
Sesampai di apartemen, Ariel di kejutkan dengan kehadiran Luna yang ada di depan apartemennya sambil duduk santai memainkan hpnya. "Kenapa gak bilang kalau mau ke sini?" tanya Ariel sambil membuka apartemen miliknya. Ia emang sengaja tidak memberitahu kode pasword kepada Luna, karena baginya itu merupakan privasi dan Luna tidak berhak tau tentang itu.
"Aku baru datang kok, belum sepuluh menit," balas Luna sambil masuk.
"Dari mana?" tanyanya melihat Ariel membawa banyak boneka.
"Mall," jawabnya sambil menaruh boneka itu di ruang tamu, lalu pergi ke kamarnya dan meletakkan Diana yang sudah tertidur lelap. Yah, entah karena kecapean atau apa, Diana tidur saat perjalanan menuju pulang.
Setelah menyelimuti Diana dan menaruh bantal guling di sisi kanan dan kirinya, barulah Ariel keluar dari kamar itu. Namun pintu kamar di biarkan terbuka lebar. Sedangkan Diana sendiri, ia tidur di kasur bawah, sengaja tidak pakai ranjang, takut Diana jatuh.
"Kok lama gak ke sini?" tanya Ariel sambil mengambil minuman di kulkas. Ia menaruh minuman itu di hadapan Luna dan di hadapannya.
"Iya, sibuk banget. Kemaren harus wira wiri ke Bandung." sahut Luna.
"Ngapain?" tanya Ariel santai, sebenarnya dirinya gak kepo. Karena ia tau, di Bandung itu rumah Dion. Tampa di kasih tau pun, pasti Ariel bisa menebak dengan jelas.
"Mamanya Mas Dion sakit," jawabnya merasa sedih.
"Oh." Ariel pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda mengerti.
"Boleh aku cerit?" tanyanya.
"Silahkan," balas Ariel sambil mengambil minumannya dan membasahi kerongkongannya.
"Dulu saat aku hamil Diana, Mas Dion melamar aku. Waktu itu, kita masih suami istri. Dan aku gak menerimanya, dengan alasan kita masih sah jadi suami istri. Aku meminta dia menunggu sampai aku melahirkan dan selesai masa iddah. Tapi sayangnya, setelah masa iddah selesai, aku masih belum siap untuk menjalani hubungan pernikahan yang baru dengan pria lain. Akhirnya aku meminta Mas Dion menunggu sampai Diana umur enam bulan. Dan Mas Dion setuju, terlebih waktu itu Mas Dion emang lagi sibuk-sibuknya, jadi dia gak pernah datang apalagi setelah Ayah mengatakan sesuatu ke Mas Dion, aku gak tau apa yang di katakan Ayah, namun sejak aku pulang dari rumah sakit, Mas Dion langsung pergi gitu aja, tanpa pamit langsung ke aku." ucap Luna sambil memperhatikan raut wajah Ariel yang tampak biasa aja. Melihat hal itu, Luna mendesah kecewa. Namun ia tetap melanjutkan ceritanya.
"Waktu Diana umur enam bulan, benar saja, Mas Dion datang untuk melamar aku lagi. Namun aku menolaknya, karena beberapa hari sebelum Mas Dion datang untuk melamar aku, aku selalu mimpi buruk tentangnya dan aku tidak mungkin melanjutkan pernikahan sedangkan aku selalu mendapatkan mimpi buruk. Aku takut, jika di teruskan, akan berdampak tidak baik pada kehidupan aku dan Diana. Namun sayangnya, walaupun aku sudah menolaknya, Mas Dion tidak pernah berhenti untuk tidak memperhatikan aku. Dia selalu mengabari aku pagi, siang, sore, malam. JIka ada waktu, dia akan selalu mengajak aku telfonan atau vidio call. Hampir tiap malam seperti itu. Dia juga sering memberikan aku hadiah, kejutan yang tampa aku duga. Dia selalu berusaha untuk terus membuat fikiranku beralih ke dia, hingga aku kesulitan untuk fokus ke yang lain." imbunya. Namun Ariel tetap diam dan belum memberikan respon apa-apa.
"Akhir-akhir ini kesehatan Mamanya Mas Dion semakin memburuk, dan dia meminta aku untuk menikah dengan Mas Dion sebelum dia pergi untuk selamanya. Jujur aku bingung. Di satu sisi aku emang mencintai Mas Dion, tapi masalahnya, aku masih takut untuk membina rumah tangga, terlebih aku masih terus bermimpi buruk setiap kali aku sholat istikharah. Sedangkan sekarang Dion terus memohon agar aku mau mengabulkan keinginan Mamanya untuk terakhir kalinya. Aku bingung harus bagaimana?" Luna menghela nafas kasar, membuat Ariel hanya diam.
"Aku fikir kamu sudah menikah selama ini, karena setau aku, kamu dan Dion emang sudah merencanakan akan menikah selepas kamu selesai masa iddah. Ternyata masih belum," ujar Ariel.
"Hemm, jadi kamu fikir selama ini aku sudah menikah, apakah karena itu, kamu jaga jarak?"
__ADS_1
"Mmm, aku gak mau merusak rumah tangga kamu, makanya aku berusaha untuk terus menghindar, aku tak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan siapapun termasuk kamu." balas Ariel.
"Kenapa kamu gak tanya?"
"Buat apa?"
"Untuk memastikan aku masih janda atau sudah menikah."
"Lalu manfaat buat aku apa? Setelah aku tau kamu jadi janda, haruskah aku mati-matian seperti dulu lagi buat dapetin kamu dan cinta kamu kembali. Rasanya itu tidak mungkin. Bukankah kamu pantang memberikan kesempatan buat pria yang sudah melukai kamu secara terang-terangkan. Bahkan mungkin harapan kita untuk bersatu kembali hanya lima persen, itu pun jika ada," tutur Ariel terkekeh.
"Ya, kamu benar. Aku tidak mungkin memberikan kamu kesempatan setelah apa yang kamu lakukan kepadaku," balas Luna.
"Mmm, untuk itu aku sadar diri untuk tidak berharap lebih. Bahkan jika pun aku masih mencintai kamu, aku tidak akan melamar kamu lagi untuk kedua kalinya. Karena aku tau dengan jelas, jawaban apa yang kamu berikan padaku."
"Andai kamu dulu tidak .... " belum selesai Luna bicara, Ariel langsung memotongnya.
"Percuma berandai-andai, semua sudah terjadi, dan inilah takdir hidup yang harus kita jalani. Dan mungkin jodoh kita memang hanya sebentar."
"Kamu benar. Lalu, apakah kamu tidak akan menikah lagi?" tanyanya.
"Apa kamu gak mau nikahin Laras?" tanyanya dengan hati-hati.
"Enggak, tapi untuk masalah anaknya, jelas aku akan tanggung jawab. Aku belum sempat ke Jember sama sekali, karena aku masih fokus sama kesehatan aku dan sekarang aku masih fokus sama kesehatan Diana. Mungkin nanti misal ada waktu, aku akan ke Jember, buat lihat anakku."
"Tapi aku dengar-dengar Laras kabur dari rumah orang tuanya."
"Hah? Sejak kapan?"
"Lama mungkin sudah hampir dua tahun."
"Kamu yakin?"
"Iya aku tau dari Bunda. Kedua orang tua Laras murka karena Laras kabur di malam hari, terus mengambil uang Ibunya."
__ADS_1
"Ya Allah, kabur ke mana?"
"Enggak tau, tapi kemungkinan besar ke Jakarta buat nyusul kamu."
"Tapi kenapa gak sampai-sampai. Apa mungkin Laras pernah datang ke rumah kamu, Lun?"
"Enggak, enggak pernah. Aku sudah tanya ke Bibi Imah dan Bibi Neni. Gak ada Laras datang."
"Ya Allah, terus Laras dan anakku gimana? Aku sih gak peduli sama Laras, tapi masalahnya anak yang di kandung Laras itu adalah anakku. Darah dagingku."
"Lebih baik kamu cari aja keberadaan mereka berdua. Siapa tau mereka beneran ada di Jakarta, cuma gak berani menemui kita. Biar Diana aku pegang lebih dulu, kamu fokus aja cari anakmu yang lain." ujar Luna.
Mendengar hal itu, Ariel bimbang. Di satu sisi, ia sudah nyaman dengan kehidupan yang saat ini ia jalani, hanya saja di sisi lain, ia harus tanggung jawab atas apa yang terjadi di masa lalu.
"Hemm ... baiklah, aku akan cari mereka, tapi gimana dengan kamu dan Dion."tanyanya. Ia tak ingin, merepotkan Luna di saat Luna juga tengah ada masalah.
"Mungkin aku akan menerimanya."
"Kamu yakin?" tanyanya.
"Iya, Mama dan Papanya Mas Dion selama ini baik sama aku, terutama Mamanya. Aku ingin mengabulkan keinginannya, karena bisa jadi, ini adalah keinginan beliau yang terakhir kali."
"Lalu bagaimana dengan mimpi kamu selama ini, kamu mau mengabaikannya?"
"Entahlah, aku bingung."
"Lebih baik jangan gegabah mengambil keputusan. Bukan berarti, aku melarang kamu buat menikah lagi. Enggak. Tapi
aku gak mau aja, kamu menyesal di kemduian hari."
"Iya, nanti tak fikir-fikir lagi."
"Kita mungkin bukan lagi suami istri, tapi kita adalah orang tua kandung Diana. Jadi, bagaimanapun kita berusaha menjauh, pasti ada kalanya kita tetap harus komunikasi untuk membahas masalah putri kita. Namun jika kamu sudah menikah, tentu ada adab yang harus kita perhatikan. Kita tidak bisa bertemu berdua seperti ini, kamu harus bawa suamimu atau orang lain, agar tidak jadi fitnah." tutur Ariel dan Luna pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka pun mengobrol santai dan membahas masalah apa saja sambil menunggu Diana bangun. Baru setelah itu, Luna akan membawa Diana pulang ke rumahnya dan membiarkan Ariel atau mantan suaminya itu untuk mengurus masalahnya lebih dulu.