Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kematian Itu Datang


__ADS_3

Ayah Lukman langsung menghela nafas beberapa kali dan mengucap istighfar. Bunda Naila yang dari tadi mendengar semua cerita Dion pun juga tak kalah soknya.


Ya, saat Ayah Lukman bangun, sebenarnya Bunda Naira pun juga sudah bangun. Hanya saja saat Ayah Lukman menerima panggilan dan berbincang dengan Dion, Bunda Naira memilih diam, karena tak ingin menganggu pembicaraan mereka. Namum Bunda Naila menangkap dengan sangat jelas perbincangan suami dan menantunya itu.


"Bunda tak menyangka, Yah. Putri kita seperti itu," ucap Bunda Naila menitikkan air mata.


Ia sangat menyesal, karena dirinya merasa belum bisa mendidik putrinya dengan baik. Pantas dulu Ariel, selalu mengekang Luna. Mungkin Ariel juga sudah tau apa yang akan terjadi, misal dirinya memberikan kebebasan buat Luna.


Bagaimanapun tidak ada yang tau bagaimana watak asli Luna, kecuali suaminya. Bahkan orang tuanya sendiri pun tak akan tau, sifat dan karakter asli Luna.


Beda jika dengan pasangan, mungkin karena hidup dua puluh empat jam, hingga watas dan sifat asli itu sedikit demi sedikit di tampakkan.


Mendengar ucapan istrinya itu, Ayah Lukman masih diam. Ada rasa sesak dalam dada, mendengar Dion tidak ridho atas apa yang di lakukan oleh sang istri di luar sana.


Ya Allah, padahal ridho suami adalah ridho Allah. Dan buat apa ngejar harta, jika pada akhirnya Luna di laknat oleh Allah karena sudah menjadi istri pembangkang.


Belum cukupkah Luna mengambil pelajaran dari masa lalu?


Apakah dia memang berfikir, pernikahan itu hanya sebuah permainan?


Dulu di ketatin, malah ngeluh.


Sekarang di bebasin, malah lupa suami dan malah jadi istri tak tau diri seperti ini.

__ADS_1


Tiba-tiba dada Ayah Lukman terasa sakit, shok yang berat, membuatnya tak mampu untuk menahan semua gejolak amarah, kecewa, kesal, sedih, dan rasa malu pada menantu dan besannya.


Melihat suaminya memegang dada, dengan raut wajah kesakitan membuat Bunda Naila langsung memegang suaminya.


"Ayah, Ayah kenapa?" tanyanya panik. Sedangkan wajah Lukman semakin memerah menahan rasa sakit.


"Lintang, bangun Nak. LINTANG!" teriak Bunda Naila sambil menangis. Sedangkan Ayah Lukman sudah tak sadarkan diri.


Mendengar teriakan sang Bunda, Lintang langsung bangun, kepalanya sedikit sakit namun ia tak menghiraukannya.


"Bun, Ayah kenapa?" tanyanya.


"Cepet angkat ayah, Nak. Ayo kita bawa ke rumah sakit," ujarnya.


Untungnya ada mobil, kalau enggak pasti akan kerepotan sendiri.


Karena ini masih malam, jadi belum ada tetangga yang bangun. Setelah mengunci pintu, mereka langsung pergi menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan, Bunda Naira terus menangis memanggil nama suaminya.


"Nak, lebih cepat ya. Tangan Ayahmu sudah dingin," ujarnya dengan isakan tangis.


"Iya, Bunda." Lintang padahal sudah menggunakan kecepatan tinggi, karena memang waktu masih malam, dan kendaraan pun cukup sepi, namun rasanya kendaraan berjala begitu lambat.

__ADS_1


Lintang sampai mencengkram tangannya, berusaha untuk fokus walaupun saat ini, ia merasa ketakutan. Takut jika Ayahnya kenapa-napa.


Sesampai di rumah sakit, Lintang langsung memarkirkan mobilnya secara asal, lalu ia berteriak memanggil dokter bak kesetanan.


Dokter-dokter pun sampai kaget di buatnya, dan langsung bergerak cepat. Ada yang mengambil brankar, dan langsung berlari membantu Lintang.


Setelah Ayah Lukman berada di atas brankar, dokter yang melihatnya mengernyitkan dahi.


Namun dokter-dokter itu tetap membawanya ke UGD dan memeriksanya beberapa kali. Setelah memastikannya, barulah mereka keluar.


"Sok, bagaimana keadaan suami saya?"


"Bagaimana Ayah saya, Dok? Dia gak papakan?"


Lintang dan Bunda Naira tanya bersamaan membuat sang dokter semakin merasa bersalah. "Maaf sebenarnya Suami Ibu, sudah meninggal dalam perjalanan," ujarnya membuat Bunda Naira bener bener sok.


"Tapi bagaimana bisa, sedangkan sebelumnya Ayah baik-baik aja. Bahkan tadi malam kami masih makan bersama sambil bercengkerama?" tanya Lintang tak terima


"Ayah Anda, terkena serangan jantung. Mungkin beliau mendapatkan kabar yang membuatnya shok, sehingga menyerang jantungnya. Apa sebelumnya, Bapak mendapatkan kabar buruk?" tanyanya.


"A ... Aku gak tau," balas Lintang.


Sedangkan Bunda Naira memilih diam, karena bingung mau jawab apa. Misal jujur, ia takut jika Lintang akan marah pada Luna dan Dion karena sudah menyebabkan Ayahnya meninggal.

__ADS_1


Bagaimanapun Bunda Naila tidak ingin ada perselisihan antara putra-putrinya. walaupun ia sangat kecewa pada Luna, tapi ia tak ingin jika Luna dan Lintang saling benci satu sama lain


__ADS_2