
Sedangkan di tempat yang berda, setelah beberapa jam, akhirnya mereka sudah sampai di kediaman Ardi. Lintang dan kedua orang tuanya turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu utama. Mereka memencet bell, namun tidak ada yang keluar. Mereka mengetuk pintu, juga tetap sama.
"Mereka kemana ya Yah?" tanya Lintang.
"Entahlah, kenapa sepi banget seperti gak ada penghuninya," sahut Ayah Lukman.
"Apa mereka pindah rumah, Yah?" tanya Bunda Naira.
"Entahlah, Bun. Ayah juga gak tau," balas Ayah Lukman. Ia mengambil hpanya dan mencoba untuk menelfon Ardi, namun nomernya gak aktiv. Nelfon Ariel pun sama, nomernya gak ada yang aktiv.
Saat mereka menunggu hampir setengah jam lamanya, tiba-tiba ada orang yang nyamperin.
"Cari keluarga Pak Ardi ya, Pak?" tanyanya seorang pria paruh baya.
"Iya, kemana ya, soalnya saya dari tadi mencel bell, tapi gak ada yang keluar," jawab Ayah Lukman.
"Pak Ardi dan anaknya sudah lama gak kelihatan, sudah seminggu lebih kayaknya. Yang tinggal di sini cuma keponakannya Pak Ardi, itu pun cuma sesekali datang buat bersihin rumah, lalu pergi lagi," ucap orang itu memberitahu.
__ADS_1
"Apa mereka pindah rumah?" tanya Ayah Lukman mencoba untuk menebaknya.
"Saya kurang tau, sejak kejadian yang viral itu, Pak Ardi jadi pendiam dan jarang keluar rumah. Apalagi sejak istrinya meninggal, Pak Ardi seakan jaga jarak dari semua orang. Dan saat Ariel tinggal di sini, mereka juga tak pernah keluaran, kecuali jika ingin pergi saja. Kasihan mereka pak, hidupnya. Dulu mereka sangat di segani karena memang Pak Ardi dan istrinya itu sangat baik sama tetangga, sangat peduli dan ramah. Setiap hari, kalau pagi-pagi biasanya Pak Ardi akan keliling olah raga, dia akan nyapa tetangga sambil ngobrol sebentar. Tapi sejak kejadian Ariel yang katanya selingkuh, semuanya malah seakan membenci Pak Ardi dan keluarganya. Padahal kan Pak Ardi dan istrinya tidak ada salah. Yang salah itu putranya, tapi malah mereka yang kena imbasnya. Kasihan betul keluarganya Pak Ardi, tak tega saya rasanya jika ada di posisi dia. Saya juga tak percaya jika putranya Pak Ardi itu selingkuh, walaupun di sosial media, banyak berseliweran. Entah kenapa, hati saya menolak untuk mempercayai. Karena walaupun saya tidak kenal dekat, tapi saya melihat perkembangan dan pertumbuhan Ariel dari kecil sampai dewasa, gak pernah dia neka-neko, gak kayak anak tetangga yang lainnya. Bahkan di sini, yang paling sukses itu ya Ariel. Kok bisa dia selingkuh, gak ada saya fikiran ke sana. Melihat Ariel orangnya itu persis seperti Pak ARdi, gak ada tampang-tampang jahat atau bermuka dua," ucap pria paruh baya itu, yang bercerita panjang lebar.
Ayah Lukman, Bu Naila dan Lintang pun jadi merasa bersalah.
"Bapak lihat kondisi Ariel sekarang seperti apa?" tanya Ayah Lukman hati-hati.
"Iya, kasihan hidupnya. Sekarang kondisinya sungguh mengenaskan, tinggal kulit sama tulang saja. Saya pernah sekali lihat waktu itu, mungkin mau di bawa ke rumah sakit atau kemana, saya tidak mengerti. Pak Ardi yang menggendong putranya sampai mobil. Lalu keponakannya dari belakang bawa kursi roda dan menaruhnya di bagasi mobilnya. Ya Tuhan, kondisinya sangat sangat memprihatinkan sekali. Saya tidak tega lihatnya, Pak. Hidup mereka yang dulu sangat makmur, sekarang di uji dengan ujian yang berat. Walau orang-orang menggunjingnya tapi saya tidak. Karena saya selalu ingat dengan kebaikan Pak Ardi dan keluarganya, mereka baik. Mungkin mereka lagi di uji aja, makanya dalam kondisi yang seperti sekarang. Allah, rasanya sesak lihat kondisi Ariel yang sangat mengenaskan." Bapak itu sampai menitikkan air mata, dan langsung menghapusnya begitu saja.
"Saya juga bingung, bagaimana bisa Ariel selingkuh, padahal saya dengar-dengar dia itu bucin banget sama istrinya. Sebenarnya siapa yang salah di sini, dan kenapa istri ARiel itu tega melakukannya. Apa dia tidak ingat kebaikan Ariel dan orang tuanya selama ini. Saya juga di selingkuhi sama istri saya, tapi ya saya tidak sampai koar-koar, saya cuku mentalaknya dan mencari penggantinya. Tak perlu semua orang tau, aib kelurga. Apalagi sampai seluruh dunia tau. Kasihan, Pak. Yang tak tau apa-apa pun juga ikut kena korban," ujarnya.
"Keponakannya Pak Ardi, biasanya pulang kapan?" tanya Ayah lukman dengan hati yang sesak.
"Tidak mesti, Pak. Enggak nentu, katanya sih lagi buka bisnis sama temannya, jadi jarang datang. Lagian rumahnya juga bukan di sini, dia datang cuma buat ngecek aja, mungkin dia mendapat amanah dari Pak Ardi untuk menjaga rumah ini selama Pak Ardi pergi. Mungkin saja Pak Ardi membawa putranya berobat, entahlah, saya juga tidak tau pasti." balas bapak itu.
"Terima kasih, Pak. Infonya, kalau gitu, kami permisi dulu." pamitnya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama Pak."
Dan setelah itu, Ayah Lukman pun mengajak Lintang dan istrinya segera pergi dari sana. Toh, di rumah itu juga gak ada siapa-siapa.
Sepanjang jalan, saat mereka pulang. Ayah Lukman diam, begitupun dengan Bunda Naira dan juga Lintang, tak ada yang berani buka suara.
Di dalam hati mereka, mereka menyesali apa yang sudah terjadi. Menyesal, kenapa dulu mereka tidak mencegah putrinya untuk membuat pengumuman aib keluarga di depan para tetangga dan keluarga besarnya.
Menyesal, kenapa mereka tidak datang saat mendengar Ibu Ila, meninggal.
Menyesal, kenapa mereka tidak datang, saat Ariel sakit karena ulah putrinya.
Menyesal, kenapa mereka tidak minta maaf, kepada Pak Ardi atas apa yang terjadi.
Sekarang, mereka tidak tau, di mana Ardi dan Ariel berada. Dan entah kapan mereka bisa bertemu lagi dan meminta maaf pada mereka secara langsung.
"Luna, kamu membuat Ariel dan orang tuanya hancur, Nak. Semoga kamu pun tidak merasakan kehilangan yang sepeti mereka rasakan. Jangan sampai Tuhan, menghukum kamu karena sudah membuat orang lain menderita karena ulah kamu." gumam Ayah Lukman dalam hati.
__ADS_1