
Sore hari sehabis sholat ashar, Luna mengajak mereka untuk jalan-jalan ke Mall. Ariel sendiri yang menyetir, sedangkan di sampingnya ada Papa Ardi. Luna dan Mama Lia duduk di kursi belakang. Sepanjang jalan mereka bercerita panjang lebar, sedangkan para kaum laki-laki hanya diam mendengarkan. Sesekali mereka mengeluarkan suara jika sedang di tanya, baik itu oleh Luna maupun Mama Ila.
Di Mall, Luna dan Mama Lia belanja banyak, mereka bahkan belanja tanpa melihat nominalnya. Luna sengaja melakukan itu, biarlah uang Ariel habis untuknya, dari pada habis buat diberikan pada Laras, yang merupakan selingkuhannya. Bukannya dapat pahala, malah jatuhnya dapat dosa.
Luna memberikan banyak hadiah buat Mama Lia, sampai Mama Lia merasa heran, karena tak biasanya Luna membeli banyak barang seperti ini. Ia jgua membelikan Papa Ardi jam tangan mewah yang seharga satu milliar lebih.
"Luna, apa gak papa kamu belikan semua ini buat Mama dan Papa?" tanya Mama Lia.
"Gak papa, Ma. Santai aja, uang Mas Ariel banyak banget, sangking banyaknya dia sampai menghambur-hamburkan buat di kasih ke orang lain. Jadi aku fikir, dari pada uangnya keluar tanpa alasan yang jelas, mending buat Mama dan Papa. Karena kalian adalah orang tua kandung suamiku, yang jauh lebih pantas untuk mendapatkannya," jawab Luna tersenyum. Namun perkataan Luna, tentu menimbulkan banyak tanya untuk Mama Lia, namun ia memilih untuk diam.
Setelah puas membeli barang-barang mewah, Luna mengajak mereka semua untuk perawatan tubuh hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, dan sudah memasuki waktu sholat maghrib. Luna pun mengajak mereka untuk mencari masjid terdekat untuk sholat. Selesai sholat, mereka langsung berangkat ke resto milik Ariel untuk makan malam di sana.
Sepanjang jalan Ariel memilih diam, bagaimana ia tidak diam jika pengeluaran hari ini, lebih dari lima milliar dan itu menguras tabungannya. Mana sekarang resto sepi dan gak seramai dulu, sahamnya di beberapa perusahaan juga kadang naik turun, gak mesti. Sehingga pendapatan pun tak seperti dulu lagi. Ia juga harus memberikan banyak uang untuk Laras karena Laras selalu butuh ini dan itu.
"Besok kita ke Ancol kan, berangkat jam setengah tujuh aja, biar sepi dan puas di sana," tutur Luna ceria tanpa sadar, sudah membuat mereka bertiga yang ada di dalam mobil sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Papa Ardi sibuk memikirkan sikap menantunya yang sekarang seakan-akan ingin menghambur-hamburkan uang. Walaupun barang yang di beli Luna adalah barang yang bisa di jual kembali nanti, tapi tetap aja ia merasa ada yang beda dan aneh.
Mama Ila pun juga memikirkan ucapan Luna yang mengatakan lebih baik uang nya di kasih ke dirinya ketimbang ke orang lain yang gak jelas. Apa selama ini Ariel memberikan uangnya buat wanita lain, itulah yang ada dalam fikiran Mama Ila saat ini.
"Ma, Pa, Mas. Kok kalian pada bengong gitu?" tanya Luna heran.
"Ah, gak papa, sayang. Ada apa?" tanya Ariel sambil melihat Luna dari kaca spion yang ada di hadapannya itu.
"Besok berangkat ke Ancol pagi aja, biar karcisnya gak antri panjang dan sepi. Kalau berangkat siang gak enak, panas," ulang Luna dan Ariel pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, besok berangkat pagi," jawab Ariel tersenyum.
Setelah itu tak ada percakapan lagi, karena Ariel fokus menyetir, namun di kepalanya juga ada banyak beban yang harus ia fikirkan saat ini. Karena tak ada yang mau buka suara, Luna pun memilih diam dan memainkan hpnya.
Sesampai di resto, Ariel dan mereka bertiga turun dari mobil. Saat melewati Laras, Ariel pura-pura tak melihatnya, berbeda dengan Luna yang tersenyum ke arah Laras dan Nani.
Luna mencari tempat duduk yang tak jauh dari kasir agar bisa melangsungkan rencananya yang sudah ada di otakknya sejak tadi siang.
Di resto itu hanya ada tiga orang saja yang makan, biasanya kursi pada penuh, sekarang malah banyak yang kosong.
Ariel menyuruh Mbak Friskan yang bagian mencatat makanan.
Luna tanpa rasa malu, langsung memesan banyak, sedangkan Mama Ila dan Papa Ardi hanya memesan dua macam menu aja, sedangkan Ariel sendiri cuma mesen satu makanan dan satu minuman.
"Kamu mesen banyak, apa di habisin nanti yank?" tanya Ariel, karena gak biasanya Luna makan banyak.
"Iya, pasti habis dong. Aku lapar banget soalnya setelah tadai muter-muter di Mall," sahut Luna yakin.
__ADS_1
"Iya sudah, nanti misal kamu gak habis. Aku bantuin makannya," tutur Ariel dan Luna pun menganggukkan kepalanya.
Sambil nunggu makanan, mereka pun mengobrol santai.
"Ini kenapa resto kamu sepi banget kayak gini, Riel?" tanya Papa Ardi karena terakhir ia ke sini masih rame banget, ini malah kosong. Dan sekarang tiga orang itu yang sudah selesai makan, langsung pergi gitu aja, hingga tinggal Luna, mertuanya dan Ariel sendiri yang ada di sana. Sama karyawa resto tentunya.
"Mungkin resto ini panas, Pa," jawab Luna membuat Papa Ardi menoleh ke arahnya.
"Panas gimana?" tanya Papa Ardi tak mengerti.
"Karena di jadikan tempat maksiat, jadinya panas, dan gak berkah," sahut Luna santai. Namun Ariel yang tak suka dengan jawaban Luna, hanya mendengus kesal.
"Jangan bilang gitu, sayang. Jatuhnya fitnah loh, gak enak kalau sampai ada yang percaya, lagian aku gak melakukan hal itu kok," tutur Ariel sambil menatap ke arah Luna.
"Loh, emang siapa yang nuduh Mas Ariel melakukan hal itu. Aku bahkan gak nyebut siapapun loh, Mas. Bisa aja kan yang aku maksud itu para pelanggan yang suka bawa pacar gelapnya tanpa sepengetahuan sang istri. Iya kan?" tanya Luna sinis membuat Ariel gugup.
"Sebenarnya ada apa sih ini? Sejak tadi Mama merasa ada yang beda dari kalian?" tanya Mama Ila gak tahan lagi.
"Enggak ada masalah kok, Ma," jawab Ariel tersenyum menutupi kegugupannya.
Tak lama kemudian makanan pun datang, melihat makanan mood Luna yang tadi anjlok mulai membaik kembali. Setelah baca basmallah, Luna pun makan dengan sangat lahap, dia bahkan makan sudah seperti beberapa hari gak di kasih makan. Ariel, Mama Ila dan Papa Ardi pun sampai tercengang melihat cara Luna makan yang sudah tak terlihat cantik lagi. Dia makan super cepat.
"Kenapa?" tanya Luna setelah sadar dirinya dilihatin oleh mereka bertiga.
Tak terasa semua makanan yang ia pesan pun habis, lalu ia mengakhirinya dengan meminum habis jus melonnya.
"Alhamdulillah, kenyang juga ya," ucap Luna tersenyum manis membuat mereka lagi-lagi tercengang. Karena porsi makan Luna sangatlah banyak bahkan tadi Ariel pun akan membantu makan jika memang Luna tak mampu menghabiskannya, tapi apa ini. Luna benar-benar menghabiskan makanannya sendirian.
"Kamu suka makan ya, Nak?" tanya Mama Ila yang sudah selesai makan juga begitupun dengan Papa Ardi dan Ariel.
"Iya, Ma. Aku suka makan sekarang. Soalnya aku butuh tenaga estra untuk menghadapi kehidupan aku yang keras ini," jawabnya yang seperti sedang melantur.
"Lah emang kamu ngapain? Kok menghadapi kehidupan yang keras?" tanya Mama Ila curiga.
"Ya karena kenyataan hidup itu jauh lebih keras dan menyakitkan, Ma. Sakitnya itu kek di tusuk ribuan jarum," jawabnya membuat Ariel geleng-geleng kepala.
"Kamu ngomong apa sih, Yank. Kok ngelantur gitu?" tanya Ariel lagi yang jengah lihat istrinya ngomong ga jelas.
"Enggak papa, pengen mengurangi beban aja. Oh ya, Mas. Mama belum tau loh kalau kamu punya karyawan baru, gak mau di kenalin?" tanya Luna.
"Nah mumpung sepi, mending kumpul-kumpul di sini semua deh, kapan lagi kita bisa nyantai kek gini mumpung resto sepi," ucap Luna yang sudah makin melantur.
"Bener apa kata Luna, ayo suruh mereka di sini semua. Makanan yang ada itu suruh bawa aja, anggap aja pesta kecil-kecilan buat mereka," tutur Papa Ardi membuat Ariel menatap Luna dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
Ariel pun pergi ke ruangan Anggi dan meminta Anggi mengumpulkan semua karyawannya. Lalu mereka duduk di kursi kosong, dan menutup resto lebih awal agar tidak ada pelanggan yang datang. Tak lupa makanan yang masih sisa banyak di hidangkan buat mereka semua. Mas Tyo dan Mbak Felly juga buat minuman buat mereka semua. Sehingga ngobrolnya lebih enak dan santai.
Dan kini di sinilah mereka berada, pada duduk membentuk lingkaran di mana setiap depan mereka ada makanan dan minuman.
Papa Ardi dan Mama Ila mulai menyapa mereka satu persatu hingga sampai di Laras, mereka merasa heran, karena sebelumnya pernah lihat Laras.
"Dia karyawan baru?" tanya Papa Ardi.
"Iya, Pa. Sahabat aku dari kampung," jawab Luna lantang membuat semua karyawan yang ada di sana, mengernyitkan dahi.
"Loh bukannya Laras itu saudara Pak Ariel ya, Bu?" tanya Mbak Nani.
"Kata siapa? Laras itu sahabat aku di kampung, aku yang minta dia datang ke sini karena butuh kerjaan," jawab Luna santai. Yang lain pun merasa heran dan bingung. Sedangkan Ariel dan Laras mulai gugup dan salting.
"Jika mereka bukan saudara terus kenapa Laras suka masuk ke ruangan Pak Ariel?" tanya Nani namun hanya dalam hati aja, gak berani untuk buka suara. Begitupun yang lain yang merasa ada sesuatu antara Laras dan Ariel. Jika kemaren mereka biasa aja karena mereka taunya Ariel dan Laras adalah saudara tapi sekarang, setelah tau fakta yang sebenarnya, mereka pun merasa curiga, karena Laras ternyata tak ada hubuungan darah dengan Ariel. Bahkan Laras itu sahabat Luna dari kampung.
"Hemm saya minta maaf, emang benar jika Laras itu sahabat istri saya. Saya terpaksa bilang gitu karena istri saya sudah menganggap Laras itu sebagai saudaranya sendiri, jadi saya berfikir jika Laras adalah saudara bagi Luna, maka Laras juga saudara saya," ucap Ariel mengkarifikasi.
"Sebenarnya ini ada apa sih, Riel?" tanya Mama Nia. Karena ia merasa sejak tadi siang, ia merasa sudah ada yang tidak beres. Dari mimpi buruknya selama tiga hari berturut-turut. Sikap Ariel yang kadang terlihat gugup, dan terkesan menyembunyikan banyak rahasia. Sikap Luna yang tidak seceria dulu dan seringkali terlihat sendu bahkan tadi menghabiskan banyak uang yang seakan ingin menguras harta suaminya sendiri dan tadi malah membahas resto ini tempat maksiat. Apa jangan-jangan Ariel selingkuh sama Laras, sahabat Luna. Mama Nia mencoba untuk menghubungkan satu persatu kode yang Luna berikan. Ia yakin, tak mungkin Luna hanya diam dan berkata tanpa makna, ia yakin sedari tadi siang, Luna sudah memberikan kode padanya agar faham apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Enggak ada apa-apa, Ma. Cuma salah faham aja," jawab Ariel tersenyum.
Laras sendiri gak berani untuk buka suara, takut salah bicara. Ia juga merasa gak enak sama teman-temen yang lain karena sudah ketahuan jika selama ini dirinya berbohong. Ia juga melihat ke wajah Luna yang tampak biasa-biasa aja.
"Ya ini cuma salah faham kok, Ma. Biasalah miss komunikasi aja,." sahut Luna angkat bicara juga karena merasa suasana sudah memanas.
"Oh ya tiga minggu lagi aku mau ulang tahun di kampung aku, aku harap kalian datang ya. Nanti aku akan pesankan travel buat kalian, itu sih kalau mau. Acaranya hari Minggu sore. Jadi kalian bisa berangkat Malam minggunya biar bisa istirahat juga nanti di sana. Aku juga akan menyiapkan penginapan kalau mau. Ada yang mau?" tanya Luna.
"Saya mau, Bu," ujar Anggi dan yang lain ikut-ikutan.
"Tapi kan Sabtu harus kerja?" ujar Nani.
"Mas kasih mereka cuti dong," tutur Luna melihat ke arah Ariel.
"Saya akan kasih kaliain cuti, dua hari. Sabtu dan Senin. Jadi kalian libur tiga hari, dan gaji kalian gak akan di potong," ucap Ariel yang membuat mereka senang.
"Oh ya, jangan panggil Bu. Duh sudah berapa kali saya bilang, berasa tua saya di panggil Ibu. Panggil aja Mbak atau langsung panggil nama," ujar Luna yang selalu risih setiap di panggil Bu. Sudah berapa kali di bilangin, ujung-ujungnya manggil bu lagi, manggil Bu lagi.
"Iya deh, Mbak luna," jawab Anggi cengengesan.
Suasana pun kembali kondusif, Luna mengajak mereka bicara sedangakn Laras banyak diamnya sedari tadi. Arielpun sama. Sedangakn Papa Ardi dan Mama Ila menatap Ariel dan Laras secara bergantian seakan mereka curiga jika mereka berdua tengah menjalin hubungan.
Jam setengah delapan, LUna mengajak mereka pulang. Dan karyawan pun juga akan pulang lebih awal malam ini, toh resto lagi sepi dan mereka juga boleh bawa makanan yang masih sisa itu tapi tidak boleh di jual. Dan mereka pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan pulang, lagi dan lagi, suasana begitu hening hingga membuat Luna pun merasa enggan untuk buka suara dan memilih untuk bermain Hp aja.