Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kekecewaan Orang Tua Ariel


__ADS_3

Sehabis sholat maghrib, Ariel mengaktifkan Hpnya dan betapa kagetnya dia begitu banyak sekali notifikasi yang masuk, notifikasi dari email, wa, twitter, Tele dan ig nya. Karena untuk fb dan Tiktok serta media sosial lainnya, Ariel tidak pakek, hanya pakai empat aplikasi itu untuk posting sesuatu atau untuk berkomunikasi  dengan yang lain.


Bahkan banyak sekali pesan yang masuk di semua sosial medianya, dan semuanya berisi caki maki dan hinaan yang begitu pedas. Bahkan semua posttingannya itu hanya berisi komentar negatif dari warganet. Ariel hanya membaca beberapa saja karena tak sanggup untuk membaca lebih banyak lagi. Ia menutup semua kolom komentarnya dan mengubah semua sosial medianya dengan privasi hingga orang lain tak lagi bisa seenaknya lagi menghujatnya habis-habisan.


Ariel lalu beralih ke grup keluarga di wa, dan lagi-lagi ia hanya bisa mengelus dada membaca hinaan dari paman, bibi dan saudara-saudaranya itu.


Bahkan mereka juga ada yang japri dan menghina Ariel dengan kata-kata pedas. Bukan hanya mereka, tapi Mama dan Papanya juga mengirim pesan yang sangat menyakitkan.


Ariel membuka dua link yang mereka kirim, dan setelah membukanya, betapa kagetnya dia saat vidio itu berupa vidio saat ulang tahun Luna dan saat tadi pagi ia datang ke rumah Luna untuk meminta maaf. Ia gak menyangka jika ada yang diam-diam merekamnya dan mengunggahnay di media sosial.


Ariel tau, ini pasti bukan kerjaan Luna. Setega-teganya Luna pada dirinya, ia gak akan menguploadnya di media sosial. Kemaren aja, ia hanya membuat pesta tertutup dan tak sema orang bisa masuk ke pesta itu. Jadi, sangat tidak mungkin jika Luna tega mempermalukan dirinya sampai pada dunia.


Tak lama kemudian, sang Mama menephon.


"Assalamualaikum, Ma," sapa Ariel lebih dulu.

__ADS_1


"SUDAH PUAS KAMU HAH, PUAS KAMU MEMPERMALUKAN MAMA DAN PAPA? DASAR ANAK DURHANA KAMU! SAAT MAMA HAMIL, MAMA SELALU MENGAJI, SELALU MEMINTA ANAK SHOLEH. DARI KECIL KAMU MAMA DIDIK ILMU AGAMA, MAMA MASUKKAN KAMU KE  SEKOLAH YANG MENGAJARKAN AGAMA, KENAPA SETELAH DEWASA KAMU MALAH JADI PRIA YANG SUKA BERZINA. TAK MALUKAH KAMU, VIDIO KAMU JADI TONTONAN BANYAK ORANG DI LUAR SANA. MAMA MALU TAU GAK, MALU RASANYA. SEMUA MENGHINA MAMA, TEMEN-TEMEN MAMA MEREKA JUGA MENENTAWAKAN MAMA KARENA PUNYA ANAK MENJIJIKKAN SEPERTI KAMU. KENAPA, RIEL? KENAPA KAMU SETEGA ITU MELEMPARKAN KOTORAN KE WAJAH MAMA DAN PAPA? KENAPA? APA SALAH MAMA DAN PAPA, SAMPAI KAMU TEGAS SEPERTI INI? MAMA DAN PAPA SUDAH BERUSAHA MEMBAHAGIAKAN KAMU, APAPUN YANG KAMU MAU, MAMA USAHAKAN. TAPI KENAPA SAAT KAMU DEWASA, MALAH INI YANG MAMA DAPATKAN. JIKA MEMANG KAMU GAK BISA MEMBAHAGIAKAN MAMA DAN PAPA, SETIDAKNYA TOLONG JANGAN BUAT MAMA DAN PAPA MALU ATAS KELAKUAN KAMU," ucap Mama Ila dengan nada tinggi, bahkan di sela perkataannya juga terdengar suara tangisan yang menyayat hati.


"MAMA JUGA MALU, NAK. MAMA MALU SAMA LUNA DAN KELUARGANYA, MAMA MALU SAMA MEREKA. DULU MAMA DAN PAPA MELAMAR KAMU KEPADA KEDUA ORANG TUANYA DENGAN MENJANJIKAN JIKA LUNA PASTI AKAN BAHAGIA MENIKAH SAMA KAMU. TAPI KENYATAANNYA APA, KAMU BAHKAN MENYAKITI LUNA SETIAP HARINYA. KENAPA HARUS SEPERTI INI? JIKA MEMANG KAMU INGIN MELAKUKAN HUBUNGAN BADAN, KAMU BISA MELAMPIASKAN KE LUNA, BUKAN KE WANITA LAIN. KAMU PUNYA WANITA YANG HALAL YANG BISA KAMU PAKAI KAPAN AJA, TAPI KENAPA KAMU HARUS TERGODA OLEH WANITA LAIN. KENAPA ARIEL  ... hiks ... hiks ...."


"Gaga-gara kamu, Mama malu sama keluarga besar Mama dan Papa. Mama sampai keluar dari semua grup, karena Mama gak punya muka buat berhadapan sama mereka. Kakek dan Nenek kamu juga menyalahkan Mama, karena mereka mengira, Mama gak bisa didik kamu. Kenapa, kenapa harus Mama yang menanggung semua ini? Padahal Mama gak tau apa-apa. Mama juga sudah berusaha memberikan yang terbaik buat kamu. Tapi kenapa saat ada masalah sebesar ini, semua orang menyalahkan Mama dan Papa, terutama Mama. Mama capek, Mama malu." Mama Ila mulai mengurangi intonasinya, ia tak lagi berteriak seperti tadi.


"Semua teman Mama juga menghina Mama. Mereka terus menghina tanpa memikirkan peraasan Mama. Mama sakit, Nak. Mama sakit di giniin. Seumur umur, belum pernah Mama di buat malu seperti ini. Sungguh, andai Mama boleh jujur. Mama menyesal melahirkan kamu. Mama malu. Buat apa punya anak, jika pada akhirnya hanya membawa aib buat Mama dan Papa." Mama Ila terus saja menangis. Ariel yang mendengarnya pun ikut menangis. Seharian ia sudah menangis karena ucapan Luna, dan sekarang ia menangis lagi karena ucapan Mamanya.


Sedangkan Noah yang baru datang dari luar, melihat Ariel telfonan sambil menangis pun merasa tak tega, ia menghampiri Ariel dan duduk di sampingnya sambil mendengarkan suara Mama Ila yang sedari tadi bicara tiada henti.


Ariel mata air bercucuran, Noah yang mendengar Tantenya menangis pun, ikut ikutan menangis. Noah emang sedikit perasa. Dia mudah menangis jika ada yang menyentuh perasaannya.


"Mama, maafin aku. Aku khilaf waktu itu, Ma. Dan aku juga menyesal sudah melakukan itu," ucap Aril dengan sesegukan.


"Khilaf? Khilaf itu kali, bukan berkali kali. Kamu melakukannya di resto aja, bukan sekali dua kali, belum di hotel, belum di mobil, belum di rumah kamu sendiri. Bahkan Luna menyaksikan sendiri apa yang kamu lakukan. Ya Allah, Nak. Kenapa kamu jadi seperti ini? KENAPA?" teriaknya di akhir kata. Mama Ila benar-benar histeris membuat Ariel sangat terpukul mendengarnya.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi sama Mama Ila, namun Hp itu sepertinya di rebut oleh Papa Ardi.


"Dasar breng sek. Nyesel Papa punya anak seperti kamu. Taunya cuma bikin malu orang tua saja. Andai Papa tau kamu bikin malu seperti ini, sudah Papa bu nuh kamu dari kecil. Semakin tua, bukannya semakin takut akan dosa. Malah kamu bikin ulah. Kamu itu bukan anak remaja lagi, kamu itu sudah tua, sudah tau membedakan mana yang haram dan mana yang halal. Jangan seperti orang bodoh saja. Papa kerja keras buat nyekolahin kamu tinggi-tinggi, bukan buat menjadi orang bo doh seperti ini. Dasar breng sek," umpatnya dan setelah itu, Papa Ardi membanting hpnya hingga layarnya pecah dan mati kemudian.


Sedangkan Ariel, ia menangis sambil memukul kaca yang ada di hadapannya, ia gak peduli dengaan tangannya yang terluka bahkan ada darah yang menetes dari jarinya karena ada kaca yang menancap di jari-jarinya. Melihat hal itu, Noah melongo. Ia segera mengobati tangan Ariel, namun Ariel langsung menepisnya dan menatap Noah dengan tajam.


"Kenapa kamu gak ngasih tau aku, jika ada vidio itu. Kamu sengaja, kan?" tanyanya sinis.


"Aku bukannya gak mau ngasih tau, cuma tadi siang kamu terlihat galau dan frustasi. Aku gak mau ganggu kamu dengan vidio itu. Aku gak tega, jadi aku memilih diam dan membiarkan kamu tau sendiri," balasnya tak mau di salahkan.


"Tapi gak seharusnya kamu diam aja, andai aku tau dari tadi siang, mungkin aku akan segera minta seseorang buat menghapus semua vidio itu hingga tak akan ada yang ngeshare sampai sebanyak ini," teriaknya marah. Ia kecewa karena Noah memilih diam dari pada jujur padanya.


"Maaf." Noah hanya menganggukkan kepala. Ia gak tau jika keputusannya bikin Ariel marah seperti ini.


Noah segera menghubungi temannya buat menghapus semua vidio itu di media sosial manapun, ia  gak ingin membuat namanya semakin tercemar karena itu akan semakin mempermalukan nama keluarga besarnya.

__ADS_1


"Luna, aku tau aku salah. Tapi kenapa kamu harus mempertontonkan vidio itu di hari ulang tahun kamu. Gara-gara perbuatan kamu, sampai ada orang yang merekam diam diam. Dan kini, vidio itu viral di media sosial. Seharusnya cukup aku aja yang kamu benci, bahkan aku rela di pukul, di tendang, atau di apapun. Asal jangan mengungkapkan keburukan aku di depan banyak orang. Gara-gara perbuatan kamu, kini keluarga aku kena getahnya, Lun," gumam Ariel dalam  hati. Ia mulai menyayangkan sikap Luna yang tak memikirkan masa depannya hingga kini berita tentangnya menjadi gosip panas di luar sana. Bukan dirinya aja yang terluka tapi juga keluarga besarnya terutama orang tuanya dan orang tua Laras.


__ADS_2