
Hari ini Dion dan Luna resmi pindah rumah. Luna tak pamitan sama mertuanya karena Mami Ocha dan Papi Dimas sudah pergi, bahkan sebelum mereka sarapan pagi. Mereka seakan sengaja menghindar dari Luna.
Luna juga tak pamitan sama semua Art, dia langsung pergi gitu aja setelah selesai berkemas.
Dion hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Luna yang cuek, tak seperti dulu yang sangat ramah pada semua orang.
Namun ya sudahlah, Dion tak mau bertengkar yang akhirnya membuat hubungan mereka kembali renggang.
Sepanjang jalan, mereka saling diam. Tak ada yang mencoba untuk memulai bicara. Mereka seakan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
Dion sibuk memikirkan bagaimana agar hubungan Luna dan orang tuanya kembali akrab seperti sebelum dirinya resmi menikahi Luna.
Bagaimanapun sebagai anak dan sebagai suami, dirinya gak bisa memilih antara Ibu dan juga Istri. Baginya mereka sama-sama penting. Namun saat ini, baik istri dan sang Ibu, mereka seakan menjaga jarak dan tak mau akkur. Dan ini menjadi beban tersendiri untuk Dion.
Sungguh, bukan seperti ini yang dirinya mau. Percuma jika hubungan dirinya dengan sang istri membaik, tapi malah hubungan dirinya dengan sang Ibu yang malah memburuk. Kenapa ujian setelah menikah, harus sepelik ini.
Dulu dia berfikir, dengan menikah. Hidupnya akan lebih sempurna, tapi sayangnya, semuanya tidak sesuai dengan yang ada dalam khayalannya. Tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Benar kata orang-orang, ujian setelah menikah itu pasti banyak. Entah dari sikap pasangan yang mulai menampakkan sifat aslinya, entah itu dari segi ekonomi, mertua, ipar, tetangga, kerjaan, anak dan yang lainnya.
__ADS_1
Sungguh, rasanya sangat berat.
Berbeda dengan Luna, ia memikirkan bagaimana masa depan dirinya dan Dion setelah ini. Jujur, ia gak tau harus berbuat apa. Dulu saat menikah dengan Ariel, dirinya tidak di hadapkan dengan masalah seberat ini.
Semuanya begitu mudah, dirinya gak perlu memikirkan ini dan itu karena Ariel yang semuanya menyediakan.
Bahkan Ariel gak pernah berbagi beban dengannya. Hubungan dirinya dengan keluarga Ariel pun sangat baik. Karena mereka sangat menghormati dan menghargainya.
Kekurangan Ariel cuma satu, terlalu posesif hingga tidak membiarkan dirinya keluar sendirian tanpa dia. Dan sedikit mengekang. Itu yang membuat Luna jenuh dan selalu mengeluh.
Sedangkan sama Dion, dirinya emang di berikan kebebasan. Tapi masalahnya, kini hubungan dirinya dengan sang mertua, semakin memburuk. Jangankan sama mertua, sama semua Art di Mension pun juga tidak baik. Mereka seakan menghindar dan acuh tak acuh padanya.
Dan lagi, saat ini dirinya harus memikirkan masalah resto yang menjadi tanggung jawabnya. Belum lagi rumah yang ada di Jakarta yang tidak di tempati. Untungnya masih ada Bibi Imah yang mau mengurus rumah itu.
Tapi sekarang, Dion tidak mau melakukannya. Walaupun Dion memberikan uang cukup banyak, tapi Dion tidak seperti Ariel. Dan lagi Dion seakan enggan membantu dirinya untuk terus memajukan resto miliknya.
Padahal jika memungkinkan, Luna ingin memajukan resto itu hingga punya banyak cabang dimana-mana.
Tapi sekarang, jangankan memikirkan mau buka cabang, resto tidak jadi gulung tikar pun sudah Alhamdulillah banget .
__ADS_1
Kadang, Luna berharap, dirinya bisa memutar waktu. Yah, dia ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana, dirinya tidak akan mengizinkan Laras ikut dirinya ke Jakarta.
Andai, yah Luna hanya bisa berandai. Andai dirinya bisa berfikir panjang waktu itu dan tidak membantah omongan Ariel. Mungkin saat ini hubungan dirinya dan Ariel baik-baik saja. Dan Diana tidak akan menjadi anak broken home.. Mungkin saat ini, hidupnya sangat sempurna bersama anak dan suami. Mama mertuanya juga masih hidup, Papa mertuanya juga tidak akan sampai frustasi hingga memilih tinggal d luar negeri. Dan hubungan dirinya dengan keluarga Ariel pun masih baik-baik saja, dan tidak saling membenci seperti ini.
Laras mungkin juga masih baik-baik aja dan tidak meninggal dalam keadaan mengenaskan. Dan kehadiran Dania, mungkin juga tidak akan ada di dunia ini. Kadang Luna juga takut, kelak Dania akan dendam padanya, karena menjadi penyebab derita Ibunya.
Dan lagi, mungkin Ayahnya masih hidup. Ia tidak perlu kena serangan jantung. Seharusnya Ayahnya baik-baik aja dan hidup bahagia karena semua kehidupan Ayah, Ibu dan Adiknya masih menjadi tanggung jawab Ariel sepenuhnya.
Seharusnya semuanya berjalan normal, Anai Luna tidak bersikap egois dan menjadi istri yang patuh
Tapi kini, semuanya hancur berantakan. Ia menjadi penyebab, Mama mertuanya meninggal dunia, sahabatnya meninggal dunia dan Ayahnya pun meninggal dunia. Memang bukan dirinya yang membunuhnya, tapi mereka semua meninggal masih ada kaitannya dengannya.
Andai semuanya masih berjalan normal, mungkin ia tak perlu menikah lagi dan ia tak perlu berjauhan dengan putri kecilnya.
Hhhh, Luna hanya bisa menghela nafas. Sungguh, rasanya begitu berat hidup yang harus ia jalani.
Mendengar Luna menghela nafas dengan kasar, Dion memilih ke arah Luna.
"Kenapa?" tanya Dion.
__ADS_1
"Enggak papa," jawab Luna, enggan mengungkapkan isi hatinya.
Mendengar jawaban Luna, Dion tampak kecewa. Tapi ia berusaha untuk diam dan tak memperpanjang masalah yang cukup sepele.