
Di saat Luna tengah menemani sang suami yang masih terbaring di rumah sakit, berbeda dengan Laras. Ia juga tengah sakit dan itu berpengaruh sama janin yang ia kandung. Hanya saja, ia bersyukur karena janin yang ada dalam kandungannya sangat kuat sehingga sampai detik ini masih bertahan.
Beberapa hari yang lalu, Laras sempat mendapatkan tendangan dari Rahman, hingga harus mengalami pendarahan dan di bawa ke rumah sakit. Untungnya bayinya tidak apa-apa dan ia hanya cukup di rawat sebentar di rumah sakit dan langsung di bawa pulang lagi ke rumah.
Selama pergi ke rumah sakit itu, Rahman tidak pernah sedetik pun meninggalkan Laras, ia di jaga ketat layaknya seorang tahanan.
Sesampai di rumah, Laras hanya terus berdiam. Sudah berbulan-bulan lamanya ia menunggu untuk di jemput oleh Ariel. Namun nyatanya sampai detik ini, ia masih belum juga di jemput dan itu membuat Laras merasa murka. Laras merasa jika Ariel sudah melupakannya dirinya dan janin yang ada dalam hidupnya serta hidup bahagia bersama Luna di Jakarta.
Membayangkan mereka hidup bersama dalam canda tawa, membuat Laras merasa sakit, ia merasa ia hanya di bodohi oleh Ariel. Dulu ia berjanji, bahwa ia akan membelikan Laras rumah agar Laras lepas dari orang tuanya. Namun kenyataannya, jangankan dibelikan rumah, bahkan mencari tau tentangnya pun juga tidak.
Noah yang dulu sempat mencari tau tentang Laras tanpa sepengetahuan Laras dan Ariel kini, mulai tidak lagi memperdulikannya. Karena Noah fokus sama kesehatan dan mental Ariel. Serta memikirkan hubungan Ariel dan Luna. Memikirkan itu saja sudah membuat kepalanya sudah mau pecah, apalagi jika dirinya masih harus memikirkan Laras, mungkin ia juga akan gila karena terlalu banyak yang di fikirkan.
Bukan dia yang melakukannya, kenapa harus Noah yang dibuat ribet sendiri. Untuk itu, Noah memilih untuk mengabaikan Laras terlebih dahulu dan fokus sama kehidupan Luna dan Ariel saja. Terutama Ariel yang kini bahkan belum kunjung sadarkan diri.
Kini tubuh Laras bahkan sudah seperti nenek-nenek, tak ada lagi kecantikan yang terlihat, tekanan batik dan siksaan yang ia dapatkan dari Bapaknya, membuat tubuh Laras kering meringkih, hanya perut saja yang membesar.
Laras juga tak lagi melakukan perawatan wajah atau apapun, sehingga banyak kerutan di wajahnya, efek tekanan yang ia dapatkan setiap harinya. Dan memang pada awalnya, Laras tidaklah cantik, jadi jika ia tak memakai perawatan lagi, maka kecantikan yang sebelumnya bersinar efek perawatan dan ke salon, kini sudah memudar bahkan hilang tanpa bekas.
Hari ini, jam dua dini hari. Laras belum juga bisa tidur. Ia mencoba untuk keluar dari kamarnya dan melihat rumah yang begitu sepi.
Lalu diam-diam, Laras mencoba untuk menyelinap di kamar Rahman dan Sari. Laras melihat orang tuanya yang tertidur sangat nyenyak. Laras mendekati mereka dan melambaikan tangan di hadapan wajah mereka, namun tidak ada yang beraksi.
Laras lalu ingat jika Rahman menaruh kunci di bawah bantalnya, dengan susah payah dan dengan super hati-hati, ia memasukkan tanganya di bawah bantal Rahman. Sesekali tangannya berhenti saat melihat Rahman bergerak.
Laras bahkan tahan nafas karena takut ketahuan, ia tak ingin di hukum lagi. Seluruh badannya bahkan masih sakit semua.
__ADS_1
Setelah mencobanya beberapa kali, dan dengan penuh kehati-hatian, Laras berhasil mendapatkan kunci pintu itu. Laras tersenyum bahagia. Lalu Laras melihat ke lemari, Laras masih ingat jika Santi Dan Rahman suka menaruh uangnya di bawah baju.
Laras pun berjalan ke arah lemari, dengan sangat hati-hati sekali, ia membuka lemari itu. Ada suara berdenyit karena memang lemari itu sudah tua. Jantung Laras bahkan berdebar kencang karena takut jika Rahman dan Sari bangun dari tidurnya.
Laras menatap mereka sejenak, memastikan jika Rahman dan Sari masih tertidur lelap. Setelah itu, ia mencari di setiap bawah baju, uang simpanan milik orang tuanya itu.
Dan yah setelah beberapa menit, ia menemukan uang sebesar tujuh ratus ribu. Meliha hal itu, Laras tersenyum bahagia. Lalu ia menutup pintu lemari itu dengan pelan dan setelahnya, ia segera pergi menuju kamarnya.
Kini, kunci rumah dan uang sudah ia genggam. Ia mengambil tas miliknya dan mengganti bajunya dengan yang lebih layak. Tanpa melihat ke arah cermin, ia segera buru-buru pergi dari sana.
Saat membuka pintu pun, Laras membukanya dengan jantung berdebar kencang, ia takut suara kunci akan membangunkan mereka.
Namun mungkin karena Rahman dan Sari terlalu lelah seharian bekerja, mereka bahkan tidak mendengar saat ada suara pintu terbuka.
Laras pergi dengan sedikit berlari, ini masih malam, jadi di tempat ojek pangkalan masih sepi. Mungkin semua orang masih tertidur sangat nyenyak.
Andai Laras punya hp, ia mungkin tinggal memesan ojek online, tapi sayangnya, ia tidak punya Hp. Hp miliknya sudah di banting oleh Rahman.
Namun Laras tidak mau putus asa, ia sudah susah payah untuk bisa keluar dari rumahnya. Berbulan-bulan lamanya, ia berusaha untuk kabur tapi sayangnya selalu ketahuan dan berujung ia mendapatkan pukulan keras dari Rahman.
Akan tetapi kali ini, Tuhan berbaik hati padanya. Ia bisa keluar itu tanpa di ketahuai oleh Rahman dan Sari. Jadi Laras gak akan menyia-nyiakan kesempatann kali ini.
Laras terus berjalan dan sedikit berlari ke arah jalan raya, di sana masih ada beberapa kendaraan yang lewat. Namun tidak serame saat pagi, siang dan sore hari.
Saat tengah malam, sangat sepi, hanya ada satu dua tiga saja mobil atau sepeda motor yang lewat jalan itu.
__ADS_1
Laras terus berjalan, rasa lelah mulai menghampirinya, perutnya juga terasa sedikit kram, Laras tidak memperdulikannya. Ia cuma mengelus perut itu berharap putranya mau bekerja sama dengannya.
Setelah hampir dua jam, akhirnya ia sampai di pasar yang buka dua puluh empat jam. Di sana ada bentor yang parkir di depan pasar. Laras tersenyum senang, ia mendekati bentor itu. Laras meminta untuk di antarakan ke terminal. Di sini ada terminal yang buka dua puluh empat jam.
Tentu mendapatkan pelanggan pertama, orang itu pun langsung semangat mengantarkan Laras ke terminal. Sampai ke terminal, Laras membayaar sebesar lima puluh ribu. Lalu Laras berjalan masuk ke dalam terminal dan langsung naik bus yang jurusan ke Kota Jakarta.
Di sana, barulah Laras bernafas lega. Dan ia bisa beristirahat dengan tenang.
Namun busnya masih belum berangkat, jadi ia masih sedikit agak was-was, takut jika Rahman menyadari dirinya yang kabur dari sana dan pergi ke terminal untuk mencari dirinya.
Laras terus berdoa dalam hati, dan setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya bus itu pun berjalan. Di situlah, Laras merasa kelegaan yang luar biasa.
Saat di jalan, Laras mulai memejamkan mata, rasa lelah membuat dirinya mengantuk.
Tak terasa pagi hari sudah tiba, dan Laras masih berada di dalam bus. Ada beberapa orang yang naik ke bus dan menawari minuman dan makanan. Laras membeli dua air mineral, dua nasi bungkus dan beberapa camilan dan semua itu menghabiskan tiga puluh lima ribu. Laras pun segera membayarnya. Kini uang itu sisa enam ratus lima belas ribu.
Laras yang emang sudah lapaar banget, menghabiskan dua nasi bungkus itu, dan menghabiskan satu botol air mineral. Sedangkan satu botol dan cemilannya ia taruh di dalam tas, siapa tau nanti ia merasa gangguk atau haus, jadi ia bisa minum.
Jam delapan pagi, kondektur Bus mulai berjalan dan mengeluarkan tiket kepada semua penumpang. Hingga giliran Laras ia mengambil tiket itu dan membayar sebesar tiga ratus lima puluh ribu. Karena memang bus ini ada AC nya, jadi agak sedikit mahal.
Setelah mendapatkan tiket, Laras menaruh tiket itu ke dalam tasnya, dan kini uang itu sudah sisa dua ratus enam puluh lima ribu.
Mengingat uang yang tak lagi banyak, Laras menghela nafas. Uang yang tadinya tujuh ratus ribu, kini dengan sekejap mata sudah tinggal sedikit. Namun, memikirkan ia akan segera tiba di Jakarta dan bertemu Ariel, ia berharap, Ariel mau memberikan tempat tinggal dan menanggung biaya hidupnya karena saat ini, ia tidak mungkin mencari kerja dalam kondisi hamil.
Memikirkan hal itu, Laras cukup tenang. Karena perjalanan cukup lama dua puluh dua jam, jadi Laras memanfaatkan itu untuk istirahat lagi, terlebih perutnya juga sudah kenyang setelah menghabiskan dua nasi bungkus. Jadi ia bisa tidur tanpa merasa kelaparan lagi.
__ADS_1