya apa aja di makan Non, saya mah suka selagi halal dan mengeyangkan," jawab Dion.


Luna pun mengangguk setuju, dia senang bisa pergi bareng mereka bertiga, karena bagi Luna, hanya mereka bertigalah yang tulus menyayangi dirinya, ah sama mertuanya juga yang sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Laras merasa senang saat tau jika Luna sudah pergi lebih dulu ke kampungnya. Tanpa menunggu waktu lama, Laras pun mengunjungi Ariel di rumahnya. Yah, dari pada tidur di hotel atau di kontrakannya, mending Laras menginap di rumah Ariel yang benar lagi akan jadi suaminya itu.


"Sayang," panggil Laras sambil membuka pintunya. Ariel yang tengah ada di ruang tamu langsung tersenyum senang dengan kedatangan kekasihnya itu. Ariel sudah mematikan semua CCTV utama, namun tanpa Ariel sadari, Luna sudah menyimpan kameran kecil di setiap sudut ruangan, sehingga Ariel tak akan mengetahuinya.


Laras langsung memeluk Ariel dengan erat.


"Aku kangen," ucap Laras menja.


"Sama, maaf ya aku gak bisa datang ke tempat kamu."


"Ya, dan setelah itu, kita baru berangkat bareng ke kampung untuk memeriahkan ulang tahun Luna. Kamu sudah siap buat memberitahu Luna dan apa kamu yakin dia akan menerima hubungan kita?" tanya Ariel masih ragu.


"Ya, aku sangat yakin. Aku kenal Luna dari remaja, tentu aku tau banyak tentangnya. Aku yakin dia akan nerima aku karena dia sangat menyayangi aku, terlebih aku ini sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Karyawan Resto nanti ke sana naik apa?"


"Pakai travel, Luna yang sudah memesan semuanya dan menyiakan keberangkatan mereka semua."


"Oh, terus kita naik apa?"

__ADS_1


"Naik pesawat aja, biar aman. Kalau naik mobil, travel atau kereta, takutnya akan membuat kandungan kamu kenapa-napa," ucap Ariel dan Laras pun menganggukkan kepala. Ia setuju dengan pendapat kekasihnya itu. Bagaimanapun saat ini kehamilannya yang akan menjadi sumber kebahagiaannya dan menjerat Ariel agar terus berada di sisinya. Tentu, ia akan menjaganya sebisa mungkin, agar tak terjadi apa-apa.


"Kamu sudah makan?" tanya Ariel.


"Belum."


"Mau makan apa?"


"Apa aja," jawab Laras tersenyum manja sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Ariel.


"Tadi Bibi Imah sudah masak, dan masih sisa banyak. Kamu mau?" tanya Ariel.


"Tapi aku gak suka sisa-sisa," ucap Laras merajuk.


"Bukan sisa-sisa. Bibi Imah sengaja masak banyak soalnya aku siangnya akan makan di rumah. Itulah alasan dia masak banyak, jadi itu bukan sisa."


"Baiklah, aku mau. Tapi suami ya," ujarnya dengan mengembungkan pipinya membuat Ariel gemas di buatnya. Ia mencubit pipi Laras. "Sakit," ujar Laras sambil memegang pipinya yang di cubit oleh Ariel.


"Habisnya kamu gemesin banget. Ayo kita ke ruang makan."


"Malas jalan. Gendong," tuturnya yang masih bersikap manja. Ariel pun tanpa mengeluh langsung menggendong Laras ala bridal style. Sesampai di ruang tamu, Ariel menaruh Laras ke kursi makan dengan pelan, ia takut jika akan menyakiti buah hatinya yang saat ini masih ada dalam perut Laras. Ariel mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Lalu seakan tau apa yang harus ia lakukan, ia pun menyuapi Laras dengan lembut.


Laras sendiri merasa bahagia, andai ia bisa menjadi istri Ariel. Mungkin ia akan jadi wanita sempurna, apalagi jika Luna pergi dari hidupnya. Ia akan menjadi ratu di rumah ini dan juga ratu di hati Ariel. Tanpa harus berbagi apapun dengan Luna. Laras sadar, dirinya sudah melakukan banyak kejahatan tapi ia hanya ingin mencicipi sedikit kebahagiaan yang Luna punya. Ia hanya ingin merasakan apa yang Luna rasakan. Ia gak ingin merebutnya, ia hanya ingin Luna berbagi kebahagiaan kepadanya.


Laras juga yakin, jika pun Luna tau dirinya adalah selingkuhan suaminya. Luna pasti akan memaafkannya karena dirinya adalah sahabat terbaik yang Luna miliki saat ini. Jadi Luna gak mungkin tega memisahkan dirinya dengan Ariel terlebih saat ini ia tengah mengandung bayi Ariel.


Ariel terus menyuapi Laras dengan lembut. Ia seakan lupa dengan Luna yang saat ini lagi perjalanan menuju kampung. Ia terlalu senang dengan kehadiran Laras sampai lupa dengan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2