
Hari-hari berikutnya, seperti biasa, Luna teru merawat Ariel yang masih belum ada kemajuan sama sekali. Ia masih suka termenung dan diam seribu kata, bibirnya seoalah terkunci rapat, hingga Ariel bahkan enggan mengeluarkan kata-kata.
Luna terus berusaha untuk merawat dan mendoakannya setiap selesai sholat.
Sedangkan Noah saat ini, ia berusaha menemui Ardi, Papanya Ariel.
Noah berharap, Ardi mau menemui Ariel dan memaafkan kesalahaan Ariel. Siapa tau, dengan kedatangan Ardi, Ariel bisa sembuh dan bisa menjalani kehidupan yang normal
"Om, aku mohon Om, tolong temui Ariel. Kasihan dia, Om. Dia sudah sakit sejak lama, dan kini semakitnya semakin parah. Dia hanya diam, tak mau bicara. Tatapannya selalu kosong dan pokoknya seperti raga tanpa nyawa. Aku bahkan gak tega lihat dia seperti itu," pinta Noah, bahkan ia sampai menitikkan air matanya.
Ardi, Papanya Ariel pun hanya diam, tak merespon.
"Aku mohon, temuilah Ariel, walaupun hanya sebentar. Bagaimanapun dia itu anaknya Om. Darah daging Om sendiri. Dia sudah tersiksa dengan semua masalah yang ada, dia sudah menyesalinya, Om. Beri dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, beri dia kesempatan, untuk menebus semua dosa yang pernah ia lakukan." ucap Noah, namun Ardi yang sepertinya sudah amat sangat kecewa, hanya diam mendengarkan.
"Sejujurnya aku takut, Om. Aku takut, jika Ariel akan melakukan hal seperti yang Tante Ila lakukan. Aku takut, Ariel akan memilih jalan pintas untuk mengakhiri semuanya. Aku takut, jika Ariel tidak kuat menangung beban yang begitu berat. Aku juga takut, Ariel akan gila," tutur Noah, mengungkapkan isi hatinya.
"Jujur, aku bingung gak tau lagi harus berbuat apa. Aku sudah mendatangkan psikolog dan psikiater, namun tak membuahkan hasil. Ariel seperti menolak dan tak menunjukkan respon apapun. Saat ini, Ariel tengah di temani oleh Luna. Yah, beberapa bulan terakhir ini, Luna terus mendampinginya. Tapi sayanngya, itu juga tidak membuat Ariel kembali ke dunianya. Ia masih suka termenung dan seakan sibuk dengan dunianya sendiri, fikirannya seperti kosong." ujarnya sekali lagi, menceritakan semuanya.
"Kandungan Luna juga sudah delapan bulan. Sebulan lagi, dia akan melahirkan. Hanya saja, aku belum tau jenis kelaminnya karena Luna sendiri juga tidak ingin mengetahuinya. Tapi kondisi bayinya sangat baik dan sehat. Sebentar lagi, Om Ardi akan menjadi seorang Kakek dan cucu yang Om Ardi nanti-natikan selama ini," paparnya. Namun Om Ardi, masih diam.
Noah tak mau menyerah, ia tau gak mudah buat Om Ardi mau menerima Ariel dan memaafkna kesalahan Ariel yang sudah menyebabkan Om Ardi kehilangan istrinya.
"Aku harap, Om mau menemui Ariel walaupun itu hanya sekali dan cuman sebentar saja. Sekarang tubuh Ariel itu bahkan sangat kurus sekali. Mungkin berat badannya cuma tiga puluh lia kilo atau mungkin kurang dari itu. Saat aku mengendongnya, aku bahkan tidak merasa berat sama sekali. Tubuhnya sangat-sangat kurus Om, seperti tulang dan kulit saja. Apalagi, sejak sadar, Ariel bahkan tidak mau bicara dan tak mau makan. Untungnya ada infus yang membuat Ariel bertahan hidup sampai detik ini. Namun jika terus menerus membiarkan, mungkin Ariel juga bisa mati dengan keadaaan yang terus seperti itu. Om gak mau kan, kehilangan Ariel. Om sudah kehilangan Tante Ila, Om gak mau kan, kehilangan orang yang Om sayang untuk kedua kalinya?" tanyanya.
"Jika dia bisa mengembalikan istriku, maka Om akan menemuinya." Setelah dari tadi diam, ARdi pun mulai bicara.
"Mana mungkin Ariel bisa menghidupkan orang yang jelas-jelas sudah mati, Om. Itu tidak akan bisa," balas Noah.
"Jika dia tidak bisa, maka Om juga tidak bisa menemuinya."
"Om, jangan keras kepala dong, Kenapa sih semua orang menyalahkan Ariel, padahal dia bukan satu satunya orang yang bersalah di sini?"
__ADS_1
"Terus siapa yang salah kalau bukan dia? Sudah jelas-jelas dia yang selingkuh," ujarnya dengan tatapan marah.
"Tapi ...." belum selesai Noah bicara, Ardi langsung memotongnya.
"Kamu tau, saat Luna meminta Om, Tante dan keluarga besar kami untuk datang ke kampung. Om dan Tante sangat senang, selain karena ingin menghadiri ulang tahun Luna, Om dan Tante yakin, Luna pasti ingin memberikan kejutan untuk semua orang. Om dan Tante begitu sangat antusias sekali, bahkan selama di perjalanan, Om dan Tante gak sabar ingin segera sampai di kampung Luna dan ingin mendengar secara langsung, Luna berbagi kebahagiaannya di depan banyak orang." ujarnya, NOah diam mendengarkan.
"Tapi sayangnya, kejutan itu malah menjadi mala petaka, buat Om dan Tante. Bukan hanya malu yang Om dan Tante rasakan. Tapi kami juga kecewa dan marah. Marah karena Ariel tega menyelingkuhi Luna, menantu kesayangan kami yang sudah Om anggap seperti putri kandung sendiri. Kecewa karena LUna memilih untuk mengumumkan aib keluarganya di depan banyak orang, di depan umum. Om malu, malu sama keluarga besar yang sudah Om ajak jauh jauh dari Jakarta ke Jember. Mereka datang, bukannya di sambut hangat, tapi mereka semua di permalukan. ANdai om tau, akan jadi seperti itu, mungkin Om cukup datang berdua dengan Tantemu. Tak perlu membawa keluarga besar." jedanya.
"Om juga malu sama keluarga besar luna, bahkan tetangga orang tua Luna yang tak tau apa-apa pun, juga melihat aib itu. Semuanya datang hanya untuk melihat lelucon yang Luna tayangkan. Kamu tau, wajah Om seperti di baluri kotoran oleh mereka berdua. Malu, sangat malu. Bahkan keluarga Om juga merasa kecewa karena tak seharusnya, aib keluarga di buat permainan seperti ini. Mereka yang awalnya datang dengan penuh kebahagiaan dan wajah ceria, namun mereka pulang dengan raut wajah malu."
"Dengan itu aja, rasanya Om dan Tante gak tahan berlama-lama di sana. Kami memilih pulang dengan hati yang memendam kekecewaan yang begitu dalam dan juga amarah yang luar biasa. Sepanjang perjalanan, kami hanya diam."
"Sesampai di rumah, Om fikir masalahnya sudah selesai. Tapi tidak, Kakek dan Nenek kamu datang, menampar Om dan Tante. Mereka mengatakan Om dan Tante gak becus jadi orang tua. Mereka terus mengatakan hal-hal yang begitu menyakitkan. Bukan hanya mereka, tapi juga seluruh keluarga besar, ikut merundung kami, ikut menghina kami, ikut mencaci maki kami. Om dan Tante hanya diam, karena memang kami salah. Salah karena Om, mungkin kurang mendidik Ariel menjadi pria bang-sat seperti itu. Om gak tau, sejak kapan Ariel berubah. Karena setau Om dan Tante, Ariel sangat mencintai Luna, dia bahkan selalu memuji Luna di hadapan Om dan Tante. Dia bahkan menjadi suami yang posesif karena sangking cintanya sama Luna. Ariel juga sering membicarakan Luna jika Om dan Tante nelfon untuk menanyakan kabarnya. Dia selalu mengatakan Luna itu istri yang sangat baik, penyabar, cantik, sholehah dan pintar melayani suamiya. Ariel bahkan beberapa kali bilang, jika dia sangat beruntung bisa memiliki dan menikahi Luna."
"Pernah Om dan Tante datang ke rumahnya dan membawa sepupu laki-lakinya. Wajah Ariel terlihat sangat marah, Om tau, Ariel orang yang pencemburu. Lalu bagaimana mungkin, Ariel yang sangat bucin tiba-tiba mengkhianatinya. Dia bahkan tidak membiarkan Luna keluar sendirian dan tidak menerima tamu laki-laki karena ia gak mau, kecantikan Luna di lihat oleh pria lain. Baginya, Luna adalah miliknya. Itulah yang om tau. Makanya Om dan Tante sangat menyayangi Luna, karena kami tau, Luna adalah sumber kebahagiaan Ariel. Dia adalah separuh hatinya, belahan jiwanya. Bahkan Ariel juga tidak mengizinkan Luna menginap di sini, dia seperti mengurung Luna di rumahnya. Om dan Tante pun hanya bisa memakluminya, karena Om juga dulu saat masih muda melakukan hal yang sama, untungnya Tantemu itu, penyabar dan dia mengerti bahwa Om itu sangat mencintainya jadi dia memaklumi sifat Om yang juga bucin. Sama seperti Ariel yang bucin kepada istrinya."
"Om juga mendengar, Ariel bahkan tidak mau di dekati oleh wanita di luar sana, ia bahkan menolak setiap kali ada yang mendekatinya. Ariel itu sama seperti Om. Jika sudah mencintai satu orang, sulit buat berpaling dari wanita lain. Tapi Om dan Tante gak tau, kenapa semuanya jadi seperti ini?"
"Om dan Tante juga tidak melihat keanehan dalam hubungan mereka, Luna seperti biasa, sangat antusias sekali menyambut kedatangan Om dan Tante. Luna juga meminta Om dan Tante menginap. Dan kami pun menyetujuinya."
"Hanya saja, waktu itu, saat tengah mengobrol, Ariel terlihat gusar seperti merasa bersalah saat Om membahas tentang sebuah pengkhianatan. Tapi waktu itu, Om tidak tau, jika Ariel sudah berkhianat. Jadi, Om tidak terlalu berfikir ke arah sana."
"Di saat itulah, Luna tiba-tiba mengatakan ingin merayakan ulang tahun Luna di kampungnya, saa Tante nanya, kenapa merayakan di sana. Luna cuma bilang karena dia jarang pulang dan sekalian ingin sedekah di sana. Mendengar hal itu, TAnte sangat antusias sekali, dan berjanji akan membawa seluruh keluarga besarnya untuk meramaikan ulang tahunnya."
"Sore hari, sehabis sholat ashar. Luna mengajak kami ke Mall, Luna membelikan kami banyak barang, dia seakan sengaja inging menghabiskan uang Ariel. Saat Tante nanya, apa gak papa, membeli banyak barang. Luna jawab, gak papa, Ariel punya banyak uang, sangking banyaknya, sampai uangnya di hambur hamburkan ke orang lain. Waktu itu, Om merasa ini sudah tidak wajar, namun Om dan Tante berusaha diam karena luna tidak bicara apa-apa."
"Waktu kami makan di resto milik Ariel, di sana cukup sepi. Saat Papa tanya kenapa, Luna bilang resto itu mungkin panas karena di jadikan tempat maksiat. Lagi-lagi Om mikir makin ada yang aneh, Luna seakan ingin bilang jika Ariel selingkuh. Namun Om gak bisa gegabah. Di situ, Ariel dan Luna berdebat. Namun saat Tante tanya ada apa, mereka bilang gak ada apa-apa. Selalu seperti itu jawabnya, mereka seakan menutupi masalah mereka dari kami."
"Lalu Om dan Tante di kenalin sama Laras, yang ternyata sahabat Luna. Namun Ariel mengaku sama semua karyawan di sana, kalau Laras itu saudaranya."
"Saat itu, tiba-tiba Luna juga mengundang semua karyawan buat datang ke acara ulang tahun Luna di kampung."
__ADS_1
"Om tidak mengerti dengan jalan fikiran Luna. Namun setelah sepulang dari resto, Om hanya berbicara berdua dengan Ariel, namun dia kekeh mengatakan jika dia gak mungkin melukai Luna karena dia sangat mencintai Luna. Om tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada yang mau mengaku. Namun, Om memberikan ancaman keras. Om tidak mungkin kan bertanya langsung pada Luna, jadi Om lebih nyaman bicara sama Ariel, selaku anaknya Om sendiri. Dan memberikan peringatan padanya."
"Keesokan harinya, saat ARiel pergi entah kemana. Barulah Tante mengajak Luna bicara dan di sanalah, Luna jujur jika dia hamil. Om gak tau apa yang mereka omongin, karena Tante cuma bilang jika Luna kini tengah hamil."
"Dan setelah itu, sore harinya pun kami pamit pulang. Luna tetap gak mau cerita tentang permasalahan keluarga kecilnya, dan sebagai orang tua, kami gak bisa ikut campur. Kamu tau kan, banyak menantu merasa kesal jika mertuanya terlalu ikut campur. Tante dan Om gak mau seperti itu, membuat Luna gak nyaman jika Om dan Tante terlalu mengatur mereka. Bahkan dalam agama pun, juga tidak di perbolehkan orang tua atau mertua ikut campur rumah tangga anaknya, kecuali jika anak itu datang ke mereka dan meminta solusi."
"Seharusnya waktu itu, Luna cerita aja sama kami, jika Luna cerita. Om pasti akan menghajar Ariel habis-habisan bahkan jika perlu, om akan buat Ariel bersimpuh di kaki Luna. Bahkan om sendiri yang akan membantu Luna untuk pisah dengan Ariel, jika itu yang Luna mau. Om dan Tante akan membela Luna terlebih Luna mengandung cucu kami. Tapi sayangnya, Luna memilih bungkam dan ternyata Luna sudah punya rencana sendiri untuk balas dendam."
"Mungkin Luna berfikir, ia hanya ingin memberikan pelajaran buat mereka berdua, atau ingin memberitahu kepada semua orang tingkah laku suami dan sahabatnya. Namun sayangnya, Luna tidak memikirkan dampak dari apa yang ia lakukan."
"Dan baru baru ini, Om tau. Jika ternyata Luna lah yang memaksa Ariel buat menerima kehadiran sahabatnya itu masuk ke dalam rumah tangga mereka. Entah apa yang ada dalam fikiran Luna saat itu, kenapa dia bisa berfikiran buat membiarkan sahabat dan suaminya bersatu. Padahal dulu saat masih muda bahkan sampai Tante meninggal, TAnte gak pernah mengizinkan Om berdua dengan wanita lain, walaupun itu sepupu perempuan Om sendiri. Bahkan juga dengan saudara ipar Om sendiri. Saat Om kerja pun, Tante akan datang saat jam makan siang dan memastikan Om gak dekat dengan wanita lain. Bahkan tak jarang, Tante juga memeriksa Hpnya Om, takut jika Om akan chatan dengan wanita lain. Dan Om pun juga melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah."
"Entah apa maksud Luna, membiarkan sahabat terdekatnya untuk terus bergantung sama Ariel. Sedangkan dia faham agama, bahkan dalam satu rumah tangga, membiarkan ipar tinggal seatap dengan mereka pun, juga tidak di perbolehkan karena bukan mahram, apalagi cuma sekedar sahabat, yang merupakan orang luar."
"Namun apapun itu, bukankah wanita tidak pernah salah. Jadi, Om hanya bisa menyalahkan Ariel, kenapa dia gak bisa menahannya dan bahkan melakukannya berulang kali. Itu yang Om bikin sakit hati. BAhkan Omm sendiri melihat bagaimana mereka seperti orang yang mabuk cinta. Tapi Ariel juga tidak akan seperti itu, misal Luna tidak mendatangkan Laras ke dalam rumah tangga mereka."
"Entahlah, Om bingung."
Setelah itu, Ardi diam. Setelah mengungkapkan perasaaannya pada Noah. Perasaan yang ia pendam seorang diri.
"Sebenarnya, aku juga bingung Om. Siapa yang salah. Ariel emang salah sudah selingkuh, tapi dia juga gak mungkin selingkuh jika Luna tidak terus menerus mendekatkan suaminya dengan sahabatnya. Luna lah yang menciptakan peluang itu dan mendekatkan mereka secara tidak langsung. Laras, yang merupakan sahabat Luna juga salah. Sudah tau Ariel, suami orang, tapi tetap menggodanya, mungkin Laras berfikir, LUna pasti akan memaafkannya dan menerimanya jadi istri kedua, mengingat selama ini, Luna baik padanya dan mengabulkan apapun yang ia mau. Tapi sayangnya, dugaan Laras salah karena nyatanya, Luna bahkan sangat murka saat tau mereka menjalani hubungan bahkan sudah melakukan hal lebih."
"Tapi siapapun yang salah, pada intinya, Ariel sudah menyesali perbuatannya. Dia sudah mendapatkan karmanya. Nama baiknya hancur, kehidupannya hancur, dia juga kehilangan sang Mama untuk selamanya, bahkan dia juga tidak bisa melihat wajah mamanya untuk terakir kalinya. Dan kini, ayo kita bersama-sama, membantu Ariel agar lekas pulih. Dia sangat menderita, Om. Om tau sendiri, kan jika Ariel itu sebenarnya orang yang sangat baik. Hanya saja, kedatangan Laras dalam hidupnya, paksaan dari istrinya membuat Ariel salah jalan dan akhirnya malah seperti ini. Ariel tidak salah seratus persen. Aku tidak membela Ariel, tidak sama sekali. Tapi kenapa harus dia yang menanggung semuanya, seakan seratus persen itu merupakan kesalahannya."
"Om yang mendidik Ariel dari kecil hingga dia dewasa. Om lebih tau, bagaimana karakternya. Dia bukan laki-laki be-jat, Om. Apa pernah dulu saat sekolah atau bahkan saat kuliah, Ariel mainin cewek. Enggak, kan? Kalau dia emang be-jat, mungkin dari dulu, dia sudah memacari banyak wanita dengan ketampanan dan kekayaannya. Nyatanya apa, dia gak memanfaatkan apa yang ia punya, hanya untuk menarik perhatian wanita lain. Bahkan saat menikah pun, dan dia punya banyak uang, ia juga tidak mau terlena dengan kecantikan atau godaan wanita lain. Namun sayangnya, Luna seakan ingin menguji cintanya, ia menghadirkan wanita lain dalam rumah tangga mereka dan mencoba mendekatkan mereka. Ariel bukan malaikat, sekuat-kuatnya dia menahan godaan, pada akhirnya dia akan jatuh jika terus menerus mendapatkan godaaan dan rayuan dari Laras. Sekali, Dua kali, Tiga kali, mungkin Ariel bisa menghindar, tapi bagaiman jika hampir setiap hari terus di goda, pria mana yang tahan? Jadi, aku harap, Om tidak terus menerus menyalahkan Ariel. Sudah cukup dia menderita selama ini, tolonglah, maafkan Ariel walau hanya sedikti saja. Temui dia dan beri dia semangat untuk bisa segera sembuh dan kembali hidup normal. Om pasti akan nangis jika melihat Ariel secara langsung. Tidak ada Ariel dengan tubuh kekarnya, ia bahkan sudah seperti tengkorak. Hanya saja masih ada nyawa yang melekat, sehingga dia masih bisa bernafas."
Noah terus saja memohon, membuat ARdi akhirnya mengangguk.
"Baiklah, besok Om akan ke sana."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Om sudah tau kan, Ariel di rawat di mana?" tanyanya dan Ardi pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Setelah berjam-jam memujuknya, akhirnya Noah pun pulang dengan wajah cerianya. Ia harap, apa yang ia lakukan saat ini bisa membuahkan hasil.