
sejak Dion koma, Mami Ocha dan Papi Dimas fokus ke kesehatan Dion. Setiap hari mereka berharap jika Dion bisa membuka matanya dan kembali pada mereka.
Sungguh Mami Ocha dan Papi Dimas, akan hancur sehancur hancurnya jika Dion sampai memilih pergi dari mereka.
Sedangkan Luna, ia memilih untuk tinggal di rumah seperti suruhan sang Mami Ocha. Karena bagaimanapun tidak baik buat Daniell berlama-lama di rumah sakit apalagi jika sampai dua puluh empat jam.
Luna pun tentu bahagia, dengan begitu, ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Daniell.
Mumpung Dion belum sadar, karena jika sadar, pasti fokus sang mertua bukan ke Dion lagi tapi ke cucunya.
Untuk itu, mumpung ada kesempatan,Luna ingin puas puasin dekat dengan putranya.
Apa Luna gak sedih melihat suaminya terluka? Pasti sedihlah. Mana ada istri yang baik-baik saja suaminya terluka.
Tapi ya, Luna bisa apa. Selain hanya bisa bantu lewat doa, semoga suaminya segera membaik. Hanya itu yang bisa Luna lakukan untuk sang suami.
Dua Minggu sudah Dion koma, dan sekarang Dion mulai membuka matanya. Mami Ocha dan Papi Dimas langsung bergegas memanggil sang dokter.
Dion pun langsung di periksa oleh dokter terbaik.
Dan ternyata Dion mengalami lupa ingatan. Yah, benturan keras itu membuat fungsi otaknya sedikit bermasalah hingga membuat Dion seperti ana polos yang tidak mengerti apa-apa.
Mendengar penjelysang Dokter, Mami Ocha kembali menangis histeris. Sedangkan Papi Dimas hanya diam.
Setidaknya ini lebih baik dari pada putranya pergi untuk selamanya. Toh kada dokter, ini hanya sementara. Dan lambat lain, Dion akan mulai ingat dengan masa lalunya.
Papi Dimas segera menelfon Luna untuk datang ke rumah sakit, bagaimanapun Luna adalah istrinya dan dia berhak tau bagaimana kondisi suaminya.
Luna yang mendapatkan kabar dari sang Papi, pun langsung bergegas untuk ke rumah sakit bersama Daniel.
Luna memakai tadi online karena ia tak mungkin menyetir sambil gendong bayi.
Sesampai di rumah sakit, kedatangan Luna langsung di sambut oleh sang mertua.
"Nak, ini Luna istri kamu. Dan ini Daniel, putra kamu." Mami Ocha menjelaskan dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku sudah nikah?" tanya Dion seperti orang linglung.
"Ya, kamu dah nikah dan ini istri dan anak kamu."
Mendengar hal itu, Dion pun akhirnya mengangguk faham.
"Mas," panggil Luna yang langsung memeluk sang suami.
Dion pun membalas pelukan Luna yang menangis dalam pelukannya.
Mami Ocha dan Papi Dimas, berusaha menjelaskan tentang kehidupannya pada Dion. Sungguh mereka seperti menjelaskan sesuatu pada orang asing, rasanya sangat aneh. Tapi memang ini kenyataannya.
Namun dengan kejadian ini, membuat Mami Ocha dan Papi Dimas sadar, bahwa selama ini mereka sudah menjadi duri dalam penarikan anaknya.
Bisa jadi anaknya stres karena menghadapi sifat mereka. Untuk itu, Mami Ocha dan Papi Dimas, memilih untuk mengalah dan tak lagi mengganggu keharmonisan keluarga kecil itu.
__ADS_1
Mami Ocha dan Papi Dimas memilih pergi dari sana dan memberikan waktu buat Luna berbincang dengan Dion.
"Kamu beneran istriku?" tanya Dion memastikan
"Ya," balas Luna
"Tapi kenapa sifat kamu biasa aja, dan tidak terlihat khawatir sama aku," ujar Dion lagi.
"Emang aku harus bagaimana? Haruskah aku menangis meraung-raung seperti orang kesurupan?" tanya Luna kesal.
"Bukan gitu, tapi aku lihat kamu tidak terlalu sedih kecuali air mata yang keluar."
"Sudahlah jangan di bahas. Kamu benera.lupa sama aku dan semuanya?"
"Kamu fikir aku bercanda?"
"Ya, bisa jadi kan."
"Kamu aneh. Mana ada sakit di bua bercanda seperti ini.
"Ya kamu itu. Gimana, ada yang sakit?"
"Semuanya."
"Semuanya apa?"
"Semuanya, tubuh aku sakit semua," jelasnya.
"Kamu lebih mementingkan pohon dari pada suamimu sendiri?" sindir Dion.
"Ya gak gitu juga, tapi misal pohonnya roboh kan kasihan. Apalagi itu pohon umurnya puluhan tahun lamanya."
"Terus kamu gak kasihan melihat suamimu seperti ini?"
"Kasihanlah," sarkas Luna.
"Masak?"
"Masak di dapur. Kamu itu beneran lupa ingatan gak sih..Kok habis sakit, jadi cerewet gini. Jangan-jangan ..... " Luna mengangtung ucapannya.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan kamu bukan suamiku."
Mendengar hal itu, Dion mendorong dahi Luna dengan jari telunjuknya.
"Kamu kalau ngomong asal ceplas-ceplos."
"Habisnya kamu sih, setelah koma dua Minggu, kamu langsung jadi cerewet gini."
"Kamu gak suka?"
__ADS_1
"Sukalah, mending gini dari pada yang lalu."
"Hemm .... "
Mereka terus mengobrol, mengakrabkan diri. Entah kenapa Luna suka dengan sifa suaminya yang seperti ini, dari pada yang lalu.
"Ini beneran anak kita?"
"Kamu fikir anaknya tetangga? Gak lihat, ini wajah kayak fotokopi sama wajah kamu?"
"Iya juga sih. Tapi kenapa dia lebih tampan dari aku."
"Wajarlah, itu karena perpaduan wajah kamu sama wajah aku. Makanya makin cakep."
"Mosok?"
"Iya dong."
Mereka terus berbincang satu sama lain , hingga Daniell yang tertidur kini menangis, mungkin merasa terganggu dengan obrolan absurd orang tuanya.
Luna pun langsung membuka hijabnya, di dan membuka bajunya hingga memperlihatkan susunya yang putih mulus.
"Kamu mau ngapain?" tanya Dion kaget.
"Nyusui anakmu lah. Emang ngapain lagi coba," ujarnya sambil membantu putranya menyusu.
"Astaga. Kamu gak ada malu sama sekali ya?" sindir Dion.
"Ngapain malu, lah kamu aja sudah tau semuanya."
"Tau apa?"
"Semua yang ada di tubuh akulah," ujarnya.
"Hhh ... itu kan dulu sebelum aku lupa ingatan. Sekarang aku sudah lupa semuanya."
"Iya udah gampang, nanti kita ingat-ingat lagi."
"Apanya?" tanya Dion seperti orang bodoh.
"Melakukan hubungan suami istri, biar kamu inga lagi."
Mendengar hal itu, wajah Dion memerah.. Sungguh ia gak menyangka jika istrinya bisa ngomong terang-terangan seperti ini..Apa karena dirinya yang lupa ingatan, jadi Luna bisa bersikap seenaknya
Dion terus memperhatikan putranya yang menyusu dengan sangat rakus.
"Kamu mau?" tanya Luna membuat Dion geleng-geleng kepala, walaupun dalam hati, ia juga ingin merasakannya.
Tapi ia juga gak mungkin ngomong dengan terus terang hingga membuat dirinya malu sendiri.
"Ya sudah."
__ADS_1
Setelah Daniel kembali tidur, barulah Luna menaruh Daniel ke box yang sudah di siapkan oleh Papi mertuanya. Box bayi yang berada tepat di samping brankar.