
Keesokan harinya, Ariel berangkat pagi-pagi, bahkan la berangkat sebelum sarapan pagi. Saat Luna tanya mau kemana. Ariel hanya menjawab, dia ada urusan sebelum berangkat ke kantor.
Luna pun tak tanya lagi, ia membiarkan Ariel pergi kemanapun yang la mau. Seperti biasa, Luna tak pernah mengekang suaminya, Luna membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia mau.
Setelah Ariel pergi, Luna pun mengajak Dion, Bibi Imah dan Bibi Neni untuk sarapan bersama, namun Bibi Imah dan Bibi Neni menolak makan di meja makan. Akhirnya Luna mengalah, dia meminta Bibi Imah Dan Bibi Neni menurunkan semua makanan yang ada di atas meja makan ke Lantai yang ada di ruang keluarga.
Akhirnya mereka berempat pun makan lesehan di lantai sambil nonton upin Ipin. Entah kenapa, makan mereka membuat nafsu makan Luna jadi meningkat.
Selesai makan, Luna Langsung mandi dan bersiap siap. Sedangkan Dion, dia nunggu di luar sambil membersihkan mobil. Bibi Imah sendiri, dia kora kora piring kotor tadi yang buat makan. Sedangkan Bibi Neni, dia menjemur pakaian yang sudah di cuci, Lalu menyiram tanaman, Lanjut nyapu dan ngepel.
Jam Setengah delapan, Luna Sudah siap dengan rencana yang akan ia lakukan hari ini. Luna berharap, dia menemukan titik terang agar bisa hidup tenang seperti dulu Lagi
Sebelum pergi, ia berpamitan lee Bibi Imah dan Bibi Neni. Ia mengatakan bahwa kemungkinan, ia akan pulang sore. Jadi Untuk makan siang, Bibi Imah gak perlu masak apalagi makanan yang tadi pagi masih banyak.
Melihat Luna Sudah Siap. Dion membuka pintu mobil sehingga Luna langsung masuk dan duduk di kursi belakang.
"Kita kemana dulu, Non?" tanya Dion sambil fokus mengemudi.
"Ke rumah Laras dulu, Mas," jawabnya sambil memainkan hpnya.
"Baik, Non."
Dan setelah itu, Dion pun mengemudikan menuju rumah Laras. Sesampai disana, Luna langsung turun. Sedangkan Dion, ia menunggu di mobil.
__ADS_1
Luna mengetuk pintu, dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Hay, Laras. Katanya kamu sakit ya?" tanya Luna.
"Iya. Ayo masuk dulu," ucap Laras mempersilahkan Luna duduk di ruang tamu.
"Mau minum apa?" tanya Laras.
"Enggak usah, sini duduk aja. Lagian aku gak haus kok. Aku juga sebentar di sini, mau jenguk kamu aja."
"Makasih ya udah jenguk aku."
"Iya, maaf. Aku gak bawa apa-apa, soalnya aku fikir kamu gak ada di rumah sama seperti kemaren."
"Tapi tadi malam aku ke sini, kamu enggak ada."
"Aku pulang jam sebelas," jawabnya.
"Oh kok gak nunggu pagi aja pulangnya?"
"Aku gak betah di rumah sakit, gak bisa tidur juga. Jadi aku maksa pulang, untung dokternya mengizinkan."
"Seharusnya kamu kasih tau aku kalau sakit, jadi aku bisa ke sini jenguk kamu."
__ADS_1
"Aku gak mau ngerepotin kamu terus, Lun. Kamu sudah banyak bantu aku, jadi aku gak mau terus menerus nyusahin kamu. Lagian aku masih kuat kok."
"Oh gitu, syukurlah. Sudah makan?"
"Sudah tadi, aku pesen pakai gojek. Jadi sudah makan bubur dan minum obat."
"Oh gitu, syukurlah. Sepertinya kamu butuh istirahat yang cukup, wajah kamu juga pucat. Nanti aku ke sini lagi. Aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa, jangan lupa chat aku. Oh ya nomer kamu kenapa gak aktiv?"
"Mungkin hpnya drop Lun."
"Loh bukannya kamu tadi pesen bubur pakai gojek ya. Berarti Hp kamu gak drop kan?" tanya Luna membuat Laras gelagapan.
"Aku pakai hp satunya, Lun," jawabnya gugup.
"Oh, gitu. Jadi kamu punya nomer lain selain itu?"
"Iya, nanti aku kirim ke kamu ya nomernya."
"Okay, aku pulang dulu ya."
"Iya, hati-hati."
Dan setelah itu, Luna pun pergi dari sana, sedangkan Laras, ia cepat-cepat menutup pintunya.
__ADS_1