Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Bersenang-senang Tanpa Suami


__ADS_3

Kini Luna, Bibi Imah, Bibi Neni dan juga Dion sudah berada di dalam Mall. Awalnya Luna meminta Dion berada di mobil aja, atau di resto buat mesen makanan atau minuman sambil nunggu dirinya. Karena Luna takut, Dion akan kecapean jika menuruti dirinya yang akan jalan ke sana-kemari. Namun Dion menolak, karena Dion mengatakan jika Dion bekerja bukan hanya untuk sopir aja, tapi juga untuk menemani kemanapun Luna pergi. Luna hanya bisa menghela nafas, karena ia merasa jika suaminya itu masih over padanya. Namun tak apa, ini lebih baik, dari pada hanya diam diri di rumah.


Akhirnya Dion hanya berjalan di belakang mereka bertiga. Bagi Dion, ini adalah hal biasa, karena dulu ia pernah menemani sang Mama di salon, hampir seharian, belum lagi kadang seminggu sekali Dion akan menemani sang Mama untuk pergi ke Mall, setengah hari, dari pagi sampai siang, kadang dari siang sampai sore, dari lantai satu sampai lantai paling atas, lalu balik lagi ke lantai satu. Setiap toko di datangi, namun gak ada yang beli. Bahkan kadang balik lagi ke toko sebelumnya hanya untuk melihat-lihat lagi. Jadi bagi Dion, tak masalah jika ia harus menemani majikannya itu di Mall, bahkan jika harus seharian sekalipun karena dirinya sudah dilatih kesabaran sedari kecil oleh sang Mama, agar tidak gerutu dan tidak mengeluh setiap di ajak ke Mall.


Luna pergi ke toko baju wanita, "Bibi Imah, sama Bibi Neni beli aja, baju yang mana yang di sukai. Nanti biar aku yang bayar."


"Enggak usah, Non," tolak Bibi Imah gak enak hati.


"Loh, jangan nolak rezeki. Ayo pilih," paksa Luna. Bibi Neni dan Bibi Imah pun akhirnya memilih baju yang mereka suka. Namun saat mereka lihat harganya, itu cukup mahal, karena harganya di atas dua ratu ribu.


"Non, kita ke pasar aja yuk Di sana murah-murah."


"Ya kapan-kapan kita ke pasar. Tapi sekarang kan sudah terlanjur ke sini. Ayo ambil, apa perlu aku yang pilihkan?" tanya Luna.


"Enggak usah, Non. Biar kami pilih sendiri," ucap Bibi Neni. Luna pun menganggukkan kepala.


Setelah itu, Bibi Imah dan Bibi Neni memilih baju yang mereka suka, tanpa lihat harga lagi, takut kaget nantinya.


"Sudah, Non," ucap Bibi Imah.


"Kenapa cuma pilih satu, ayo pilih lagi. Ini loh bagus." Luna mengambil baju yang menurutnya bagus untuk Bibi Neni dan Bibi Imah, lengkap dengan hijabnya.


"Ini buat Bibi Imah dan INi Buat Bibi Neni." Luna memberikan tiga baju lengkap dengan hijabnya buat Bibi Neni dan Bibi Imah.


"Ya Allah, Non. Ini kebanyakan."


"Enggak papa, biar bisa gonta-ganti," ujar Luna.


Mereka pun hanya bisa pasrah, sedangkan Dion yang ada di belakang mereka, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Luna yang sangat royal terhadap asisten rumah tangganya itu.


Setelah membeli baju buat Bibi Neni dan Bibi Imah, Luna pergi baju khusus cowok.


"Mas Dion suka yang mana?" tanya Luna.


"Eh saya gak usah, Non."


"Gak boleh gitu, ayo pilih. Kalau gak mau, besok jangan ikut aku lagi," paksa Luna cemberut. Melihat bibir Luna yang maju ke depan membuat Dion terkekeh. Akhirnay ia mengambil baju kaos yang harganya cukup murah.


"Kenapa cuma beli satu. Ukuran Mas Dion apa?" ujar Luna sambil menoleh ke Dion.


"Xl."


"Oh."


Lalu Luna mengambil baju koko satu, kemeja pendek dan kemeja panjang satu serta jaket warna hitam satu. Sama sarung dua. Songkok warna putih satu."

__ADS_1


"Ini buat Mas Dion."


"Tapi Non ... " Dion merasa gak enak buat nerima, baru juga hari  pertama kerja, sudah dibeliin banyak gini.


"Ambil." paksa Luna sambil menyerahkan baju yang ia ambil tadi buat Dion.


"Makasih, Non."


"Sama-sama."


Lalu Luna berkeliling lagi, dan saat melihat ada baju dan jaket couple, Luna pun menghampirinya dan mengambil jaket itu. Ada tulisan My Wife dan My Husband.


"Ini bagus gak?" tanya Luna ke mereka.


"Bagus, Non," jawab mereka kompak.


"Iya sudah aku beli ini aja buat aku dan Mas Ariel," ujar Luna, mengambil jaket couple dan baju kaos couple.


Setelah selesai, Luna pergi ke toko Jam.


Luna mencari jam tangan yang couple, ia ingin membeli apa aja yang bentuknya sama dengan sang suami.


Setelah cukup lama, lihatnya. Barulah Luna membeli jam tangan yang menurutnya sederhana tapi terlihat elegant.


Di sana ada permainan khusus orang dewasa. Luna mengajak  mereka untuk main bersama, namun mereka menolak.


"Yahhh masak aku sendiri," ujar Luna cemberut.


"Bibi sudah tau, Non. Kalau main itu bisa encok pinggang Bibi," ujar Bibi Imah, selain karena takut kecapean dan encok, Bibi Imah dan Bibi Neni juga malu karena mereka bukan lagi anak muda. Berbeda dengan Luna yang masih terlihat seperti anak remaja.


Tak tega melihat raut wajah Luna yang penuh kekecewaan. Dion pun akhirnya bersedia main bareng. Dari permainan tembak-tembakan, balap mobil dan yang lainnya. Bahkan Luna juga membeli beberapa tiket untuk di tukar dengan beberapa barang jika beruntung. Sayangnya, beberapa kali Luna melakukannya tak kunjung berhasil. Dion pun meminta izin untuk membantu Luna, dan Luna tentu dengan senang hati memberikan dua sisa tiket yang masih ia pegang. Dan ketika Dion yang melakukan tarik barang itu. Dion mendapaktan boneka ukuran seratus meter sama yang ukuran enam puluh centi.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama, Non."


"Ternyata Mas Dion itu jago main juga ya."


"Iya, Non. Kadang Mas sering mencoba beberapa mainan di Mall, kalau lagi nemenin Mama belanja."


"Oh. Pantes."


"Sekarang kita ke resto yuk di lantai tiga, tadi aku cari di goongle, ada makanan enak disana," ajak Luna dan mereka pun hanya bis menurut saja. Mana berani menolak, lagian mereka juga ikut senang dan terhibur dengan apa yang di lakukan oleh Luna.


Di resto itu, Luna membesan beberapa makanan dan minuman. Dan mereka juga makan satu meja, awalnya Bibi Imah dan Bibi Neni serta Dion mau pakai meja lain, namun Luna melarangnya. Akhirnya mereka pun makan satu meja layaknya keluarga.

__ADS_1


Setelah makanan datang, Luna pun bersama yang lain menikmati makanan itu.


"Akhirnya ya, Bi. Setelah aku di kurung di sangkar emas sekian lama. Aku bisa jalan-jalan hari ini dan menikmati kebersamaan kita. Bisa tertawa bahagia dan bisa makan makanan apapun yang aku mau," ucap Luna yang tak di mengerti oleh Dion.


"Ya, Non. Entah Tuan Ariel kesambet apa, sampai dia memberikan Non kebebasan. Jika ingat dulu, Bibi gak tega, karena Non hanya makan makanan itu itu terus, hambar dan tak ada nutrisinya. Kadang cuma minum jus buah dan jus melon. Bahkan Non sampai menolak setiap kali Bibi ajak rujak bareng, karena takut ketahuan sama Tuan. Tapi sekarang, Tuan sudah memberikan Non Luna kebebasan. Bukan hanya bisa makan apa aja yang Non mau. Tapi Non juga bisa jalan-jalan, tidak hanya di rumah terus siang malam," ujar Bibi Imah.


"Tapi apakah Non Luna gak curiga?" tanya Bibi Neni.


"Curiga kenapa, Bi?" tanya Luna. Sedangkan Dion tetap setia mendengarkan cerita mereka, dia yang termasuk orang baru, masih belum tau apa-apa, jadi ia gak bisa ikut komen ataupun ikut campur mereka yang tengah mengobrol asyik.


"Ya habisnya Tuan berubah saat Tuan belikan Non Laras sepeda motor. Ingat, kan?" tanya Bibi Neni.


"Iya sih tapi kan Mas Ariel bilang, kalau Mas Ariel beliin Laras sepeda motor, karena Mas Ariel gak suka berduaan sama Laras setiap pulang kerja. Makanya di belikan sepeda motor," sahut Luna.


"Tapi jangan mudah percaya gitu aja, Non. Harus hati-hati dan waspada. Sesekali Non juga harus ke resto, buat melihat secara langsung interaksi mereka berdua. Bukan Bibi ingin nakut-nakutin. Hanya saja, Bibi gak ingin rumah tangga Non Luna sama Tuan Ariel berantakan. Apalagi tidak mudah buat kalian untuk berada di posisi ini," ucap Bibi Neni.


"Baiklah, mungkin besok aku akan ke sana saat jam makan siang," balas Luna.


"Nah itu bagus, tapi jangan bilang sama Tuan Ariel."


"Kenapa?"


"Ya kan kalau bilang dulu, Non gak akan tau aslinya seperti apa. Lagian anggap aja Non ingin buat kejutan, dengan datang ke sana tanpa memberitahu Ariel lebih dulu."


"Iya deh. Tapi sejujurnya aku malu sama karyawan resto," tutur Luna.


"Kenapa, Non?" tanya Bibi Imah.


"Soalnya beberapa kali ke sana, aku hampir gak pernah ngobrol sama mereka, bahkan hanya senyum aja, itupun gak lama. Karena setiap aku di ajak ke resto. Mas Ariel gak ngizinin aku nyapa mereka, apalagi ngobrol sama mereka. Setiap kali datang, aku langsugn di ajak keruangannya," jawab Luna sendu.


"Astaga, miris sekali hidupnya. Aku fikir Non Luna hidupnya bahagia, ternyata seperti ini kenyataannya." Dion pun merasa iba terhadap kehidupan majikannya itu.


"Tapi sekarang kan Tuan sudah berubah, Non. Jadi non Luna sudah bebas mengobrol sama siapa aja, sudah gak perlu menjadi patung setiap kali keluar."


"Iya, Bi. Dan aku bersyukur akan hal itu."


Mereka pun mengobrol santai dan tak menghiraukan Dion yang sedari tadi menikmati makanannya dan menyimak obrolan mereka.


Setelah selesai makan, mereka pun pulang. Namun di jalan, adzan dhuhur terdengar.


"Mas, cari masjid dulu ya. Kita sholat dulu," pinta Luna lembut.


"Iya, Non," jawab Dion. Dion semakin merasa terpukau dengan kebaikan dan kelembutan Luna. Selain cantik, baik, lemah lembut, Luna juga rajin ibadah. "Ya Tuhan, amalan apa yang di lakukan oleh Tuan Ariell hingga mendapatkan wanita secantik dan sebaik Luna?" tanya Dion dalam hati.


Setelah menemukan masjid, mereka pun turun dari mobil dan ikut sholat berjamaah di sana. Untungnya khusus perempuan, di sana juga disediakan banyak mukenah, jadi mereka bisa sholat dengan mukenah itu.

__ADS_1


__ADS_2