Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ketegasan Dion


__ADS_3

Tepat jam delapan, sehabis makan malam. Dion tengah duduk bersama Mami Ocha dan Papi Dimas. Sedangkan Luna, seperti biasa memilih di kamar. Sejak dirinya pulang, ia tak berani menemui kedua orang tua Dion. Yah, bagaimana Luna mau menemuinya, sedangkan pada pelayan aja bersikap cuek padanya, apalagi sang mertua. Dan itu membuat Luna takut dan merasa malu untuk bertemu mereka walau hanya untuk berbasa-basi.


"Mami, Papi. Aku pengen ngomong sesuatu," tutur Dion sopan.


"Ada apa, Son?" tanya Papi Dimas.


"Aku ingin keluar dari rumah ini," sahut Dion menunduk takut

__ADS_1


Mendengar ucapan anaknya, membuat Mami Ocha meradang


"Kenapa? Apa ini keinginan istrimu?" tanya Mami Ocha sinis.


"Enggak, Mom. Ini bukan kemauan Luna, tapi kemauan aku. Setelah di fikir-fikir, aku ingin hidup mandiri. Lagian umurku sudah tiga puluh satu tahun, sudah sewajarnya aku ingin menata hidupku bersama istriku. Jika terus seperti ini, kapan aku mandirinya. Aku juga ingin hidup berdua dengan istriku, dan menjalani kehidupan yang sederhana, seperti yang aku inginkan dulu," balasnya.


"Tapi, Son. Di sini aja, kamu gak di anggap sama istrimu. Bahkan semua kebutuhan kamu, asisten kamu yang melakukannya. Apalagi kalau cuma berdua, Papi takut kamu malah gak ada yang ngurus," ujarnya mengungkapkan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Aku gak mungkin luntang-lantung Mam. Aku punya banyak uang, aku bisa beli apapun yang aku mau. Bagaimana mungkin aku hidupnya luntang-lantung sedangkan aku sendiri merupakan CEO dari perusahaan Teh terbesar di Indonesia. Yang bener aja," ucapnya terkekeh, mencoba mencairkan suasana.


"Memang, tapi sebagai orang tua. Jujur kami takut, hidup kamu gak keurus. Berbeda jika kamu tinggal di sini, Mami masih bisa memantau kamu secara langsung," balas Mami Ocha, yang gak rela misalkan anaknya keluar dari rumah ini. Terlebih ia gak suka berjauhan dengan putranya.


"Mam, please. Tolong izinkan aku keluar. Tolong jangan kekang aku seperti anak kecil. Sudah waktunya aku ingin belajar hidup mandiri bersama istriku. Aku bukan anak belasan tahun. Umurku bahkan sudah lebih dari kepala tiga, bahkan teman-temanku aja anaknya sudah banyak. Bahkan ada yang sudah SD. Aku bukan anak kecil, yang harus patuh. Aku ingin sebuah kebebasan. Aku ingin melakukan apapun yang aku mau, tanpa harus minta izin seperti anak kecil. Seharusnya tanpa izin Mami sama Papi pun, aku bisa pergi gitu aja. Tapi aku masih menghormati kalian, aku masih minta izin dengan baik. Jadi, aku mohon untuk kali ini saja, biarkan aku mengambil langkah, biarkan aku yang menentukan hidupku sendiri ke depannya. Aku ini seorang laki-laki, seorang suami, seorang kepala rumah tangga. Seorang pemimpin dalam keluarga kecil aku, jadi tolong jangan bikin aku merasa gagal untuk menjadi imam dalam keluargaku. Tolong hargai keputusan aku, dan cukup doakan, semoga aku bisa menjadi pemimpin dan imam yang baik buat keluarga aku," tutur Dion panjang lebar, membuat kedua orangtuanya langsung bungkam seketika.


"Baiklah, jika memang itu mau kamu. Pergilah. Mami gak akan mengekang kamu lagi mulai hari ini. Hiduplah sesukamu dan semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu itu." Dan setelahnya, Mami Ocha pun pergi dari sama dengan raut wajah penuh dengan kekecewaan.

__ADS_1


Sedangkan Papi Dimas, dia hanya menghela nafas. " Sejujurnya Papi dan Mami mencemaskan kamu, karena kami menyayangimu Son. Kami gak ingin kamu kekurangan apapun, mungkin kamu bisa beli apa aja di luar sana. Tapi, apakah kamu bisa menjamin, istrimu bisa merawat kamu dengan baik. Sedangkan sejak nikah aja sampai detik ini, Papi dan Mami melihat sendiri, jika istrimu tidak memperlakukan kamu dengan baik. Malah terkesan abai. Tapi ya sudahlah, seperti kata kamu. Kamulah pemimpin dalam rumah tanggamu sendiri. Jadi semua keputusan ada di tangan kamu. Papi sebagai orang tua, cuma bisa mendoakan semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat kalian." Setelah itu, Papi Dimas pun ikut pergi menyusul sang istri yang pernah ke kamar mereka.


Dion, hanya bisa frustasi. Tapi ia juga tak bisa menolak permintaan sang istri. Ia berharap, Luna gak menyia-nyiakan kesempatan yang ia berikan. Ia berharap, dengan keluar dari rumah ini, Luna mau belajar dan mau melayani dirinya dengan baik dan tak lagi menjadi istri yang hanya mementingkan ego semata.


__ADS_2