
Ariel berhenti di restoran, dan ia melihat Laras sudah tampak di belakang kasir, Ariel hanya memberikan senyuman sekilas pada Laras, Laras pun melakukan hal yang sama lalu fokus memencet tombol di keybord. Sedangkan Ariel pergi pergi ke ruangannya. Di sana Ariel mengerjakan pekerjaannya hingga jam makan siang, Ariel meminta Laras pergi ke ruangannya. Tanpa buang-buang waktu, Laras pun pergi ke ruangan Ariel dan melepas rindunya di sana.
Sedangkan Luna, ia sudah berdandan cantik, karena ia ingin pergi ke resto di antar oleh Dion. Ia menggunakan baju terbaiknya, dan memakai make up sebaik mungkin hingga Luna tampak sempurna. Ia memakai gamis hitam panjang, bahkan dari atas sampai bawah serba hitam, begitupn dengan tas dan jam tangn yang ia pakai. Saat Luna keluar dari kamarnya dan pergi menuju Dion yang tengah bercengrama dengan Bibi. Dioan benar-benar di buat terpanah dengan kecantikan majikannya itu.
"Ya Tuhan ... kenapa dia cantik sekali, dia bahkan sudah seperti bidadari yang turun dari surga," pujinya dalam hati.
"Mas Dion, ayo anter aku ke resto," ujar Luna membuat Dion malu sendiri. Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni hanya tersenyum melihat Dion yang tersipu malu karena terlalu terpanah dengan kecantikan Luna.
"I ... iya, Non," jawab Dion dan langsung kabur dari sana membuat Luna hanya geleng-geleng kepala.
"Bi, aku berangkat dulu ya." pamitya.
"Iya, Non."
Dan setelah itu, Luna pun berangkat bareng Dion. Sepanjang jalan, Luna mengarkan lagu sholawatan untuk menentramkan hatinya.
"Mas Dion sudah sholat?" tanya Luna karena mereka saling diam sedari tadi.
"Sudah, Non."
"Alhamdulillah, sudah makan siang juga?"
"Sudah juga, Non. Sama Bibi Imah dan Bibi Neni tadi. Non sendiri belum makan siang ya?"
"Iya, aku makan nanti aja, soalnya belum lapar."
__ADS_1
"Jangan sampai telat makan, Non. Nanti sakit," ucapnya memberikan perhatian.
"Iya, santai aja. Aku gak akan sakit hanya karena telat makan," balasnya terkekeh.
"Mas Dion, misal aku cerai dan jadi janda. Ada gak ya, yang mau nikahin aku?" tanyanya membuat Dion kaget, untung tak sampai menabrak mobil depan.
"Emang Non mau cerai?" tanya Dion.
"Kayaknya iya," jawabnya membuat Dion terbelalak, pasalnya wajah Luna malah terlihat santai saat ngomong hal seperti ini.
"Tapi kenapa, Non? Padahal Non dan Tuan sangat serasi sekali loh," ujarnya.
"Ya gak papa, pengen cerai aja. Lagian apa yang tampak terlihat harmonis kadang menyimpan bangkai yang busuk, Mas,"
"Apakah Tuan selingkuh sama yang namanya Laras itu, Non?" tanyanya mencoba untuk mencari tau.
"Kalau memang nanti Non jadi janda, banyak yang akan mengantri Non, termasuk saya," ucapnya memberanikan diri.
"Hah, kamu bercanda, kan?" tanya Luna kaget, tak percaya dengan yang ia dengar.
"Kenapa saya harus bercanda, Non. Saya memang mencintai Non Luna. Bahkan dari awal kita bertemu, ibarat kata orang tuh, cinta pada pandangan pertama, Non. Tapi ya, karena Non istri orang, saya mana berani mengungkapkan perasaan saya, tapi berhubung sekarang, Non kayaknya mau pisah dan OTW janda nih, jadi saya mau daftar duluan, Non. Misal Non lagi cari pasangan lagi," tuturnya lembut membaut Luna terkekeh, tak percaya jika sopir tampannya ini memendam rasa padanya.
"Haha kamu ada-ada aja, Mas," ucap Luna.
"Loh, saya beneran Non. JIka Non nanti cerai, dan pengen cari suami, saya akan daftar jadi orang pertama nantinya," ujarnya yang membuat Luna terkekeh. Karena ia menganggap Dion tengah bercanda untuk menghibur dirinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di depan resto, "Kamu tunggu di sini aja ya, standby. Aku kayaknya gak lama kok."
"Siap, Non."
"Aku cantik, kan?" tanyanya sebelum turun.
"Cantik banget, Non," jawabnya jujur.
"Terima kasih." Luna tersenyum ke arah Dion, sebelum akhirnya ia turun dari mobil dan masuk ke dalam resto.
Saat ia melangkahkah kakinya, yang ia lihat pertama kali adalah bagian kasir, dan di sana hanya ada Nani saja.
"Mbak, Laras mana?" tanya Luna sambil menyapa Nani.
"Tadi kayaknya di panggil Pak Ariel ke ruangannya, Bu," jawabnya.
"Owh, kamu gak makan siang?"
"Nanti, Bu. Gantian sama Mbak Laras."
"Oh gitu, iya sudah saya ke dalam dulu ya."
"Iya, Bu."
Setelah itu, dengan tenang Luna berjalan menuju ruangan Ariel. Sebelum ia membuka pintu, ia membaca basmallah dulu, baru ia buka dan ....
__ADS_1
"MAS ARIEL, LARAS," teriaknya dengan wajah memerah menahan amarah. Bahkan teriakannya itu membuat menggelegar hingga membuat orang kepo kenapa Luna sampai teriak seperti itu.
Kira-kira apakah yang Luna lihat?