
Seharian Ariel bahkan tak beranjak dari ruang tamu, Bibi Imah dan Bibi Neni pun sampai kasihan sendiri melihat majikannya yang menunggu Luna sedari tadi malam. Namun mereka gak bisa berbuat apa-apa karena kenyataannya Luna pun sudah tak lagi peduli pada suaminya, karena Ariel sudah tega menodai pernikahan mereka dengan sebuah pengkhianatan. Jadi, apapun yang di lakukan oleh Ariel, tidak akan bisa menyentuh hati Luna lagi atau pun merubah keputusan Luna buat tidak menggugat cerai Ariel. Bahkan jika Ariel bersimpuh di kakinya atau menangis darah pun, tidak akan membuat Luna mundur dari keputusannya untuk bercerai dengan Ariel. Karena tekat Luna sudah bulat, apapun yang terjadi, ia tetap akan memilih berpisah. Pantang baginya mempertahankan laki laki yang tak setia, laki laki yang sudah tega mengkhianatinya dan menusuknya dari belakang. Bagi Luna, sekali aja berkhianat, maka tak akan ada kesempatan dua kali. Kecuali jika Ariel bisa memutar waktu sehingga Luna tak merasakan pahitnya di khianati oleh orang terdekatnya.
Noah sendiri pun sudah capek menasehati Ariel, ia bahkan sudah tak lagi peduli. Ia memilih duduk di ruang tamu sambil nonton tivi dan nyemil. Sesekali ia juga main game di hpnya. Sedangkan Bibi Imah ia kini sibuk membersihkan dapurnya setelah selesai masak buat sarapan pagi. Bibi Neni juga yang sudah sehat, sudah mulai beraktivitas untuk mencuci baju dan membersihkan rumah. Bibi Imah membantu Bibi Neni agar segera selesai pekerjaanya.
Setelah semua rapi dan tak ada barang kotor, barulah Bibi Imah dan Bibi Neni sarapan pagi, sedangkan Noah, ia bahkan sudah sarapan duluan barusan. Hanya Ariel yang belum sarapan, Bibi Imah sudah mengingatkannya tapi Ariel mengatakan ia akan makan jika lapar. Dari tadi malam hanya duduk di ruang tamu dan terus menghadap ke jendela, kadang ia berdiri melihat keluar jendela, siapa tau Luna datang dan ia gak mendengar suara mobilnya.
"Nanti lama lama bisa sakit sendiri itu. Hhhh ... dasar keras kepala, tubuh sehat kok di malah mau di bikin sakit," gerutu Noah kesal.
"Luna, kamu ada di mana sekarang? Apakah kamu sudah sampai Bandung. Mengingat ini sudah jam sembilan pagi, atau kamu masih ada di hotel itu?" tanyanya, namun tak ada yang menjawabnya karena memang di ruang tamu hanya ada Ariel sendirian. Bahkan suaranya pun sangat kecil seperti berbisik, jadi gak akan ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
__ADS_1
"Luna, aku kangen. Tak bisakah kamu pulang cepat, aku ingin ketemu kamu, aku rindu," ucapnya. Kepalanya sudah mulai terasa pusing, mungkin efek gak tidur semalaman dan belum sarapan. Namun Ariel tak menghiraukan rasa sakit itu. Ia akan tetap menunggu kepulangan Luna, dan setelah itu, ia ingin tau keputusan Luna, apakah dia akan mengusirnya atau memintanya untuk tetap tinggal di rumah ini. Rumah yang di tempati sejak awal mereka menikah sampai sekarang. Ia berharap, Luna mau berbaik hati untuk mengizinkan dirinya tinggal di rumah ini, agar ia bisa berada di dekat Luna yang tengah hamil buah hatinya. Ia ingin memanjakan Luna, ia ingin mengambulkan apa saja keinginan Luna, ia ingin ada di saat Luna mengidam dan membutuhkan dirinya untuk mengabulkan permintaannya.
Ia sangat berharap jika Luna bersedia menerima maaf darinya dan memberikan ia kesempatan untuk menebus semua kesalahannya, untuk bis menebuus dosa yang sudah ia lakukan.
Di saat Ariel terus menungu kedatangan Luna, berbeda dengan Luna yang sangat menikmati perjalananya, bahkan sesekali mereka berhenti di tempat wisata dan berhenti di kafe, resto dan masjid untuk istirahat. Ya, setiap setengah jam sekali, Luna akan meminta istirahat, dan Dion pun tak mempermasalahkannya. Malah ia senang karena dengan sering sering istirahat, maka Luna gak akan kecapean dan merasa terhibur dengan perjalanannya.
Yah, Laras berusaha untuk kabur dari rumahnya. Untungnya Rahman segera mengetahuinya sehingga Laras di bawa ke kamarnya lagi dan setelah itu, Rahman memukulnya dengan membabi buta. Hingga sekujur tubuh Laras penuh dengan luka dan berdarah. Namun Rahman tak memperdulikannya, karena ia tak akan memukul jika Laras menuruti perintahnya untuk tetap diam di rumah.
Rahman emang gak mengizinkan Laras keluar, bukan apa-apa, ia hanya takut jika Laras akan bikin ulah lagi yang akan mempermalukan dirinya dan keluarga besarnya. Ia lelah jika seumur hidupnya harus menanggung rasa malu karena ulah Laras.
__ADS_1
Ia lebih memilih untuk memukul Laras agar jera, sayangnya Laras gak pernah jera. Setiap ada kesempatan buat kabur, Laras pasti akan memilih kabur. Entah dengan cara apalagi Rahman harus memberitahu agar Laras tidak perlu mengejar ngejar Ariel lagi. Ia bahkan sangat sanggup jika harus membiayai anaknya Laras. Tapi sayangnya, Laras gak mau mendengarkan nasihatnya dan memilih untuk tetap mengejar Ariel dan masih berharap jika Ariel mau menikahinya.
Sedangkan Rahman, ia bahkan gak punya muka untuk bertemu keluarganya dan tetangganya, ia bahkan masih malu jika harus bersitatap dengan mereka. Tapi sayangnya Laras tak mau mengerti. Di tambah, Lestari yang seakan mau membantu Kakaknya buat kabur, membuat Rahman dan Sari sangat frustasi. Punya dua anak perempuan tapi gak ada yang mau mendengarkan perintah orang tuanya. Apa susahnya cukup diam di rumah, biar dirinya yang kerja cari uang.
Tapi mengapa mereka harus membangkang, apa yang salah dalam didikan mereka. Dulu Lestari juga gak seperti ini, dia cukup penurut. Tapi sekarang, ia mulai membantu Laras buat keluar dari rumah ini. Tak taukah Lestari, jika Rahman-bapaknya juga gak mau mengurung Laras andai Laras mau mendengarkan nasihatnya. Tak taukan Lestari jika Rahman sebagai orang tuanya ingin rasanya angkat tangan, karena terlalu lelah mengurus Laras. Namun jika dia angkat tangan, lalu siapa yang akan membimbing Laras jika salah jalan. Terlebih jika Laras melakukan kesalahan, orang tua pun juga kena imbasnya. Tak mengertikan mereka apa yang di rasakan oleh Rahman dan Sari selaku oranga tua mereka.
Lestari menganggap jika Rahman sudah keterlaluan menghukum Laras. Ya, Rahman mengakui. Tapi di kerasin aja, Laras masih membangkang, apalagi jika dengan cara lembut. Bisa jadi Laras gak akan mendengar perkataannya. Apalagi Laras emang keras kepala, jika sudah kemauannnya, harus di turuti.
Rahman dan Sari, hanya bisa menangis di sepertiga malam, mengadukan semuanya sama Tuhan. Mereka lelah, bahkan jika Tuhan mengambil nyawa mereka sekalipun, mereka pasrah. Karena mereka juga lelah hidup harus menanggung malu setiap hari. Hidup tapi harus menahan beban mental yang begitu berat karena ulah putrinya sendiri.
__ADS_1