Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ketegasan Luna Menghadapi Ariel


__ADS_3

Keesokan harinya, jam tujuh pagi, setelah selesai sarapan. Luna kembali ke rumah sakit sambil membawa makanan buat Noah. Luna memakai mobil online, karena walauun di garasi ada mobil, tapi Luna gak mau ambil resiko dengan menyetir sendiri dalam keadaan hamil.


Sesampai di rumah sakit, Luna mengetuk pintu kamar Ariel. Ia tak lagi masuk sembarangan seperti kemaren sore. Enggak lama kemudian, Noah pun membukakan pintu.


"Hay," sapa Noah dengan senyuman ciri khasnya. Ia membuka pintunya lebar lebar dan menyuruh Luna untuk masuk.


"Hm. Ini makanan buat kamu," ujar Luna sambil memberikan makanan yang ia pegang kepada Noah.


"Wah, kebetulan aku lagi lapar banget. Lun, boleh gak kalau aku makan di taman. Aku sumpek sejak beberapa hari yang lalu di kamar terus," tuturnya.


"Boleh, tapi jangan lama ya. Soalnya aku di sini cuma bentar," sahutnya.


"Siap, gak sampai sejam kok. Sekalian aku mau duduk bentar di sana, menghirup udara segar."


"What! Kelamaan kalau sejam. Setengah jam, okay."


"No, empat puluh lima menit deh," tawar Noah seperti lagi nawar barang yang ingin ia beli.


"Enggak, setengah jam atau gak sama sekali," ancam Luna membuat nyali Noah menciut.


"Okey, aku nyerah. Setengah jam aku balik ke sini," ujar Noah mengalah.


"Sip." Luna pun merasa senang karena Noah menuruti keinginannya.


Setelah itu, Noah pun pamit pergi dari sana, tak lupa ia membawa hpnya agar bisa sambil dengerin musik di taman.


Setelah Noah pergi, Luna pun masuk ke dalam dan duduk di atas kursi. Namun ia agak menjauhkan kursi itu agar tidak terlalu dekat dengan brankar.


Luna diam memandangi Ariel, satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit.

__ADS_1


Ariel masih setia pura-pura tidur, padahal Luna tau, jika Ariel sudah sadar.


Hanya sekali lihat, Luna tau. Jika Ariel sudah sadar, entah kapan sadarnya, namun yang jelas Luna tau jika saat ini, Ariel hanya pura-pura memejamkan mata.


Hidup satu atap dengan Ariel, membuat Luna tau, setiap ekspresi yang Ariel tampakkan. Kapan Ariel bahagia, sedih, tidur, resah, khawatir, semuanya ia tau.


"Mau sampai kapan pura-pura tidur?" tanyanya, akhirnya Luna tak tahan untuk tidak buka suara.


Mendengar suara Luna seperti itu, Ariel menyerah dan memilih untuk membuka matanya.


"Kamu tau aku sudah sadar?" tanya Ariel seperti orang bodoh.


"Hm. Aku tau semuanya yang bahkan tidak kamu sadari sendiri," balas Luna acuh tak acuh.


"Huefft ... aku malu untuk menatap kamu Lun. Aku malu untuk bicara sama kamu. Aku malu. Tapi aku juga ingin sekali mendengar suara kamu, aku ingin sekali bersujud di kakimu dan meminta maaf atas semua kesalahan aku," ucap Ariel menitikkan air mata. Ia melihat ke atap-atap langit kamarnya, ia tak berani meantap ke arah Luna. Ia takut, takut jika ia akan melakukan sesuatu yang membuat ia menyesal seumur hidupnya.


"Buat apa minta maaf, setelah semuanya kamu hancurkan. Seharusnya sebelum kamu minta maaf, kamu fikir dulu apakah tindakan kamu itu menyakiti aku apa enggak. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Kamu minta maaf sampai bersujud di kakiku pun, tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi. Bahkan kamu menangis darah pun, tidak akan bisa mengobati luka hati yang kamu torehkan. Seumur hidupku, bahkan saat aku matipun nanti, luka ini akan selalu ada," balas Luna dengan wajah datarnya.


"I know, aku tau kamu menyesal. Tapi terlambat, Mas. Ter lam bat. Penyesalan mu sudah tidak ada artinya lagi buat aku. Kamu bukan hanya menghancurkan hati aku, tapi kamu juga menghancurkan pernikahan kita. Kamu juga merusak persahabatan aku dengan Laras. Kamu juga sudah menodai kepercayaan yang aku berikan. Kamu juga berkali-kali mende sah dengan sahabatku sendiri di atas derita dan air mataku ... Semua kepahitan itu sudah aku lalui, semua derita itu sudah aku tanggung sendiri. Dan kini sudah saatnya aku bangkit setelah aku merasa terpuruk selama berbulan-bulan lamanya. Jangan kamu kira, aku adalah wanita tegar. Salah, aku sama seperti kamu. Aku hanyalah wanita biasa, yang bisa sakit dan terluka saat kamu menyakiti aku berkali-kali. Namun aku mencoba untuk tegar dan bertahan, aku  mengadukan semua masalahku pada Tuhan. Semakin kamu menyakitiku, semakin aku mendekatkan diriku sama Tuhan. Itu yang aku lakukan, bukan malah mogok makan dan mogok tidur, seperti yang kamu lakukan saat ini. Karena percuma, masalah gak akan selesai, yang ada malah kamu akan semakin sakit, sakit hati dan juga sakit fisik," ucap Luna panjang lebar. Sedangkan Ariel hanya diam mendengarkan.


"Lebih baik kamu memperbaiki diri aja, kamu tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada Laras. Ingat, saat ini Laras tengah hamil anakmu. Kamu jangan mikirkan diriku, aku masih bisa mengatasi masalah aku sendiri. Aku wanita kuat, aku yakin, aku bisa melalui semua ini walaupun seorang diri," imbuh Luna.


"Tapi aku gak mencintai Laras sama sekali," ungkap Ariel.


"Enggak mencintai? Tapi kamu menikmati tubuhnya, kan?" sindir Luna. "Ya sudah kamu nikahi aja dia, bukankah menikahi tidak harus mencintai. Dengan begitu kamu bisa menikmati tubuhnya semau kamu. Kamu bisa melakukannya berkali-kali tanpa takut akan dosa." lanjut Luna.


"Tapi aku gak mau menikah dengannya. Aku gak mau menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang tidak aku cintai, Lun. Aku hanya mencintai kamu, aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu," tekan Ariel sambil menghadap ke arah Luna.


"Hanya mencintai aku dan ingin menghabiskan waktumu bersamaku?" ulang Luna. Dan Ariel menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Jika kamu mencintai aku, kamu tidak akan menghianati aku, Mas. Jangankan sampai melakukan hal  yang tak se no noh. Bahkan kamu memandangi perempuan lain, pun. Kamu akan merasa risih. Kamu akan merasa bersalah karena kamu sudah memandangi wanita lain selain istrimu. Jika kamu emang mencintai aku, kamu akan berfikir ratusan kali atau bahkan ribuan kali untuk tergoda dengan wanita lain. Jika kamu emang mencintai aku, kamu gak akan tergoda walaupun banyak wanita yang te lan jang di depan mata kamu sekalipun. Sayangnya, kamu tergoda hanya Laras terus merayumu. Kamu dengan mudahnya berpaling. Kamu bahkan melupakan aku, cuek padaku, berbohong sama aku dan kamu terus menyakiti aku berulang-ulang. Jadi, jangan katakan cinta, jika kamu sendiri bahkan tak pernah memikirkan bagaimana perasaan aku selama ini. Jangan katakan cinta, karena tidak ada cinta yang saling melukai." tegas Luna membuat Ariel bungkam.


"Tapi aku benar-bener gak bisa pisah darimu, Lun. Aku gak bisa. Aku tersiksa. Hatiku sakit," tutur Luna.


Mendengar kata sakit, Luna hanya terkekeh.


"Sakit, hatiku bahkan jauh lebih sakit, Mas. Kamu bahkan gak akan pernah bisa menandingi rasa sakit yang aku rasakan. So, jangan jadi pria lemah dan cengeng. Malu sama tingkah laku kamu selama ini," ejek Luna.


"Kelak kamu akan merasakan rasa sakitnya, saat kamu melihat aku bersanding dengan pria lain. Di saat itulah, kamu akan mengerti, bagaimana perasaan aku selama ini. Kamu akan tau bagaimana rasanya saat melihat orang yang kamu cintai, bersama dengan pria lain, berkencan dengan pria lain dan berhubungan badan dengan pria lain. Hanya bedanya aku akan melakukan setelah halal, tapi aku pastikan, rasa sakit yang kamu rasakan sama dengan rasa sakit yang aku rasakan selama beberapa bulan terakhir. Tunggu waktu itu tiba. Aku harap, kamu di kasih umur panjang, agar kamu bisa melihat sendiri, aku bahagia dengan pria lain," tandas Luna membuat Ariel menitikkan air mata. Ia gak bisa membayangkan jika itu terjadi. Mungkin ia memilih untuk mengakhiri hidupnya jika sampai melihat Luna bersanding dengan pria lain yang bukan dirinya.


Melihat Ariel menitikkan air mata, Luna hanya mencibir.


"Sudahlah, gak usah menangis, percuma. Aku gak akan kasihan. Lagian jika pun aku pergi, kamu masih punya Laras yang akan selalu ada buat kamu. Kamu masih punya cadangan yang bisa menemani kamu, dan memberikan kamu kebahagiaan serta bisa memuaskan kamu di atas ran jang," ledek Luna.


"Enggak seperti aku, yang tidak pernah bisa memuas kanmu," imbuh Luna sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Kemana sih, Noah. Lama banget," gumam Luna dalam hati.


"Aku rasa hari ini, sudah cukup aku menghibur dan menemani kamu. Jadi aku akan pergi." Tanpa menunggu Noah kembali ke kamar, Luna pun memutuskan untuk undur diri terlebih dahulu. Ia gak bisa terlalu lama satu ruangan dengan Ariel. Atau ia akan terus menyakiti Ariel dengan kata-kata pedasnya.


Saat Luna pergi, Ariel mencoba untuk mengejarnya, sayangnya ia jatuh dari atas brankar, karena kakinya yang sulit di gerakkan. Ia lupa, jika dirinya terkena struk ringan, kaki dan tangan kanannya seperti mati rasa. Butuh waktu untuk bisa kembali seperti semula, ia juga harus melakukan pengobatan dan terapi.


Melihat dirinya yang lemah, Ariel benar-benar frustasi. Ia merasa menjadi manusia yang tak berguna, bahkan untuk mengejar Luna pun, ia tak bisa.


Sedangkan Luna, ia tau jika Ariel jatuh, namun ia tak menoleh ke belakang. Ia terus berjalan untuk segera pergi dari sana.


Tak lama kemudian, Noah datang. Ia kaget melihat Ariel ada di lantai. Noah pun segera membantu Ariel untuk kembali ke atas brankar.


"Luna mana?" tanya Noah.

__ADS_1


"Pergi," jawabnya dengan suara lemah. Mendengar hal itu, Noah hanya bisa menghela nafas kasar. Ia sampai rela ingkar janji karena ingin membuat Luna bisa berlama-lama dengan Ariel. Namun siapa sangka, jika Luna akan pergi bahkan sebelum dirinya datang.


__ADS_2