
Seperti biasa, setelah selesai mandi dan sholat, Ariel berbaring di atas kasur, dan Luna yang berada di atas perutnya. Entahlah, itu udah seperti keharusan buat mereka berdua. Ariel menatap wajah Luna yang semakin cerah, mulus dan glowing. Namun walaupun glowing, tidak menakutkan seperti yang ia lihat di media sosial. Punya Luna terlihat seperti alami, karena memang Luna tidak memakai yang instan, dia lebih suka yang herbal karena tidak ada efek sampingnya. Dan tentunya harganya pun tidaklah murah, dan Ariel tak mempermasalahkan itu.
"Mas belum makan?" tanya Luna memainkan kedua tangan Ariel, entah itu di pelintir, atau hanya di usap-usap aja.
"Belum, kenapa? Cuma tadi aja yang makan, siangnya aku cuma minum buah aja. Malamnya, aku bahkan belum nyentuh nasi," sahut Ariel sambil menatap ke arah Luna, kadang Luna yang di tatap pun merasa malu dan salting.
"Emang kenapa?" ulang Ariel.
"Perutmu kempes, gak kayak biasanya," sahut Luna polos. Ariel yang mendengarnya pun ketawa sambil mengeluarkan air mata.
"Enggak enak ya duduknya?" tanya Ariel dan Luna pun menganggukkan kepala.
"Aku yang makan terang bulannya deh, biar gak kempes perut aku," ujar Ariel. Luna pun mengambil terang bulan yang ada di atas meja, tak perlu berdiri karena tangannya bisa menjulur ke terang bulan itu.
"Mau aku suapin?" tanya Luna.
"Aku makan sambil tiduran?" tanya Ariel, sambil melihat ke arah Luna.
"Emang kenapa?" tanya Luna.
"Ya gak papa sih," jawab Ariel terkekeh.
"Ya sudah sini suapin aku," lanjut Ariel. Dan Luna pun menganggukkan kepala. Ia membuka kotak terang bulan itu dan mulai menyuapi suaminya yang makan sambil tiduran. Ariel juga meninggikan bantalnya agar enak makannya, kalau kalau terlalu datar, takutnya malah keselek.
"Sini kamu makan juga." Ariel mengambil terang bulan itu dan mulai menyodorkannya di depan mulut Luna. Namun Luna memilih bungkam.
__ADS_1
Luna menggelengkan kepalanya.
"Please," pinta Ariel memohon. Tapi tetap Luna menggelengkan kepalanya.
"Sayang," Ariel memasang wajah memelasnya membuat Luna tak tega. Akhirnya Luna pun mau buka mulutnya. Dan itu membuaat Ariel senang.
Dan akhirnya mereka pun saling menyuapi satu sama lain.
"Enak gak?" tanya Ariel dan Luna pun menggelengkan kepalanya.
"Gak seenak dulu, atau lidahku yang mati rasa, karena selama ini selalu makan yang hambar?" tanya Luna membuat Ariel semakin merasa bersalah.
"Maaf," ucap Ariel lagi.
"Eh, aku gak nyalahin Mas kok. Beneran dah," tutur Luna, karena ia emang gak ada niat buat nyindir atau bikin suaminya merasa bersalah karena selama ini terlalu mengekang dan mengatur hidupnya.
"Gak kok. Ini semua bukan salah Mas Ariel. Nanti aku akan coba makan-makananan kayak gini lagi ya. Semoga nanti aku bisa kayak dulu lagi," ujar Luna dan Ariel mengiyakan.
"Kalau kamu pengen apa-apa, belilah. Nanti aku siapkan sopir ya buat kamu dan mobil baru,"
"Buat apa?"
"Buat nganter kamu kemana-mana. Siapa tau kamu pengen keluar, tapi bawa Bibi juga, terserah Bibi Neni atau Bibi Imah. Atau kamu aja dua-duanya juga boleh, buat nemenin kamu. Kamu pasti bosen kan, di rumah terus," ucap Ariel dan itu membuat Luna mengernyitkan dahi.
"Mas selingkuh ya?" tuduh Luna membuat Ariel tercengang. Tak menyangka dengan pertanyaan istrinya itu.
__ADS_1
"What! Kok kamu nuduh Mas gitu sih?" tanya Ariel cemberut.
"Karena Mas hari ini aneh. Tiba-tiba bawain aku terang bulan, mau beliin aku mobil, mau nyediain aku sopir, terus ngizinin aku jalan-jalan, belum lagi Mas sekarang memperbolehkan akuĀ makan apa aja. Ini seperti bukan sifat Mas Ariel. Mas pasti selingkuh kan, atau Mas kesurupan saat menuju pulang?" tanya Luna panik.
"Hey, aku gak papa. Dan aku gak kesurupan, apalagi selingkuh. Jadi jangan berfikir yang aneh-aneh, okey. Aku hanya menyadari kesalahan aku aja, dan aku ingin memperbaiki sikap aku yang terlalu mengekang kamu selama ini. Aku hanya ingin memberikan kamu sedikit kebebasan karena aku tau, itulah yang kamu inginkan dari dulu, kan?" tanya Ariel dan Luna pun menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya, Mas." Luna merebahkan tubuhnya di atas Ariel dan memeluknya dengan erat. Ariel pun membalas pelukan itu. Memang masalah seberat apapun, kalau di selesaikan di atas ranjang dan dari hati ke hati, akan selesai dengan baik. Terlebih jika tak ada lagi rasa ego di antara mereka berdua.
"Gimana kalau sekarang kita bikin dede bayi sayang. Aku ingin punya buah hati, aku ingin di rumah ini ada anak kecil. Ada suara tangisan bayi, ada langkah anak kecil yang lari ke sana ke mari. Dan aku ingin dengan adanya anak, hubungan kita akan semakin erat," ucap Ariel.
"Baiklah."
"Tapi kamu jangan stres lagi ya," pinta Ariel.
"Stress?"
"Iya tadi aku baca di google, kalau lagi program hamil itu, gak boleh stres, karena kalau stress susah buat hamil. Untuk itu, aku gak ingin kamu stres, kamu lakukan apa aja yang bisa bikin hati kamu bahagia. Kamu juga boleh kok ke resto dan mengobrol dengan mereka semua. Aku gak akan melarang kamu buat menyapa dan mengobrol dengan mereka lagi. Aku benar-benar minta maaf, maaf karena aku terlalu posesif jadi suami hingga buat kamu menderita," ujar Ariel yang menyadari kesalahannya, entah apa yang Ariel makan hingga kini, ia tak lagi memikirkan egonya. Ia mulai mengutamakan istrinya dari pada dirinya sendiri.
"Makasih ya, Mas. Semoga setelah ini, kita bisa punya banyak anak dan kita menjadi keluarga lengkap dan penuh kebahagiaan."
"Aamiin."
Dan akhirnya mereka berdua pun melakukan ibadah bersama, berharap nantinya apa yang mereka lakukan akan membuahkan hasil karena kini, Luna dan Ariel berharap akan hadirnya buah hati di antara mereka.
Di tempat yang beda, setelah mandi dan melakukan perawatan, Laras menikmati makanan yang di belikan oleh Ariel. Walaupun ia gak mau makan karena sedang progra diet, tapi demi Ariel, ia pun makan makanan itu hingga ludes tak tersisa. Setelah selesai makan, Laras memainkan hpnya sekitar satu jam, baru setelah itu, ia olah raga bentar, sekitar lima belas menit sampai keringetan. Setelah itu, Laras mandi lagi dan melakukan perawatan wajah, baru jam satu dini hari, Laras akhirnya bisa tidur nyenyak, karena kelelahan habis olah raga dan juga karena perutnya yang sudah kenyang. Dan lagi, Laras tak sabar menunggu pagi hari tiba, karena ia sudah tak sabar untuk melihat sepeda motor yang di belikan oleh Ariel untuknya.
__ADS_1
Dan setelah itu, ia bisa kemana-mana tanpa harus memesan ojek online lagi. Andai ia tau kehidupannya akan jauh lebih baik saat ada di sini, mungkin sudah dari dulu ia meminta Luna untuk mengajak dirinya ke sini dan menikmati hidup yang membuatnya senang. Berbeda saat di kampung, tak ada kesenangan sama sekali yang di rasakan oleh Laras. Tapi sekarang, Laras bisa melakukan apapun, tanpa ada yang mengomelinya, seperti saat di tinggal satu atap dengan orang tuanya.