
Luna kembali ke kamar, ia segera mandi, lalu pakai baju santai. Lanjut, ia mengambil widhu dan sholat dhuha. Luna juga mengaji sampai jam setengah 12 siang.
Sedangkan Ariel ia hanya rebahan di atas kasur sambil melihat ke arah Luna yang tengah khusu' mengaji.
Saat adzan dhuhur terdengar, Luna langsung sholat dhuhur. Selesai sholat, ia pergi ke dapur dan membantu Bibi Imah memasak untuk makan siang.
Luna sengaja menghindari Ariel sedari tadi pagi. Saat Lina ke dapur, Ariel juga ikut ke dapur dan hanya duduk santai sambil melihat ke arah Luna.
Luna yang merasa diawasipun hanya bisa diam aja dan mengabaikannya, walaupun ia kadang merasa risih.
Luna mengajak Bibi Imah mengobrol, agar siasana gak sepi. "Mas Dion sudah pulang Bi?" tanyanya.
"Iya, Non. Setelah sarapan pagi dia pulang."
"Terus jajannya gimana?"
"Dibawa pulang, Non. Katanya mau di makan nanti aja karena masih kenyang."
"Oh gitu," sahut Luna.
"Bibi Neni mana?"
"Istirahat, Non. Tadi habis nyuci baju, jemur baju dan nyetrika baju, langsung tidur."
"Tapi gak sakit kan?"
"Enggak, Non."
"Oh, syukurlah. Kalau misal ada yang sakit bilang ke aku ya Bi. Jangan di pendem."
"Iya, Non."
Mereka terus mengobrol sampai akhirnya masakanpun sudah siap di sajikan semua.
Luna membantu Bibi Imah menaruh makanan di meja makan. Setelah selesai, barulah Luna mengajak Ariel makan siang bersama. Tentu Ariel tak menolaknya, kali ini Luna makan lebih banyak dari tadi pagi.
"Yank, ntar lagi jalan-jalan yuk," ajaknya.
__ADS_1
"Enggak, ah. Males. Mau tidur aku."
"Yahhh ... Padahal aku sengaja cuti karena pengen ngajak kamu liburan."
"Ngajak yang lain aja, Mas."
"Yang lain siapa?"
"Ya gak tau," ucap Luna acuh tak acuh.
"Aku pengen ngajak kamu ke pantai gimana?"
"Males, lagian kemaren juga kan sudah ke pantai Ancol," jawabnya. Memang kemaren setelah puas mencoba semua mainan, Dion mengajak Luna ke pantai dan main air disana. Tapi gak sampai basah-basahan.
"Hmm ... Iya sudah deh gak papa. Kita tidur bareng nanti, aku juga ngantuk. Jarang-jarang juga kan aku tidur siang?"
"Iyakah? Yakin?" ledek Luna membuat Ariel bungkam.
"Jangan suka bohong, banyak orang mati kegigit lidah sendiri karena keseringan bohong," ujar Luna mengarang. Mana ada orang mati kegigit lidah kecuali bunuh diri pakai tali yang menjerat lehernya, karena saat itu, akan menahan sakit yang luar biasa hingga tanpa sadar menggigit lidahnya hingga hampir putus.
"Siapa yang bohong?" tanya Ariel.
"Aku sudah selesai makan," ucapnya sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke wastafel. Ia mencuci piringnya sendiri dan menaruhnya di rak piring.
"Bi, aku gak bantu beres-beres nanti."
"Iya gak papa, Non."
"Jangan lupa bangunin Bibi Neni nanti, jangan sampai melewatkan makan siang, nanti sakit."
"Iya, Non."
Dan setelah itu, Luna pun pergi ke kamarnya. Ariel juga segera menghabiskan makannya dan segera menyusul Luna ke kamar.
Bibi Imah sejujurnya sedih melihat rumah tangga majikannya yang terkesan dingin seperti ini. Tak lagi hangat seperti dulu.
Tapi dia bisa apa, selain hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat mereka.
__ADS_1
Di kamar, Luna tak langsung tidur karena ia baru makan. Tak bagus buat tubuh jika langsung tidur setelah selesai makan. Setidaknya tunggu lima belas menit, biarkan nasi turun dulu.
Luna menyandarkan hpnya ke bantal yang ia susun di belakangnya. Lalu ia memainkan hpnya dan membaca karya Evi Tama. Evi Tamala, author kesukaannya kini buat cerita baru yang berjudul Anabelle. Ceritanya hampir sama, yaitu rumah tangga hancur karena pelakor. Tapi kali ini istrinya jauh lebih tegas darinya. Bahkan istrinya mengambil keputusan besar untuk memberikan efek jera pada suaminya.
Tidak seperti dirinya, yang hanya diam aja, dan membuat rencana secara perlahan tanpa buru-buru.
Saat Luna tengah asyik baca cerita, Ariel duduk di dekatnya.
"Yank," panggil Ariel seperti anak kecil.
"Apa?" jawabnya tanpa menoleh ke arah Ariel. Ia tetap melihat layar Hp nya.
"Jangan cuek gini dong," pintanya memelas.
"Selama ini apa aku pernah cuek, Mas? Selama ini apa aku pernah sekali aja gak menghiraukan kamu. Apa aku pernah bersikap dingin sama kamu? Apa aku pernah mengabaikan kamu? Hm? Enggak, kan? Aku berusaha menjadi wanita penurut, seperti yang kamu mau. Menjadi wanita bodoh yang suka di atur ini itu. Berusaha menyenangkan hati kamu, selalu menjadikan kamu perioritas sampai aku lupa dengan kebahagiaan aku sendiri karena terlalu sibuk ngurusin kamu dan bikin kamu nyaman. Berusaha tampil cantik dan menggoda. Nyatanya apa? Kamu nyakitin aku. Lalu apa salah jika aku berubah seperti ini? Salahlah jika aku berubah seperti ini? Haruskah aku tertawa haha hihi di saat hatiku bahkan remuk redam seperti ini?" tanya Luna menitikkan air mata.
Melihat Luna menangis membuat Ariel ikutan sedih.
"Sebenarnya kamu kenapa? Jika aku ada salah, aku minta maaf." Ariel masih pura-pura bodoh dan polos tanpa mau mengakui kesalahannya.
"Aku kenapa? Aku yakin, tanpa aku beritahupun Mas sudah tau apa yang aku rasakan saat ini. Dan jika aku beritahupun juga akan percuma, karena Mas akan menyangkalnya. Jadi buat apa? Kalau pada akhirnya Mas akaj mengelak, dan masih menganggap aku bodoh dan naif."
"Sayang .... "
"Jangan panggil aku Sayang kalau kenyataannya, kamu tak lagi menyayangi aku."
"Kamu kenapa?" Lagi, pertanyaan itu yang keluar membuat Luna merasa geram.
Luna memilih tak menjawabnya. Dia diam dan sibuk membaca novel. Ia mengambil headset dan mendengarkan musik. Sehingga ia gak mendengar apa yang di ucapkan oleh Ariel. Karena matanya sibuk melihat layar, telinganya sibuk mendengarkan musik. Dan konentrasinya pun di fokuskan buat baca novel sehingga ia tak peduli dengan Ariel yang ada di sampingnya.
Ariel hanya bisa diam dan menghela nafas kasar, lalu ia mengambil Hpnya yang ia silent. Dan disana banyak sekali pesan yang masuk terutama dari Laras
Namun, Ariel tak memperdulikannya. Saat ini, ia tengah fokus untuk memperbaiki hubungannya dengan Luna. Ia tak ingin kehilangan Luna, karena bagaimanapun ia masih sangat menyayangi dan mrncintainya.
Ariel naik ke atas ranjang dan bebaring di samping Luna, tangannya ia lingkarkan ke pinggang Luna. Luna membiarkan saja walaupun dalam hati, ia sangat ingin menepis tangan Ariel dengan kasar.
Akan tetapi, ia malas untuk berdebat, ia lelah jadi ia memilih diam dan tak mengacuhkan Ariel. Ariel sendiri hanya bisa diam dan memeluk Luna.
__ADS_1
Walaupun Luna tak mau bicara dan terkesan acuh tak acuh, setidaknya Luna tak mengusirnya dan membiarkan dirinya memeluknya.