
Sehabis sarapan pagi dan mengobrol sebentar, Luna pamit ke kamar. Mau istirahat bentar. Karena kepalanya semakin berat efek gak tidur semalaman. Di kamar Luna segera mandi, pakai baju, sholat dhuha lalu istirahat di atas sajadah, karena rasa ngantuknya lumayan berat. Dan sudah gak bisa di tahan lagi. Sedangkan Ariel ia bangun jam setengah sembilan karena perutnya sudah mulai keroncongan. Seharusnya jam segini, dia sudah sarapan, tapi ini malah masih tidur.
Ariel segera mandi, pakai baju santai dan mencari istrinya di dapur.
"Bi, Luna mana ya?" tanya Ariel.
"Tadi pamit istirahat, Tuan. Soalnya katanya lagi ngantuk berat," jawab Bibi Imah. Walaupun dia sudah tau keburukan tuannya itu, namun Bibi Imah tetap ramah, tapi jika dari hati. Jujur Bibi Imah kecewa dan ingin marah, karena Ariel sudah menyakiti hati Luna. Namun ia bisa apa, sebagai pembantu, Bibi Imah hanya bisa diam aja.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Ariel. Ia duduk di kursi dan membuka tudung saji.
"Tuan mau makan?" tanya Bibi Imah.
"Iya, Bi. Minta tolong gorengkan nasi ya, Bi. Pengen nasi goreng lagi soalnya. Kali ini kasih udang ya, Bi. Campur udang, ada kan udangnya?" tanya Ariel.
"Enggak ada Tuan, apa perlu saya beli dulu ke pasar?" tanya balik Bibi.
"Enggak usah, Bi. Kelamaan, keburu lapar saya Bi. Kasih sosis lagi aja deh sama kasih ayam suwir-suwir. Sama telur juga campur jadi satu di orak arik. Kali ini pedesnya biasa aja."
"Iya, Tuan."
"Oh ya, Bi. Ada mangga muda, gak?" tanya Ariel.
"Enggak ada, Tuan. Kenapa?"
"Pengen mangga muda, Bi. Pengen rujaan. Dion mana?"
"Lagi ada di depan Tuan, nyuci mobil."
"Bilang ke Dion, suruh cari Manga muda gitu sama Kedondong kalau ada," ucap Ariel.
"Iya, Tuan."
"Aku ke kamar dulu, nanti kalau sudah matang panggil ya, Bi."
"Siap, Tuan."
Dan setelah itu, Ariel pun pergi ke kamar sebelah. Untungnya gak di kunci sehingga ia bisa masuk dengan leluasa. Ia melihat Luna yang tengah tertidur di atas sajadah. Melihat hal itu, Ariel tersenyum. Melihat Luna tidur dengan tenang seperti ini membuat hatinya bahagia. Dengan pelan, ia membantu Luna membuka mukehanya. Lalu mengangkat Luna ke atas kasur biar tubuhnya gak sakit-sakit karena tidur di bawah.
Ariel menatap wajah Luna, ia melihat ada air mata di sudut mata Luna. Entah apa yang terjadi, apakah Luna tengah bermimpi sehingga ia menangis. Ariel mengusap air mata itu dengan pelan.
"Sayang, maafin aku karena aku belum jadi suami yang baik. Maaf sudah menduakan kamu. Maaf sudah mengkhianati kamu, mengkhianti cinta kita. Mengkhianati pernikahan suci ini. Maaf karena aku sudah mulai berbohong sama kamu, bahkan akhir-akhir ini terlalu banyak kebohongan yang sudah aku lakukan. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku masih mencintai kamu, sama seperti dulu. Walaupun di dalam hati aku ada wanita lain, namun dia tidak sedikitpun menggeser posisi kamu di hati aku, karena dia menempati di tempat yang lain sehingga posisi kamu tetap aman tanpa bergeser sedikitpun. Sayang, aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tau. Hanya saja, saat ini aku tengah di uji akan sebuah kesetiaan dan aku tak lulus akan ujian itu. Aku kalah oleh hawa nafsuku sendiri. Seharusnya aku bisa menjaga diri dengan baik, menjaga cinta dan kesetiaan kita. Tapi sayangnya, aku tak tahan akan godaan. Aku terbuai akan perlakukan dia, sehingga aku jatuh ke dalam pelukannya, aku jatuh ke dalam jurang yang nista dan hina. Imanku terlalu lemah hingga dengan mudahnya aku melakukan hubuungan dengan wanita lain. Maafin aku." Ariel menangis, ia memegang tangan Luna dan menciumnya berulang-ulang.
__ADS_1
Luna yang sudah bangun pun, tetap pura-pura tidur dan mendengarkan semua ucapan suaminya itu. Luna bangun saat Ariel membukakan mukenahnya dan mengangkatnya ke atas kasur.
"Aku menyesal, sangat menyesal. Kadang aku tersiksa dengan perasaanaku ini. Aku ingin seperti dulu, saat Laras tak datang ke Jakarta dan hadir di tengah-tengah keluarga kita. Aku ingin cinta dan kesetiaanku cukup buat kamu seorang. Aku ingin seperti dulu, tidak tertekan, tidak hidup dalam perasaan bersalah dan tidak ketakutan akan ketahuan. Jujur, ada banyak beban yang aku fikirkan. Tidak mudah menjalani hubungan diam-diam di belakang kamu. Setiap hari aku selalu merasa ketakutan, takut kalau kamu mengetahui hubunganku dan dia. Takut jika kamu diam-diam memata-matai aku dan mengumpulkan bukti perselingkuhan aku dan dia.. Takut jika kamu mengetahuinya, kamu akan menggugat cerai aku. Bagaimanapun aku gak mau pisah sama kamu. Aku cinta sama kamu dan gak mau kehilangan kamu. Aku juga takut, jika Laras hamil. Aku takut misalkan Laras gak ada yang menikahi karena aku sudah mengambil kehormatannya. Aku juga takut, apa yang aku lakukan di benci banyak orang, sama kamu, Mama, Papa dan semua keluarga besar aku. Aku tertekan dengan perasaan yang aku lakukan. Tapi anehnya, setiap aku melihatnya, nafsuku seakan meningkat kembali, seperti ada dorongan untuk terus mendekat."
"Aku gak tau kenapa seperti ini, tapi aku ingin terus bersamanya, bahkan aku kadang gelisah jika gak bertemu dengannya. Sumpah, aku merasa seperti ada yang mengendalikan otak, hati dan fikiran aku. Bahkan Laras seperti candu buat aku. Aku gak bisa mengungkapkan perasaan aku, karena akan percuma. Kamu pasti akan menganggap ini hanya bualanku semata, hanya karangan aku saja. Tapi jujur, aku pun lelah berada di posisi seperti ini. Jika aku boleh meminta sama Tuhan. Aku ingin menghilangkan rasaku padanya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi semakin aku melupakan, aku semakin mengingatnya. Aneh, bukan? Bahkan kadang aku selalu terbayang-bayang wajahnya, bahkan saat aku tidur pun dia selalu ada dalam mimpi aku. Apakah aku seperti ini karena rasa bersalah aku sama dia karena sudah mengambil kehormatannya, sehingga aku gak bisa hidup dengan tenang dan selalu terbayang-bayang olehnya atau karena hal lain. Sayang, apapun yang terjadi, aku cuma berharap kamu selalu ada di dekat aku, dan tidak pernah meninggalkan aku. Saat ini, aku mungkin bingung gak tau harus berbuat apa. Bahkan aku bingung, tindakan apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi, aku gak mau kamu terluka tapi di sisi lain, aku juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan pada sahabat kamu itu."
"Sayang, maafin suamimu yang bodoh ini karena membuat kamu berada di posisi seperti sekarang. Maafkan suamimu karena harus menghadirkan wanita lain dalam rumah tangga kita. Maafkan suamimu yang terlalu banyak melakukan kesalahaan sehingga seringkali membuat dirimu terluka. Sayang, aku mencintai kamu, dulu, saat ini dan selamanya." Ariel mencium kening Luna dengan lembut dan lama. Setelah itu, dia pun menyelimuti Luna sampai dadanya, dan setelah itu, barulah ia keluar dari kamar itu. Tak lupa Ariel menutup pintunya. Ia berjalan ke ruang makan dan menunggu di sana, karena nasi gorenya belum matang.
Sedangkan Luna, ia membuka matanya setelah memastikan Ariel pergi. Ia menangis, menangis meratapi nasib rumah tangganya ini. Walaupun ia sedikit terenyuh dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya, akan tetapi tetap saja, ia tak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan. Mungkin jika cuma pacaran biasa, tanpa adanya hubungan badan. Masih bisa di toleransi, tapi masalahnya mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami istri, bukan sekali tapi berkali-kali. Lalu bagaimana mungkin Luna akan diam saja, bagaimana mungkin ia akan tetap mempertahkan rumah tangga yang sudah tak lagi sehat ini. Bagaimana mungkin ia mempertahankan suami yang dia sendiri tak bisa menjaga cinta, kesetiaan dan tubuhnya.
Walaupun Luna mungkin masih ada rasa sedikit, tapi tetap saja, ia harus berfikir secara logika. JIka mengandalkan perasaan, maka ia akan mudah luluh. Berbeda saat akal yang bekerja. Hasilnya tak akan sama. Karena jika mengutamakan perasaan, Luna akan bersikap menjadi wanita bodoh, rela dikhianati asal terus bersama. Namun jika akal yang bertindak, mending berpisah dari pada tetap bertahan namun hati terluka.
Luna segera membuka selimutnya, ia berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka serta gosok gigi. Mertuanya bentar lagi akan datang, ia tak mungkin tetap tidur dan tak menyambut kedatangan mereka. Luna gak mau di cap sebagai menantu yang pemalas.
Setelah ganti baju, menyisir rambutnya, memoles wajahnya dan menyemprotkan parfum di bajunya. Ia segera keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan dan melihat Ariel yang tengah makan nasi goreng.
"Loh sayang, sudah bangun?" tanya Ariel.
"Iya," jawab Luna sambil mengambil air putih dan meminumnya. Lalu ia pun duduk di dekat Ariel.
"Kamu mau?" tanya Ariel dan Luna pun menggelengkan kepalanya.
"Enggak, aku masih kenyang," jawabnya.
Ariel pun meneruskan makannya, selesai makan ia menaruh piring kotor dan gelas ke wastafel namun gak mencucinya karena malas.
"Bentar lagi Mama dan Papa datang, mereka sudah dalam perjalanan. Mungkin sejam lagi, atau kurang dari itu," ucapnya memberitahu karena tadi Papanya sudah mengirim pesan padanya.
"Iya," sahut Luna cuek.
"Kamu kenapa? Masih ngantuk?" tanya Ariel lembut.
"Gak papa, cuma lemes sedikit aja," jawabnya.
Saat mereka tengah mengobrol, Dion datang membawa dua kresek hitam.
"Apa itu?" tanya Luna.
"Oh ini Mangga muda sama kedondong, pesenan Tuan Ariel," ucapnya sambil memberikan dua kantong kresek ini kepada Ariel.
"Ngapain pesen itu Mas?" tanya Luna.
__ADS_1
"Kepengen aja," jawab Ariel.
"Kamu boleh pulang, hari in istriku gak akan kemana-mana lagi," ucapnya. Dion pun menganggukkan kepala dan setelah itu, dia pun pamit pulang. Dan kini hanya ada Ariel dan Luna.
"Sejak kapan Mas Ariel suka mangga muda?" tanya Luna.
"Sejak hari ini. Kita rujaan yuk, mau gak?" tanya Ariel menawarkan.
"Boleh deh, kayaknya enak di makan pakai masako dan cabe mentah," jawab Luna. Ariel pun menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Luna barusan.
"Sini aku cuci dulu, Mas nunggu di belakang aja," ucapnya dan Ariel pun menyerahkan plastik itu ke Luna. Lalu pergi ke belakang.
Luna sendiri ia mengambil wadah untuk mencuci mangga dan kedondongnya, setelah selesi di cuci, ia mengambil pisau, masako dan juga beberapa cabe mentah.
"Mau rujaan, Non?" tanya Bibi Imah.
"Iya, Bi. Bibi mau mangga sama kedongdongnya?" tanya Luna.
"Enggak, Non. Asem hehe," tolak Bibi imah sambil terkekeh, bahkan belum makan aja, rasanya dia sudah seperti merasaka asamnya seperti apa.
"Oh ya sudah, aku rujaan dulu ya Bi."
"Iya, Non."
"Ntar lagi Mama dan Papa mertua aku datang, kalau ada Bell, langsung bukakan pintu ya, jangan lupa juga bilang sama Bibi Neni, bersihkan ruang tamu sama kamar tamu, suruh ganti sprai kasur dengan yang baru, sarung bantal dan sarung guling serta selimutnya ganti juga semuanya. Bibi Imah bantu Bibi Neni juga ya, biar cepet selesai," tutur Luna memberikan perintah.
"Iya, Non."
"Jangan lupa juga semprotkan parfum ruangan ke ruang tamu, dan setiap kamar, apa yang berantakan langsung betulin," ujarnya lagi.
"Siap, Non."
Dan setelah itu, Luna pun pergi ke belakang. Dan duduk di lantai di samping Ariel namun ada jarak di antara mereka jadi gak terlalu dekat.
"Sini biar aku yang ngupas kulitnya," pinta Ariel dan Luna pun dengan senang hati memberikannya karena ia juga malas mau ngupas kulit mangganya.
Sejujurnya, ada rasa ilfeel, kesal, marah, kecewa kepada suaminya. Namun, Luna tak mau memperlihatkan bagaimana perasaannya saat ini. Ia ingin tetap terlihat baik-baik aja biar suaminya gak curiga. Ia ingin tetap melakukan hubungan baik, sampai tiba waktunya mereka akan berpisah. Bagaimanapun mereka dulu menjalin hubungan dengan baik baik, dari pacaran, menikah sampai akhirnya karena kedatangan Laras, semuanya berubah jadi hancur berantakan.
Dan jika pun kelak, mereka berpisah pun, ia ingin tetap menjalin silaturahmi dengan baik, kecuali jika Ariel menolak dan mempersulit dirinya, barulah ia akan melakukan hal yang tidak akan bisa di duga oleh Ariel maupun semua orang.
Walaupun Luna sudah mempersiapkan semuanya dan memperlihatkan bukti kepada keluarganya, keluarga suaminya dan keluarga Laras, tetap aja Luna akan membiarkan mereka yang menghakiminya. Sedangkan Luna, ia ingin melihat bagaiman kehancuran mereka berdua dan bagaimana mereka akan menghadapi keluarga mereka yang mengetahui kebejatannya.
__ADS_1
Luna tak perlu menjambak, memukul, menghina atau apapun karena ia gak mau membuat tanganya terluka, biarlah orang-orang terdekatnya yang menghakiminya, karena kadang hukuman paling berat adalah dari orang-orang sekitar. Bagaimana mereka menggunjingnya, menghina dan menekan dua pasangan zina itu. Kadang kekerasan verbal itu lebih menyakitkan ketimbang kekerasan fisik.