
Di saat Ariel tengah dalam kondisi yang memprihatinkan, Luna yang tengah menanti kelahiran buah hati pertamanya, dan Noah yang berusaha membujuk Ardi buat menjenguk Ariel di rumah sakit. Berbeda dengan Laras.
Kehidupannya semakin menderita. Tubuhnya bahkan sudah hitam karena terbakar terik panasnya sinar matahari. Setiap hari, ia akan meminta belas kasih orang, entah dia akan berdiri di lampu merah, atau berjalan sepanjang jalan dan meminta di warung-warung atau siapapun yang ia temui. Namun sayangnya, mereka seakan begitu jijik dan menjauhi Laras, bahkan tak jarang Laras di usir dari sana karena tubuh Laras yang bau busuk. Mungkin karena tidak ganti baju hampir satu bulan lamanya dan juga hanya mandi di sungai, tanpa sabun atau apapun. Bahkan Laras juga merasa giginya sangat tebal dengan kotoran. Namun dengan cara apa iya membersihkan, jika uangnya hanya cukup untuk makan.
Sampai detik ini, Laras bahkan masih bertahan untuk tidur di bawah jembatan karena ia masih belum ada uang buat pergi menemui Ariel. Tak ada yang mau meminjamkan Hp untuknya agar bisa menelfon Ariel.
Kakinya juga sudah bengkak, entah efek hamil atau karena ia berjalan ke sana ke sini dengan kaki telanjang karena sandalnya sudah putus dan tidak bisa di pakai lagi.
Laras benar-benar seperti orang gila, bahkan pengemis pun hidupnya tidak sampai seberantakan itu. Masih wangi dan tidak memakai baju kumal yang bahkan warnanya pun sudah hilang.
__ADS_1
Setiap malam, Laras terus menangis. Ia memanggil nama orang tuanya dan juga adiknya. Sepanjang malam, ia juga selalu bergumam minta maaf sama Luna karena sudah mengkhianatinya.
Pernah Laras berfikir untuk mengakhiri hidup, dengan meloncat dari atas jembatan, namun ia tidak mungkin melakukan hal keji itu, karena ia bukan hanya membu-nuh dirinya sendiri, tapi juga anak yang ia kandung.
Terlebih dosanya sudah banyak, ia gak mungkin menambah dosanya lagi dengan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Saat Laras, berdiri di lampu merah. Noah yang baru pulang dari rumah Ardi, Papanya Ariel dan tengah menuju ke suatu tempat, tak sengaja melihat ke arah Laras.
"Kok kayak Laras ya, tapi gak mungkin deh. Laras kan ada di Jember, lagian itu wanita seperti orang gila, wajahnya kumal, rambut yang berantakan, kulitnya juga hitam pekat, perut besar dan bajunya pun kayak setahun gak ganti. Enggak mungkin Laras seperti wanita gila itu?" gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Ia terus memperhatikan Laras, namun walaupun sedikit mirip, tapi ia yakin itu bukan Laras. Karena terakhir ia ketemu, wajah Laras cukup cantik, kulitnya pun ****** langsat, dan berisi. Tidak seperti wanita yang berdiri di lampu merah itu.
Saat Noah ingin fokus melihat ke arah Laras, tiba-tiba lampu kembali hijau, Noah pun segera mengemudikan mobilnya dan mengabaikan keberadaan wanita yang ia anggap gila itu.
Sedangkan Laras, yang tidak tau dirinya tengah di tatap oleh Noah. Hanya diam dan meminta belas kasih pada pengendara. Namun sayangnya tidak ada yang mau memberi, sehingga ia hanya berdiri dengan tangan kosong, karena tak dapat apa-apa.
Capek berdiri di lampu merah dan perut yang sudah keroncongan, ia akhirnya pergi ke tempat sampah, ia akan mencari makanan yang masih layak untuk di makan. Kadang jika beruntung, ia akan mendapatkan makanan yang masih bagus, walupun cuma makanan sisa. Tapi setidaknya, ia bersyukur bisa mengisi perutnya sehigga tak kelaparan. Kadang, Laras juga suka berbagi makanan yang ia temui, dengan seekor kucing.
Yah, sejak beberapa hari lalu, Laras memutuskan untuk berbagi makanannya dengan kucing, agar mereka pun juga tidak merasa kelaparan seperti yang ia rasakan.
__ADS_1