
Di masjid mereka duduk sebentar, Dion juga yang sudah tak lagi menahan rasa ngantuk memilih untuk tidur sampai jam tujuh pagi. Saat Dion tengah tidur, Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni mandi di masjid bergantian. Untungnya mreka bawa peralatan mandi cukup lengkap. Mereka juga bawa handuk dan baju ganti.
Karena Dion belum kunjung bangun, Luna mengajak mereka cari makan di sektiar masjid.
"Kalian dari mana?" tanya Dion yang sudah bangun.
"Beli makanan. Ini buat Mas Dion," ucap Luna sambil memberikan makanan dan minuman, ada beberapa camilan juga.
"Kamu sudah makan?" tanya Dion.
"Sudah tadi bareng Bibi. Aku makan dulu, soalnay lapar," jawab Luna.
"Iya sudah, aku cuci muka dulu, baru makan." Luna menganggukkan kepala.
Sedangkan Dion, ia langsung pergi ke kamar mandi lagi untuk cuci muka dan gosok gigi. Lalu setelah itu, ia sholat dhuha bentar, baru sarapan. Habis sarapan, mereka melanjutkan perjalanannnya
Setelah dua hari dua malam berada di jalan, akhirnya mereka sampai juga di kampung Luna. Kedatagnan Luna pun di sambut hangat oleh keluarga besarnya. Terutama orang tuanya yang sampai nangis karena sudah lama tidak bertemu Luna, dan hanya bicara via telfon aja.
Orang tua Luna mengajak Dion, Bibi Imah dan Bibi Neni untuk masuk ke rumahnya. Rumahnya tidak seluas rumah Ariel apalagi rumah Dion. Bahkan untuk ukuran ruang tamunya aja hanya empat kali empat meter.
Banyak orang kumpul di ruang tamu itu, selain karena kangen sama Luna, mereka juga penasaran sama Dion. Laki-laki tampan yang di bawa oleh Luna. Luna pun menjelaskan siapa mereka dan kenapa suaminya dan Laras gak ikut pulang ke Jember. Luna juga menjelaskan akan membuat pesta mewah di ulang tahunnya nanti di depan rumahnya. Orang tua Luna pun menyetujui apa yang luna mau, mereka gak akan membantah, toh yang membiayai semuanya juga Luna. Mereka hanya bisa mendukung dan membantu pakai tenaga mereka untuk memeriahkan ulang tahun Luna.
Sebenarnay Luna sudah mejelaskan ke orang tuanya namun hanya garis besarnya aja dan sekarang Luna menjelaskan di depan orang tuanay dan keluarga besarnya tentang niat kepulangannya itu.
Sepupu Luna datang membawakan teh hangat untuk mereka semua. Yah, tak ada makanan mewah, atau apapun seperti rumah Dion. Hanya ada tehh hangat saja yang bisa mereka sajikan.
__ADS_1
Mereka berbincang hampir dua jam lamanya, dan setelah itu Ayah dan Bundannya Luna menyiapkan kamar buat mereka bertiga. Untungnya ada lima kamar di sana. Kamar utama milik Luna, kamar kedua milik saudaranya, kamar ketiga dan kamar keempat kosong, kamar kelima di tempati oleh Ayah dan Bundannya Luna.
Nah di kamar ketiga inilah, Dion akan menginap selama beberapa Minggu ke depan, Bibi Imah dan Bibi Neni, menempati kamar keempat. Mereka sekamar berdua. Kasurnay juga cukup besar jadi bisa menampung dua orang, bahkan lebih.
Di rumah itu, Luna bisa melepas rindu dengan kedua orang tuanya dan keluarga besarnya. Luna sangat bahagia berada di tengah-tengah mereka, ia merasa aman, tenang dan nyaman. Mungkin karena di sana banyak keluarga yang sangat menyayanginya sehingga Luna merasa di lindungi oleh mereka semua.
Keesokan harinya, saat Ayahnya Luna mau melihat sawah. Dion malah ingin ikut, awalnya Ayahnya Luna merasa ragu mengingat Dion sangat tampan dan bajunay sangat bagus, penampilannya sangat wowl. Namun Dion meyakinkan Ayah Lukman-Ayahnya Luna, yang mungkin kelak jadi mertuanya itu, kalau dirinya sudah terbiasa pergi ke sawah bahkan panas-panasan.
Setelah merasa yakin, Ayah Lukman pun langsung mengajak Dion naik sepeda motor karena jaraknya cukup jauh, ah sebenarnya jalan kakipun sampai, cuma biar hemat waktu aja. Setelah itu, sepeda motor di taruh di pinggir jalan gitu aja, tanpa takut kehilangan karena di desa ini sangatlah aman. Dan saat melewati jalan setapak demi setapak, Dion sedikit kesullitan, namun ia masih berusaha tersenyum di depan Ayah Lukman. Ayah Lukman pun hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah laku teman putrinya itu.
Sedangkan di rumah Bibi Imah dan Bibi Neni membantu Bunda Naira-Bundannya Luna untuk bersih bersih rumah dan masak. Luna sendiri malah sibuk mengobrol dengan keluarganya yang dari kemaren masih banyak yang datang. Bahkan satunya pulang, nanti akan datang lagi, begitupun seterusnya sampai seharian. Luna sampai capek sendiri, ia hanya bisa lepas dari mereka saat mandi, makan dan istirahat siang sebentar.
Luna juga tak lupa mengabari Ariel dan memberitahu dia kalau dirinya sudah sampai di rumahnya. Ariel pun langsung menelfonnya dan mereka cuma mengobrol sebentar. Luna tau jika saat ini Laras tidur di rumahnya bahkan menempati kamar utama, kamar miliknya dan Ariel. Bahkan Laras juga menggunakan baju, perhiasan dan skincare miliknya. Karena memang Luna gak bisa membawa semuanay, hanya sebagian saja.
Luna juga mengabari mertuanya jika sudah sampai, ia tau jika mertuanya itu sangat mencemaskan dirinya, soalnya sejak kemaren beberapa kali menghubungi dirinya.
Sedangkan kalau malam hari, Luna mengajak Dion, Bibi Imah dan Bibi Neni pergi ke pasar malam. Lintang pun juga ikut bareng mereka, Lintang adalah saudara Luna yang masih duduk di kelas dua SMA. Cowok, umur 17 tahun.
Dion dan Lintang juga sudah cukup akrab bahkan kadang mereka main game online bareng di ruang keluarga.
Tak terasa dua Minggu sudah berlalu, Luna juga sudah menyiapkan semuanya, pesta yang akan di adakan seminggu lagi. Dion juga ikut membantu membayarkan sebagian pesta yang di inginkan oleh Luna. Awalnya Luna menolak tapi karena Dion memaksa, akhirnya Luna pun hanya bisa mengiyakan saja. Pesta mewah, sangat mewah walaupun yang hadir mungkin cuma seratus orang, namun Luna membuat pestanya semeriah mungkin.
Sedangkan di tempat yang beda, Ariel dan Laras masih sibuk senang-senang dan menikmati kebersamaan mereka, mereka gak sadar bahwa saat ini Luna tengah mempersiapkan kehancuran mereka, seminggu lagi. Ya seminggu lagi, maka semuanya akan selesai dan mereka akan menanggung rasa malu seumur hidupnya. Dan mereka juga akan mendapatkan banya kebencian dari banyak orang yang mereka sayangi.
"Nak, kenapa pestanya sampai semewah ini?" tanya Bunda Naira.
__ADS_1
"Karena aku ingin membuat kejutan buat banyak orang, Bun," jawab Luna santai.
"Kejutan, kejutan bahagia?" tanya Bunda Naira.
"Iya, kejutan bahagia dan kejutan duka tentunya."
"Jangan aneh-aneh, Nak. Kamu sejak pulang ke sini, Bunda merasa kamu berubah. Lebih banyak diam dan tak ceria seperti dulu. Kamu ada masalah sama suamimu, atau kamu ada masalah dengan Laras, sahabat kamu itu. Bunda padahal sudah mengingatkan kamu jangan bawa Laras ke kota, tapi kamu kekeh membawa dia. Dari dulu Bunda selalu takut dan khawatir, karena tidak seharusnya kamu memasukkan orang lain dalam rumah tangga kamu. Jangankan orang lain, ipar pun kadang tidak diperbolehkan," ucap Bunda Naira.
"Bunda tenang aja, anak Bunda ini kuat. Bunda percaya kan sama Luna. Luna selalu bisa menyelesaikan masalah apapun itu, bahkan seberat apapun, Luna pasti akan bisa melaluinya. Apalagi cuma masalah kecil. Bunda jangan ragu sama putrinya Bunda sendiri. Apapun yang terjadi nanti, percayalah, Luna sudah memikirkan semuanya itu. Baik buruknya sudah Luna fikirkan. Bunda juga jangan mikir yang macam-macam. Luna gka mau Bunda sakit karena terlalu banyak fikiran," tutur Luna lembut.
"Bunda hanya takut, kamu akan berbuat yang aneh-aneh karena kamu bikin pesta aja sampai semewah ini, Bunda yakin pasti kamu habis puluhan juta bahkan lebih."
"Bunda jangan khawatir akan hal itu, Luna punya banyak uang. Apalagi sebagian di tanggung oleh Mas Dion. Mas Dion itu kaya loh, Bun. Dia sultan," ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah?"
"Iya, Bun. Rumahnya seperti istana, bahkan pelayannya aja lebih dari lima puluh. Walaupun tampilannya sederhana, tapi kekayaannay gak akan habis tujuh turunnan," ujarnya yang mulai bergosip. Sedangakn yang di gosipin gak jauh dari sana, dan mendengar ucapan Luna, cuman Dion hanya diam aja, membiarkan mereka mengghibahi dirinya. Toh bukan keburukakn yang mereka bicarakan.
"Terus kenapa dia mau jadi sopir kamu?" tanyanya bingung.
"Mungkin bosen jadi orang kaya, Bun. Jadi pengen nyoba jadi orang sederhana."
"Hhhh ... orang kaya itu emang aneh. Yang miskin pengen kaya, yang kaya pengen hidup sederhana."
"Ya begitulah kehidupan, Bun. Kadang apa yang kita lihat enak, bisa jadi mereka bosan menjalaninya. Kita ingin seperti mereka, mereka malah ingin seperti kita. Hidup itu sawang sinawang," ujar Luna dan Bunda Naira pun menganggukkan kepala, pertanda setuju.
__ADS_1
Mereka terus mengobrol, sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni mereka berada di luar ngobrol sama tetangga, Dion main game sama Lintang. Ayah Lukman sendiri sibuk membersihkan halaman rumah yang nantinya akan di jadikan pesta agar tempatnya semakin luas.
Luna juga tak memperbolehkan sang Bunda untuk buat jajan atau makanan lainnya. Karena semua makanan, camilan, minuman akan di kirim dari restoran terbaik di kota itu. Bahkan Luna juga memesan tiga ratus boks, biar cukup dan jika pun berlebihan, bisa di ambil mereka yang merasa kurang atau bisa di bagi-bagikan ke banyak tetangga.