Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Luna Vs Lintang


__ADS_3

Sesampai di depan rumahnya, Luna langsung berlari masuk memanggil manggil nama Ayahnya. Namun tak ada yang menyahutnya, saat ia melihat Bunda Naila, ia langsung menghampirinya.


"Bun, Ayah mana?" tanyanya.


PLAK


Bunda menampar Luna dengan keras, bahkan Luna sampai tercengang di buatnya, ini pertama kalinya sang Bunda menampar dirinya, dari kecil, ia bahkan tidak pernah mendapakan kekerasan apapun dari orang tuanya, tapi sekarang, Luna tidak menyangka, dan benar-benar gak menyangka, bahwa ia akan mendapatkan tamparan pertama kalinya bahkan setelah ia dewasa dan menjadi seorang Ibu.


"Bunda," gumam Luna pelan sambil memegang pipinya yang terasa perih dan panas.


Bunda kecewa sama kamu, Lun. Kecewa. Kamu sudah membunuh Ayahmu, kamu sudah bikin Ayah meninggalkan kita semua, kamu pembunuh!" teriaknya membuat Luna menggelengkan kepalanya


Ia tak mengerti kenapa Bunda Naila mengatakan dirinya pembunuh, apa yang sudah diriinya lakukan hingga membuat Bundannya murka seperti ini. Sedangkan dirinya bahkan tidak merasa melakukan kesalahan apapun, ia bahkan bekerja siang malam tanpa melakukan hal hal yang menjatuhkan harga dirinya maupun keluargaya.


Tapi kenapa, kenapa ia melihat tatapan Bundannya penuh dengan kekecewaan dan kemarah yang besar.


"Bunda apa yang terjadi, kenapa Bunda menampar aku? Kenapa Bunda mengatakan aku pembunuh?" tanyanya dengan deraian air mata yang mengalir deras.


"Karena ...." saat Bunda Naila ingin mengatakannya, ia melihat Lintang yang masuk ke dalam rumah. Bunda Naila pun memilih diam dan pergi begitu saja, ia tak mungkin mengungkapkan semuanya di depan  putranya itu. Walaupun ia kecewa pada pada Luna, tetap saja, ia tak akan membiarkan dua buah hatinya itu saling bersinggungan. Saling bermusuhan satu sama lain.

__ADS_1


Melihat kepergian sang Bunda, membuat Luna bingung tak mengerti.


"Aku fikir Mbak lupa jalan pulang," sindir Lintang.


"Maksud kamu apa?" tanya Luna tak terima.


"Mbak berhari-hari gak ada kabar, membuat semua orang kebingungan. Dan sekarang muncul bahkan setelah Ayah sudah ada di dalam tanah," balasnya sengit.


"Aku gak tau kalau Ayah sudah tiada," ujarnya. "Kalau aku tau, aku pasti akan pulang, bukan malah sibuk mengurus resto," imbuhnya lagi.


"Kenapa, Mbak? Kenapa Mbak Luna berubah? Kenapa?" tanyanya dengan wajah penuh kecewa.


"Berubah bagaimana, maksudmu Lintang?" ia ingin sekali meraung raung, merasa lelah, lelah fisik dan lelah fikiran.


"Mbak sudah di perpebudak oleh uang Mbak. Sadar gak sih Mbak, gara-gara harta terku-tuk itu, banyak hati yang tersakiti. Banyak hati yang terluka, Kak Dion, Kedua orang tuanya  Kak Dion, Bunda dan juga aku. Aku bahkan ikut terdampak dari sifat Mbak yang selalu fokus dirinya Mbak sendiri dan mengabaikan yang lain. Bahkan Ayah ... " Lintang tak berani meneruskannya, bukannya dia tidak tau, dia sudah tau penyebab Ayahnya meninggal. Namun entah kenapa lidahnya kelu saat ingin mengungkapkan sesuatu pada Luna.


"Ahh, sudahlah. Percuma, kita berdebat keras pun, Ayah gak akan kembali. Bahkan jika aku harus membunuh Mbak Luna, tidak akan membuat Ayah kembali sama aku," ujarnya dengan sendu.


Mendengar hal itu, Luna semakin tidak mengerti. Sebenarnya apa kesalahan dirinya, apakah karena dirinya bekerja siang dan malam, lalu apa hubungannya dengan semua ini?

__ADS_1


"Aku bahkan baru tau jika Ayah sudah tiada, tapi kenapa, semua orang menyalahkan aku?" tanyanya dengan suara lemah.


"Kenapa? Mbak masih tanya kenapa? Mbak sadar gak sih, Mbak sudah melupakan Kak Dion. Sekarang aku tanya, berapa kali Mbak melayani Kak Dion, Hah! Gk usah melayani dalam artian melakukan hubungan badan, Mbak pernah gak masakin Kak Dion, sekali aja. Pernah gak? Pernahkah Mbak Luna melayani Kak Dion menyiapkan sarapan paginya, menyiapkan baju kerjanya. Pernahkan sekali aja, Mbak Luna memikirkan Kak Dion, dia itu suamimu Mbak. Yang harus kamu hormmati, yang harus kamu layani. Tapi apa, Mbak terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai abai terhadap tugasmu Mbak." ujar Lintang, sedangkan Bunda Naila yang ada di dalam kamar hanya diam menangis mendengar pertengkaran kedua buah hatinya itu.


"Pernahkah Mbak berfikir sekali aja, jika Mbak ada di posisi Kak Dion. Pulang kerja, tapi tidak ada yang menyambutnya. Bahkan tidak ada yang bisa menghiburnya untuk melepas rasa lelah, setiap malam dia bahkan tidur seorang diri. Mbak juga jangankan melayani suamimu Mbak, bahkan mengangkat telpon dari Kak Dion, pun juga enggak. Chat pun gak di balas. Maumu apa Mbak? Kalau emang Mbak gak siap jadi istri, seharusnya mbak tolak aja lamarannya, dari pada jadi istri tapi malah abai seperti ini. Sama aja Mbak menumpuk dosa." tutur Lintang dengan setumpuk emosi yang rasanya ingin di tumpahkan saat ini juga.


Luna masih diam dan tidak mengerti, dia emang salah karena sudah mengabaikan suaminya, tapi ada sesuatu yang harus dia perjuangkan. Dia hanya minta waktu sebentar agar bisa fokus mengurus resto, setelahnya ia berjanji akan menjadi istri yang taat pada suami, kenapa dirinya selalu saja di salahkan. Bahkan di saat ia berjuang seorang diri pun, tak ada yang membantunya sama sekali, termasuk suaminya, jangankan bantu dalam hal materi, bantuan dalam memberikan ide dan jalan keluar pun gak di kasih. Suaminya seakan tak ingin dirinya memajukan resto itu kembali, namun dirinya yang melihat sendiri perjuangan Ariel dalam membangun resto itu tak akan membiarkan resto begitu saja, jatuh bangkrut, terlebih itu bisa buat putrinya kelak.


Dion emang memberikan uang bulanan, tapi bukan untuk di gunakan buat resto, melainkan untuk masuk ke tabungannya. Yah, walaupun tabungannya sendiri, tetep aja, Luna tak akan memakaiknya jika suaminya tak ridho.


"Kamu tau Mbak, Kak Dion sejujurnya lelah mempertahankan pernikahan kalian. Mbak tau kenapa? Karena dia merasa, punya istri atau pun gak punya istri sama aja, tidur sendiri, ngurus semuanya sendiri, apa bedanya sama lajang atau duda. Toh sama aja, kan?" tanyanya membuat Luna bungkam.


"Kak Dion sampai pergi ke Jakarta karena Mbak gak pulang cukup lama, bahkan Kak Dion nelfon gak di angkat, chat gak di balas. Dia rela nyetir sendiri ke Jakarta buat nemui Mbak Luna, tapi apa, sesampai di Jakarta, ternyata Mbak Luna gak ada di rumah. Ia menunggu di rumah Mbak Luna, seharian bahkan sampai larut malam, tapi Mbak Luna tak kunjung pulang, lalu Kak Dion pergi ke resto, namun Mbak Luna juga tak ada di sana. Dan karena itulah, Kak Dion menelfon Ayah dan mengungkapkan rasa kesalnya, rasa lelahnya selama menjadi suami Mbak Luna. Dan gara-gara itu, Ayah sok dan meninggal dunia Mbak. Ayah gak kuat menahan rasa malu karena putrinya lagi-lagi melempar kotoran di mukanya. Ayah malu sama Kak Dion, Ayah juga kecewa sama kamu, Mbak." ujarnya menitikkan air mata.


"Jadi itu gara-gara aku?" gumam Luna dengan bibir bergetar.


"Sekarang Mbak Luna sudah puas, kan? Mbak Luna sudah bikin Ayah jadi meninggal. Gara-gara obsesi Mbak Luna, banyak hati yang terluka Mbak. Atau kah ini karma Mbak, bukankah dulu gara-gara Mbak Luna, Ibunya Mas Ariel meninggal. Sekarang ayah kita pun juga meninggal dan sejak kemaren Bunda terus saja menangis, bahkan saat tidur pun, Bunda terus mengigau memanggil nama Ayah. Aku sakit, Mbak. Hatiku sakit lihat Bunda seperti itu. Aku takut, Mbak. Aku takut, jika Bunda akan menyusul Ayah. Aku belum siap jika harus kehilangan Bunda. Kehilangan Ayah aja, hatiku rasanya hancur. Bagaimana jika aku juga kehilangan Bunda. Aku bahkan lebih rela kehilangan Mbak Luna, dari pada aku harus kehilangan Bunda." ucapnya. Lintang sadar betul, ucapannya mungkin melukai perasaan saudara perempuannya itu, tapi ia sudah tidak peduli akan hal itu. Ia tidak peduli bahkan jika hati Luna tersayat-sayat. Gara-gara dia, Lintang harus kehilangan Ayah Lukman.


Mendengar kata-kata pedas adiknya, hati Luna yang sudah hancur, semakin hancur. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia merasa tidak punya tumpuan. Semua orang sudah membencinya, semua orang sudah tak lagi peduli padanya, dan itu karena dirinya yang sudah memilih egonya, memilih untuk bertahn dengan pikirannya, dan tidak menuruti kata hati nuraninya.

__ADS_1


__ADS_2