Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kedatangan Laras Ke Rumah Ariel


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah selesai sholat shubuh. Ariel mengajak Luna olah raga di depan rumahnya, lari di tempat dan melakukan gerakan tubuh dari atas sampai bawah. Ariel dan Luna melakukannya bersamaan dan sesekali mereka sambil bernyanyi seperti orang gila. Mereka benar-benar menikmati olah raga mereka pagi ini.


Selesai olah raga, mereka istirahat bentar lalu menyiram tananam depan rumah. Luna yang menyiram sedangkan Ariel yang memotong daun yang kuning dan membuangnya di tempat sampah, mereka bergotong royong. Sebenarnya mereka gak harus melakukan itu, karena ada Bibi Neni yang melakukannya, hanya saja mereka ingin melakukan kegiatan itu berdua bahkan kadang Luna dengan usilnya menyemprot Ariel sehingga mereka main basah-basahan.


"Mandi bareng yuk, Mas. Sudah terlanjur basah semua kan kita," ajak Luna yang sudah mulai kedinginan karena main air dari tadi.


"Ayo. Kita lewat belakang aja ya, kasihan Bibi Neni kalau harus ngepel gara-gara kita bikin kotor," tambah Luna sambil mematikan kran air dan menggulung selangnya dan menaruhnya di samping rumah agar tidak berantakan.


Setelah itu, Ariel dan Luna jalan lewaat samping rumah dan mereka masuk lewat pintu belakang. Sebelum masuk, mereka mencuci baju dulu dan meminta Bibi Neni mengambilkan handuk. Baru setelah itu, Ariel dan Luna bisa masuk ke kamar mereka tanpa bikin lantai kotor.


Sesampai kamar, Ariel dan Luna pun segera mandi bareng.


"Lain kali kita mandi bareng lagi ya yank," ujar Ariel setelah selesai mandi, ia segera mengeringkan tubuhnya dan rambutnya dengan handuk.


"Iya, Mas," jawab Luna. Ia juga senang bisa mandi bareng karena bisa saling menggosok tubuh mereka satu sama lain, karena jika mandi sendiri, kadang tangan Luna gak nyampek untuk membersihkan punggungnya.


Dan lagi, di kamar mandi, mereka bisa melanjutkan yang tadi malam, sebagai penutup sebelum akhirnya Ariel akan sibuk kerja lagi seharian.


Setelah selesai berpakaian, tiba-tiba pintu kamar di ketuk. Luna pun membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Luna melihat Bibi Neni ada di depan kamarnya


"Ada Non Laras di ruang tamu, Non," jawab Bibi Neni.


"Oh, sudah di buatkan minum?" tanya Luna lagi, ia sejujunya kaget, ini pertama kali Laras mau datang ke rumah sejak ia bekerja di resto. Apalagi pagi-pagi gini.


"Sudah, Non. Bibi Imah yang buatin tadi," sahut Bibi Neni.


"Iya sudah, nanti saya keluar. Makanannya sudah siap, belum?" tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, Non."


"Oke, bentar lagi aku keluar."


"Baik, Non."


Setelah Bibi Neni pergi, Luna pun menutup pintunya lagi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ariel sambil menyemprotkan parfum ke bajunya.


"Ada Laras di ruang tamu," jawab Luna sambil menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakanag. Ia menyenderkan kepalanya di punggung suaminya yang lebar itu.


"Tumben, pagi-pagi ke sini?" tanya Ariel heran.


"Aku juga gak tau. Nanti Mas langsung ke ruang makan aja ya, aku mau menemui Laras dulu."


"Kita gak sarapan bareng?" tanya Ariel cemberut.


"Iya deh."


Setelah itu, mereka pun keluar dari kamar. Ariel pergi menuju ruang makan sedangkan Luna menuju ruang tamu. Dan saat ia melihat perubahan Laras, Luna benar-benar terkejut. "Ini beneran kamu, Laras?" tanya Luna kaget sambil menghampiri Laras dan memastikan itu beneran dirinya.


"Iyalah, kamu fikir siapa?" tanya Laras terkekeh.


"Gila sih, kamu kok bisa berubah gini, cantik banget," puji Luna, baru sebulan gak ketemu, tapi Laras sudah berubah banyak kek gini, gimana kalau setahun, mungkin Laras akan jadi wanita sangat cantik, bahkan lebih cantik dari pada dirinya sendiri. Namun walaupun begitu, Luna merasa senang akan perubahan Laras itu.


"Haha iya, sebulan ini aku perawatan, Lun. Ikut nge-gym juga kalau hari Minggu. Dan menyempatkan olah raga kalau pagi hari, terus pulang dari kerja, aku juga menyempatkan waktu buat luluran makanya aku benar-benar gak bisa ke sini. Maafin aku ya," ucap Laras merasa bersalah.


"Enggak papa, kok. Aku ngerti. Tapi sumpah, kamu berubah banget tau gak. Beda sama Laras yang baru datang. Padahal baru sebulan, tapi sudah banyak perubahaannya gimana kalau berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun, bisa-bisa aku kalah dari kamu," kata Luna terkekeh.

__ADS_1


"Mana ada. Kamu itu gak bisa dikalahkan, Lun. Kamu dah cantik dari lahir, apalagi kamu perawatan gini, kamu selalu cantik tiap harinya. Sedangkan aku, aku harus berusaha keras biar bisa berubah dan tak lagi dekil," tutur Laras.


"Haha ya deh. Kamu sudah sarapan?" tanya Luna dan Laras menggelengkan kepalanya


"Aku belum sarapanĀ  tapi aku sudah minum jus buah barusan sebelum ke sini. Sebenarnya aku cuma mau mampir ngasih ini," Laras memberikan tas kresek ke Luna.


"Apa nih?" tanya Luna.


"Buka aja," ujar Laras.


"Sambal bawang, keripik dan makanan khas desa kita. Kamu dapat ini dari mana?" tanya Luna penasaran.


"Sebenarnya hari Jumat lalu, Ibu minta alamat aku. Terus aku kasih, eh gak taunya, hari MInggu sore sudah dapat kiriiman ini," ujar Laras. Ya kemaren saat hari Jumat ibunya maksa minta alamat Laras dan dengan cemberut, Laras pun memberitahu alamat kontrakannya dan hari minggu sore, ia mendapatkan kiriman dari kampung. Laras gak menyangka jika ternyata ibunya maksa minta alamat rumah dirinya karena ingin memberikan sambal bawang kesukaannya dan jajan khas desa sana yang paling Laras suka.


Kadang Laras merasa heran, dulu saat dekat, pengennya bertengkar terus, tapi kalau jauh ginii, bilangnya kangen terus. Entahlah, Laras gak mengerti fikiran mereka.


Dan karena Laras tengah diet dan gak lagi makan sembarangan, jadi makanan itu di biarkan gitu aja di atas meja. Dan karena tadi malam Ariel mengantarkan dirinya, jadi Laras ingin berterima kasih dengan memberikan makanan dan sambal kesukaannya buat Ariel. Tapi ia juga tak mungkin terang-terangan bilang kalau itu buat Ariel, karena Laras tak ingin Luna salah faham padanya


"Wah ... aku sudah kangen banget loh pengen makan ama sambal bawang. Dulu aku suka banget makan makanan ini, apalagi jajan khas desa kit apa keripik nangka. Makasih ya, Laras."


"Emang kamu gak papa makan makanan gitu? Bukannya kamu diet?" tanya Laras membuat Luna cemberut.


"Aku gak akan makan semuanya kok, cuma dikit aja. Sisanya aku nanti kasih ke Bibi Imah dan Bibi Neni," ujar Luna membuat Laras merasa kecewa. Padahal itu buat Ariel tadinya, tapi Luna seakan melupakan suaminya dan lebih mementingkan pembantunya itu. Namun Laras tak bisa berontak dan hanya bisa mengiyakan saja.


"Sayang, ayo makan. Aku lapar," teriak Ariel membuat Luna lupa akan suaminya yang tengah menunggunya di ruang makan.


"Laras, aku harus nemenin suamiku makan dulu. Kalau kamu mau gabung, ayo gabung. Kamu kan belum sarapan pagi," ujar Luna. Laras pun menganggukkan kepala, ia tak menolak bukan karena lapar, tapi kapan lagi bisa makan bareng bosnya. Karena jika di resto Ariel super cuek banget. Tadi malam aja, dia masih kaget, Ariel banyak bicara padanya, karena itu pertama kalinya dia kayak gitu, setelah sebulan Laras kerja di restorannya.


"Iya udah, ayo." Luna pun mengajak Laras ke meja makan di mana di sana ada Ariel yang memainkan hpnya karena menunggu istrinya dari tadi.

__ADS_1


"Mas, Laras gabung makan sama kita, gak papa kan?" tanya Luna hati-hati. Ariel tak menjawab, tapi ia menganggukkan kepala. Melihat hal itu, Luna tersenyum senang. Luna pun menyuruh Laras duduk tepat di hadapan Ariel, sedangkan Luna duduk di samping Ariel.


Entah kenapa sarapan pagi itu, terkesan hambar karena tak ada yang mau bicara. Ariel yang biasanya ngajak Luna bicara, kini memilih diam, dan Luna pun juga bingung mau ngomong apa. Sedangkan Laras dari tadi, curi-curi pandang ke arah Ariel sambil menikmati sarapan pagi yang ada di hadapannya itu.


__ADS_2