Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Sifat Asli Laras Yang Sangat Buruk


__ADS_3

Jam tujuh, Luna baru sarapan pagi bersama dengan Bibi Imah dan Bibi Neni. Seharusnya sarapan pagi itu jam setengah tujuh pagi, tapi karena Bibi Imah dan Bibi Neni pulang telat dari pasar, akhirnya sarapan pagi ditunda setengah jam lamanya.


Karena Bibi Imah dan Bibi Neni gak mau makan di meja makan, akhirnya Luna yang mengalah, dia makan di dapur bareng mereka.


"Sahabat Non gak di bangunin?" tanya Bibi Neni sambil menikmati makanannya.


"Sudah tadi. Aku ketuk pintunya gak bangun-bangun, kayaknya masih tidur, nanti juga kalau lapar, bangun sendiri," jawab Luna setelah menelan makanannya.


"Ya ampun, padahal di sini cuma numpang. Bisa gitu ya, bangun siang. Bibi mah kalau numpang di rumah orang, mau bangun siang, itu sungkan Non. Malah kalau bisa, Bibi bangun sebelum mereka bangun," ujar Bibi Bibi Neni.


"Iya, Bibi juga kalau di rumah orang mah gak bisa bangun siang. Jangkan di rumah orang, di rumah sendiripun susah mau bangun siang. Lagian sahabat Non itu gak sholat shubuh?" tanya Bibi Imah.


"Entahlah, Bi. Aku gak tau, mungkin Laras juga masih capek, karena perjalanan kemaren, makanya bangunnya siang," sahut Luna tersenyum, walaupun dalam hati, Luna juga membenarkan ucapan mereka. Dirinya sendiri aja, waktu masih belum nikah sampai sekarang, kalau lagi nginep di rumah orang juga sungkan mau bangun siang. Tapi berbeda sama Laras, Laras mah di mana aja, selalul bersikap seenaknya.


"Bukannya kemaren sudah istirahat ya, Non. Tadi malam juga tidurnya duluan sahabat Non itu. Bibi cuma takut, gimana nanti kalau dia kerja. Takutnya telat terus, gara-gara bangun kesiangan. Kasihan Tuan, kalau sahabat Non telat terus. Nanti bagaimana tanggapan karyawan yang lain, jika melihat karyawan baru tidak bisa disiplin, sedangkan mereka mau memecat Non Laras juga gak bisa berbuat apa-apa, karena Non Laras masuk lewat jalur dalam," ucap Bi Imah membuat Luna mengangguk-angguk mengerti. Itu juga yang ia takutkan sebenarnya. Kayaknya menyuruh Laras ke sini, bukanlah pilihan terbaik. Padahal dirinya tau, jika Laras suka bangun siang, dulu aja kalau sekolah, ibunya harus gedor-gedor pintu sambil teriak-teriak untuk bangunin Laras. Bahkan tak jarang, sampai Laras di cipratin air, biar segera bangun.


"Terus gimana dong?" tanya Luna, ia bahkan sudah kehilangan mood untuk menyelesaikan makanannya yang masih sisa separuh.


"Apa gak bisa di pulangkan aja ke kampungnya, Non? Biarlah dia cari kerjaan di sana," tutur Bibi Neni.


"Enggak mungkin, aku sudah janji sama dia untuk mencarikan pekerjaan di sini. Apalagi di sahabat aku, orang tua dan keluarganya juga pada tau semua, kalau dia ke sini ikut aku. Awalnya aku berfikir dia pasti akan berubah, tapi aku gak tau kalau pada akhirnya kayak gini," jawab Luna dengan raut wajah sedih.


"Ya sudah gak papa, Non. Non tetap aja kasih dia pekerjaan, kita lihat perkembangannya gimana? Tapi semoga aja dia jadi karyawan di siplin, jadinya gak perlu dipulangkan ke kampung. Iya kan?" tanya Bibi Imah dan Bibi Neni pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, tapi masalahnya Mas Ariel juga gak ngizinin Laras buat tinggal di sini. Aku malah nunggu Laras untuk mengatakan hal ini, aku harus mencarikan Laras kontrakan tak jauh dari sini, biar aku tetap bisa mantau dia. Bagaimanapun kalau sampai Laras kenapa-napa di sini, akunya yang kena sama orang-orang kampung sana. Tapi kalau Laras gak tinggal satu atap denganku, siapa yang akan bangunin dia nantinya kalau  mau kerja, karena Laras sebenarnya emang susah bangun pagi," sahut LUna.


"Nah mungkin, Non Laras gak bisa dapat pekerjaan di sana, bukan karena gak ada kerjaan, bisa jadi Non Laras aja yang kurang berusaha apalagi dengan sifatnya yang susah bangun pagi. Bos mana yang akan tahan jika pegawainya suka telat?" papar Bibi Imah sambil menatap sang majikan yang berubah menjadi wajah cemas.

__ADS_1


Memikirkan itu membuat otak Luna menjadi bingung. Namun dirinya gak bisa berbuat apa-apa, selain tetap mempertahankan Laras. Kecuali jika Laras sendiri yang menyerah dan meminta untuk pulang. Karena Luna tak mungkin tega mengusirnya atau memintanya kembali ke kampung.


"Aku bingung, Bi. Kita lihat aja ke depannya gimana," pungkas Luna yang tak lagi mau membahas masalah ini. Biarkan ini mengalir seperti air, dan jika sudah mulai ada masalah, barulah ia akan ambil tindakan.


Setelah selesai makan, Bibi Imah langsuang mencuci piring dan membersihkan dapur, sedangkan Bibi Neni, ia langsung mengerjakan pekerjaannya yaitu nyuci baju dan bersih-bersih rumah.


Sedangkan Luna, ia duduk di ruang kelurga sambil nonton tivi. Tak lama kemudian, ia mendengar kamar tamu terbuka. Luna melihat Laras yang sudah selesai mandi dengan wajah segarnya.


"Maaf ya, aku baru bangun. Soalnya tadi malam susah tidur," ujar Laras tanpa rasa malu.


"Iya," jawab Luna pendek.


"Aku lapar, apa ada makanan?" tanya Laras.


"Pergi aja ke ruang makan, di sana banyak makanan," sahutnya lagi sambil menatap ke arah Luna. Laras pun langsung berjalan ke ruang  keluarga dan membuka tudung saji.


"Non, nanti kalau sudah selesai makan, tolong di cuci piringnya. Karena saya sudah selesai cuci piring," ujar Bibi Imah tanpa rasa takut. Ya, baginya majikannya itu Luna dan Ariel, sedangkan Laras hanyalah sahabat majikannya, jadi ia tak akan menaruh hormat padanya. Lagian entah kenapa, Bibi Imah dari awal tak suka melihat wajah Laras, karena bagi Bibi Imah, yang sudah makan banyak asam garam, wajah Laras itu seperti orang bermuka dua, munafik.


"Iya, Bi," sahut Laras dengan wajah malasnya.


Setelah itu, Bibi melihat Laras yang mengambil piring dan mengisinya dengan tiga centong nasi bahkan setelah itu, ia mengambil banyak lauk pauk yang ada di atas meja.


"Astaga, itu orang makan sudah kayak porsi orang kuli aja. Benar-benar gak tau malu. Bangun siang, langsung makan. Di kira ini rumahnya sendiri kali ya, dasar wanita sundel," gerutu Bibi Imah sambil pergi dari sana. Ia terlalu malas untuk melihat wajah Laras yang menurutnya gak ada sedap-sedapnya untuk di pandang.


Sedangkan Laras dia makan dengan sangat lahap, tanpa memikirkan ini dan itu. Bahkan ia masih nambah lauk pauknya. Ia jarang makan enak, jadi sekali ada makanan enak, sangat di sayangkan sekali jika harus dilewatkan, apalagi gratis seperti ini.


Setelah merasa perutnya sudah penuh, barulah Laras mencuci piring kotor miliknya. "Dasar pembantu sialan, baru jadi pembantu aja sudah berlagak jadi bos. Nyuruh-nyuruh aku cuci piring, dikira aku ini siapa coba. Ibuku aja gak pernah nyuruh aku cuci piring," protes Laras tak terima karena Bibi Imah menyuruh dirinya mencuci piringnya yang tadi di buat makan olehnya.

__ADS_1


Tanpa diketahui Laras, Bibi Imah ada di belakangnya dan mendengar ucapan Laras. Awalnya Bibi Imah pergi ke ruang makan karena mau mengambil sesuatu namun siapa sangka, jika ia malah mendengar kata-kata Laras yang tak pantas untuk di dengar. Bagaimana mungkin, Laras yang masih muda, mengatakan dirinya pembantu sialan. Luna, sang majikannya aja selalu menghargai dan menghormati dirinya yang lebih tua. Tapi ini, yang merupakan tamu, tapi sudah menghina dirinya, dan memperlihatkan wataknya yang asli.


Saat Laras selesai mencuci piring, ia menaruhnya di rak piring samping wastafel, lalu ia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang ada di samping wastafel. Dan saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Bibi Imah yang menatap ke arahnya. "Sialan, dia pasti dengar omonganku tadi, tapi masa' bodolah, emang aku peduli." Laras pergi dari sana, dan melewatkan Bibi Imah begitu aja.


Laras emang bukan type orang yang suka berpura-pura, kadang ia juga suka memperlihatkan watak aslinya jika ia tak suka akan suatu hal. Makanya saat di kampung, ia jarang punya teman, kecuali si Luna. Yang memang sangat baik hati dan mudak akrab dengan siapapun. Dan hanya Lunalah teman terbaiknya.


Terbukti sekarang, Luna mau mengajak dirinya ke kota dan mencarikan dirinya pekerjaan, apalagi Luna juga mengizinkan dirinya tinggal di rumahnya yang bak istana ini.


Luna berjalan menuju ruang keluarga, ia menghampiri Luna yang masih asyik nonton tivi. Sebenarnya ini jam Luna olah raga, namun karena gak ada suaminya, Luna pun memilih menikmati hidupnya dengna nonton film kartun kesukaannya.


"Kok nonton kartun sih, Lun. Mending nonton acara di channel CTV deh, biasanya jam segini tuh filmnya bagus-bagus banget," ujar Laras yang duduk di samping Luna. Ia mengambil remot yang ada di samping Luna dan mengubah channelnya yang tadinya film kartun kini berubah menjadi film cinta-cintaan. Seorang bos yang jatuh hati sama karyawannya.


Luna hanya bisa menghela nafas kasar, ia bukan type orang yang suka di ganggu. Apalagi saat ia tengah menikmati film kesukaanya. Bibi Imah dan Bibi Neni saja, kadang tak berani mendekatinya jika Luna tengah fokus menonton film kartun. Kecuali Luna sudah mematikan tivinya, atau saat Luna memanggil mereka untuk menemaninya, barulah mereka menghampiri Luna danmemilih untuk duduk di karpet, sehingga Luna terpaksa duduk di bawah juga bersama mereka dan menonton film bersama. Karena Bibi Neni dan Bibi Imah, kurang suka nonton film kartun, kadang Luna akan dengan senang hati mengubah chanelnya, dan menampilkan sinetron drama rumah tangga. Luna juga rela mengalah demi mereka, asal bisa nonton bareng sambil mengobrol apalagi kalau denger mereka yang kadang marah-marah sama peran antagonisnya membuat Luna ketawa karena merasa terhibur.


"Laras, seharusnya ini hari pertama kamu kerja, tapi kamu bangun jam delapan pagi. Aku gak tau, apakah aku bisa memberikan kamu pekerjaan jika kamu seperti ini terus menerus," ujar Luna membuka suara.


"Maaf, Lun. Tadi malam aku bener-bener gak bisa tidur, makanya  aku telat bangunnya," ucap Laras menunduk.


"Apapun alasannya, kamu gak seharusnya bangun siang. Kamu bisa pakai alarm atau apapun yang bisa bikin kamu bangun pagi. Bagimana jika kamu bekerja, siapa yang akan bangunin kamu. Jika kamu telat terus, kamu bisa dipecat dan aku gak bisa carikan kamu pekerjaan lagi, di tempat lain," tutur Luna dengan tegas.


"Aku janji, besok aku akan memakai alarm, agar aku bsia bangun pagi-pagi sekali. Aku pastikan hal ini tak akan terulang kembali." Laras berusaha meyakinkan Luna, karena ia tak ingin jika Luna sampai berubah fikiran dan membuatnya pulang kampung. Ia sudah sangat menikmati enaknya hidup di kota, ia tak ingin pulang ke kampung dan dimarahi ibunya karena menjadi pengangguran dan mengangap dirinya itu pemalas, karena cuma makan tidur. Ia juga tak mau di anggap tak berguna karena tak bisa menghasilkan uang. Ia ingin membuktikan kepada orang tuanya, saudaranya dan semua orang yang ada di sana, bahwa ia bisa menjadi orang sukses dan bisa membuat mereka bangga.


"Baiklah, aku harap kamu bisa menepati janjimu," ujar Luna dan Laras pun memeluk Luna dan  menguapkan terima kasih.


"Tapi .... " Luna menggantungkan ucapannya.


"Tapi kenapa?" tanya Laras sambil melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Luna dengan lekat-lekat.

__ADS_1


"Kamu harus pergi dari rumah ini!"


__ADS_2