
Setelah menempuh perjalanan naik pesawat selama delapan jam lebih enam menit, akhirnya Ariel tiba di bandara Jakarta.
Ia segera memesan mobil online, saat di dalam mobil. Ariel membuka pesan yang di kirim oleh Luna.
"Mas, pulanglah. Diana kena gagal ginjal akut." Dan seperti biasa, Luna mengirim foto Diana yang kini tengah di infus.
Mendengar putri kesayangannya, kena gagal ginjal. Jantung Ariel seakan berhenti. Bagaimana bisa, anaknya yang bahkan baru berumur delapan bulan bisa terkena gagal ginjal?
"Tuhan, cobaan apalagi ini?" tanyanya sambil menitikkan air mata.
Sedangkan Luna, ia terus menangis sambil menggenggam tangan putrinya itu. Ia tak menyangka jika putrinya terkena gagal ginjal, terlebih itu ternyata di sebabkan olehnya yang mana, dua Minggu yang lalu saat Diana demam, Luna memberikan sirup khusus balita. Namun siapa sangka, jika sirup yang ia beli ternyata mengandung bahan kimia hingga menyebabkan putrinya sakit parah seperti ini
__ADS_1
"Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama yang sudah menyebabkan kamu sakit seperti ini. Maafkan Mama yang sudah teledor. Maafkan Mama yang tidak berhati-hati," ucap Luna yang terus saja menangis.
Ia tidak mendengar berita viral yang menyebabkan banyak anak gagal ginjal karena sirup, bahkan saat ini sirup yang beredar pun, banyak yang di tarik kembali. Namun bodohnya dirinya, yang tidak mengetahui kasus itu, karena terlalu sibuk chatan dengan Dion. Yah, walaupun dirinya sudah menolak Dion, namun ia masih tetap berhubungan sampai detik ini.
Luna terus saja menangis, dia menangisi kebodohannya. "Andai aku dengerin apa kata Bibi Imah dan Bibi Neni, mungkin kejadiannya gak akan separah ini," gumam Luna sambil sesegukan. Padahal sudah dari kemaren, Bibi meminta Luna untuk membawa Diana ke rumah sakit, namun Luna terus mengatakan, putrinya tidak apa-apa. Bahkan jika bukan karena mereka yang cerewet, sampai detik ini pun, Luna gak akan membawa Diana ke rumah sakit. Dan bisa jadi, besok atau lusa, Diana tiada, mengingat kata dokter, jika terlambat sedikit saja, bisa membahayakan nyawa Diana.
"Tuhan, apakah aku masih pantas jadi seorang Ibu, jika aku sendiri seperti ini?" tanyanya.
Luna menaruh Diana di bawah agar bisa main ke sana kemari, karena Diana sudah pintar merangkak, hanya saja untuk jalan, masih belum bisa. Tapi kalau cuma berdiri, Diana bisa tapi itu pun masih butuh bantuan, seperti memegang kursi atau yang lainnya.
Dan waktu itu, Luna lagi asyik chatan dengan Dion. Namun sesekali ia melihat ke arah putrinya yang main boneka, kadang merangkak kesana kemari, mengambil mainan yang memang di sebar di sana. Hanya saja, tempatnya emang agak dekat dengan kolam, sekitar lima meter dari teras belakang. Sedangkan samping kolam itu ada taman yang di tenemi sayur dan bunga bunga, serta buah seperti buah pepaya dan yang lainnya. Sedangkan untuk kolam ikan, ada dua meter jaraknya dari kolam renang. Luna memelihara ikan, karena putrinya itu suka melihat ikan setiap pagi atau sore hari.
__ADS_1
Nah, saat itu, entah karena asyik atau apa, Luna lupa melihat ke arah putrinya lagi. Hingga ia mendengar teriakan Bibi Neni yang membuat jantung Luna berdetak cepat. Ia melihat Bibi Neni yang membuang bak yang berisi baju yang tadinya mau di jemur, ia melempar bak itu begitu saja dan berlari ke arah putrinya yang hampir saja jatuh ke kolam renang setinggi dada Luna. Cukup dalam karena memang kolam itu untuk orang dewaasa.
Luna juga ikut berlari, tapi kalah cepat dengan Bibi Neni. Dan saat itu, Bibi Neni tanpa sengaja membentak Luna, karena Luna yang sudah teledor Luna pun tak memarahi Bibi Neni, karena ia sadar, Bibi Neni mungkin reflek melakukan itu.
Luna juga pernah hampir membunuh Diana karena waktu itu, Luna menyusui Diana pakai dot. Waktu itu, Diana masih kecil. Luna ketiduran sedangkan dot terus di taruh di mulut Diana, bahkan saat Diana batuk-batuk pun, Diana gak bangun, sangking lelapnya. Bibi Neni kebetulan masuk ke dalam kamar, mau menaruh baju yang sudah di setrika, dan melihat Diana terus batuk-batuk. Bibi Neni langsung mengambilnya dan mengurut dadanya, ia juga menepuk dada Diana, hingga Diana bisa bernafas dengan lancar lagi.
Barulah setelah itu, Bibi Neni membangunkan Luna dan mengatakan apa yang terjadi barusan.
Tadi karena sangking paniknya, Bibi Neni sampai lupa membangungkan Luna dan fokus menyelamatkan nyawa Diana. Lagi dan lagi, Luna teledor, efek gak tidur semalaman gara gara vidio call dengan Dion, membuat ia pagi harinya ngantuk berat, hingga tak sadar, hampir membahayakan nyawa putrinya.
Kadang Bibi Neni sampai gak habis fikir, kenapa Luna menjadi ibu yang ceroboh. Sejak kenal dan dekat dengan Dion, Luna berubah, tak lagi seperti dulu. Ia melakukan apa saja, tanpa memperdulikan yang lain. Berbeda saat menikah dengan Ariel, walaupun banyak peraturan ini dan itu, tapi bisa membuat Luna di siplin akan semua hal. Tapi sekarang, Luna tidak lagi seperti dulu, ia sibuk chatan sampai kadang putrinya sendiri pun di abaikan. Yah, buat apa di temani, jika ujung ujungnya, matanya cuma sibuk menatap Hp.
__ADS_1
Bibi Imah dan Bibi Neni pun mulai gregetan, buat apa di tolak, jika ujung-ujungnya masih sibuk chatan, vidio callan, telfonan siang malam kayak anak ABG.