Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Jiwa Terguncang


__ADS_3

Besok adalah hari pengajian empat bulanan kehamilan Luna. Luna dan sekeluarga sudah menyiapkan semuanya, dari persiapan awal sampai akhir. Bahkan persiapaannya pun sudah sembilan puuh delapan persen, hampir sempurna. Tinggil nunggu besok untuk melengkapinya menjadi seratus persen. Pengajian akan di lakukan jam delapan sampai jam sepuluh siang. Hanya dua jam sama, tidak perlu terlalu lama.


Luna mengundang anak yatim dari tujuh panti asuhan sekaligus. Panti Asuhan Kasih Bunda, Panti Asuhan Ummi Khodijah, Panti Asuhan Al Karomah, Panti Asuhan Al Karim, Panti Asuhan Ainul Yaqin, Panti Asuhan Al Akbar dan Panti Asuhan An-Nur. Dan semua total ada empat ratus tujuh puluh lima. Karena setiap pantinya, tidak menentu, ada yang sedikit, ada yang banyak.


Tak lupa, Luna juga mengundang mertuanya, Bibi Ijah, Bibi Neni serta Dion. Hanya saja mereka semua tak ada yang bisa datang.


Bibi Neni dan Bibi Imah gak bisa datang karena Bibi Neni tengah sakit, jadi Bibi Imah harus menemaninya karena takutnya jika di tinggal sendiri Bibi Neni nanti kenapa-napa di sana. Luna sudah mengirim uang buat Bibi Imah agar membawa Bibi Neni ke dokter kalau perlu di rawat di rumah sakit agar cepat sembuh.

__ADS_1


Dion sendiri juga gak bisa datang pasalnya sekarang dia ada luar negeri karena ada bisnis di sana. Dan Dion sudah berangkat satu minggu  yang lalu. Dan rencananya akan pulang besok malam. Dion gak tau kalau acaranya besok pagi, karena Luna ngasih taunya mendadak banget. Namun Dion pastikan, ia akan datang ke rumah Luna ketika pulang dari luar negeri, walaupun  datangnya telat.


Kalau mertuanya, Papa Ardi dan Mama Ila juga gak bisa datang karena saat ini jiwanya Mama Ila tengah terguncang karena masalah putranya-Ariel. Yah gara-gara postingan yang viral di dunia maya, Mama Ia gak berani keluar dan hanya diam di rumah, ia takut mendengar guncingan orang-orang, ia takut mendengar hinaan dan cacian mereka kepadanya. Ia malu, malu sama semua keluarga besarnya, teman-temannya dan juga kepada semua orang yang mengenalnya. Ia malu untuk bertemu mereka semua. Ia juga marah, kecewa dan sedih dalam waktu bersamaan. Hingga akhirnya Mama Ila hanya diam di dalam kamar, bahkan ia gak mau  keluar dari kamar walaupun untuk makan. Terpaksa, Bibi yang membawakan makanan buat Mama Ila, itupun kadang di makan, kadang enggak, jika pun di makan hanya sedikit sekali. Tubunya sudah kurus dan tak sesehat dulu. Matanya juga menghitam karena jarang tidur. Di wajahnya juga mulai muncul kerutan karena memang tak lagi pakai perawatan, ia hanya fokus duduk melamun sambil menghadap ke arah jendena, kadang hanya melihat foto dirinya bersama Ariel dan suaminya yang hidup bahagia, tanpa adanya permasalahan berat seperti ini.


Mama Ila kadang menangis sendiri, kadang teriak-teriak, mungkin untuk meluapkan rasa sakitnya, rasa kecewanya pada putra kesayangannya dan untuk mengeluarkan rasa sesak yang seperti seperti menghimpit dadanya. Papa Ardi hanya bisa menangis melihat istrinya seperti ini.


Bahkan pernah Mama Ila memecahkan kaca dan menggoreskannya di pergelangan tangannya, untungnya ada Papa Ardi yang siap siaga dua puluh empat jam, sehingga Papa Ardi bisa langsung menelfon dokter buat memeriksa kondisi istrinya.

__ADS_1


Dan Mama Ila harus melakukan perawatan di rumah karena Mama Ila gak mau di bawa ke rumah sakit.


Mama Ila dari kecil hidup dalam aturan keluarga, sehingga banyak orang menaruh hormat padanya terutama pada orang tuanya. Bukannya Mama Ia gila hormat, tapi mungkin karena dari kecil ia gak pernah merasa di permalukan, di didik dengan keras, terus berada di jalan yang benar, tidak neka neko, tak menimbulkan aib yang mencoreng nama baik keluarga, jadi sekalinya dapat, dan langung Boom, seperti bom yang meledak, Mama ila gak kuat buat menampungnya karena semua itu terjadi secara tiba-tiba, tanpa jeda.


Jadinya, jiwanya terguncang dan suka nangis, teriak-teriak sendiri bahkan ingin melukai diri sendiri. Itulah kenapaa Papa Ardi gak bisa jauh-jauh dari Mama Ila. Jika pun Papa Ardi harus pergi, maka ia akan menitipkan ke asisten kepercayaan istrinya itu.


Papa Ardi ingin sekali memukul putranya itu, gara-gara ulah dia, sang istri kini jadi seperti ini. Entah sampai kapan Mama Ila akan sembuh dari rasa sakitnya, rasa malunya dan hidup normal lagi seperti dulu. Papa ARdi hanya bisa mendoakan dan memberikan pengobatan terbaik buat Mama Ila. Dengan mendatangkan psikiater demi kesembuhan istrinya itu. Karena Papa Ardi gak mau jika sampai istrinya benar-benar gila karena gak bisa menampung semua masalah yang datang padanya.

__ADS_1


__ADS_2