Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Detik-Detik Sebelum Terungkap


__ADS_3

Malam harinya, Ariel pulang jam delapan malam. Ia pulang dengan wajah yang begitu lesu. Luna pun tak menanyakan apa-apa, bahkan tentang Ariel yang tadi sengaja menghilang di pertinggaan saat Luna membuntutinya. Biarlan mereka sama pura-pura tak tau. Ariel yang terlihat sok polos dan Luna yang merasa seperti orang bodoh.


Luna tetap melayani Ariel, menyediakan baju setelah Ariel mandi. Lalu menyiapkan makanan sendiri karena katanya belum makan malam. Lalu setelah itu, menemani Ariel berbincang sebelum tidur. Luna melakukan semuanya, seperti tak terjadi apa-apa.


Jam sebelas malam, Ariel sudah terlelap, mungkin ia benar-benar lelah, hingga ia tak berkutiik saat Luna melambaikan tangannya. Setelah memastikan Ariel benar-benar tertidur, ia langsung keluar dari kamar itu, tak lupa ia membawa cctv dan perekema kamera untuk ia pasang di mobil milik Ariel.


Sebelum itu, ia membangunkan Bibi Neni dan Bibi Imah untuk berjaga di depan kamarnya. Bibi Neni bagian berjaga tepat pintu, sedangkan Bibi Imah bagian ruang tamu. Jadi misal Ariel bangun dan buka pintu, Bibi Neni langsung memberikan kode kepada Bibi Imah dan Bibi imah juga akan langsung memberikan kode untuk Luna hingga Luna bisa langsung pergi dari sana.


Luna dan mereka benar-benar bekerja sama untuk menyelesaikan misi ini.


"Tolong jangan sampai lengah ya, Bi," pinta Luna sebelum beraksi.


"'Siap, Non."


Dan setelah itu, Luna pun keluar menuju mobil Ariel. Ia menghidupkan lampu di dalam mobil itu hingga terang menderang. Dengan Ilmu yang sudah di ajari oleh Dion tadi siang, Luna pun mempraktekkannya di mobil suaminya itu. Ia memasang cctv dan juga perekam suaranya di tempat yang sembunyi hingga tak mudah ketahuan.


Setelah lima belas menit, Luna pun akhirnya menyelesaikannya. Lalu ia segera pergi dari sana,, agar tak ketahuan Ariel. Ia menutup pintu itu dan menemui Bibi dengan senyuman cerahnya.


"Sudah, Bi. Terima kasih ya."

__ADS_1


"Sama-sama, Non. Kalau gitu, Bibi tidur lagi ya," tutur Bibi Imah.


"Iya, Bi. Bibi Nenei juga kalau mau tidur, tidur aja gak papa."


"Baik, Non. Bibi juga masih ngantuk ini," tuturnya terkekeh. Luna pun tersenyum ke mereka, merasa bersalah sudah mengganggu tidur mereka, tapi mau bagaimana lagi, ia membutuhkan bantuan mereka untuk menyelesaikan aksinya.


Setelah Bibi Neni dan Bibi Imah pergi, Luna masih di ruang tamu. Ia melihat cctv apakah sudah terhubung di mobil Ariel apa belum, dan ternyata sudah terhubung. Lalu ia teringat dengan CCTV yang ada di depan rumah Laras. Ia pun melihat rekaman itu. Dan betapa kagetnya dia, saat melihat mobil suaminya yang berhenti di pinggir jalan. Lalu menurunkan Laras dan pergi begitu saja.


"Okay, kecurigaanku mulai ada titik terang. Pasti ada apa-apa di antara mereka. Sialan kamu Laras. Aku sudah baik sama kamu, tapi kamu malah nusuk aku dari belakang. Aku pastikan kamu akan menderita, jika kamu berani main-main sama aku," geram Luna. Ia meremas Hpnya dengan kuat. Untungnya hp itu mahal, jadi gak mudah retak.


Satu bukti, memperkuat dirinya bahwa mereka ada apa-apa. Ia tak sabar menunggu hari esok tiba, ia ingin tau, aktivitas apa yang di lakukan oleh Ariel saat berada di luar sana.


Ingatlah, orang jahat terlahir dari orang-orang yang tersakiti. Dan mungkin inilah saatnya LUna akan menampakkan taringnya buat mereka yang sudah menyakitinya secara diam-diam.


Malam ini, ia benar-benar gak bisa tidur. Luna berharap hari cepat pagi, agar dirinya bisa segera tau apa yang di lakukan oleh Ariel di luar sana. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya.


Tapi, ada gunannya juga Laras datang ke rumah ini, setidaknya dengan kedatangan Laras, ia bisa tau, kadar cinta suaminya itu. Karena jika memang Ariel benar-benar mencintainya, bahkan ketika ia membawa sepuluh wanita cantik dan **** pun, ia tak akan berpengaruh.


Tapi jika kedatangan Laras, bisa menggoyahkan iman Ariel dan membuat Ariel membagi cintanya, maka Luna bisa menilai bahwa cinta Ariel untuknya tidak sebanyak yang ia miliki. Semua kata-kata cinta yang keluar dari mulut Ariel adalah bulshit. Karena bagi pria sejati, ucapan itu nomer satu yang harus dipegang. Jangan mincla-mincle. Sekarang A, besok B. Tak ada pendirian yang tangguh.

__ADS_1


Jam empat shubuh, Luna segera mandi keramas untuk menyegarkan tubuhnya dan menghilangkan rasa pusing efek gak tidur semalaman. Lalu ia sholat malam sambil menunggu adzan shubuh tiba. Dan di atas sajadahlah, Luna menumpahkan segala keluh kesahnya, kecurigaannya terhadap sang suami dan juga meminta kekuatan agar bisa melalui setiap ujian yang datang padanya. Luna menangis di atas sajadah, menengadahkan tangannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta.


Saat adzan shubuh berkumandang, Luna segera sholat sunnah dua rakaat, lalu sholat shubuh. Selesai sholat, ia membangunkan suaminya yang masih tertidur, bahkan tak dengar saat alarm adzan berbunyi.


"Mas, bangun. Sholat shubuh dulu," ujarnya sambil menepuk lengan kiri suaminya.


"Ah ... Laras .... " lenguh Ariel membuat Luna membelalakkan matanya sangking kagetnya.


"Astaga, mimpi apa Mas Ariel, sampai kek gitu," ucap Luna merindung. Ia pun segera membangunkan suaminya memukul keras hingga membuat Ariel kaget.


"Ada apa, Lun?" tanyanya membuat Luna lagi-lagi membelalakkan mata, tumben gak manggil 'Yank'.


"Sholat shubuh dulu,"


"Iya." Ariel diam sebentar, sebelum akhirnya ia turun menuju kamar mandi.


"Sialan, bukti kedua sudah aku temukan. Rekaman CCTV yang mengantarkan Laras secara diam-diam, dan sekarang memanggil Laras dalam tidurnya. Okay, bukti terkuatnya adalah nanti. Setelah Ariel pergi dari sini.


"Aku jadi gak sabar nunggu pagi cepat tiba," gumamnya. Ia sudah tak sabar untuk mengetahui kebusukan suami dan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2