
Ariel mengemudikan mobilnya setelah mengirim pesan pada Laras, ia menunggu di pertigaan. Dan gak lama kemudian, Laras pun datang dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia menggunakan pakaian sedikit terbuka membuat nafsu Ariel lagi-lagi bergejolak. Namun ia berusaha untuk menahannya karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia harus menyelesaikan masalahnya sebelum ia menyesal nantinya.
Setelah Laras duduk dan memakai sabuk pengamannya, barulah Ariel menjalankan mobilnya. "Luna kemana, Mas? Kok kamu bisa keluar?" tanyanya.
"Lagi tidur," jawabnya cuek.
"Kamu kenapa? Kamu marah gara-gara kejadian di resto tadi?" tanya Laras, melihat sikap Ariel yang dingin padanya.
Namun yang di tanya malah diam dan fokus untu mengemudi, ia gak mungkin menoleh ke arah Laras dan membuatnya khilaf seketika.
"Aku gak salah loh, kamu yang bilang kalau kita ini saudara. Aku juga gak ngapa-ngapain tadi, bahkan saat yang lain nanya kebenarannya, aku memilih diam dan pamit pulang duluan. Karena aku takut salah ngomong dan bikin kamu marah sama aku. Saat ini temen-temen Resto banyak yang chat aku, bahkan di grup pun rame membahas masalah kita," ujarnya memberitahu.
"Mas?" panggil Laras karena merasa omongannya gak di tanggepi.
"Apa?" tanyanya dingin.
"Kamu denger gak sih aku ngomong."
"Aku denger."
"Tapi kok diem dari tadi?"
"Terus aku harus ngomong apa?"
"Ya tanggepi dong omonganku barusan."
"Males."
"Kamu kenapa sih, Mas? Lagi bertengkar sama Luna?" tanyanya.
"Enggak."
"Terus kenapa? Jangan giniin aku dong. Gak enak banget rasanya."
"Sudahlah diam aja," jawabnya.
"Hmmm"
Laras pun akhirnya diam dan fokus ke jalan namun ia mengernyitkan dahi, masalahnya seharusnya Ariel belon kiri ini malah jalan lurus.
"Kita mau kemana Mas?"
"Ke suatu tempat."
"Iya kemana?"
"Nanti juga tau sendiri."
"Mas gak akan bunuh aku, kan?" tanyanya mulai ada rasa takut, pasalnya sikap Ariel dari tadi cuek dan dingin. Terlebih tadi di resto ada masalah, jadi bagaimana mungkin Laras akan tetap tenang di saat ia bingung Ariel mau membawanya kemana.
"Kamu pikir, aku psikopat! Walaupun aku sudah melakukan banyak dosa, tapi aku tidak akan sampai tega menghilangkan nyawa orang. Gini-gini, aku juta takut kena karma."
"Ah, gitu. Syukurlah. Terus kita mau kemana?"
"Nanti kamu tau sendiri, jangan tanya terus. Pusing kepalaku," ucapnya membuat Laras akhirnya memilih diam.
Sejam kemudian, mereka tiba di pantai. Tempatnya cukup sepi karena memang ini sudah malam.
"Kita ngomong di sini aja, kalau kaluar, kamu pasti kedinginan," ucapnya sambil melihat penampilan Laras yang hanya memakai celana pendek di atas lutut, dan kaos pendek yang bahkan gak ada lengannya. Itupun kaosnya juga sangat pendek sampai perutnya sedikit kelihatan, tampilannya sudah seperi orang-orang korea.
"Ada apa?" tanya Laras lembut.
__ADS_1
"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini." Mendengar ucapan Ariel, Laras terbelalak kaget.
"Setelah apa yang kamu lakukan sama aku, Mas?" tanyanya menangis.
"Aku minta maaf, aku akan memberikan kamu uang berapapun, tapi aku benar-benar gak bisa melanjutkan hubungan kita, Laras."
"Kamu fikir, aku hanya butuh uang kamu aja, HAH!" teriak Laras, untung di pinggir pantai sepi, jadi walau Laras teriak pun, gak akan ada yang denger. Inilah alasan kenapa Ariel membawanya ke sini.
"Kamu sudah mengambil kehormatan aku, kepera wanan aku, dan sekarang kamu seenak jidat ingin mengakhiri hubungan ini. Mana janji kamu untuk menikahi aku, bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Kita bukan sekali dua kali loh, melakukannya. Sudah berkali-kali. Dan sekarang setelah kamu menyicipi tubuh aku, lalu kamu mau aku buang seenaknya. Aku gak akan pernah memaafkan kamu, Mas. ENGGAK AKAN PERNAH!" bentak Laras, menyuarakan isi hatinya. Dia terlihat marah, emosi dan juga kecewa dalam waktu yang bersamaan.
"Aku gak akan menyentuh kamu jika kamu gak menggoda aku, Laras. Kamu yang bikin aku berkhianat seperti ini. Kamu yang bikin aku menduakan Luna, sahabat kamu sendiri" teriak Ariel yang juga kesal karena Laras menyalahkan dirinya.
"Tapi nyatanya kamu menikmatinya, bukan? Bahkan setelah itu, kamu yang mengajak aku melakukan hubungan itu lagi. Jika kamu menyesal, seharusnya cukup sekali aja, tapi nyatanya apa, HAH. Kamu bahkan merasa candu untuk terus melakukan hubungan badan denganku. Dan sekarang, kamu dengan seenaknya mau menyalahkan aku saja. Aku gak terima, aku akan bilang sama Luna, bahwa selama ini kita diam-diam menjalani hubungan."
"Enggak, kamu gak boleh bilang sama Luna. Aku gak akan biarkan itu terjadi, dan lagian Luna gak akan percaya gitu aja, tanpa ada bukti," ucap Ariel membuat Laras menggelengkan kepalanya. Ia baru tau, jika Ariel punya sisi jahatnya.
Namun ia gak bisa membiarkan hubungan ini berakhir begitu aja, karena ada nyawa yang saat ini dalam perutnya.
"Mas, kamu tau gak, kalau saat ini aku tengah hamil"
"Apa maksud kamu, Laras?" tanya Ariel kaget.
"Aku hamil dan aku baru tau tadi pagi," jawabnya membuat Ariel terbelalak kaget.
"Aku sebenarnya mau ngomong baik-baik sama kamu, bahkan aku ingin memberikan kamu kejutan. Tapi kamu malah ngajak aku putus. Jika kamu mengakhiri hubungan ini, lalu bagaimana dengan anak kita? Haruskan aku menggugurkan anak ini, haruskan aku jadi pembunuh darah daging aku sendiri?" tanyanya dengan linangan air mata membuat Ariel merasa iba.
"Kenapa? Kenapa anak itu hadir di saat hubungan kita kayak gini?"
"Mungkin dia hadir karena gak mau kita berpisah, Mas. INi adalah jawaban, bahwa kita harus menyatukan hubungan kita ke dalam ikatan yang halal."
"Tapi aku gak bisa?"
"Kenapa, gak bisa? Kamu gak mau punya anak? Hem? Luna aja sampai saat ini belum juga hamil, bisa jadi dia itu mandul dan kamu gak akan dapat anak darinya," ucapnya membuat Ariel murka.
"Tapi kenyataanya, emang bener kan. Luna sampai detik ini tak kunjung hamil," ujarnya yang mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya lagi.
"Tapi bukan berarti dia mandul. Mungkin memang belum waktunya aja, aku dan Luna di karuniai anak," ucap Ariel yang tak suka, jika luna di hina. Karna bagaimanapun, ia sangat mencintai Luna dan ia gak akan biarkan siapapun menghinanya, termasuk Laras.
"Oke, fine. Aku gak akan menghina dia. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas anak ini, aku gak mau anak ini lahir tanpa ayah. Atau jika kamu mau, kamu bisa menemani aku untuk mengugurkan anak ini."
"Aku gak mungkin menggugurkan anak kandungku sendiri."
"Iya sudah kalau gitu ayo kita nikah!" ajaknya.
"Aku gak bisa melakukannya."
"Kenapa? Kenapa gak bisa?"
"Karena aku mencintai Luna, aku gak mau kehilangan dia. Aku gak mau Luna membenci aku dan menuntut cerai gara-gara aku menjalin hubungan sama kamu. Aku belum siap jika harus berpisah sama Luna, wanita yang sangat aku cintai."
"Kenapa baru sekarang kamu ngomong kayak gitu, saat kamu melakukan hubungan badan aku, apakah kamu gak memikirkan bagaimana perasan Luna, Hah! Semua sudah terlambat, Mas. Cepat atau lambat, Luna juga pasti akan tau hubungan kita."
"Enggak, aku akan melakukan apapun agar Luna tidak mengetahuinya."
"Dengan cara apa?"
"Kamu harus pergi dari sini."
"Aku gak mau!" teriak Laras, ia gak akan pergi gitu aja, ia sudah terlanjur cinta sama ARiel. Walaupun niat awalnya ia menggoda karena hidup enak dan menyukai ketampaann Ariel. Namun makin ke sini, ia sadar, ia bukan hanya mencintai uang dan ketampanannya, tapi Laras sudah terlanjur mencintai Ariel dan ingin memiliki dia seutuhnya.
"Tolong jangan mempersulit semua ini, Laras. Aku akan belikan kamu rumah, mobil asal kamu pergi dari kota ini."
__ADS_1
"Aku gak mau!" tolak Laras dengan nada tinggi.
"Terus maumu apa?"
"Aku nikah. Aku ingin kamu nikahi aku."
"'Tapi aku gak bisa. Aku takut, aku takut jika Laras akan membenci aku dan menggugat cerai aku. Dan lagi orang tua aku akan sangat marah sama aku dan tidak akan mengakui aku sebagai putra mereka lagi. Keadaan aku sangat sulit, Laras. Kamu harus ngertiin kondisi aku."
"Aku gak mau tau, Mas. Aku ingin kamu menikahi aku. Kamu gak mau aku menggugurkan anak kita, tapi kamu juga gak mau bertanggung jawab sama aku. Kamu pengen aku menderita, di hujat banyak orang karena hamil di luar nikah. Dan siapa yang akan menikahi aku, setelah mereka tau, aku wanita murahan yang sudah menjalin hubungan dengan suami orang. Kamu gak mikir ke situ Hah, kamu gak mikir bagaimana mental aku nanti saat semua orang membenci aku, mencaci maki aku, menghina aku, membully aku, belum lagi nasib anak kita yang juga akan merasakan hal yang sama. Kamu jangan egois, Mas. Kita buat dosa bareng, setidaknya kita juga menanggung semua ini bersama-sama. Jangan kamu hanya mengorbankan aku saja," ujarnya sambil menangis.
Ariel benar-benar frustasi, kenapa di saat ia ingin memutuskan hubungannnya dengan Laras dan mencoba untuk setia sama Luna, ia malah dapat masalah kayak gini.
"OH, Tuhan. Apakah aku gak bisa lepas dari masalah ini?" tanyanya yang mendadak merasa pusing.
"Atau gini aja, aku akan melamar Mas. Siapa tau jika aku minta baik-baik Luna akan maafin aku dan akan menerima aku jadi madunya. Luna kan baik, jadi dia gak akan tega membiarkan aku seperti ini. Mas juga harus minta maaf, dan mengaku salah. Mas harus terlihat sangat menyesal, aku yakin Luna akan mengerti sama kondisi kita," ujarnya.
"Kamu yakin?" tanya Ariel.
"Ya, aku sangat yakin. Aku kenal Luna sudah lama. Aku tau watas dan sifatnya seperti apa. Dia itu gak tegaan, dan suka terenyuh sama cerita-cerita sedih. Mudah di bodohi juga," ucapnya.
"Jangan bilang bodoh juga dong, dia itu pintar," ucapnya tak terima.
"Iya, ya. Luna pintar." gerutunya karena Ariel selalu aja bela Luna.
"Tapi bagaimana jika sebaliknya, bagaimana jika Luna gak mau maafin kita berdua?"
"Ya kita bersujud aja di kakinya, buat dia merasa kasihan ke kita sampai akhirnya dia mau menerima aku jadi madunya. Dengan begitu, Mas gak akan kehilangan Luna dan kita tetap bersama," ucapnya optimis.
"Tapi aku takut, takut jika Luna akan marah dan benci sama aku."
"Kita gak akan tau, jika belum mencoba. Aku kenal Luna sangat lama, dia gak mungkin bisa benci sama orang. Hatinya terlalu lembut," ujarnya berusaha meyakinkan Ariel.
"Baiklah, kita akan coba cara kamu. Tapi jika sampai Luna benci dan menggugat cerai aku, kamu harus tanggung akibatnya."
"Loh kenapa begitu?"
"Karena ini ide kamu. Tapi jika kamu gak yakin dengan ide kamu, maka kamu harus pilih ide aku, yaitu kamu pergi dan tinggalkan kota ini. Jaga rahasia kita dan aku akan pastikan kamu akan kekurangan, aku akan menjamin kamu dan anak kita hidup sejahtera tanpa kekurangan apapun," ucapnya membuat Laras menggelengkan kepalanya.
"Aku tetap gak mau pergi, aku yakin dengan keputusan aku ini. Kalau Luna pasti mau nerima aku jadi madunya."
"'Baiklah, kapan kamu akan membicarakan masalah ini?"
"Saat Luna ulang tahun, kita pulang kampung. Jika Luna sudah menerima aku, kita bisa langsung nikah di sana, Ayahku kan ada di sana, sebagai wali aku."
"Okay."
"Jadi kita gak jadi bubar, kan? Kita tetap menjalani hubungan ini kan?" tanya Laras senang, ia tak menangis lagi.
"Iya, aku harap ide kamu berjalan dengan lancar dan aku bisa memiliki kalian berdua."
Laras menganggukkan kepalanya, yang penting saat ini, Ariel percaya padanya dan gak mutusin dirinya. Masalah yang lain, akan ia fikirkan belakangan.
"Kita akan pulang?" tanya Laras.
"Kita melakukan itu dulu, baru pulang. Mumpung sepi dan dingin," ujar Ariel yang sudah tak tahan menahan hasratnya dari tadi.
"Cih, tadi aja minta bubar, sekarang sudah mau lagi," cibir Laras.
"Itu karena kamu yang menggoda iman aku, siapa suruh pakai baju dan celana kurang bahan ini," ucapnya dan langssung menyerang Laras di dalam mobil.
Sedangkan Luna, ia mendengar percakapan mereka sedari tadi. Luna hanya bisa geleng-geleng kepala. Mana mungkin ia akan menerima Laras jadi madunya, yang ada dirinya yang akan menghanacurkan mereka berdau dan memberikan mereka pelajaran yang setimpal.
__ADS_1
Saat Ariel dan Laras tengah melakukan hubungan badan, Luna mematikan Hpnya. Karena ia gak mau melihat hal yang menjijikkan aapalagi mendengar suara laknat mereka.
Luna memegang perutnya, yang juga semakin menonjol. Ia mengelus perut itu dan menitikkan air mata. "Aku harap kita bisa melewati semua ini."