
Setelah puas berpelukan, entah karena lelah atau apa, Diana terlelap di pelukan Ariel. Ariel menimang-nimang Diana layaknya bayi.
"Masuk dulu, Mas," ucap Luna yang sedari tadi hanya diam melihat pemandangan mantan suaminya dan putri sulungnya. Ya, Diana akan jadi putri sulungnya, karena bentar lagi ada putri bungsu di antara mereka.
"Suamimu mana?" tanpa menjawab pertanyaan Luna, Ariel malah tanya pernyataan lain.
"Masih kerja, belum pulang," jawabnya.
"Kalau gitu, aku gak bisa masuk. Nanti apa kata orang, kamu menerima pria lain di saat suamimu tidak ada di rumah.
"Tapi kan kamu, Papanya Diana," balas Luna.
"Sama aja, Lun. Itu gak di perbolehkan. Lagian aku ke sini buat jemput Diana. Apa boleh jika Diana pulang bareng aku sekarang?" tanyanya dengan pelan, takut menyinggung ibu hamil yang ada di hadapannya.
"Boleh, lagian Diana sepertinya gak betah tinggal sama aku."
"Bukan gak betah, mungkin karena Diana merasa asing aja sama tempat tinggalnya, makanya dia kurang nyaman. Tapi kalau sering nginep di sini, aku yakin cepat atau lambat Diana pasti akan mulai menyesuaikan diri."
"Hemmm, Mas Ariel kenapa belum nikah?" Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulutnya, Luna sendiri bahkan tidak menyangka bahwa dia akan seberani ini.
Mendengar pertanyaan Luna, Ariel hanya tersenyum.
"Belum nemu yang cocok," balas Ariel tersenyum ramah.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Luna. "Apa mungkin Mas Ariel masih mencintai aku, makanya dia gak nikah sampai sekarang?" gumam Luna dalam hati.
"Kalau gitu, aku pamit pulang ya," tutur Ariel membuyarkan lamunan Luna.
"Pulang? Mas yakin gak mau masuk dulu? Nanti capek loh, bolak-balik nyetir, ga istirahat," tuturnya. Bukannya mau menahan, Luna hanya takut Ariel dan Diana kenapa-napa di jalan. Jika sampai Ariel kelelahan, ia bisa saja tidak konsen dalam menyetir.
"Nanti aku istirahat di masjid aja, sekalian sholat dhuhur, sama sekalian istirahat di resto sambil cari makan siang," balasnya. Arie tak mau goyah hanya karena permintaan mantan istrinya. Bagaimanapun ia tak ingin Dion salah faham, jika ia datang dan melihat ada mantan suaminya yang datang tanpa sepengetahuan dirinya.
"Baiklah, kalau gitu hati-hati di jalan."
"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik ya. Aku pamit, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ariel tersenyum pada Luna sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Ariel membunyikan klakson sebelum akhirnya ia pergi dari sana. Luna hanya melambaikan tangannya.
Setelah Ariel pergi, entah kenapa Luna merasa sakit di bagian dadanya.
Bayangan saat bersama dengan Ariel, telah mengusik hati dan fikirannya. Dulu Ariel hanya tersenyum untuknya, dulu Ariel begitu memanjakannya dan seluruh perhatiannya hanya tertuju padanya. Ariel selalu memprioritaskan dirinya di banding dirinya sendiri maupun keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ariel selalu melakukan yang terbaik untuknya dan selalu mementingkan kebahagiannya di banding kebahagiaannya sendiri. Setiap bepergian, Ariel selalu membawakan barang-barang mewah, tak peduli seberapa mahal barang itu, Ariel akan membelikan itu untuknya.
Dia juga begitu perhatian, apalagi setiap malam, dirinya akan duduk di atas perut sixpacknya sambil menatap wajah Ariel yang fokus bercerita. Menceritakan kesehariannya.
Luna sangat merindukan semua itu, sangat-sangat merindukannya. Tapi nasi sudah jadi bubur, dirinya sudah menikah dengan Dion, bahkan bentar lagi dirinya juga akan memiliki anak dengan Dion.
__ADS_1
"Andai aku kembali ke masa lalu. Dulu aku emang bodoh, menyia-nyiakan orang yang aku cintai, dan selalu mengeluh dengan sikap posesifnya yang menurut aku sudah keterlaluan. Tapi sekarang, aku malah merindukan sikap posesifnya itu. Oh Tuhan, kenapa hidupku seperti ini?"
Kenapa penyesalan selalu ada di belakang. Dion emang baik, tapi jika di bandingkan dengan Ariel, jelas jauh berbeda. Bahkan Dion tidak bisa mengimbangi kebaikan dan kepedulian Ariel dulu.
Kadang Dion seringkali egois dan tidak memperdulikan perasaannya. Bahkan Dion tidak pernah minta pendapatnya dalam melakukan sesuatu, dia selalu bertindak semaunya. Dan selalu meminta Luna untuk mengerti di setiap tindakannya.
Itu yang membuat Luna kadang muak, karena ia merasa kurang di hargai sebagai istri. Tapi ya, sekali lagi Luna tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Ia sadar setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Tapi entah kenapa, Luna masih aja ngeluh. Emang manusia itu tidak pernah merasa puas dan bersyukur. Selalu merasa kurang, kurang dan kurang.
Padahal di luar sana, ada banyak orang yang hidupnya bahkan jauh lebih menyedihkan.. Sayangnya, orang tidak mau berkaca sama orang yang ada di bawahnya. Sehingga rasa kurang puas itu selalu mendominasi dirinya.
Luna masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat kacau, ia bahkan kini memilih untuk merebahkan tubuhnya dan menenangkan fikiran.
Ia tak ingin sampai terbawa emosi, yang membuat hubungan dirinya dan Dion menjadi renggang lagi. Untuk itu, ia harus menjernihkan fikirannya, sehingga saat Dion pulang, ia sudah merasa baik-baik aja.
Jika Luna di buat galau oleh kedatangan Ariel, berbeda dengan Ariel sendiri. Ia menyetir sambil memangku Diana. Untungnya dia juga sudah menyiapkan ikat, sehingga Diana ia ikat dan menyatu dengan tubuhnya sehingga Diana tidak akan jatuh.
Sambil menyetir, sesekali ia melihat wajah Diana yang masih tertidur nyenyak. Ariel tersenyum, akhirnya kini ia bisa bersama dengan Diana lagi. Berhari-hari tidak bertemu, sungguh menyiksa batinnya.
Misal sepi, Ariel mengelus kepala Diana dan sesekali mengecupnya. Kadang jika sudah seperti ini, Ariel gak butuh lagi seorang pendamping, karena baginya ada Diana di sampingnya, sudah lebih dari kata cukup.
Setelah hampir setengah jam, Diana mulai bangun. Ia tersenyum melihat Papanya yang kini ada di dekatnya.
"Papa," panggilnya.
"Iya, Nak," jawab Ariel lembut.
"Bentar ya, Papa cari masjid dulu sekalian sholat dhuhur."
Ariel fokus lihat kanan kiri, setelah melihat ada masjid di pinggir jalan, ia segera membelokkan mobilnya menuju parkir masjid.
Lalu ia segera membawa Diana keluar, agar Diana tidak menahan pipisnya lebih lama lagi.
Ariel membawa Diana ke toilet cowok, karena ia gak mungkin membawa Diana ke toilet cewek.
Setelah selesai, barulah Ariel membantu Diana mengambil wudhu, dan setelahnya ia juga mengambil wudhu, bergantian dengan Diana.
Untungnya Ariel selalu membawa sarung dan mukenah mini untuk Diana. Sehingga ia bisa sholat dengan tenang. Ariel juga memakaikan mukenah untuk Diana dan setelah itu, ia pun sholat, dengan di dampingi Diana yang ada di sampingnya, mengikuti gerakannya.
Selesai sholat, mereka duduk bersantai. Diana berlari kesana kemari, ia kembali ceria. Tak lagi murung seperti saat berada di rumah Luna.
Melihat tawa renyah putrinya, hati Ariel pun kembali menghangat.
Namun tiba tiba
Duk ...
Diana jatuh karena menabrak seseorang.
__ADS_1
Ariel langsung segera menghampiri putrinya yang terjatuh, untungnya Diana tidak menangis.
"Ya Allah, Nak. Maafin Tante," ucap seseorang dengan suara lembutnya. Ia memakai gamis hitam, hijab berwarna hitam dan juga cadar berwarna hitam. Semuanya tertutup kecuali di bagian mata dan bagian telapak tangan dan jari-jarinya.
"Maafin putri saya, Mbak," tutur Ariel merasa bersalah karena putrinya yang lari larian kesana ke sini sehingga menabrak seseorang.
"Enggak papa, Mas," balas wanita itu.
"Kalau gitu, saya permisi Mbak." Ariel menyudahi percakapannya dan segera membawa Diana pergi dari sana.
Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja ia tidak ingin timbul fitnah mengingat di masjid cuma ada mereka.
Setelah Ariel pergi, wanita itu pun segera pergi sholat sedangkan Ariel, kini ia ada di dalam mobil dan memangku putrinya.
"Maaf, Papa," ucapnya merasa bersalah.
"Enggak papa, Sayang. Tadi kan Diana gak sengaja. Sekarang kita cari resto terdekat ya, kita makan siang, mau?" tanyanya dan Diana pun menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Ariel segera menyetir dan mencari resto yang mempunyai tempat yang teduh dan nyaman, jauh dari kebisingan dan keramaian.
Cukup lama Ariel muter-muter daerah sana, hingga akhirnya ia menemukan tempat yang cocok buat makan siang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ariel segera menggendong Diana menuju resto dengan nuansa alam.
Percikan air mancur yang berada di tengah-tengah taman, membuat udaranya semakin segar. Terlebih di bawah air mancur, ada beberapa macam ikan, yang membuat suasananya semakin adem, nyaman dan bikin hati tenang.
Ariel dan Diana duduk di kursi samping taman, ada beberapa bunga yang sudah bermekaran membuat Diana merasa senang berada di tempat itu.
Sayangnya, Ariel tidak memperbolehkan Diana untuk memetik bunga itu, atau akan kena denda untuk satu bunga. Sebenarnya tidak masalah jika Ariel harus bayar denda, hanya saja ia tidak ingin Diana merusak bunga yang sangat indah di pandang mata.
Ariel memesan air putih, ikan bakar, lalapan, sambal pedas manis, sup ayam dan juga kerupuk.
Sambil menunggu makanan tiba, Ariel melihat Diana yang turun dari kursi dan berjalan mengelilingi taman. Ariel terus melihat ke arah Diana, karena takut Diana akan menabrak orang lagi, atau lebih parahnya, jika Diana terluka karena ia lalai dalam perihal pengawasan.
Setelah makanan datang, barulah Ariel memanggil Diana untuk makan. Diana pun langsung menghampiri Ariel dan duduk di kursi kosong samping Ariel.
Ariel menyuapi Diana lebih dulu, Diana makan dengan nasi dan sup ayam serta kerupuk. Melihat Diana makan dengan lahap, membuat Ariel lagi-lagi merasa senang. Ia bersyukur Diana tidak rewel dalam hal makanan.
Setelah Diana kenyang, barulah Ariel makan dengan cepat agar tidak membuat Diana menunggu lama. Sesekali sambil makan, Ariel mengajak Diana ngomong agar Diana tidak bosan dan berasa ada temannya.
Namun di suapan terakhir, Ariel tanpa sengaja melihat wanita yang tadi di masjid, berjalan memasuki resto.
"Siapa wanita itu?" gumam Ariel dalam hati.
"Apa dia bosnya?" tanyanya lagi, melihat karyawan resto yang seakan begitu hormat pada wanita itu.
"Tapi ngapain aku mikir wanita itu?" tanya Ariel lagi, ia menggelengkan kepalanya dan fokus menyelesaikan makannya.
Setelah selesai makan, ia segera menghabiskan segelas air putih. Lalu duduk santai sambil melihat Diana yang telah toleh ke sana kemari
__ADS_1
Sekitar sepuluh menitan, setelah merasa nasinya sudah turun, barulah Ariel membayar makanannya dan segera pergi dari sana.