Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Luna Vs Laras


__ADS_3

Kini Luna hanya duduk berdua dengan Laras. Yah, setelah Luna memohon dan meminta tolong pada adik dan sang Bunda untuk memberikan waktu agar ia dan Laras bisa bicara dengan leluasa. Awalnya Lintang dan Bunda Naira keberatan, terutama Lintang. Namun Luna berusaha meyakinkan mereka berdua bahwa dirinya baik-baik aja. Dan jika pun mereka masih khawatir pada Luna. Luna mempersilahkan adiknya atau Bundannya buat duduk tak jauh dari Luna. Tapi mereka harus diam dan jangan bersuara. Lintang pun menyanggupinya begitupun dengan sang Bunda. Itu lebih baik dari pada membiarkan Luna hanya berdua dengan Laras karena bisa jadi Laras akan menyakiti Luna mengingat saat ini, hidup Laras sudah hancur karena vidio viral itu.


"Ada tujuan apa kamu datang ke sini?" tanya Luna santai. Namun wajahnya begitu datar, hingga Laras tak akan tau apa yang ia rasakan saat ini.


"Lun, apakah kamu tau vidio yang viral itu?" tanyanya.


"Iya, aku tau."


"Kenapa kamu tega sama aku?" tanyanya.


"Tega, lalu kenapa kamu juga tega mengkhianati aku. Aku sahabat kamu loh, bahkan kita sahabatan dari SMA."


"Tapi balasan darimu itu sangatlah kejam, Lun. Kamu bukan hanya mempermalukan aku tapi juga keluarga aku."


"Dan mereka gak akan malu, andai kamu bekerja profesional, hidup biasa aja, tanpa punya niat buat menggoda Mas Ariel. Jika kamu butuh uang, kamu bisa bilang sama aku, aku akan berikan berapa pun kamu kamu. Bahkan tanpa kamu minta pun, aku juga memberikan kamu uang, bukan? So, jangan bilang kalau aku ini kejam, karena sejatinya, kamu lebih kejam dari aku."


"Tapi aku gak pernah mempermalukan kamu hingga seluruh dunia tau?"


"Emang kamu mau mempermalukan aku perihal apa? Apa aku pernah merugikan orang lain? Apa aku pernah melakukan hal tercela, atau apa aku pernah bikin kesalahan yang mungkin tidak aku sadari? Beda sama kamu, kamu pantas untuk di permalukan. Karena memang dari awal kamu sudah melakukan kesalahan padaku. Dan apa yang aku perbuat itu masih belum seberapa loh, karena aku masih akan memberikan kamu kejutan yang jauh lebih menyakitkan dari ini."


"Apakah kamu masih belum puas, Lun. Nyatitin aku?" tanya Laras yang tak menyangka jika Luna akan berubah menjadi sekejam ini.

__ADS_1


"Puas? No. Aku belum puas sebelum melihat kamu hancur sehancur hancurnya," ucapnya membuat Laras meradang, namun ia memilih untuk mengepalkan tangannya walau saat ini, ia sangat ingin mencakar wajah cantik Luna itu.


"Aku sudah hancur, Lun. Emang kamu ingin aku sehancur apalagi, hah?"


"Sampai kamu tau, bagaimana rasanya kehilangan, bagaimana rasanya di khianati oleh orang terdekat dan bagaimana rasanya saat kamu merasa putus asa hingga rasanya ingin mengkahiri hidup."


"Kamu emang jahat Lun, kamu kejam!" desis Laras.


"Ah ya, jika aku emang jahat, aku pasti akan bunuh kamu saat kamu tidur bareng suamiku. Atau aku akan memberikan racun pada makananmu saat kamu selesai melakukan hubungan dengan suamiku. Nyatanya, aku masih memperlakukan kamu dengan sangat baik sekali saat aku bahkan sudah tau apa yang kamu lakukan di belakang aku. Aku masih tersenyum manis, saat tau kamu bolos kerja dan pergi bareng suamiku ke hotel. Aku masih diam saat kamu menikmati de sahanmu itu di ruangan kerja suamiku. Aku masih perhatian sama kamu saat kamu berkali-kali berbagi keringat dengan Mas Ariel di beberapa hotel. Aku juga masih tetap diam saat kamu melakukannya di mobil padahal aku melihat kamu dengan jelas dari CCTV yang aku taruh di mobil, bahkan percakapan kalian saat berada di pinggir pantai." balas Luna


"Apa kamu tau? Di mobil itu, bukan hanya ada CCTV tapi juga perekam suara hingga suaramu sangat sangat jelas aku dengar. Saat aku memintamu datang untuk barberque, apakah kamu tau, aku hanya memancing kedatanganmu agar aku punya banyak bukti buat aku perlihatkan ke keluarga kita semua. Saat kamu pergi ke kamar mandi, aku juga tidak melabrak kamu di sana dan membiarkan kamu mende sah kenikmatan di kamar mandi itu. Padahal jika aku mau, aku bisa saja mendobrak pintu itu dan mencekik kamu yang tidak tau diri. Malamnya bahkan kamu masih melayani suamiku layaknya suami istri. Apa kamu tau, kenapa aku ganggu kamu tengah malam dan mengajak kamu bicara sepanjang malam hingga kamu ketiduran, karna aku melihat kamu dan Mas Ariel di sana sedang main kuda-kudaan bahkan aku tau, betapa paniknya kamu saat aku mengetuk pintu itu dan kamu meminta Mas Ariel untuk bersembunyi dan aku rela begadang agar Mas Ariel kedinginan tidur di bawah ranjang. Bukankah aku wanita yang sangat sabar, aku masih mau bercengkrama sama kamu setelah apa yang kamu lakukan sama aku. Jika wanita lain, bisa jadi kamu sekarang sudah ada di penjara atas kasus perzi nahan, atau bisa jadi kamu ada di bawah tanah karena di bunuh oleh istri sah. Tapi aku gak akan mengotori tanganku untuk membunuh kamu, karena aku punya cara yang jauh lebih menarik dari pada itu. Dan aku pastikan kamu akan menikmatinya," lanjut Luna panjang lebar, membuat Laras bergidik ngeri.


Lintang dan Bunda Naira pun tak menyangka jika Luna sudah berubah tak lagi seperti dulu, mungkin kehidupan yang menyakitkan membuat dia menjadi wanita tegas dan kuat seperti itu.


"Jika aku berubah, lalu bagaimana dengamu, hem? Laras yang aku kenal baik sekarang berubah jadi pelakor, teragisnya ia menjadi perusak rumah tangga sahabatnya sendiri? Jika kamu dulu perhatian sama aku, sekarang kamu nusuk aku dari belakang. Jika dulu kamu mau mendengarkan keluh kesahku, sekarang kamu ingin merampas kebahagiaanku. Jika dulu kamu akan support aku, sekarang kamu menjadi penghancur kehidupanku. Jika kamu tak mengenal diriku yang sekarang, maka aku pun sama. Aku tidak mengenal dirimu yang saat ini, rela menjatuhkan sahabat kamu sendiri, asal kamu bahagia, tak peduli jika sahabatmu menderita, kamu malah tertawa di atas deritanya."


"Aku hanya ingin sedikit mencicipi kebahagiaan kamu, Lun? Apa aku salah?"


"Mencicipi? Kamu bukan ingin mencicipi, tapi kamu ingin menggulirkan aku dari posisi aku. Kamu ingin menggantikan aku menjadi Nyonya rumah di sana. Dan selamat, kamu berhasil, Laras. Karena aku akan mundur dari pernikahan itu dan memberikan kamu kesempatan buat ngerasain bagaimana menjadi aku. Bukankah aku baik?" tanya Luna tersenyum manis. Sangat manis, hingga orang-orang yang melihatnya mungkin akan mengatakan jika Luna tengah bahagia. Tapi orang yang tau bagaimana masalah tengah menerpanya, pasti mereka akan berfikir, bahwa di balik senyuman manis itu, ada hati yang terluka dan terus menganga sampai saat ini.


"Tak bisakah kita hidup bersama Lun, aku rela menjadi adik madumu. Tak apa jika waktuku bersama Mas Ariel lebih sediki dari kamu. Aku ikhlas. Sungguh aku gak ingin kamu bercerai dengan Mas Ariel, aku hanya ingin kamu berbagi sedikit saja sama aku, aku ingin merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan. Terlebih saat ini kita hamil bersama, kita bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita kelak, bagaimanapun mereka mempunyai satu ayah yang sama," pintanya.

__ADS_1


"Berbagi, kenapa aku harus berbagi sama kamu? Kamu bisa mengambil Mas Ariel seutuhanya.  Maaf ya, aku gak mau berbagi keringat dengan wanita lain. Lagian di luar sana  banyak loh pria muda tampan dan mapan yang masih single, lalu kenapa aku  harus menyia-nyiakan hidup aku untuk mempertahankan Mas Ariel yang bahkan sudah berkhianat sama aku. Sorry, Mas Ariel buat kamu aja deh, kalian coco kloh, sama-sama pengkhianat, sama-sama suka zina, dan sama-sama pandai bersandiwasa. Kalau kalia menikah dan hidup satu atap, pasti akan seru banget tuh, kalian bisa beradu acting nantinya," ujar Luna sangat ramah sekali bahkan bibirnya masih tersenyum pada Laras.


"Lun, kenapa kamu terus hina aku sih, kedatangan aku baik loh, aku ingin kamu bisa menerima aku jadi madumu, aku ingin melamar suamimu buat jadi suamiku, menjadi ayah dari janin yang aku kandung. Ayo kita hidup bersama dan menciptakan keluarga yang hangat. Tidak perlu saling bertengkar seperti ini," ujarnya membuat Lintang dan Bunda Naira geram mendengarnya.


Namun Luna masih tetap saja tersenyum.


"Maaf ya, aku gak mau tuh jadi kakak madumu. Dan jika kamu ingin melamar Mas Ariel, kamu salah tempat sayang. Karena bentar lagi aku akan menceraikan Mas Ariel. So, kamu gak perlu menjadi adik maduku, kamu bisa memiliki Mas Ariel seutuhnya. Aku iklas, ikhlas banget malah. Tapi masalahnya, kamu yakin, Mas Ariel akan menikahimu?" tanya Luna terkekeh.


"Itulah, Mas Ariel gak akan mau menikahiku, apalagi jika kamu sampai menggugat cerai dia. Mas Ariel pasti akan membenciku dan menganggap aku lah yang membuat kaliaan berpisah. Padahal niat aku baik, aku hanya ingin  kita bersama-sama merawat Mas Ariel bareng-bareng, kita bisa gantian bahu membahu merawatnya, jika kamu lagi halangan, masih ada aku. Begitupun sebaliknya. Lagian harta Mas ARiel banyak, bahkan aku yakin walaupun dia nambah istri, aku. Itu gak akan membuat hartanya berkurang, dan akan semakin bertambah," ucap Laras tak tau malu.


"Tolong koreksi lagi ya, Sayang. Kamu bilang, menganggap bahwa kamulah yang membuat kami berpisahh. Lah kenyatannya kan memang seperti itu. Sebelum kamu ada, hubungan aku baik baik saja, tapi setelah kamu ada, eh kamu jadi benalu. Ais, aku gak menyangka jika selama ini aku memelihara benalu di rumah aku sendiri," tutur Luna mendesis.


"Dan lagi, kamu ingin bantu aku merawatnya, astaga aku masih sehat, tanpa bantuan kamu pun aku bisa, bukannya selama ini memang aku yang mengurus Mas Ariel. Dan masalah harta, kamu segitunya ya pengen hidup enak tanpa berusaha. Sampai rela merendahkan harga dirimu, demi uang kamu rela memberikan tubuh kamu itu. Ck,  murah sekali. Aku gak bisa membayangkan misal Mas Ariel gak menikahi kamu, bagaimana tanggapan orang-orang ya, punya anak tapi status belum menikah. Haha, pasti seru deh lihat kamu kelimpungan jawab pertanyaan mereka. Apakah nanti kamu akan menjawab, kamu hamil hasil dari jual selang kangan kepada suami sahabat kamu sendiri, atau kamu akan bilang, kamu rela merangkak ke kasur suami dari sahabatmu agar bisa menjadi Nyonya Kedua di rumah itu? Astaga perutku sampai sakit karena ketawa terus. Tapi yang membuat aku miris, bagaimana nasib anakmu nanti, bagaimana perasaannya saat dia tau, dia hadir karena ibunya yang rela menggoda suami sahabatnya. Au, sedihnya," Luna pura-pura sedih membuat Laras meradang. Ia ingin menampar Luna, namun Luna dengan sigap langsung memegang tangan Laras yang hampir mengenai pipinya. Lintang bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya untuk melindungi Luna.


"Sebelum kamu menampar aku, maka kamu harus merasakan tangan mulusku ini." Dengan sekuat tenaga, Luna menampar pipi Laras berkali-kali hingga Laras tersungkur. Bahkan ada darah di sudut bibirnya dan lagi pipinya memerah karena kerasnya tamparan yang diberikan oleh Luna.


Untungnya walaupun tersungkur, Laras jatuh ke kursi sofa, hingga bayinya masih baik-baik aja.


Laras ingin membalas menampar Luna, namun Lintang menghampiri Laras dan menyeret Laras dengan kasar lalu ia mendoronya keluar rumah.


Untungnya Laras memegang perutnya agar tak sampai terluka karena bayi ini yang akan membawa Ariel kembali padanya.

__ADS_1


"Kamu ...." Laras ingin memaki Lintang, namun tiba-tiba Rahman datang dan mencekal pergelangan tangan Laras dengan erat hingga Laras merintih kesakitan.


"Ba ... bapak," ucap Laras terbata. Ia kaget melihat Bapaknya ada di depan rumah Luna.


__ADS_2