Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Jadwal Pulang Kampung


__ADS_3

Ariel pulang sekitar jam sebelas malam dan ketika ia pulang, rumah sepi, mungkin sudah pada tidur. Ariel cepat cepat  masuk dan menutup pintu, tak lupa menguncinya dari dalam agar tak ada yang masuk sembarangan. Ia lalu pergi menuju kamar Luna, namun pintunya di kunci dari dalam. Alhasil dia pergi ke kamarnya sendiri, ia segera mandi karena sudah merasa gerah dan lengket akibat keringatnya. Hati yang tadinya gelisah, kini sudah cerah kembali setelah melakukan hubungan badan dengan Laras.


Mereka pun pulang dengan hati ceria setelah sama-sama terpuaskan. Tak ada lagi pertengkaran, yang ada hanyalah kesenangan yang di rasakan oleh mereka berdua.


Ariel mandi sekitar setengah jam, ia merendam tubuhnya di air dingin dan rasanya sangat segar sekali. Setelah selesai mandi, ia memakai baju kaos dan sarung. Lalu setelah itu, ia pun merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengambil Hp di meja samping tempat tidur. Lalu mengaktifkan hpnya, ternyata ada pesan dari Laras.


"Makasih ya Mas yang tadi, aku puas banget rasanya," ketik Laras.


"Iya sayang, sama-sama. Aku juga puas banget tadi. Makasih ya, karena kamu mau olah raga di atasku."


"Iya, Mas. Aku mandi dulu ya, terus tidur. Capek banget rasanya."


"Okay. Jangan lama mandinya, takutnya anak kita kedinginan."


"Iya, Mas. Besok kita periksa ya, Mas. Aku ingin tau berapa usia kehamilan aku, soalnya aku gak faham begituan, cuma tadi aku lihat tespacknya garis dua."


"Iya, Sayang. Besok kamu gak usah kerja aja dulu. Kita ke dokter."


"Iya, Mas. Tapi kalau bisa aku berhenti kerja aja ya."


"Kenapa? Aku malu sama karyawan Resto, Mas. Apalagi setelah mereka tau kita gak ada hubungan saudara, terus aku juga sering masuk ke ruangan kamu. Pasti fikiran mereka negatif terus ke kita. Walaupun kenyatannya emang ya sih kita melakukannya di kantor. Tapi tetap aja aku gak nyaman sama tatapan mereka nanti, dan lagi mereka pasti akan nanya ini dan itu sama aku. Ini aja banyak banget yang chat aku baik japri, maupun di grup. Aku takut, kalau aku stres karena mereka, bisa membayakan kandungan aku."


"Iya sudah gak papa, kamu berhenti aja. Bilang ke Anggi ya, lewat chat juga gak papa. Nanti gaji terakhir kamu akan di transfer kalau sudah waktunya gajian."


"Makasih ya, Mas. Besok aku akan chat Mbak Anggi. Jadi mulai besok aku resmi berhenti ya."


"Iya, lagian jika emang Luna mau menerima kehadiran kamu jadi madunya. Kamu gak perlu kerja, cukup diam di rumah aja, biar aku yang cari uang. Apalagi kamu hamil gitu."


"Makasih ya, Mas. Iya sudah aku mandi dulu ya."


"Iya, Sayang."


Setelah itu, Ariel mematikan hpnya dan tidur dengan sangat nyenyak. Seakan-akan kegalauannya itu sudah menghilang entah kemana.


Keesokan harinya, saat selesai sarapan pagi. Ariel pamit untuk pergi ke resto. Luna dan kedua orang tuanya pun hanya mengiyakan saja.


Luna yang sudah tau jika Ariel mau pergi ke dokter kandungan pun hanya bisa pasrah. Ya, dia sudah membaca chatannya Ariel dan Laras tadi malam. Kalau hari ini, Laras akan berhenti kerja dan mereka juga akan pergi ke dokter kandugnan untuk mengecek kandungan Laras.


Luna mengusap perutnya lagi, yang mulai menonjol itu. Untungnya Luna suka pakai baju longgar sehingga walaupun menonjol gak akan ketahuan karena terhalang bajunya.


Setelah kepergian Ariel, Mama Ila mengajak Luna berbincang di ruang keluarga. Sedangkan Papa Ardi memilih duduk di luar rumah menikmati udara pagi yang masih segar sambil main hp.

__ADS_1


"Luna Sayang, Mama boleh nanya?" tanya Mama Ila lembut, takut jika nantinya omongannya akan menyinggung Luna.


"Iya, Ma. Mau nanya apa?"


"Kamu terakhir menstruasi, kapan?" mendengar hal itu, Luna diam.


Mama Ila tahu jika Luna sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kamu hamil?" tanyanya lagi dan Luna pun menganggukkan kepalanya.


"Iya," jawabnya pelan.


Melihat hal itu, Mama Ila pun merasa senang dan ia memeluk Luna.


"Sudah berapa Minggu?"


"Aku gak tau, tapi aku telah sudah dua bulan lebih, hampir tiga bulanan," jawabnya lagi.


"Kamu gak cerita sama suamimu?" tanya Mama Ila.


"Enggak," sahutnya.


"Nanti aja saat aku ulang tahun, aku ingin buat kejutan," balasnya berbohong.


"Oh gitu, baiklah. Mama juga akan  jaga rahasia kamu. JIka memang kamu ingin memberikan kejutan buat suami kamu. Tapi kamu dan Ariel gak ada masalah kan?" tanyanya memastikan, ia berharap Luna mau cerita masalahnay walaupun sedikit.


"Enggak ada, kok. Santai aja, semuanya masih aman," ucapnya tersenyum, menyembunyikan kesedihannya.


"Oh gitu, syukurlah. Mama dan Papa akan pulang nanti sore, kamu kalau ada apa-apa, telfon Mama ya. Mama sangat sayang sama kamu, jaga kandungan kamu. Soalnya Mama mimpi buruk beberapa hari yang lalu. Mama takut, terjadi apa-apa sama cucu Mama" ujarnya sambil mengelus perut Luna.


"Iya, InsyaAllah, aku akan jaga cucu Mama."


"Kalau bisa, kamu periksa juga ya. Untuk memastikan cucu Mama baik-baik aja."


"Nanti aku akan periksa sebelum aku pulang kampung."


"Kamu mau pulang kapan?'


"Mungkin Lusa."


"Berangkat bareng Ariel?"

__ADS_1


"Enggak, aku akan berangkat duluan sama sopir aku. Aku juga akan bawa Bibi Neni dan Bibi Imah buat menemani perjalanan aku sama jaga aku juga," sahutnya.


"Oh, gitu. Kenapa gak bareng suamimu aja?"


"Aku takut Mas Ariel sibuk, Ma. Lagian ulang tahun aku kan masih lama. Aku harus menyiapkan semuanya, kasihan Mas Ariel jika harus bolak-balik."


"Hemm gitu, iya sudah gak papa. Naik apa?"


"Mobil, Ma. Aku mau jalan-jalan dulu soalnya ke Bandung."


"Jauh loh Sayang, apa gak naik pesawat aja."


"Enggak, Ma. Aku ingin naik mobil aja, nanti kalau capek bisa berhenti untuk sholat di masjdi, atau makan di resto. Atau menyewa penginapan kalau memang lelah. Lagian gak buru-buru juga. Jadi aku sekalian ingin menikmati perjalanannya."


"Tapi jauh loh sayang," ucap Mama Ila waswas.


"Aku sudah ngecek di google, kalau pakai mobil dari Jakarta ke Jember lewat jalan tol. Cuma tiga belas jam, dua puluh enam menit. Mungkin bisa sehari semalam kalau berhenti di beberpa tempat, atau bisa jadi dua hari kalau masih cari penginapan. Mama jangan khawatir, lagian kan aku bawa sopir sama Bibi Imah dan Bibi Neni. Mereka bertiga sudah cukup buat jaga aku."


"Sopir kamu yang mana, kok mama gak tau?"


"Ada sopir aku, namanya Mas Dion. Cuma beberapa hari ini emang Mas Dion libur soalnya kan Mas Ariel gak kerja, jadi kemana-mana. Mas Ariel yang nganter. Kalau Mas Ariel sibuk kerja, baru Mas Dion yang nganter aku kalau ingin keluar rumah."


"Oh gitu, iya sudah kamu hati-hati ya, Nak. Mama kan pulang nanti sore, lusa kamu sudah berangkat ke Jember. Mama cuma bisa mendoakan semoga perjalanan kamu lancar Jember."


"Aamiin, makasih ya, Ma."


"Iya, Sayang. Mama juga akan berangkat bareng rombongan, mungkin satu hari sebelum acara kamu di mulai."


"Aku pasti akan menunggu kedatangan Mama di sana."


Di saat Luna dan Mama Ila  tengah mengobrol santai, berbeda dengan Ariel dan Laras yang kini dalam perjalanan menuju dokter kandungan, Laras memakai celana panjang yang gak terlalu ketat dan baju panjang yang juga agak longgar. Tak seperti tadi malam, yang sangat terbuka hingga membuat nafsu Ariel meningkat.


Sepanjang jalan, mereka mengobrol santai sambil mendengarkan musik romantis.


"Mas Ariel pengen punya anak cowok apa cewek?" tanya Laras.


"Pengennya sih cowok, soalnya kan kalau cewek bahaya. Karena kita bikinnya di luar nikah. Jadi aku gak bisa jadi walinya."


"Iya juga ya. Kalau gitu, aku berharap anakkku cowok, jadi aku gak khawatir sama masa depannya," ucap Laras yang mendapatkan anggukan setuju dari Ariel.


Mereka terus mengobrol hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Ariel dan Laras pun turun dari mobil, tak lupa merek memakai masker agar tidak ada yang mengenali mereka berdua, terutama Ariel.

__ADS_1


__ADS_2