
Keesokan harinya, Dion, Mami Ocha dan Papi Dimas langsung berangkat menuju Jember menggunakan pesawat agar lebih cepat
Sepanjang jalan, tak ada yang berbicara, semuanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai detik ini, Luna belum juga di ketahui keberadaannya. Namun setelah Dion konfirmasi dengan karyawan di Resto, ternyata Luna pergi bersama dengan Anggi dan kemungkinan besar akan tiba tiga hari lagi.
Mendengar hal itu, Dion hanya bisa menghela nafas. Tak mungkin ia nunggu selama itu, untuk pergi ke Jember bersama Luna.
Jadi, Dion memutuskan untuk berangkat bersama mertuanya. Entahlah apa yang terjadi nantinya di Jember, karena saat ini fikiran bener bener buntu.
Sesampai di Bandara Jember, mereka langsung memesan mobil online untuk menuju rumah orang tua Luna.
Tak ada yang mereka bawa, selain dir sendiri. Mereka bahkan tidak ingat untuk membeli sesuatu buat buah tangan (oleh-oleh)
Sesampai di depan rumah orang tua Luna, masih ada beberapa orang di sana, mungkin keluarga terdekat keluarga Luna yang memilih untuk menginap.
Dion yang turun lebih dulu, baru setelahnya Mami Ocha dan Papi Dimas.
Dion dan kedua orangtuanya, menyapa mereka semua, dan berjabat tangan. Basa-basi sebentar, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam rumah dan menemui Bunda Naila. Sedangkan Lintang, entah ada dimana dia sekarang. Ada yang bilang, Lintang ada di kuburan Ayahnya dan tengah mengaji di sana.
Melihat Bunda Naila yang duduk dengan tatapan kosong, membuat hati Dion begitu hancur. Ia langsung bersimpuh di kaki sang Ibu mertua.
__ADS_1
"Bunda, maafin aku Bun. Maafin aku hiks hiks. Aku menyesal atas apa yang aku lakukan, aku gak tau kalau emosiku yang sesaat sudah membuat Ayah tiada." Dion terus bersimpuh di kaki Bunda Naila.
Sedangkan Mami Ocha dan Papi dDimas hanya diam melihat putranya yang bersimpuh di kaki wanita lain.
"Maaf, maaf karena aku yang terlalu lelah, membuat semuanya begitu kacau. Seharusnya aku bisa menahan emosiku, seharusnya aku bisa memendam semuanya sendiri. Seharusnya aku bisa mengatasi semuanya, bukan malah mengadu seperti anak kecil. Maaf Bunda, maaf karena aku terlalu pengecut, maaf karena aku, Bunda kehilangan Ayah. Aku sangat menyesalinya, Bun," ujarnya menangis terisak-isak. Dadanya begitu sakit, mengingat dosanya yang begitu besar.
"Bunda memaafkan kamu Nak Dion. Walaupun berat, Bunda akan berusaha untuk belajar ikhlas dan tabah. Bagaimanapun kematian tidak akan bisa di cegah, jika memang sudah waktunya, pasti akan tiba. Tidak bisa di undur ataupun di majukan, Nak Dion hanya sebagai perantara saja. Jadi Bunda tidak akan menyalahkan kamu. Bunda emang sedih, tapi Bunda sudah ikhlas dengan semua yang terjadi." ucapnya dengan getir, membuat hati Dion seakan tercabik-cabik.
Bunda Naila juga Ingat dengan Luna, dulu besannya mati karena ulah sang menantu, yang tak lain putrinya sendiri.
Dan saat ini, suaminya pun juga meninggal karena ulah sang menantu. Walaupun bukan salah Dion seratus persen tapi dari Dion lah, suaminya mendadak meninggalkan dirinya untuk selamanya
Setelah Dion meminta maaf, Mami Ocha dan Papi Dimas pun juga meminta maaf atas nama putranya, mereka juga sangat menyayangkan sikap Dion yang kekanak-kanakan. Gara-gara emosi yang sesaat, membuat seseorang kehilangan nyawanya.
Setelah berbasa-basi sebentar, Bunda Naila pun mulai berusaha untuk tegar. Walaupun saat ini batinnya seakan menjerit, walaupun saat ini hatinya begitu hancur lebur. Namun ia tak mungkin menampakkan apa yang tengah ia rasakan. Jadi satu-satunya, hanya berusaha untuk tetap terlihat tegar di depan banyak orang termasuk di depan menantu dan besannya.
"Luna gak ikut?" tanyanya, setelah menyadari jika putrinya tidak ada.
"Luna masih sibuk mengurus resto, Bun. Dan aku belum tau dimana dia berada saat ini, Hpnya juga belum aktiv. Tapi aku sudah memastikan jika Luna baik-baik aja, mengingat Luna pergi bersama asistennya untuk menemui beberapa klien dan petani yang akan jadi pemasok sayur di resto itu." Balasnya menjelaskan secara detail
__ADS_1
Mendengar hal itu, Bunda Naila tersenyum miris. Bagaimana bisa seorang suami tak tau keberadaan istrinya sendiri. "Luna apa yang sudah kamu lakukan, Nak?" Gumamnya dalam hati.
"Jadi Luna belum tau jika Ayahnya meninggal?" tanyanya.
"Belum Bun, tapi aku sudah mengirim pesan padanya," balas Dion jujur.
"Maafkan putriku Nak Dion. Maaf karena Bunda tidak bisa mendidik Luna menjadi istri yang Sholehah. Dia terlalu sibuk mengejar dunia, sampai dia lupa akan ridho suami. Luna sudah di butakan oleh harta, sampai dia mengabaikan suaminya," ujarnya meminta maaf.
Ia jadi ingat kata seorang ustad, jika ada orang tua sakit, bahkan jika orang tua si istri meninggal sekalipun, seorang istri tidak boleh datang kecuali atas izin suaminya.
Begitu pentingnya ridho seorang suami, bahkan seorang suami bisa menentukan istri layak enggaknya masuk surga.
Ridho suami adalah surga bagi istri, untuk itulah, kenapa seorang istri harus bersikap baik dan mencari ridho suami sebanyak-banyaknya. Apalagi Ridho suami juga termasuk Ridho Allah.
Suami adalah surga dan neraka bagus seorang istri. Keridhoan suami merupakan keridhaan Allah. Istrinya yang tidak di ridhoi suaminya karena tidak taat maka dikatakan sebagai wanita yang durhaka atau kufur nikmat
Rasulullah pun pernah bersabda, bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Lalu seseorang bertanya, kenapa demikian? Jawabannya hanya satu, karena sebagian besar dari mereka tidak taat pada suaminya.
Mengingat hal itu, Bund Naira menangis sekali lagi, ia sendiri bahkan rela gak kerja sejak menikah karena suaminya tidak menginginkannya. Walaupun hanya diam di rumah dan sibuk jadi IRT, namun ia berusaha tabah menjalaninya. Tapi lUna, ya Allah, apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
Bunda Naira tidak akan bangga walaupun Luna berhasil mendirikan resto itu kembali, karena sejatinya, ia lebih suka misal Luna jadi istri yang taat dan ibu yang baik buat anak-anaknya. Buat apa harta banyak, jika pada akhirnya itu akan menjadi dosa untuknya