
Sehabis sholat Isya'. Ariel dan Noah serta Diana pergi ke rumah Ardi. Kali ini Ariel yang nyetir karena Diana lagi berada di pangkuan Noah.
Sesekali Ariel melihat ke arah putrinya yang selalu melakukan kekerasan kepada Pamannya, Noah.
Seperti menjambak rambut Noah misal Noah bikin Diana kesal, kadang menggigit hidung Noah atau yang lainnya.
Noah sendiri malah ketawa terbahak-bahak, walaupun Diana melakukan kekerasan namun tidak membuat Noah jera untuk trus menggodanya.
"Kakak jangan gitu ah, gak baik," Ariel menasehati putrinya.
Namun Diana gak mau dengar. Sebenarnya Diana itu tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, mungkin saat ini Diana tengah kesal karena Noah terus menggodanya makanya Diana akhirnya memilih untuk melawannya.
"Papa, Papa .... hiks hiks .... " Diana akhirnya menangis sambil mengangkat kedua tangannya minta di gendong.
"Cup cup cup, maafin Paman ya Sayang." Melihat Diana nangis, Noah pun jadi panik sendiri. Ia berusaha untuk terus menenangkannnya. Namun Diana tidak mau diam dan terus minta di gendong Ariel.
Akhirnya Ariel berhenti di pinggir jalan, dan mereka ganti posisi. Ariel yang menggendong Diana dan Noah yang menyetir.
Ariel mengelus punggung Diana dan memberkati susu yang sudah di siapkan dari rumah.
Setelah itu barulah Diana berangsur-angsur tenang. Dan perjalanan pun akhirnya di lanjutkan.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Ardi.
Ariel turun dengan jantung yang berdebar-debar. Ia gugup dan juga merasa senang sekaligus. Senang karena pada akhirnya ia akan bertemu dengan ana kandungnya dari Laras.
"Ayo," ajak Noah. Ia tau Ariel mungkin merasa hatinya tengah berkecamuk. Namun bagaimanapun cepat atau lambat ini harus di hadapi.
Ariel menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti Noah.
__ADS_1
Noah membunyikan Bell rumah, tak lama kemudian Ardi yang emang lagi ada di ruang tamu dan tengah bermain dengan Dania langsung membukakan pintu.
"Loh Noah, Ariel. Ayo masuk." ucapnya sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Tumben ke sini malem-malem?" tanya Ardi sambil pergi ke dalam dan meminta Bibi untuk membuatkan minuman.
"Iya, soalnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," balas Noah.
"Apa masalah pekerjaan?" tanyanya.
"Bukan," jawab Noah.
"Lalu?" Ardi semakin di buat penasaran. Di tambah Ariel yang ada di sini dan terus menatap ke arah Dania. Entah kenapa hati Ardi menjadi gak nyaman. Sedangkan Diana dia sudah minta turun karena ingin main bareng Dania. Kebetulan di ruang tamu itu banyak mainan yang berserakan.
Ariel pun mengizinkannya.
Noah membuka Hpnya dan memperlihatkan foto Laras yang ada di IG.
Melihat foto itu, awalnya Ardi mengenyitkan dahinya. Tentu foto itu berbeda jauh dengan keadaan Laras yang ia temui. Karena di foto itu Laras lumayan cantik sejak tinggal di Jakarta. Apalagi Laras melakukan perawatan.
Melihat Ardi seperti kebingungan, Noah terus menscroll foto Laras. Untungnya saat di desa Laras juga pernah melakukan foto beberapa kali.
"Kalau ini kenal?" tanyanya.
"Ini bukannya Ibunya Dania?" tanyanya.
"Iya. Kamu benar." Noah terus menscroll foto Laras hingga bawah.
"Kamu kenal sama Ibunya Laras?" tanyanya sambil menatap ke arah Noah
__ADS_1
"Kamu ingat dengan cerita saudaraku? Yang selingkuh dengan istri dari sahabatnya? Saudaraku ya Ariel ini. Dia selingkuh sama Laras."
"Ja ... jadi?" Ardi sampai bingung mau ngomong apa.
"Ya. Dania anaknya Ariel. Kamu lihat kan wajah Dania dan Diana sama, mereka seperti bayi kembar. Dan wajah Dania juga mirip sama Ariel. Dan wanita yang aku cari kamren. sampai sebulan lamanya ya Laras." balas Noah menceritakan.
Mendengar hal itu, jelas Ardi sangat sok sekali. Ia bahkan bingung mau berkata-kata.
"Tapi bagaimana bisa Laras jadi gelandangan selama berbulan-bulan lamanya?" tanya Ardi penasaran.
Dan akhirnya Noah pun menjelaskan semuanya.
"Ya begitulah ceritanya. Laras pergi dari rumah secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dan dia juga membawa lari uang Ibunya. Entah apa yang terjadi, sampai Laras jadi gelandangan di Jakarta. Mungkin Laras kecopetan. Aku juga gak ngerti. Dan waktu itu, Ariel juga bukannya gak tanggung jawab, tapi dia sakit berbulan-bulan lamanya. Makanya dia baru bisa cari Laras sekarang."
Ardi yang mendengarnya pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan ini aku bawa surat tes DNA. Maaf kemaren saat Dania main ke rumah. Aku melihat rambut Dania rontok di bajunya. Jadi aku mengambilnya secara diam-diam karena aku curiga Dania putri kandung Ariel. Karena mereka sangat mirip. Aku tau, tindakan aku ini sangat tidak sopan. Tapi aku bener bener penasaran."
"Enggak papa, aku bisa maklumi kok." Ardi tersenyum getir sambil membuka isi surat tes DNA.
Dadanya begitu sesak, ia sudah terlanjur menyayangi Dania seperti putrinya sendiri. Haruskah ia memberikan Dania begitu saja pada Papa kandungnya.
Ariel seperti tau perasaan Ardi, jadi dia angkat suara.
"Aku tidak masalah jika Dania tetap bersama kamu Ar. Aku cuma minta agar aku boleh menjenguknya kapanpun aku mau. Aku tidak akan mengambil Dania dari kamu. Bagaimanapun tanpa kamu, mungkin Dania tidak bisa seperti sekarang." tutur Ariel berusaha mengambil keputusan dengan bijak.
"Terimakasih. Sejujurnya berat buat aku pisah dari Dania. Dia sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Bahkan aku rela melakukan apapun demi dirinya. Terimakasih, terimakasih jika kamu masih mengizinkan aku buat merawat Dania." Ardi merasa bersyukur karena Ariel tidak mengambil Dania darinya. Ia senang karena akhirnya ia dan Dania tidak terpisahkan.
"Tapi, kamu tidak boleh menolak misal aku memberikan uang bulanan buat Dania. Bagaimanapun aku ingin bertanggungjawab atas putriku."
__ADS_1
"Iya aku setuju dan aku tidak menolaknya." Mendengar hal itu Noah pun merasa lega karena Ariel dan Ardi sama-sama bersikap dewasa dan tidak ada yang egois.
Dan kini Dania mempunyai dua Papa, Papa Ardi dan Papa Ariel.