Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
POV Luna


__ADS_3

Luna yang sibuk bekerja, tidak tau apa yang terjadi. Setelah dirinya susah payah, membangun usahanya untuk kembali maju. Akhirnya sedikit demi sedikit sudah mulai ada yang memesan di tempatnya lagi, walaupun masih belum serame dulu.


Dan Alhamdulillah nya lagi, ada yang mau inves dengan biaya yang cukup besar. Luna tak mungkin menolaknya.


Setelah berbincang dengan Anggi, akhirnya Luna dan Anggi pun akhirnya pergi ke perusahaan yang mau investasi ke restoran miliknya.


Dan setelahnya, ia akan menemui beberapa petani yang mau menyumplay ke tempatnya. Karena petani yang kemaren kemarennya, mengundurkan diri, mungkin dia takut jika nantinya resto ini bener bener bangkrut, sehingga memilih memutuskan kontrak dan menyuplai ke resto yang tak jauh dari resto milik Luna.


Luna gak balas dendam, ia terima dengan ikhlas,karena setiap orang berhak untuk memilih, dengan siapa dirinya mau bekerja sama.


Sejujurnya, ia kini tengah berjuang seorang diri. Punya suami seperti tak punya suami. Seperti itulah yang Luna rasakan.


Dulu ia berfikir, jika punya suami, bebannya akan berkurang. Tapi nyatanya, enggak. Pada akhirnya ia harus berjuang sendirian. Karena Dion tak mau bantu dirinya sama sekali, entah apa karena memang sibuk beneran atau karena Dion, mencoba mencari alasan. Bagaimanapun Resto itu dulu, milik mantan suaminya. Jadi wajarjuga jika Dion enggan membantu Luna membesarkan resto milik mantan suaminya.


Namun sekali lagi, Luna mengalah. Ia tak ingin bertengkar masalah sepele. Tak apa, walaupun Dion tak mau bantu sedikitpun, entah dari masalah materi, ide atau waktu. Luna ikhlas, ia percaya, selagi ia mau berusaha dan berdoa. Pasti akan ada jalan untuknya.

__ADS_1


Jika di tanya, apakah dirinya merasa bersalah meninggalkan suaminya. Tentu, ia pun tak ingin ada di posisi seperti ini.


Tapi apalah daya, ia tak ingin menjual resto yang kini tengah ia kelola. Ada banyak hal yang harus ia fikirkan.


Pertama, kenapa ia sangat ingin mempertahankannya, karena ia mengingat perjuangan mantan suaminya dalam mendirikan Resto A.L


Kedua, ia tidak punya pemasukan lain, selain resto itu. Bagaimanapun jika sampai kelak Dion, misalnya menceraikannya. Setidaknya ia masih punya pegangan. Ia masih punya pemasukan tiap bulannya.


Ketiga, Resto itu mempunyai banyak kenangan dirinya dan mantan suaminya. Ada banyak kenangan terindah di sana, bagaimana dirinya dulu selalu mensupport sang mantan suami, saat suaminya merasa lelah dan ingin menyerah. Bagaimana ia berusaha memberikan nasihat-nasihat positif agar Ariel mau berjuang sekali lagi. Dulu ia ingat banget, bagaimana ia selalu bangun tengah malam hanya untuk berdoa agar semua usaha Ariel berjalan lancar tanpa ada hambatan. Yah, Ariel yang berusia, sedangkan dirinya yang bantu doa serta support.


Kelima, ia malu jika sampai Ariel tau, mengenai resto yang kini sepi dan hampir gulung tikar. Ia takut, Ariel akan berfikir, dirinya tidak bisa menghargai pemberiannya, menjaga apa yang sudah Ariel berikan.


Banyak hal yang harus Luna fikirkan, kadang dirinya ingin menangis. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia yakin jika ia gagal sekali, masih ada banyak jalan ini dirinya menggapai kesuksesan. Asalkan mau bekerja keras, pantang menyerah dan mau berusaha


Dan masalah Luna tak pulang, karena ia lagi dalam perjalanan menuju tempat petani. Dan memang sinyalnya agak susah, karena tempatnya masuk pedalaman.

__ADS_1


Terlebih baterainya juga drop, jadi Luna tak akan tau jika misal Dion datang ke Jakarta untuk menemui dirinya. Serta Luna juga tidak tau apa yang terjadi pada Ayahnya saat ini.


Sehingga Luna masih happy happy aja, dan sesekali bercanda dengan Anggi untuk mencairkan suasana agar tidak kaku. Baginya, Anggi terlalu kaku dan terlalu serius dalam bekerja, sampai jarang sekali tertawa apalagi bercanda


Untuk itulah, di kesempatan kali ini. Luna ingin mengajak Anggi bergurau agar perjalanan menuju pedalaman tidak terlalu hambar dan kaku.


"Kamu kenapa Mbak?" tanya Anggi saat melihat Luna menggelengkan kepalanya.


"Aku gak papa, cuma tadi wajah Ayah terlintas di mataku," balasnya.


"Mungkin Mbak Luna, kangen sama Ayahnya. Aku juga gitu, misal kangen, seringkali terbayang-bayang." ujar Anggi.


"Iya, mungkin. Soalnya aku sudah lama gak ketemu Ayah, nelfon dan Vidio call pun jarang."


"Usahakan seminggu dua atau tiga kali, telfon. Atau paling gak minimal seminggu sekali lagi. Kalau aku, sering telfnan, Vidio call sama orang tuaku. Kalau chatan, bahkan setiap hari, pagi, siang, sore, malam. Walaupun hanya sebentar, setidaknya aku sudah mengabari mereka, sehingga mereka gak khawatir," ujarnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Luna sedikit merasa bersalah. Bukan hanya pada orang tuanya tapi juga pada adiknya, serta suaminya. Karena sejak dirinya, sibuk ia bahkan lupa segalanya dan hanya fokus bagaimana agar restorannya kembali ramai, bahkan kalau bisa, lebih maju dari dulu saat di pegang mantan suaminya


__ADS_2