Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Jangan Mau Jadi Pelakor


__ADS_3

Keesokan harinya, sehabis sholat shubuh. Luna langsung membantu Bibi Imah memasak. Sedangkan Bibi Neni mencuci baju dan Dion tengah membersihkan taman belakang sisa tadi malam, yang belum sempat di beresin. Laras sendiri, ia tengah menahan rasa ngantuk karena tadi malam tidur hampir pagi hari.


"Laras, kalau kamu masih ngantuk tidur aja gak papa," ucap Luna sambil melihat Laras yang tengah duduk di kursi. Awalnya ia mau bantu Luna dan Bibi Imah memasak, tapi kepalanya terasa pusing dan dari tadi tak berhenti menguap. Alhasil ia memilih untuk tidur dan menaruh kepalanya di meja.


"Enggak, ntar lagi aku harus kerja. Aku gak mau tidur lagi, takut bangun kesiangan," jawabnya sambil memejamkan mata. Melihat hal itu, Luna hanya terkekeh sinis. Laras masih mending tidur walaupun bentar, lah dirinya belum tidur semalaman gara-gara mereka. Hingga akhirnya memilih begadang, jangan di tanya, Luna pun merasa pusing sedari tadi. Tapi untungnya Bibi Imah memberikan kopi, lumayan bisa meredakan rasa sakit kepalanya. Walaupun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya rasa sakitnya sudah berkurang.


"Mas Ariel mana?" tanya Laras yang sedari tadi tak melihat Ariel sama sekali.


"Enggak tau, mungkin lagi tidur. Soalnya pintu kamarnya tertutup rapat, aku juga gak bisa masuk karena sepertinya di kunci dari dalam," sahut Luna sambil menggoreng ikan.


"Oh, Mas Ariel gak masuk kerja lagi hari ini?" tanyanya lagi.


"Aku mana tau. Itu kan urusan Mas Ariel, kerja apa gak. Aku mau bilang kerja, eh gak taunya malah nanti gak kerja. Emang kenapa?" tanya balik Luna.


"Enggak papa sih, soalnya kan kemaren dua hari gak masuk kerja," balasnya sambil tersenyum.


"Oh, kalau boss mah walaupun gak kerja gak papa. Masuk jam berapapun juga terserah, bahkan masuk kerja seminggu sekalipun tak ada yang marah, ya itulah enaknya jadi boss, beda ma karyawan," ucap Luna mengomentari.


"Iya, kamu benar. Aku jadi pengen punya usaha sendiri, pengen jadi boss juga, biar gak selamanya jadi karyawan," ujarnya terkekeh.


"Iya kalau gitu kamu harus pinter nabung, biar bisa buka usaha sendiri, atau cari aja suami kaya biar jadi buk bos. Tapi jangan suami orang ya, bahaya, jatuhnya gak berkah. Dan sulit bahagia karena menyakiti hati istrinya," sindir Luna membuat wajah Laras jadi pias. Ia merasa gugup sekali. Melihat kegugupan Laras, Luna pun hanya berdecih.


"Aku mana mungkin berani jadi pelakor. Aku gak ada bibit-bibit pelakor, jikapun aku ingin cari suami yang kaya, tentunya yang single atau duda," elak Laras berusaha untuk tak terlihat gugup lagi.


"Syukurlah. Lagian di dunia ini masih banyak sekali orang yang tampan dan kaya raya yang masih single atau duda. Jadi gak perlu menjalin hubungan dengan suami orang apalagi suami sahabatnya sendiri. Jangan sampai kamu bahagia di atas penderitaan orang lain."


"Iya, aku tau. Aku gak mungkin melakukan hal itu, jika pun terpaksa, aku pasti punya alasan yang jelas, dan tentunya aku gak akan menikah dengan suami orang itu jika tidak ada restu dari istri pertama."


"Jadi kamu mau melamar jadi istri kedua gitu?"


"Ya sih, kalau emang sudah takdir aku jadi istri kedua. Aku mana bisa nolak. Iya kan?"


"Sebenarnya sih itu tergantung dirimu. Kamu yang bisa memilih mau jadi istri satu-satunya atau jadi madu. Tentu jadi madu itu gak enak loh, karena harus berbagi cinta dan kasih sayang, berbagi harta dan sebagainya. Terlebih kamu akan di cap jadi pelakor seumur hidup kamu. Apalagi jika sampai orang-orang tau, yang kamu rebut itu suami sahabat kamu sendiri."


"Maksud kamu apa bilang kayak gitu, kamu nuduh aku akan mengambil Mas Ariel dari kamu, Lun?" tanyanya dengan nada tinggi. Membuat wajah Luna langsung sok polos.


"Enggaklah, mana mungkin kamu merebut Mas Ariel dari aku, iya kan? Kamu kan sahabat aku, bahkan kita sudah seperti saudara. Kamu gak akan tega menghancurkan pernikahan sahabat kamu sendiri, iya kan?" tanya Luna yang sudah memasang wajah lugunya.


"Iya-iyalah, mana mungkin itu terjadi. Lagian Mas Ariel itu sudah aku anggap sebagai saudara aku. Kamu kan sahabat aku yang sudah seperti saudara aku, maka otomatis Mas Ariel pun sama karena dia suami kamu. Di resto, dia juga boss aku. Mana mungkin aku berani bermimpi, jadi istrinya. Apalagi sampai menghancurkan rumah tangga kamu. Kalau sampai aku melakukannya, aku pasti termasuk wanita jahat dan kejam."


"Ya, kamu benar. Jika kamu melakukannya, maka kamu sangatlah jahat dan kejam. Karena kamu ke sini itu ikut aku. Aku yang ngasih kamu tempat tinggal, aku yang ngasih kamu uang, baju, make up dan yang lainnya. Aku yang ngajarin kamu pakai make up yang benar dan bisa seperti sekarang. Aku juga yang ngasih rahasia aku bagaimana  menjaga bentuk tubuh agar bagus. Aku juga yang membantu kamu cari kerjaan. Jadi misal kamu sampai tega menghancurkan rumah tangga aku, itu artinya kamu kelewatan sekali," kata Luna dengan nada tegas membuat nyali Laras jadi menciut.


"Iya aku tau, aku banyak hutang budi sama kamu. Jadi aku gak akan melupakan apa yang sudah kamu lakukan ke aku. Tenang aja, aku itu bukan musuh dalam selimut, jadi kamu gak perlu khawatir akan hal itu," ucapnya dengan jantung yang berdetak keras. Bahkan Laras tak lagi merasa ngantuk seperti tadi. Rasa kantuknya seakan menghilang begitu saja.

__ADS_1


"Syukurlah."


Bibi yang mendengarnya hanya diam, namun ia menghina Laras dalam hati yang sok polos. Andai dia tau, kalau Luna sudah tau semuanya, mungkin ia gak akan berani bicara seperti itu.


Luna dan Bibi sudah selesai memasak, mereka segera membawa semua yang di masak tadi ke meja makan. Laras pun beranjak dari tempat duduknya dan membantu mereka, menata makanan di atas meja.


"Aku mau manggil Mas Ariel dulu," ucap Luna sambil berjalan ke pintu kamar yang di tempati oleh Ariel.


Tok ... tok ... tok .....


"Mas, kamu belum bangun. INi sudah siang loh," ucapnya sediki teriak, takut jika Ariel gak bangun-bangun.


"Mas, ayo bangun. Aku sudah selesai masak," teriaknya lagi.


"Mas?" panggilnya dengan nada tinggi.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.


"Ada apa?" tanya Ariel dengan mata sedikit tertutup karena menahan rasa ngantuk yang sangat berat.


"Kamu kok belum bangun sih, ini sudah jam berapa? Kamu gak kerja?" tanya Luna.


"Aku kerja, berangkat nanti aja, habis dhuhur. Lagian Mama dan Papa aku kan mau datang hari ini jam sepuluh," jawabnya.


"Oh, ya sudah. Sana mandi, ayo kita sarapan," ucap Luna namun Ariel menggelengkan kepalanya.


"Emang semalaman gak tidur, kok masih ngantuk?" tanyannya.


"Enggak, aku gak tidur."


"Lah, kenapa?" tanya Luna sambil menatap suaminya, pura-pura bodoh.


"Soalnya kamu tidur di kamar sebelah sih, jadinya aku gak bisa tidur. Makanya nanti malam jangan pisah ranjang lagi, ya," pintanya memohon. Luna pun hanya mencibir dalam hati. Padahal Luna sangat tau alasan kenapa Ariel gak tidur semalaman.


"Hemm maafin aku ya, Mas. Lain kali kita gak akan pisah ranjang lagi deh."


"Janji ya."


"Iya."


"Laras sudah pulang?"


"Belum, dia masih di sini. Mungkin nanti habis sarapan dia pulang."

__ADS_1


"Oh gitu, iya sudah aku tidur lagi."


"Pintunya jangan di kunci."


"Kenapa?"


"Baju aku kan ada di dalam. Nanti aku mau mandi dan ganti baju."


"Oh gitu, okay. Pintunya gak aku kunci lagi. Aku tidur dulu ya. Jangan ganggu dulu, aku pusing banget soalnya."


"Iya, mau aku bawakan obat?"


"Enggak usalah, lagian aku pusing karena kurang tidur aja. Nanti kalau sudah istirahat yang cukup, pasti pusingnya hilang."


"Iya sudah kalau gitu, aku makan duluan berarti."


"Iya, Sayang."


Dan setelah itu, Luna pun kembali ke ruang makan. Ariel sendiri melanjutkan tidurnya karena kepalanya benar-benar pusing. Pusing karena tadi malam, ia gak bisa menuntaskan hasratnya. Padahal sudah lagi tinggi-tingginya, tapi langsung lenyap seketika setelah Luna menggedor-gedor pintu. Dan itu membuat kepalanya pusing karena belum bisa di tuntaskan tadi malam, terlebih ia berbaring di bawah tempat tidur, dan kedinginan karena berbaring di atas lantai, tanpa ada alas apapun. Di tambah itu ruangan berAC membuat tubuhnya seperti meriang dengan kepala yang berdenyut.


"Mas Ariel mana, Lun?" tanya Laras melihat Luna hanya kembali sendirian.


"Masih tidur dia. Pusing katanya," jawab Luna.


"Dia sakit?" tanya Laras khawatir. Pasalnya ia gak tau bagaimana Ariel bisa keluar dari kamarnya. Tadi malam setelah melakukan hubungan badan yang tidak sampai tahap akhir, karena kedatagan Luna yang tiba-tiba. Laras langsung kehilangan mood, terlebih Luna tidur di kamarnya dan mengajak dirinya mengobrol. Walaupun sudah ia tahan rasa kantuknya, namun pada akhirnya ia tumbang juga. Dan ketika ia bangun sudah jam setengah enam pagi. Dan Laras bangun pun karena suara alarm dari HPnya. Dan ketika ia melihat di sampingnya, tak ada Luna. Lalu ketika ingat Ariel yang bersembunyi di bawah tempat tidur, ia langsung melihat ke bawah namun ia tak melihat Ariel lagi. Jadi Laras beranggapan, jika Ariel keluar setelah Luna kembali ke kamarnya.


"Enggak, cuma kurang tidur kayaknya. Kok kamu kayak khawatir banget kek gitu? Aku aja yang istrinya, santai aja tuh," ujar Luna membuat Laras lagi-lagi merasa gugup karena ia menampilkan rasa khawatirnya yang berlebihan.


"Bu ... bukan gitu. Aku cuma nanya aja, lagian misal aku khawatir, itu kan hal yang wajar. Dia suami kamu, dan dia bos aku di resto. Jadi wajar kalau aku khawatir."


"Iya tapi gak usah berlebihan juga kali. Iya sudah kamu sarapan duluan, ntar lagi kamu harus pulang kan, buat mandi dan berangkat kerja."


"Iya. Kamu gak mau makan?"


"Aku nanti aja deh, belum lapar soalnya."


"Oh gitu, iya sudah aku makn duluan. Tapi gak apa-apa nih. Aku tamu loh di sini, tapi aku yang makan duluan."


"Enggak papa, santai aja lah," ujar Luna sambil pergi dari sana.


Laras pun tak malu-malu lagi, ia segera makan dan mengambil lauk pauknya agak banyakan. Gak papalah, makan banyak, nanti malam ia akan olah raga biar perutnya gak buncit.


Setelah Laras selesai makan, dia pun pamit pulang. Tak perlu di antar karena Laras bawa sepeda motor, lagian juga rumahnya deket banget.

__ADS_1


Setelah kepergian Laras, barulah Luna mengajak Bibi Neni, Bibi Imah dan Dion makan bareng. Dan karena mereka gak mau makan di meja makan. Akhirnay Luna meminta tolong mereka, untuk memindahkan semua makanan ke belakang. Dan merkea menaruhnya di lantai, sehingga bisa makan bareng sambil duduk di lantai, makan lesehan pakai tangan. Rasanya sangat nikmat. Tak ada kencanggungan atau apapun, merek sudah seperti keluarga harmonis. Sambil makan, mereka pun mengobrol santai.


Dion yang bisa makan bareng Luna seperti ini lagi merasa sangat senang, bahkan ia duduk bersebelahan dengan Luna. Ia merasa sudah seperti sebuah keluarga yang harmonis. Ia berharap suatu saat nanti, ia bisa bersatu dengan Luna, wanita yang diam diam masuk ke relung hatinya. Di sepertiga malam, Dion selalu berdoa agar bisa disatukan bersama Luna dalam ikatan yang halal dan setelah itu mereka bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.


__ADS_2