Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Marah


__ADS_3

Sudah dua Minggu Luna gak pulang, membuat Dion merasa geram. Terlebih ia selalu di marahi oleh Ibunya karena tidak bisa tegas jadi seorang suami.


Akhirnya ia memilih untuk pergi ke Jakarta menemui Luna. Sepanjang jalan, Dion terus mengoceh.


"Dulu aku berfikir, kamu wanita baik, Lun. Karena kamu selalu terlihat lemah di mataku. Itulah kenapa aku ingin melindungi mu, menjagamu dan terus berada di sampingmu.


Ternyata benar apa kata Mami, kita tidak pernah tau bagaimana karakter seseorang kecuali setelah menikah. Ya, itu benar adanya. Dan entah kenapa aku mulai sedikit menyesalinya.


Hampir lima bulan kita menikah, aku baru enam kali melakukan hubungan denganmu. Itupun kamu selalu mengeluh capek, dan seperti tak bergairah setiap kali aku meminta apa yang menjadi hakku.


Kamu terlalu fokus sama urusanmu sendiri, sampai tidak menyadari, aku yang kesepian. Kamu bahkan lupa, bagaimana menjadi seorang istri yang sesungguhnya, kamu tidak melayaniku dalam segala hal.


Padahal aku juga ingin mendapatkan perhatian darimu, walaupun hanya sekecil apapun.


Sekarang aku bisa menilai, di sini Ariel tidaklah salah sepenuhnya. Rumah tanggamu hancur, mungkin karena rasa egomu yang terlalu tinggi, mungkin karena kekeraskepalaanmu itu, yang membuat rumah tangga kamu pada akhirnya jadi berantakan dan berakhir perceraian.


Siapapun tak akan kuat, jika kamu hanya bisa membenarkan semua sikap dan tingkah lakumu, tanpa menyadari kesalahanmu sendiri." gumam Dion dengan mata berkaca-kaca.


Andai waktu bisa di putar, lebih baik ia tak mengenal Luna, dari pada ia terus sakit sendirian di sini, di abaikan oleh istri sendiri, di lupakan adalah hal yang sangat menyakitkan yang pernah ia rasakan.


Bahkan orang tuanya sampai geram atas sikap Luna, sang menantu yang dulu pernah mereka puji. Nyatanya kini malah mengecewakan.


Sakit, iya.


Menyesal pun, iya.


Tapi nasi sudah jadi bubur, ia juga tidak mungkin menceraikan Luna, apalagi umur pernikahannya pun masih seumur jagung.


Bagaimana tanggapan orang-orang di luar sana jika mereka tau, sikap Luna yang tak patuh pada suaminya. Bisa jadi, bukan hanya dirinya yang malu, tapi juga orang tuanya.


Setelah berjam-jam akhirnya mereka sampai juga di kediaman Luna.


Sayangnya Luna tak ada di rumah, dan hanya ada Bibi Imah saja. Karena Bibi Neni sudah memilih berhenti kerja Minggu lalu. Katanya uangnya sudah cukup untuk modal buka usaha.


"Nak Dion, ayo masuk," ucap Bibi Imah.

__ADS_1


"Iya, Bi. Luna mana?"


"Non Luna jam segini mah sudah berangkat kerja, Tuan," jawabnya dengan ramah.


"Oh,"


"Tuan mau minum apa?"


"Kopi aja, Bi."


"Siap, Tuan."


Dion yang masih lelah menyetir, terlebih semalaman ia tak tidur karena mengurus pekerjaan, membuat kepalanya terasa berat. Ia hany menyenderkan kepalanya ke kursi sofa dan mencoba memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, Bibi Imah pun datang membawakan kopi yang masih panas.


"Bi, biasanya Luna pulang jam berapa?"


"Biasanya jam sembilan malam, kadang juga jam sepuluh malam. Tapi juga kadang gak pulang Tuan, menginap di restorannya," balas Bibi Imah.


"Maksud Nak Dion apa?" tanya Bibi Imah yang memang bener bener gak ngerti.


"Jujurlah Bi, sama aku. Apakah ini sikap Luna yang sesungguhnya?" tanyanya sekali lagi.


"Bibi benar-benar gak faham," balas Bibi Imah.


"Apakah ada seorang istri yang melupakan suaminya, Bi? Dia jarang pulang, jangankan pulang, aku nelfon pun jarang di tanggepin, chat pun jarang di balas. Aku kok kayak masih bujang ya Bi. Semua keperluanku yang mengurus asistenku.


Kadang aku tuh pengen Bi, bangun tidur lihat istri ada di samping aku, atau bangunin aku buat sholat bareng. Pengen gitu Bi, ada yang menyiapkan baju kerjaku, menemani aku sarapan pagi. Atau jika bisa, sesekali aku pun ingin merasakan masakan istriku.


Pengen gitu rasanya, pulang kerja ada yang menyambutnya di rumah, menemani aku melepas rasa lelah, dan mengobrol sebelum tidur.


Bi, apakah keinginan aku sebagai suami, terlalu berlebihan?" tanyanya seakan ingin mencurahkan isi hatinya, beban pikirannya.


Mendengar hal itu, Bibi Imah pun mulai kasihan pada Dion.

__ADS_1


"Bibi Fikir, Nak Dion sudah mengijinkan Non Luna buat tinggal di sini dan mengurus restorannya?" tanyanya.


"Aku gak mengizinkan Bi, tapi karena Luna terus memohon. Akhirnya aku mengalah. Sekarang coba Bibi ingat-ingat, sudah berapa lama Luna tak pulang ke Bandung?" tanya balik.


"Aku bahkan sampai malu sama orang tua aku, Bi. Malu rasanya, karena aku tidak ada yang mengurus di rumah, punya istri tapi seperti tak punya istri," imbuhnya lagi.


Dion emang sudah menganggap Bibi Imah seperti temannya sendiri, mungkin dulu karena mereka sesama pekerja di rumah ini, sehingga bisa dekat satu sama lain.


Sehingga tak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Apalagi Bibi Imah yang emang welcome sejak ia datang dan selalu membuatkan ia minuman dan makanan, membuat Dion merasa terenyuh.


Baginya, Bibi Imah bukan hanya sebagai rekan kerja, teman curhat tapi juga sebagai Ibunya karena memang umur Bibi Imah yang hampir sama dengan umur Ibunya.


"Sabar, Nak Dion. Nanti Bibi akan bantu menasehatinya. Mungkin saat ini fikiran Non Luna pun juga lagi bercabang mengingat restorannya itu hampir gulung tikar bahkan sampai detik ini, belum juga ada kemajuan padahal Non Luna sudah menghabiskan uang milliaran," ujarnya memberitahu. Karena memang kadang Luna seringkali berkeluh kesah padanya di saat Luna sendiri merasa e


lelah, mengurus sendiri tanpa bantuan siapapun.


"Dan jika tak ada ridho dariku, Bi. Bisa jadi resto itu akan bener bener bangkrut, dan Luna akan kehilangan semuanya. Karena aku sebagai suami gak ikhlas, gak ridho atas apa yang Luna lakukan. Aku bukannya gak respect, tapi jujur karena kesibukannya itulah, dia sampai melupakan aku, suaminya.


Padahal aku sudah meminta Luna untuk menjualnya, karena memang resto itu sudah tak lagi bisa di selamatkan. Aku juga ingin Luna fokus menjadi istri aku. Atau jika memang dia bosen di rumah, dia bisa bantu aku mengurus pabrik teh.


Jika Luna masih sibuk ngurus resto, lalu bagaimana dengan aku. Bukankah seharusnya suami yang paling di utamakan. Lagian buat apa dia nyari uang, bukankah semua kebutuhannya sudah aku cukupi?


Dia juga mendapatkan uang bulanan dariku, apa kurangnya aku sebagai suami Bi?" tanyanya membuat Bibi Imah terenyuh.


Ia sebenarnya juga menyayangkan sikap Luna yang masih belum berubah.


Jika seperti ini terus menerus, bisa jadi rumah tangganya akan hancur untuk kedua kalinya.


Sedangkan Luna sendiri, ia bukan tidak memahami kesalahannya, hanya saja ada yang harus ia perjuangkan. Namun ia berjanji, jika semuanya sudah kembali normal, ia akan fokus melayani suaminya dalam segala hal.


Hanya saja mau sampai kapan? sedangkan restorannya pun terus sepi dan jika pun di pertahankan, yang ada malah menghabiskan banyak uang. Sedangkan Luna, juga tidak terlalu faham dalam mengelola bisnis.


Mengingat selama ini, Luna hanya diam di rumah dan Ariel lah yang bekerja keras siang malam. Luna hanya menikmati hasil dari semuanya.


Jadi mustahil, Luna bisa seperti Ariel dulu. Karena ada banyak hal yang harus pelajari. Bagaimanapun pengen jadi pengusaha juga jadi ilmunya, tidak sembarangan.

__ADS_1


Karena bukannya Untung, malah bisa jadi rugi besar


__ADS_2