
Luna menyapa Dion dengan senyuman ramahnya. "Sudah dari tadi datang?" tanya Luna.
"Baru sekitar sepuluh menitan," jawab Dion sopan.
"Sudah sarapan?" tanyanya lagi.
"Belum, gak sempat," sahutnya malu.
"Oh ya udah, masuk ayo," ajak Luna.
"Tapi .... " Dion merasa ragu karena ia merasa Luna terlalu akrab dengannya. Padahal dirinya hanya seorang sopir di sini.
"Sudahlah, ayo," paksa Luna. Dan akhirnya Dion pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Luna ia masuk ke dalam dan memanggil Bibi Imah.
"Bi," panggil Luna.
"Iya, Non," sahut Bibi Imah.
"Bi, di ruang tamu ada Mas Dion. Tolong buatkan teh hangat sama bawain makanan ya, Bi. Nasi dan lauk pauk yang tadi bawa aja ke ruang tamu. Nanti untuk Bibi Imah sama Bibi Neni, bisa masak lagi sesuai keinginan Bibi," ucap Luna memberitahu.
"Siap, Non."
Dan setelah itu, Luna pergi ke belakang dan melihat Bibi Neni yang tengah jemur baju di belakang rumah. Sedangkan Bibi Imah, ia segera membuatkan teh untuk Dion.
"Silahkan di minum, Mas," ucap Bibi Imah, ikut-ikut Luna memanggil Dion dengan sebutan Bibi. Karena bingung juga mau manggil apa.
"Sama-sama, Mas."
Dan setelah itu, Bibi Imah langsung membawakan nasi, lauk pauk ada ikan bakar pedas manis, sambal, telur mata sapi, sup ayam, dadar jagung dan juga kerupuk. Tak lupa Bibi Imah juga mengeluarkan segelas air, menggunakan gelas besar takutnya Dion kurang nantinya.
"Loh Bi kok di keluarin?" tanya Dion kaget.
"Di suruh Non Luna."
"Ya ampun, aku jadi gak enak sendiri," ucap Dion merasa bersalah.
"Non Luna emang baik sekali, Mas. Bahkan Non Luna juga tak masalah jika kita makan lebih dari tiga kali, dan jika kurang tinggal masak lagi. Jika bahan habis, tinggal beli, kalau uang belanja kurang, nanti tinggal tambahin lagi. Non Luna emang gak pernah pelit dan selalu memanjakan semua yang bekerja padanya," ucap Bibi Imah memuji Luna.
"Jadi misal Mas Dion lapar, Mas tinggal bilang aja sama Bibi mau di masakin apa. Non Luna gak akan marah kok, malah dia senang kalau kita bisa makan dengan lahap, dan betah tinggal di sini," imbuh Bibi Imah membuat Dion terharu, ia tidak menyangka, pertama kali ia bekerja ke orang, namun ia mendapatkan majikan yang super duper baik.
"Iya sudah, tapi kalau bisa ini masukin lagi ya, Bi. Gak mungkin aku makan semua. Aku makan sama sup aja sama dadar jagung, sambal sama kerupuk. Ikan bakar sama telurnya bawa aja ke dalam."
__ADS_1
"Siap, Mas," ucap Bibi Imah sambil mengambil lagi ikan dan telurnya untuk di bawa ke dalam.
Sedangkan Dion, ia pun makan dengan lahap. Karena masakan Bibi Imah emang juara, sangat enak sekali, sama seperti masakan Bundannya di Bandung. Setelah selesai makan, Dion membawa piring kotornya dan yang lainnya ke dapur.
"Bibi, aku sudah selesai makan," ucap Dion mengagetkan Bibi Imah yang tengah beres-beres.
"Loh kenapa di bawa ke sini, seharusnya biar Bibi aja yang ngambil nanti."
"Enggak apa-apa, Bi. Lagian gak berat kok ini. Sup ayamnya masih banyak Bi, soalnya aku cuma ambil kuahnya aja tadi, dadar jagungnya juga masih banyak, karena aku cuma ambil tiga tadi, begitupun dnegan sambal dan kerupuknya, masih banyak."
"Mas Dion kalau makan dikit ya?"
"Enggak kok, Bi. AkuĀ makannya banyak, cuma ya emang ini lauk pauknya banyak dan aku gak sanggup jika menghabiskan semuanya, bisa-bisa aku sakit perut," balas Dion terkekeh.
"Oh, aku fikir Mas Dion makannya dikit. Besok Mas Dion mau di masakin apa?"
"Eh, emang aku boleh request ya, Bi?" tanya Dion merasa aneh, baru kali ini ia tau, kalau pekerja bisa request makanan layaknya majikan.
"Bisalah, Mas."
"Kalau gitu, aku mau sayur bening Bi. Kaya daun kelor dan daun kemangi di masak bening di kasih kunci sama bawang bombay. Atau jika gak ada daun kelor, bisa pakai daun bayar, daun kemangi, di kasih labu dikit. Jangan lupa kunci dan bawang bombaynya, soalnya itu yang bikin enak," ucap Dion memberitahu.
"Loh emang mereka juga suka jangan bening."
"Suka, Mas."
"Oh, syukurlah, jadi Bibi gak capek-capek bikin banyak hidangan, aku bisa numpang punya mereka hehe."
"Nanti Bibi pisahin aja, Mas. Jadi gak akan makan sisa-sisa."
"Sisa-sisa, tapi masih sangat layak di makan, Bi. Dan sebenarnya itu bukan sisa, sih. Tapi Bibi masaknya yang berlebih hingga tersisa banyak."
"Hehe benar, Mas. Habisnya Bibi takut kurang, lagian kalau emang berlebih, kadang bisa di makan Bibi dan Bibi Neni."
"Haha pantas aja Bibi Imah sama Bibi Neni agak gemukan, jadi karena itu toh," ujar Dion terkekeh membuat Bibi Imah malu sendiri.
"Ish jangan gitu dong, Mas. Bikin malu aja."
"Gak papa, Bi. Santai aja. Non Luna mana?"
"Ada di belakang,"
__ADS_1
"Apa aku boleh ke sana?"
"Boleh kok. lewat pintu itu aja," ujar Bibi Imah memberitahu.
"Makasih ya, Bi."
"Iya, Mas."
Dion pun pergi ke belakang dan melihat Bibi Neni yang baru selesai jemur baju sedangkan Luna, ia menyiram tanaman di belakang rumah.
"Ngapain, Non?" tanya Dion basa basi sambil duduk di kursi kayu.
"Nyiram tanaman. Mas Dion sudah makan?"
"Sudah, Non. Makasih ya."
"Sama-sama, Mas. Kalau lapar, bilang aja sama Bibi ya."
"Iya, Non. Non gak keluar hari ini?"
"Enggak. Nanti aja jam sebelas. Habis ini aku mau renang dan olah raga dulu, terus mau rujaan. Pengen rujak Bibi Imah aku. Mas Dion suka rujaan gak?"
"Suka, Non."
"Iya sudah, nanti rujak bareng aja sama aku, Bibi Neni dan Bibi Imah."
"Emang gak papa, Non."
"Enggak papalah, emang kenapa?" tanya balik Luna.
"Ya gak papa sih," ujar Dion sambil menggaruk rambut belakangnya yang gak gak gatal itu.
"Iya sudah, Mas Dion nunggu di ruang tamu aja ya. Bentar lagi aku selesai nyiram nih. Mau renang, gak enak kalau ada Mas Dion."
"Baik, Non."
Dan setelah itu, Dion pun pergi ke ruang tamu lagi, main hp sambil menghabiskan tehnya yang masih tersisa sedikit itu. Dion mengerjakan pekerjaanya lewat hp. Karena data di kirim lewat email sehingga Dion bisa memantaunya sesekali.
Dion juga chatan sama mama dan papanya, sama teman-temannya, suudaranya dan juga para pekerjanya yang lumayan dekat dengannya. Mereka semua pada nanya, Dion kerja apa, kenapa Dion seperti punya waktu banyak untuk balas chat mereka. Andai mereka tau pekerjaan Dion di sini, pasti mereka iri. Gaji besar, tapi kerjanya cuma nyopir aja. Dan itupun nyopirnya gak seharian, kalau pas Luna mau keluar aja.
Dion benar-benar bersyukur karena Allah memberikan kemudahan buatnya untuk mencari pengalaman di luar sana sehingga tak hanya berada dalam lingkungan keluarganya saja. Atau di lingkungan kebun teh. Tapi ia bisa menikmati pengalaman yang saat ini ia jalani. Dan akan menjadi kenangan manis saat dirinya nanti sudah berhenti dari sini. Karena ia mendapatkan majikan yang super baik seperti Luna.
__ADS_1