
Saat Ariel sadar dari pingsannya, ia kembali histeris. Ia berusaha untuk kabur dari rumah sakit dan menemui istrinya, Luna. Namun tubuhnya lemas dan rasa sakit seakan menyerang ke seluruh tubuh. Saat Ariel turun dari brankar, lagi-lagi pusing menderanya hingga membuat dirinya kembali jatuh.
Noah, yang melihat sepupunya jatuh pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia membantu Ariel untuk bangunn namun Ariel menepis tangan Noah. "Aku mau menemui Luna," desisnya tak suka melihat keberadaan Noah di sana.
"Kamu gak bisa menemuinya dengan keadaan seperti ini. Paling enggak, kamu sembuh dulu, baru kamu bisa menemui Luna dan meminta maaf, walaupun aku yakin, dia gak akan pernah memaafkan kamu," serunya yang seakan mengejek Ariel.
"Kamu jangan ikut campur urusanku. Lebih baik kamu pergi dari sini. Aku gak butuh kamu." Ariel menatap tajam ke arah Noah, yang sedari tadi seakan-akan sengaja melarang dirinya untuk bertemu Luna.
__ADS_1
"Aku sudah dari tadi ingin pergi, aku juga muak berada di sini. Tapi aku masih punya hati dan perasaan. Aku gak mungkin membiarkan kamu sendiri dengan kondisi seperti ini. Jadi jangan bantah ucapanku, ingat di sini cuma aku yang peduli sama kamu. Yang lain sudah muak dan tak sudi lagi melihat kamu. Jadi jangan bikin aku kesal. Lebih baik kamu nurut aja, kamu fokus aja sama kesembuhan kamu dulu, baru setelah itu aku akan menemani kamu menemui Luna. Lagian Luna juga butuh waktu untuk menata hatinya, jika kamu menemui dia saat ini, yang ada malah bertengkar. Biarkan dia menenangkan hatinya dulu."
Mendengar ucapan Noah, Ariel tak lagi membantah. Walau dirinya saat ingin bertemu dengan Luna, tapi ia yakin Luna juga tak akan mau menemui dirinya apalagi jika hatinya tengah emosi dan tidak baik-baik saja. Yang ada dirinya akan kembali babak belur karena di pukul oleh adik iparnya itu.
Ariel pun menurut, ia kembali duduk di atas brankar. Ia menangis menyesali apa yang sudah terjadi. Ia menyesal sudah mengkhianati Luna dan mengkhianati pernikahannya.
Noah membiarkan Ariel menangis sendirian, ia tak akan menganggunya, ia tau jika Ariel kini tengah menyesali perbuatannya, namun nasi sudah jadi bubur. Semuanya terlambat. Ariel sudah melukai Luna begitu dalam, dan yang pasti tidak akan mudah untuk Ariel mendapatkan maaf dari Luna.
__ADS_1
"Aku gak peduli lagi padanya," jawabnya, dia sangat membenci Laras, karena Laras adalah sumber penderitaannya. Sebelum Laras datang, hubungan dirinya dan Luna baik-baik aja, dan seharusnya ia bahagia saat ini karena Luna tengah mengandung buah hatinya. Tapi yang ia rasakan saat ini semuanya hancur. Hancur karena kebodohannya, Hancur karena terbuai akan rayuan Laras.
"Tapi bagaimanapun saat ini Laras tengah mengandung anakmu. Jangan egois, kamu boleh membenci Laras tapi ingat, ada anak yang harus kamu pertanggung jawabkan. Jangan menjadi orang yang lari dari tanggung jawab. Jangan membuat orang semakin membencimu karena sifat burukmu itu,"sarkas Noah yang membuat Ariel hanya bisa diam.
"Laras di rawat di rumah sakit ini, kandungannya lemah. Dia bahkan hampir keguguran, untungnya dokter menanganinya di waktu yang tepat sehingga masih bisa di selamatkan," ucapnya memberitahu.Yah, tadi saat Noah tengah mengurus administrasi, ia melihat Laras datang bersama saudaranya. Lalu diam-diam Noah mengikutinya hingga ia tau apa yang terjadi. Setelah itu, ia kembali ke kamar di mana Ariel di rawat.
Ariel diam, ia masih bingung harus berbuat apa. Ia membenci Laras, tapi ada anak di dalam kandungann Laras saat ini. Anaknya, buah hatinya, darah dagingnya. Apakah Ariel tega jika harus menyuruh Laras menggugurkan kandungannya. Apakah Ariel tega menyuruh Laras membunuh janin yang tak berdosa itu. Tapi jika di biarkan, itu akan membuat hubungan dirinya dan Luna semakin jauh dan berantakan. Laras akan menjadi penghambat dirinya untuk bisa kembali dengan Luna. Terlebih ia juga sudah punya anak dengan Luna, itu sudah cukup baginya. Ia gak ingin anak dari wanita lain. Tapi, Ariel juga gak akan sekejam itu untuk meminta Laras membunuh janin itu.
__ADS_1
Ariel benar-benar frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri untuk menyalurkan emosinya. Naoh yang melihat itu hanya bisa diam, gak mau ikut-ikut pusing memikirkannya. Dia juga punya masalah sendiri yang sampai sekarang juga belum bisa diatasi, jadi dia gak mau menambah beban dengan ikut memikirkan masalah sepupunya itu. Biarlah Ariel memikirkan masalahnya sendiri, dia cukup melihat apa yang Ariel lakukan,selama tidak membahayakan nyawanya, ia tak mempermasalahkannya. Kalau cuma menjambak rambutnya, itu bukan masalah besar, toh paling cuma rambutnya aja yang rontok.
Noah memainkan hpnya sambil duduk santai, berbeda dengan Ariel yang sudah seperti orang kehilangan akal, ingin teriak menyalurkan rasa seak di dadanya, namun ia sadar diri, bahwa saat ini ia ada di rumah sakit, dan tak mungkin ia menganggu kenyamanan orang lain. Ia masih punya akal dan rasa malu untuk tidak berbuat ulah di tempat umum seperti ini.