Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Bermesraan Di Depan Laras


__ADS_3

Luna dan Laras mengobrol santai di ruangan Ariel. Sebenarnya tidak ada yang boleh masuk ke ruangannya selain Anggi, tapi karena istrinya ikut dan biar gak kesepian, mau gak mau, Ariel pun terpaksa meminta Laras menemani sang istri di dalam. Sedangkan Ariel, setelah ia dari ruangan Anggi, ia pun keliling restoran dan memastikan semuanya bersih dan tak ada kotoran, lalu ia mengecek semuanya dan menatap karyawannya satu persatu, ia tak ingin ada karyawan yang memakai baju ketat, atau apapun yang menarik perhatian para laki-laki yang mata keranjang. Ariel ingin mereka tampil rapi dan menarik tapi dengan pakaian yang tertutup, tidak harus tertutup semua, yang penting sopan dan tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Setelah puas melihat semuanya, Ariel pergi ke dapur dan melihat chef, atau koki yang bagian memasak dan buat minuman. Sesekali Ariel menyapa mereka satu persatu dan menyicipi hidangannya, sudah pas di lidah atau belum. Dan hasilnya masih sama seperti yang dulu, enak dan  rasanya pun pas, bikin lidah ketagihan.


Lalu setelah itu, Ariel meminta Cika membuatkan makanan khusus buat istri dan juga sahabat istrinya itu. Namun sayangnya sampai detik ini belum ada yang tau jika Laras itu hanya sahabat istrinya, karena Ariel mengaku jika Laras itu saudaranya agar tak ada gosip simpang siur, karena jika Ariel berkata jujur, takutnya ada tanggapan yang negatif dan Ariel gak mau itu terjadi.


Setelah meminta Cika membuatkan makanan yang enak, Ariel juga meminta Felly untuk membuatkan minuman untuknya dan untuk Luna serta Laras dan meminta mereka untuk membawanya ke ruangannya tapi cukup sampai depan pintu saja, karena mereka di larang masuk. Entah kenapa Ariel gak suka jika mereka keluar masuk ke ruangannya.


Ariel pergi ke ruangannya dan melihat istrinya yang masih mengobrol dengan Laras. Melihat Ariel, Laras merasa terpesona, namun ia berusaha untuk tak memperlihatkannya. Tapi sungguh hatinya berdebar melihat wajah Ariel yang sangat tampan, tubuh yang tinggi, tegak. Kekar dan kulit putihnya yang bikin Ariel makin mempesona. Apalagi tampilan Ariel benar-benar bikin kaum hawa menjerit ingin berada dalam pelukan laki-laki itu.


Belum lagi parfumnya yang bahkan dari jarak beberapa meter aja, masih kecium banget baunya, karena memang Ariel memakia parfum yang harganya bahkan jutaaan.


"Sayang, sudah lapar?" tanya Ariel tanpa memperdulikan Laras yang dari tadi diam-diam mencuri pandang ke arahnya.


"Lumayan," jawab Luna sambil melihat ke arah Ariel.


"Aku sudah mesen makanan dan minuman, nanti misal ada yang mengetuk pintu, kamu buka ya. Aku mau ngidupin komputer dulu, gak papa kan? Nanti kita pulang sekitar sejam lagi."


"Iya."


Dan setelah itu, Ariel pergi ke kursi kebesaraannya dan menghidupkan komputer, dan sesekali ia melihat ke arah Luna yang masih tampak asyik ngobrol dengan Laras.


Ariel bukannya gak melihat ke arah Laras, hanya saja bagi dia, fokus utamanya itu sang istri. Lagian Laras gak ada apa-apanya di banding sang istri. Luna jauh lebih bersinar ketimbang orang lain, bagi Ariel, hanya Luna lah yang paling cantik,  paling modis, paling **** dan selalu bikin  dirinya kangen dan selalu takut, jika ada orang lain yang akan mengambil istrinya dari dirinya


Lima belas menit sejak Ariel menghidupkan komputer, pintu ruangannya ada yang mengetuk. Ariel menatap ke arah Luna. Luna yang di tatap pun langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Ini, Mbak makanan dan minumanya," ucap Felly dan Chika yang datang bersamaan. Melihat Luna kewalahan, Laras pun berinisiatif untuk membantunya.


"Makasih ya, Mbak," ucap Luna sopan.


"Iya."


Dan setelah Cika dan Felly pergi dari sana, Luna menutup pintunya.

__ADS_1


"Taruh di mana, Mas?" tanay Luna karena ia takut jika naruh di tempat yang salah.


"Di meja itu deh," ujar Ariel sambil menunjuk meja yang agak besar tak jauh darinya.


"Okay," jawab Luna. Dia menaruh makanannya di meja itu begitupun dengan Laras yang menaruh minuman di meja itu juga.


"Makan sekarang apa gimana?" tanya Luna lagi.


"Makan sekarang aja deh, kamu suapin aku ya," pinta Ariel dengan wajah memelasnya. Luna pun menganggukkan kepala.


"Laras, kamu gak papa kan makan sendiri, aku harus ke sana, makan bareng suami aku," ucap Luna gak enak hati.


"Enggak papa, santai aja lagi," jawab Laras tersenyum kecut. Entah kenap, ia mulai ada rasa iri dengan sahabatnya itu. Namun ia berusaha menekan perasaannya agar hubungan dia dan sahabatnya itu gak hancur berantakan. Apalagi, ia sudah banyak hutang budi sama Luna, jadi Laras berusaha untuk tak membuat kesalahan, tapi jujur, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa ingin lebih dekat dengan Ariel, suami sahabatnya itu. Melihat pesonanya, sungguh membuat Laras gak bisa untuk tak curi-curi pandang ke arahnya.


Luna mengambil kursi dan duduk di sebelah suaminya. Ia menyuapi Ariel lalu menyuapi dirinya sendiri.


"Gimana menurutmu, makanannya?" tanya Ariel sedangkan matanya masih fokus menatap ke layar komputer. Tapi sesekali ia melihat ke arah Luna.


"Kalau kamu ada saran, kamu bisa bilang ke aku, biar nanti aku ubah. Atau kamu ada ide lain, mungkin. Kamu bisa ikut berpartisipasi, bagaimanapun kamu istriku. Kamu berhak mengubah apa yang menurut kamu kurang baik sama resto ini."


"Aku gak mau ikut-ikutan, Mas."


"Kenapa?"


"Ini kan resto kamu."


"Kata siapa, ini resto aku?"


"Kan dari awal emang milik Mas Ariel."


"Tapi bagi aku, sejak aku menikah sama kamu. Harta aku ya harta kamu, berarti resto ini juga milik kamu, Sayang, bukan hanya milikku."


"Tapi tetap aja resto ini milik Mas Ariel,"

__ADS_1


"Kok gitu?"


"Kan Mas Ariel yang bangun dan mengelola resto ini sampai maju kayak gini."


"Apa perlu aku ubah atas nama kamu, biar kamu gak kefikiran kalau resto ini hanya punyaku aja."


"Enggak usah sampai segitunya juga kali, Mas."


"Tapi kayaknya mending atas nama kamu aja deh yank, termasuk rumah yang kita tempati saat ini."


"Kenapa harus gitu?"


"Ya misal aku selingkuh, setidaknya resto dan rumah itu tetap jadi milik kamu dan aku bisa keluar dari rumah itu tanpa bawa apa-apa."


"Aku yakin Mas Ariel gak mungkin selingkuh dari aku."


"Kita gak tau masa depan kita bagaimana, Sayang. Walaupun terlihat tidak mungkin, tapi bisa jadi suatu saat aku khilaf."


"InsyaAllah, Mas Ariel akan selalu mencintai aku. Aku selalu menitipkan Mas sama Allah. Biar Allah yang jaga Mas dan Hati Mas juga. Biar gak berpaling dari aku. Tapi misal Mas Ariel masih tergoda sama cewek di luar sana, ya ga papa, Mas ARiel yang rugi."


"Kok gitu, karena setelah kita pisah, akan banyak pria yang ingin  mendapatkan aku, hehe," ucap Luna terkekekh tapi tidak dengan Ariel yang sudah cemberut. Ia gak rela wanitanya jadi rebutan sana sini, baginya Luna akan selalu jadi miliknya sampai maut memisahkan.


"Gak boleh, Luna hanya milik Ariel seorang." Ariel memeluk Luna dengan erat, Luna yang melihat itu pun hanya ketawa.


"Sudah-sudah, tadi aku hanya bercanda aja, ayo makan, habisin, biar Mas Ariel biar konsen kerjanya," ujar Luna dan ARiel pun melepas pelukannya.


Luna menyuapi Ariel dan menyuapi diri sendiri, tak terasa mereka habis dua piring. Setelah itu, Luna mengambil dua gelas jus yang di bawa oleh Felly tadi. Luna memberikan ke Ariel, Ariel pun dengan senang hati meminumnya, begitupun dengan Luna.


"Akhirnya selesai juga ya, Mas."


"Iya, Sayang. Nanti minta Laras aja yang memberikakn gelas dan piring kotor itu ke dapur dan setelah itu bisa kembali ke kasir, kasihan Nani, sendirian di sana," ucap Ariel seolah-olah Laras tak ada di sana, padahal Ariel bisa ngomong langsung, tapi Ariel memilih untuk ngomong sama istrinya aja, walaupun Laras jelas mendengar ucapan Ariel barusan.


"Iya," jawab Luna sambil menghampiri Laras yang juga sudah selesai makan dan minum.

__ADS_1


__ADS_2