Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
LDR


__ADS_3

Luna di kamar tengah menangis, ia masih tidak menyangka sang Ayah akan berkata seperti itu. Tidak mengizinkan dirinya lagi dekat dengan Dion, padahal selama ini Dionlah yang selalu ada untuknya dan menghibur dirinya. Mungkin tanpa Dion, dirinya gak akan bisa seperti sekarang, kuat menjalani hari-hari yang penuh dengan kesakitan.


Entah apa yang merasuki ayahnya, sampai ayahnya berkata tegas padanya, bahkan ada beberapa kata yang menyakiti hatinya.


Saat Luna tengah menangis, tiba-tiba Hpnya berdering, ada panggilan telfon dari Dion. Luna pun mengangkatnya.


"Halo," sapa Luna dengan suara serak.


"Kamu baru bangun tidur ya, kok suaranya serak," tebak Dion.


"Iya," dustanya.


"Hmm ... pantas, saat aku nunggu di ruang tamu, kamunya gak keluar. Pasti capek banget ya?"


"Mm."


"Aku sekarang lagi perjalanan pulang." ucapnya memberitahu.


"PUlang kemana?"


"Bandung."


"Kenapa? Apa Ayah ngusir kamu?"


"Enggak kok, akunya aja yang pengen pulang ke Bandung."


"Pasti gara-gara ayahku, kan? Maaf ya, aku gak tau kenapa ayah aku berubah." Luna meminta maaf, karena ia merasa tidak enak sendiri. Ia merasa Dion itu sseperti habis manis sepah di buang.


"Gak perlu minta maaf. Aku yang salah."


"Kamu gak salah. Apanya yang salah? Selama ini, kamu yang selalu ada untukku."

__ADS_1


"Tapi tetap aja, apa yang kita lakukan selama ini salah, Lun. Aku gak seharusnya deketin kamu, apalagi kamu dulu masih istri orang."


"Aku sudah cerai."


"Iya, I know. Tapi kamu kan masih dalam tahap masa iddah, gak seharusnya, aku terang terangan dekeetin kamu."


"Kamu itu kenapa sih? Emang Ayah ngomong apa, sampai kamu kayaknya mau menjauh dari aku."


"Aku bukannya menjauh, tapi aku sadar, apa yang aku lakukan salah. Aku malu sama Ayah kamu. Untuk itu, akuĀ  mungkin gak akan datang lagi ke Jakarta, sampai kamu selesai masa idah. Dalam tiba bulan ke depan, kita cukup jaga jarak dulu," tuturnya lembut.


"Jadi kamu gak akan ke sini lagi, kamu gak akan menemui aku lagi?" tanyanya dengan air mata yang mengalir.


"Aku akan kesitu lagi, tapi nanti nunggu waktu yang tepat. Jika kamu sudah selesai masa iddah, aku akan datang bersama orang tua aku untuk melamar kamu."


"Tapi kan lama."


"Sabar sayang, tiga bulan gak lama kok. Selama aku gak ke sana, kamu harus jaga diri baik-baik ya. Aku juga akan jaga hati aku, aku pasti akan sangat merindukan kamu."


"Sabar ya."


"Mmm."


"Kok ngambek gitu?"


"Enggak ngambek. Siapa yang ngambek."


"Tapi nada suaranya aja beda, kaya ketus gitu."


"Gak kok, biasa aja. Kamunya aja yang salah denger."


"Iya deh, aku yang salah denger," Dion mengalah membuat Luna cemberut.

__ADS_1


"Iya sudah aku matikan, kamu kan lagi nyetir mobil. Nanti malah kenapa-napa."


"Iya, aku tutup dulu ya sayangku, cintaku. Kamu jangan nangis ya, jangan rindu aku. Biar aku aja yang rindu kamu,karena kata Dilan, rindu itu berat," goda Dion.


"Mmm."


"I love you."


"Too."


Dan setelah itu, telfon pun benar-benar berakhir. Luna membanting hpnya ke kasur, jadi gak sampai pecah. Ia kesal, sangat kesal. Kehadiran orang tuanya, bukan buat dirinya tenang, malah bikin dirinya menjadi risau.


Di kamar sebelah, Ayah Lukman tengah dudu di kursi sambil melihat istrinya yang lagi menidurkan Diana, cucu pertamanya.


"Ayah sudah ngusir Dion?" tanya Bunda Naira.


"Ayah bukan orang jahat, yang tega ngusir orang, Bu. Ayah cuma mengatakan agar Dion, menjauhi Luna dulu sampai Luna selesai masa iddahnya. Kalau sudah selesai, barulah Dion boleh datang untuk melamar putri kita secara resmi. Itu lebih baik, dari pada mereka terus dekat dan bikin dosa. Kita yang kena getahnya, juga pada akhirnya."


Bunda Naira pun menganggukkan kepala, membenarkan perkataan suaminya itu. Besok jadi mau ke rumah besan?" tanyanya.


"Jadi, besok kita berangkat pagi aja, biar nyampek sana gak siang."


"Lalu Diana, gimana?"


"Kamu kasihkan aja ke Luna. Dia kan ibunya."


"Luna kan belum bisa ngasuh, Yah."


"Ya sekalian aja belajar. Masak dia gak mau ngurus putrinya sendiri?" tanyanya.


"Hueftt ... Bunda malah khawatir, kalau Luna yang jaga putrinya. Dia aja sibuk main hp dan kayak lagi sedih gitu. Mana dia bisa fokus jaga bayinya."

__ADS_1


"Sudahlah, biar itu jadi urusannya. Toh kalau bayinya kenapa-napa. Dia juga yang akan nyesel nanti." ucap Ayah Lukman yang tak mau lagi memanjakan putrinya itu. Nanti semakin di manja, malah semakin semena-mena.


__ADS_2