Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Lamaran


__ADS_3

Tepat umur Diana enam bulan, Dion datang ke rumah Luna. Awalnya Dion mau datang dua bulan lalu, namun karena ada banyak pekerjaan, terlebih Luna butuh waktu. Akhirnya, ia memutuskan datang tepat umur Diana enam bulan.


Luna sudah tak kaget lagi dengan kedatangan Dion, karena sebelumnya Dion sudah memberitahu jika dia akan datang.


Dan di sinilah mereka berada. Sambil menggendong Diana, mereka berbincang bersama.


"Lun, bagaimana kabarmu. Ini pertama kalinya aku datang sejak enam bulan yang lalu ya?" tanyanya terkekeh.


"Iya, maaf ya. Aku gak tau apa yang di omongin Ayah dulu, sampai kamu akhirnya memilih untuk pergi tanpa pamitan secara langsung sama aku," balas Luna.


"Gak ada kok, Ayah cuma minta aku menjauh dulu, nanti misal sudah waktunya aku boleh mendekat lagi. Tentu dengan syarat, aku harus melamar kamu secara resmi. Bagaimana? Apa kamu mau menerima aku?" tanyanya.


"Jujur, aku nyaman sama kamu. Aku bahagia sejak kamu hadir dalam hidup aku. Kamu datang di saat aku lagi kacau-kacaunya. Kamu yang bantu aku, untuk memulihkan rasa sakit ini. Tapi, satu Minggu ini setiap kali aku sholat istikharah, aku selalu mimpi buruk. Aku gak tau pertanda apa, tapi saat aku tanya sama beberapa ustadz. Artinya sangat tidak baik dan Ustad meminta aku untuk tidak meneruskan rencana pernikahan kita," ucap Luna dengan raut wajah sedih.


Dion yang mendengarnya pun tak kalah sedihnya.


"Jadi kamu menolak aku?" tanyanya.


Luna menganggukkan kepalanya.


"Maaf," ucap Luna menyesali keputusannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia takut jika di teruskan. Malah hidupnya akan semakin kacau.


"Enggak papa. Aku gak akan maksa kamu. Aku tau jodoh, rezeki dan hidup matinya seseorang itu sudah ada yang mengatur. Mungkin kamu memang tidak di takdirkan untukku. Seberusaha apapun aku, tapi jika kita tidak ditakdirkan bersatu. Maka kita tidak akan bisa bersama. Aku sadar, di sini akulah yang terlalu ngotot. Maafin aku."

__ADS_1


"Maafin aku juga, semoga Tuhan nantinya memberikan kamu jodoh terbaik. Aku sebenarnya tidak enak ngomong gini, tapi aku harus jujur. Aku gak bisa asal menerima jika Tuhan saja tidak berkehendak dengan apa yanng telah kita rencanakan sebelumnya."


"Aku mengerti kok, tapi kita bisa tetap berteman kan?" tanyanya.


"Iya," sahut Luna.


"Syukurlah. Jika aku ada waktu, aku pasti akan datang ke sini untuk menemui kamu dan Diana."


"Aku pasti akan menyambut kedatanganmu. Dan pintu rumahku terbuka lebar buat kamu."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Enggak. Aku gak akan kembali dengan laki-laki yang pernah mengkhianati aku. Walaupun aku sadar, akulah awal dari semua masalah, tapi tetap aja dia sudah mengkhianati aku berkali-kali. Jadi aku gak akan menerimanya, misal dia datang dan mengajak aku untuk rujuk."


"Apakah kamu akan terus sendiri?"


"Aku tidak sendiri. Ada Diana yang akan menemani aku."


"Hemm maksud aku, apakah selamanya kamu tidak akan menikah lagi?"


"Aku tidak tau, Mas. Kita tidak pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Jika aku bilang, aku gak akan menikah lagi. Tapi bagaimana jika tiba-tiba Tuhan mengirimkan jodoh buat aku. Aku bisa apa?"

__ADS_1


"Ya juga sih."


"Mas Dion bagaimana, apakah akan menikah dalam waktu dekat ini. Umur Mas Dion sudah tidak muda lagi. Orang tuanya Mas Dion pasti sudah tidak sabar pengen gendong cucu."


"Entahlah aku bingung. Aku cuma mencintai kamu, tapi masalahnya kamu gak mau nerima aku. Untuk itu, aku harus menata hatiku kembali. Aku gak bisa memulai hubungan dengan wanita lain, jika hati dan cintaku untuk kamu sepenuhnya. Ini aja, jujur aku kaget. Enggak nyangka aku akan ditolak. Rasanya nyelekit, tapi ya aku juga tidak bisa memaksa kamu buat menerima aku. Itu artinya aku egois kan, memaksakan kehendak aku sendiri."


"Hmm ... maafin aku."


"Enggak papa, santai aja. Aku boleh gendong Diana?"


"Boleh."


Luna memberikan Diana ke Dion, tapi sayangnya Diana malah menangis histeris. Akhirnya Dion pun mengembalikan Diana ke pangkuan Luna lagi.


"Diana pun juga enggan di gendong aku," ucap Dion terkekeh perih.


"Maaf. Mungkin karena Diana gak pernah lihat kamu sebelumnya jadi dia gak mau di gendong. Karena mengira kamu orang asing. Dia aja deketnya cuma sama Bibi Imah, Bibi Neni sama aku. Waktu Lintang datang pun, Diana juga gak mau di gendong. Padahal sudah tiga kali, Diana ketemu. Tapi masih aja enggan di gendong Lintang. Padahal Om kandungnya sendiri."


"Hmm mungkin aku harus sering-sering ke sini, biar Diana gak takut lagi."


"Hehe iya."


Dan mereka pun terus mengobrol, hingga dua jam kemudian, Dion pamit pulang. Toh buat apa lama-lama, jika Luna sendiri, sudah menolak dirinya.

__ADS_1


__ADS_2