Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kutukan Buat Laras


__ADS_3

Seminggu sudah Laras luntang lantung di jalan, setiap kali Laras meminta tolong pada orang untuk diantarkan ke tempat Ariel dan Luna, nyatanya tak ada satupun di antara mereka yang mau menolongnya, mereka seakan enggan untuk membantu Laras dan malah terkesan menjauhinya.


Dalam seminggu itu, tidak mudah buat Laras menjalani semuanya. Ia juga sudah lelah menangis, namun tak ada yang menaruh iba padanya. Akhirnya, demi bisa bertahan hidup, Laras terpaksa mengemis. Pernah ia meminta sedikit makanan di warung pinggir jalan, jangankan di kasih, ia malah di usir dari sana.


Laras pun akhirnya mengambil makanan dari sampah, yang masih layak di makan. Jijik, tentu. Tapi ia juga gak mau mati kelaparan, terlebih ada satu nyawa yang harus dia perjuangkan.


Malam harinya, Laras berjalan sepanjang jalan dan ketika melihat sungai di bawah jembatan, Laras pun memilih untuk pergi ke sana. Bukan untuk bunuh diri, melainkan untuk membasahi tubuhnya yang basah oleh keringat, ia ingin mendinginkan tubuhnya dengan air sungai itu. Tak terlalu jernih, airnya berwarna coklat, tapi setidaknya itu bisa untuk ia mandi, buang air kecil atau buang air besar di sana.


Laras mengambil daun-daunan dan menaruhnya di atas tanah, di bawah jembatan. Ia memilih untuk tidur di sana. Takut, tentu. Siapa yang tidak takut, tidur sendirian di bawah jembatan. Ia tidur dengan baju yang basah karena memang tidak ada baju ganti. Sepanjang malam, ia mengigil kedinginan, tapi ia juga tidak berani buka baju, takut jika ada orang jahat yang ingin mele-cehkannya.


Laras hanya bisa menangis meratapi nasibnya, ia tidak menyangka, pada akhirnya ia akan menjadi gelandangan di kota orang.


Di saat Luna dan Ariel mungkin tidur di tempat yang nyenyak, ia bahkan tidur di atas tanah dengan baju basah. Terlebih ada banyak nyamuk yang mengerubungi tubuhnya. Kadang ia menyesal kabur dari rumah dan mencuri uang ibunya.


Saat di rumah, ia masih tidur di atas kasur dan bisa makan nasi, walaupun jarang di kasih lauk pauk tapi setidaknya ia bisa makan makanan yang bagus, bukan bekas orang yang sudah di buang di tempat sampah.


Keesokan harinya, bajunya sudah mulai mengering, walaupun tidak kering seratus persen. Laras segera mencuci mukany, dengan air sungai dan berkumur-kumur. Tak ada sabun, sikat gigi dan pasta gigi. Rasanya mulutnya sudah gak nyaman karena dari kemren ia gak sikatan, terlebih wajahnya juga seperti berminyak. Kulitnya pun sudah berubah kecoklatan karena tersengat matahari.


Setelah selesai cuci wajah dan kumur-kumur, ia duduk di bawah sinar matahari yang masih menghangat, karena masih pagi. Ia sengaja duduk di sana untuk mengeringkan bajunya. Baru setelah itu, ia naik ke atas untuk mengemis. Ya, terpaksa mengemis menjadi jalan satu-satunya untuk dirinyam agar bisa mempunyai uang dan bisa membeli makanan dan minuman.


Selamma satu minggu, itulah aktivitas yang dilakukan oleh Laras. Mengemis untuk sekedar mengisi perutnya. Lalu malam harinya tidur di bawah jembatan. Dan selama satu minggu itu, Laras belum pernah ganti baju. Tubuhnya  mulai bau, karena memang ia hanya mandi di sungai, tanpa menggunakan sabun, terlebih ia tidak ganti-ganti baju, tentu siapa saja yang berdekatan dengannya akan terasa mual.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mau menemui Mas Ariel, tapi kenapa malah seperti ini nasib aku? Bagimana aku bisa ke rumahnya Luna dan Mas Ariel jika aku tidak mempunyai uang untuk bisa pergi ke sana, tak ada yang mau menolong dan membantuku. Tak ada yang kasihan melihat aku terlunt-lunta di pinggir jalan. Aku gak mungkin selamanya jadi pengemis, apalagi kandungan aku sudah semakin membesar, aku tidak mungkin melahirkan anakku di pinggir jalan. OH Tuhan ... bantu aku, aku harus bagaimana. Aku ingin menghubungi Mas Ariel tapi aku tidak punya Hp, tak ada yang mau meminjamkan hp padaku karena mereka aku ingin penjahat berkedos pengemis. Aku harus gimana?" tanya Laras dengan air mata yang mengalir. Saat ini, dia benar-benar seperti orang gila, baju kusut dan bau, bahkan sangat kotor, kulit yang sudah kecoklatan, wajah yang kucel dan berjerawat, rambut yang acak-acakan, siapa yang akan menyangka dia masih waras.


Mungkin orang-orang akan mengira, dia wanita gila yang hamil karena di perk*sa.


"Aku capek Tuhan, tak bisakah Engkau mempertemukan aku dengan orang baik. Orang yang bersedia membantuku? Aku lelah hidup seperti ini. Aku lelah hidup di jalanan," gumam Laras dalam hati. Saat ini ia sudah duduk di pinggir jalan dekat lampu merah. Saat lampu merah menyala, ia akan berdiri dan berjalan lalu meminta minta ke pengendara sepeda motor atau mobil yang berhenti di lampu merah. Ada yang ngasih, ada yang cuma diam seakan tak melihat dirinya, ada yang mencemooh, ada yang memberi uang receh, entah itu lima ratus rupiah, seribu rupiah, dua ribu rupiah. Paling besar ia dapat lima ribu rupiah. Sehari ia akan dapat dua belas ribu, enam belas ribu, kadang cuma tujuh ribu. Dan uang itu hanya cukup untuk satu atau dua kali makan.


Di saat, Laras luntang lantung di jalan. Rahman dan Sari di rumah, merasa kesal dan marah, karena mereka sudah keocolongan. Pagi hari saat adzan shubuh tiba, mereka segera sholat shubuh. Lalu selesai sholat, Sari ingin keluar rumah untuk pergi ke pasar. Saat ia mengambil kuncir dari bawah bantal, namun kuncinya tak ada. Ia cari di bawah pun, mungkin siapa tau jatuh. Tapi sayangnya, juga tak ada.


"Mas, kunci pintu mana?" tanya Sari.


"Ada di bawah bantal seperti biasa," jawab Rahman yang tengah mengaji.

__ADS_1


"Enggak ada, Mas," sahutnya sambil terus mencari.


"Cari yang bener," ujarnya.


"Beneran gak ada, coba deh bantu aku nyari," gerutunya kesal.


Rahman menyudahi ngajinya dan membantu sang istri mencari kunci dn benar saja, kuncinya hilang.


"Ke mana ya, padahal tadi malam, aku taruh di bawah bantal," ucap Rahman.


"Apa mungkin kamu lupa, siapa tau kuncinya ada di pintu. Dulu kan pernah kek gitu," omel Sari lalu pergi ke pintu, namun di pintu juga tak ada kunci yang menggantung. Saat ia mau buka pintu, juga gak bisa. Karena emang terkunci. Sayangnya, Sari tidak tau jika pintu itu terkunci dari luar.


"Ada gak?" tanya Rahman dari kamar.


"Enggak ada, Mas," sahut Sari yang kembali ke kamr.


"Coba bangunin Laras, biar dia bantu kita cari kuncinya. Lagian ini sudah jam berapa, kok belum bangun. Emang gak mau sholat shubuh, mau jadi apa anak itu, sudah dewasa, tapi buat sholat shubuh aja, harus di bangunin kayak anak kecil," gerutu Rahman kesal.


"Mas ... Mas sini, Mas," teriaknya.


"Ada apa, pagi-pagi sudah teriak, gak enak sama tetangga," tutur Rahman sambil berjalan ke arah kamar Laras.


"Laras gak ada, Mas," ucapnya memberitahu.


"Enggak ada gimana?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling ruangan, namun memang tidak menemukan Laras di sana.


"Mungkin di kamar mandi." Rahman mencoba untuk berfikir positif, namun tetap saja, tak ada.


"Jangan-jangan yang mengambil kuncinya si Laras, Mas." ujar Sari menebak-nebak.


"Dia kabur?" tanya Rahman.


"Mungkin. Ini kunci gak ada, Laras juga gak ada di kamarnya. Pasti dia kabur tadi malam, saat kita tidur," jawab Sari.

__ADS_1


"Dasar anak itu, bikin malu saja. Sial*n. Tapi dia gak mungkin ke Jakarta, kan? Hpnya sudah aku banting dan dia juga gak megang uang sepeserpun karena ATM dan uang casnya sudah aku sita. Kecuali KTP nya."


"Jangan-jangan ...." Sari tiba-tiba keingat uangnya yang ada di lemari. Ia segera pergi ke kamarnya dan mencari uang itu, dan benar saja, uang itu sudah gak ada.


"Mas?" panggil Sari lagi dan Rahman pun menghampiri sang istri.


"Ada apa lagi?" tanya Rahman kesal karena Laras berhasil kabur darinya.


"Uangku gak ada, uangku hilang."


"Berapa?"


"Aku lupa, tapi kayaknya tujuh ratu ribu kalau gak salah."


"Pasti si Laras yang mencurinya. Dia yang pasti mengambil uang itu dan kabur."


"Gimana dong, Mas. Apa kita susul Laras ke Jakarta?" tanya Sari, ia takut jika Laras akan buat keributan lagi dan lebih mempermalukan diirinya dan keluarganya.


"Ngapain? Sudahlah, biar dia urus hidup dia sendiri. Semoga aja dia kena sial di jalan, biar gak bisa sampai ke rumah Ariel dan Luna. Biar tau rasa," ucapnya kesal.


"Jangan gitu dong, Mas. Bagaimanapun dia anak kita," ujar Sari yang tak suka denger suaminya mendoakan yang buruk buat Laras.


"Siapa yang bilang dia bukan anak kita? Aku lelah, Sar. Lelah punya anak kayak Laras, taunya bikin aku pusing. Bikin bangga, kagak. Bikin malu, iya. Sudahlah, jangan ngurus si Laras terus. Kita masih punya satu anak yang harus kita didik dengan keras, jangan sampai dia ngikuti langkah kakaknya yang bikin malu orang tua. Masalah Laras, terserah dia mau jadi apa di luar sana. Aku udah capek, moga aja Tuhan kasih dia pelajaran berharga, biar tua cara menghargai orang tua, dan orang-orang di sekitarnya. Dia itu keras kepala, mau menang sendiri, entah terbuat dari apa hatinya itu. Kalau dia gak dapat pelajaran berharga, selamanya jadi anak gak berguna, taunya cuma nyusahin orang, dan gak tau arti hidup yang sebenarnya."


"Tapi bagimana jika Laras sampai ke rumah Ariel dan Luna?" tanya Sari.


"Mereka gak akan semudah itu memaafkan Laras, apalagi kulihat Luna sangat benci sama Laras. Wanita mana yang tidak benci, jika suaminya di goda. Sudah di bantu, di kasih hati, eh malah ngelunjak si Laras. Aku aja jadi Bapaknya Malu sama Luna dan orang tuanya.  Kalau Laras emang beneran ke sana, aku yakin Luna pasti akan mengusirnya. Aku juga tidak yakin suaminya Luna itu mau sama si Laras. Luna aja cantik kayak gitu, sedangkan anak kita, bahkan dengkulnya aja, masih bagusan si Luna. Enggak mungkin suaminya Luna itu akan cinta sama Laras, bahkan aku gak yakin dia mau sama Laras, kalau bukan anak kita yang gatal dan terus menggodanya, dia juga gak mungkin mau melirik si Laras. Lagian jika emang suaminya Luna itu mikirin bayi yang ada dalam kandungan Laras, dia pasti sudah ke sini untuk bertanggung jawab. Tapi apa? buktinya sampai berbulan-bulan, tak ada tuh kelihatan batang hidungnya. Malah Laras aja yang kegatalan ingin terus menemuinya. Entah terbuat dari apa itu otak dan hatinya, kok gak ada malu-malunya sama sekali," omel Rahman sambil duduk di kursi sofa ruan tamu.


Sedangkan Sari yang mendengarnya pun hanya bisa diam, dan membenarkan ucapan suaminya. Ia yang seorang wanita juga malu rasanya mikirin Laras yang terus menerus ngejar suami orang.


Dan sejak saat itu, Sari dan Rahman tak lagi membahas Laras. Rahman juga akhirnya terpaksa merusak pintunya dari dalam agar bisa keluar, lalu menjemput Lestari dari rumah kakek dan neneknya agar kembali ke rumah. Toh Laras juga sudah gak ada.


Awalnya Lestari bingung, melihat Laras gak ada di rumah, tapi setelah Ibunya cerita bahwa Laras kabur dari rumah dan mencuri uangnya. Lestari pun hanya bisa diam, entah dia harus bahagia atau sedih. Bahagia karena Laras akhirnya berhasil kabur dari orang tuanya, sedih karena takut jika Laras kenapa napa di luar sana, apalagi Laras pergi dalam kondisi hamil.

__ADS_1


__ADS_2