
Keesokan harinya, sehabis sholat shubuh. Bunda Naira mengajak Luna pergi ke pasar jalan kaki, biar Luna dan bayinya sehat. Lintang pun ikut bareng mereka buat mengaja Bunda dan saudara perempuannya itu. Lintang berjalan di belakang, layaknya sebuah bodyguard. Sedangakn Ayah Lukmah gak bisa ikut karena dia jaga rumah sekalian bersih bersih halaman depan rumah. Walaupun laki-laki, namun Ayah Lukman tidak malu untuk membantu sang istri bersih-bersih rumah.
"Mbak, Mbak capek gak kalau capek, tak gendong ayo," tawar Lintang yang takut jika Luna kecapean.
"Enggaklah, lagian baru setengah jam juga," tolak Luna. Walaupun ia lelah sedikit, namun ia masih kuat. Lagian ia malu jika sampai di gendong sama adiknya, malu jika ada yang lihat. Lagian pasarnya juga sudah deket, jadi nanggung juga walaupun di gendong.
"Iya sudah," ucap Lintang sambil dengerin musik lewat headset sedangkan hpnya, di taruh di saku. Ia sudah seperti cowok kece yang lagi tebar pesona.
"Bun, nanti aku mau beli bikang ya Bun, yang masih hangat gitu, ada gak ya?" tanyanya.
"Ada, banyak di pasar."
"Hmm pasti enak, sekalian aku mau beli dadar sama pisang goreng yang masih hangat, sama ote ote juga sama tahu isi juga, sama apalagi ya?" tanyanya bingung.
"Jangan di beli semua, emang kamu gak mau sarapan nasi?" tanyanya.
"Mau, lagian aku makanya dikit dikit kok. Nanti kalau beli banyak kan bisa di makan sama Lintang sama Ayah juga. Atau kasih tetangga. Terus kan nanti ada Mas Dion datang, jadi bisa kasih ke Mas Dion."
"Ya malu lah kalau Nak Dion di kasih gorengan gitu, pasak sultan, jauh jauh ke sini, cuma di kasih gorengan."
"Ya, kenapa? Lagian Mas Dion suka gorengan, apalagi kalau di makan sambil minum teh dan ngobrol, mantap dah pokoknya," ucap Luna sambil menelan ludah karena sudah gak tahan pengen makan gorengan hangat.
"Ya sudah terserah kamu aja," ujar Bunda Naira pasrah, lagian orang hamil kan pengennya pasti ada ada aja. Mumpung di desa juga, kalau di kota kan jarang jaranga Luna makan gorengan seperti itu. Jika pun ada, pasti rasanya beda.
Sesampai di pasar, Bunda Naira langsung mengajak putrinya itu ke penjual gorengan, sedangkan Lintang masih jalan sok cool. Tangannya di masukkan ke dua jaketnya.
"Lintang, kamu mau beli apa?" tanyanya di suruh milih.
"Apa aja, Bun. Yang penting makanan mah, pasti masuk," jawabnya santai. Bunda Naira hanya geleng-geleng kepala dengernya. Kalau bukan karena ingin jaga Luna, mana mau Lintang masuk ke dalam pasar. Biasanya juga Bunda Naira ngajak pakai sepeda motor pun pasti nolak, akhirnya Bunda Naira setiap ke pasar, kadang di antar Ayah Lukman. Karena Lintang malu jika ada temennya yang lihat, apalagi temen perempuannya. Katanya mosok cowok pergi ke pasar, nanti ketampanannya bisa turun. Bunda Naira kalau sudah denger itu, hanya bisa ngelus dada.
Bunda Naira mengambil kantong kresek dan memberikannya ke Luna.
"Ini kamu pilih sendiri aja, gorengannya," ujar Bunda Naira.
Luna pun dengan semangat, mengambil gorengan itu dan memasukkannya ke dalam kantong kresek, tentu ngambilnya pakai alat, gak pakai tangan. Nanti orang orang akan jijik lihatnya. Satu kantong kresek besar, berisi dua puluh gorengan bermacam-macam dan satu kresek lagi berisi jajanan tradisional, ada bikang jumbo, dadar gulung warna coklat yang isinya pisang dan keju, ada terang bulan mini, ada roti coklat dan bermacam-macam.
__ADS_1
"Berapa semuanya, Bu?" tanya Luna sopan.
"Ini gorengannya ada berapa, Nak?" tanya Ibu itu.
"Dua puluh biji."
"Berarri dua puluh ribu. Ini ibu kasih cabe dan petisnya, biar enak di makan," ucap Ibu itu sambil memberikan segenggam cabe yang berwarna putih dan empat plastik kecil yang berisi petis. Di masukkan ke kresek yang berisi gorengan.
"Ini kuenya apa aja?" tanya ibu itu lagi.
Dan luna pun menjawabnya satu persatu.
"Kuenya ada dua puluh biji harganya beda beda ya. Ada yang dua ribu, ada yang dua ribu lima ratus, ada yang tiga ribu, ada yang tiga ribu lima ratus dan ada yang empat ribu. Semuanya enam puluh ribu sama gorengannya," ucap Ibu itu.
Dan Luna pun mengambil dompetnya dan memberikan uang lembaran seratus ribu.
"Wah, gak ada uang pas Nak?" tanya Luna.
"Enggak, ada Bu," jawab Luna karena memang isinya merah semua.
"Terima kasih, Bunda Naira," ucap Ibu itu yang kenal dengan Bunda Naira.
"Ini, Bun. Uangnya." Luna memberikan uang seratus ribu itu ke Bunda Naira.
"Enggak usah simpen kamu aja," tolak Bunda Naira.
"Enggak boleh gitu, ini buat Bunda." Luna langsung menaruh uang itu di tangan Bunda Naira. Dan mau gak mau Bunda Naira pun menerimanya.
"Lintang, ini bawa belanjaaannya," ucap Bunda Naira yang menyuruh putra bungsunya.
"Loh kok aku?" tanya Lintang.
"Terus siapa? Kamu kan cowok, tenaganya banyak. Lagian itu tangan ngapain dari tadi ditaruh di saku jaket. Kayak orang lagi kedinginan aja, ini bawa, sekalian olah raga," suruh Bunda Naira.
Lintang pun akhirnya nurut dan membawa dua kantong kresek yang berisi gorengan dan jajan.
__ADS_1
Lalu setelah itu, Bunda Naira pun mulai membeli bumbu dapur, sayuran, ikan, daging, telur dan lain sebagainya.
"Bun, jangan lama lama, capek muter terus," keluh Lintang. Mana kedua tangannya sudah penuh dengan belanjaan, sedangkan Bunda Naira juga bawa belanjaan di tangan kirinya. Cuma Luna yang gak boleh bawa apa apa karena tengah hamil.
"Iya sabar."
"Dari tadi sabar terus," gerutu Lintang tak suka.
Luna yang mendengarnya pun hanya geleng-geleng kepala.
Setelah hampir dua jam keliling keliling, akhirnya mereka pun keluar juga dari pasar, Lintang langsung bisa bernafas lega.
Karena sudah lelah, jadi Luna memutuskan untuk memesan bentor, atau becak motor dua. Luna duduk bareng Bunda Naira. Sedangkan Lintang duduk bareng semua belanjaannya dan selama perjalanan, Lintang hanya bisa menggerutu dalam hati. Ia sudah mirip emak emak yang habis belanja bulanan sangking banyaknya.
Apalagi sesekali, tukang ojeknya menggoda Lintang karena melihat wajah Lintang yang sedari tadi di tekuk.
Sesampai di rumah, Luna langsung membayar dua tukang bentor itu, lalu Luna dan Bunda Naira memasukkan belanjaannay ke dalam. Lintang pun langsung masuk kamar karena kesal. Bunda Naira yang melihat wajah putranya cemberut hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Adik kamu itu, gengsinya tinggi," ujar Bunda Naira ke Luna.
"Iya, mungkin karena cowok kali ya, Bun. Jadi malu, apalagi kalau dia diam diam punya gebetan, pasti takut ketahuan gebetannya, makanya dia malu kalau sampai ketahuan pergi ke pasar," ucap Luna terkekeh.
Ayah Lukman yang berjalan dari belakang, juga membantu istri dan putrinya memasukkan belanjaannya ke dapur.
Lalu Luna mengambil beberapa piring, gorengan dan jajanan tadi di taruh di piring dan di taruh di ruang keluarga.
"Ayo, Yah, Bun, makan dulu. Lintang, ini jajannya, gak mau di makan, nanti gak kebagian loh," tutur Luna sedikit berteriak karena Lintang ada di dalam.
Tak lama kemudian, Lintang pun keluar dari kamarnya dengan wajah kusut.
"Kenapa?" tanya Ayah Lukman melihat putranya dengan wajah yang kusut banget, sudah seperti orang yang lagi patah hati.
"Ngambek karena di suruh bawa belanjaan," jawab Bunda Naira.
"Ck ... kamu itu harus terbiasa mumpung masih muda, jadi kalau dah nikah, bisa bantu bantu istri kamu belanja. Jangan jadi cowok pemalu apalagai gede gengsi. Kamu itu harus terbiasa bantu bantu Bunda, karena jika kamu dah nikah, terus istri kamu sakit. Kamu bisa belanja sendiri dan bisa masak sendiri. Jadi gak melulu beli makanan di luar," ucap Ayah Lukman menasehati. Namun Lintang hanya diam aja dan menikmati gorengannya.
__ADS_1
Ayah Lukman pun hanya bisa diam jika Lintang sudah badmood gitu. Dan di biarkan saja Lintang makan dengan tenang. Luna pun mengajak Bunda dan Ayahnya ngobrol yang lain agar suasananya bisa lebih santai.