
Sejak pulang ke Mension, Luna tidak keluar kamar. Ia bahkan memilih untuk makan dan beraktivitas di kamar.
Seminggu sudah, Luna mengunci diri di kamar. Dan ia hanya akan memanggil Bibi Narti jika memang butuh sesuatu.
Dion sudah merasa geram, namun ia berusaha untuk sabar. Ia tak ingin bertengkar dan membuat orang tuanya semakin tidak menyukai Luna.
Dion juga berusaha menutupi agar tak ada yang tau, jika Dion dan Luna pisah kamar.
Dion juga akan keluar, setelah Mommy Ocha dan Papi Dimas sudah pergi. Dan setelahnya, Dion akan makan sendirian di meja makan.
Dion berusaha menutupi semuanya, bahkan ia meminta semua ART yang kerja di sana untuk tutup mulut.
Dion masih berusaha untuk memaafkan kesalahan Luna, ia masih berusaha mentolerir sikap Luna yang masih memilih menyendiri.
Karena Dion berfikir, Luna butuh waktu setelah apa yang terjadi. Bagaimanapun kehilangan seorang Ayah, tidaklah mudah. Dion jika ada di posisi Luna, juga mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk bisa berdamai dengan keadaan.
Setelah selesai sarapan, Dion segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Hari ini ia akan pergi dengan menyetir sendiri, karena Dion masih harus pergi ke beberapa tempat. Lagian ia lebih nyaman, kemana-mana sendirian. Tanpa harus di dampingi sopir atau asisten pribadi.
Saat hendak masuk mobil, tiba-tiba ia mendengar suara Luna.
"Mas, tunggu," teriaknya. Dion pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Luna.
"Ada apa?" tanya Dion, setelah jarak mereka cukup dekat.
"Aku mau ikut," sahutnya seperti tak ada rasa bersalah, setelah beberapa hari mendiamkan suaminya.
"Hmm, masuk aja," balas Dion.
__ADS_1
Luna pun langsung membuka mobil dan duduk di kursi depan samping Dion.
Setelah sama-sama selesai memasang sabuk pengaman, barulah Dion mulai menyalakan mobilnya dan mengemudi dengan pelan.
Sepanjang jalan, mereka memilih diam. Dion juga gak mau buka suara lebih dulu, karena takut akan memancing pertengkaran.
"Mas," panggil Luna.
"Iya," balas Dion pendek.
"Maaf," tuturnya dengan raut wajah Penuh penyesalan.
"Hemm, aku maafin kamu. Tapi tolong jangan di ulangi lagi ya," sahut Dion tersenyum. Mendengar kata maaf dari mulut sang istri, membuat Dion merasa lega. Rasanya amarah yang selama ini berkobar dalam dada, seakan hilang begitu saja.
"Aku juga minta maaf, jika selama ini aku ada banyak salah. Maaf karena sebagai suami, aku belum bisa membahagiakan kamu," imbuh Dion yang juga meminta maaf, karena bagaimanapun sedikit banyak, ia pasti sudah pernah berbuat salah.
"Iya, aku harap juga begitu."
"Mas," panggil Luna lagi.
"Iya," balas Dion sambil menoleh ke Luna sebentar, sebelum akhirnya ia fokus lagi ke jalan.
"Tak bisakah kita pisah rumah dari orang tua kamu?" tanyanya mengungkapkan isi hatinya.
"Kenapa?" tanya Dion mengenyitkan dahi
"Aku gak nyaman di sana. Lagian aku ingin punya rumah mungil, cukup untuk aku, kamu dan anak kita kelak. Aku juga gak mau pakai ART, aku ingin mengurus semuanya sendiri. Apa boleh? Tidak perlu besar, yang sederhana aja, cukup lantai satu. Dengan dua kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, sama taman belakang. Udah itu aja," tuturnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Dion diam. Di satu sisi, ia ingin menuruti keinginan sang istri, tapi di sisi lain ia juga gak mungkin meninggalkan orang tuanya. Lagian di Mension itu ada banyak puluhan kamar yang kosong, tak terpakai. Sangat di sayangkan, misalkan harus beli rumah lagi.
Sebagai pebisnis, dari pada uangnya di buat beli rumah, mending buat usaha lain,yang bisa menghabiskan uang
"Kenapa?" tanya Dion.
"Apanya yang kenapa?" tanya Luna tak mengerti.
"Kenapa tiba-tiba pengen punya rumah sendiri?" jelas Dion.
"Aku ingin kita belajar mandiri. Dua, aku ingin rumah tangga kita tidak ada ikut campur tangan orang lain, termasuk orang tua kita. Tiga, sudah lama aku ingin punya rumah mungil dan melakukan semuanya sendiri, masak sendiri, beres-beres rumah sendiri. Dan aku juga bisa melayani kamu dengan lebih leluasa."
Mendengar jawaban Luna yang cukup masuk akal, Dion pin menyetujuinya.
"Baiklah, nanti aku akan omongin dulu sama Mami."
"Jika Mami menolak, apakah kamu akan menuruti keinginannya untuk tetap tinggal di Mension itu?" tanya Luna was was.
"Aku akan menuruti kamu, karena kamu adalah perioritas aku," balasnya membuat Luna tersenyum senang.
"Makasih ya, Mas." Luna memegang tangan Dion, karena ia merasa senang dan bahagia karena Dion mau menuruti keinginannya. Lagian Luna emang gak betah tinggal di Mension itu, karena ia merasa jika semua orang yang ada di sana, seakan mengabaikannya dan tak lagi menaruh hormat padanya seperti dulu, di awal.
"Sama-sama." Dion tau, Mami Ocha pasti akan menentang keinginan Luna. Tapi sebagai suami, ia juga tak mungkin tinggal diam. Bagaimanapun saat ini, Luna adalah istrinya dan harus menjadi perioritasnya.
Lagian ia juga ingin, Luna berubah dan melakukan semuanya sendiri. Dion juga ingin hidup mandiri, tanpa dikit dikit manggil ART.
Ia juga ingin hidup sederhana bersama dengan Luna. Membangun keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.
__ADS_1
Sudah cukup mereka di uji, dengan ujian yang hampir membuat hubungan mereka jadi renggang, dan kali ini, Dion akan berusaha keras, agar ia bisa membahagiakan Luna dengan caranya sendiri.