
Jam sepuluh malam, Ariel mengajak Luna untuk tidur. Tanpa mau membantahpun, Luna langsung naik ke atas tempat tidur setelah ia selesai cuci muka, sikat gigi dan ambil wudhu. Ariel meminta Luna tidur di lengannya, namun Luna menolak dengan alasan gerah dan gak nyaman. Ariel pun tak memaksanya walaupun ia sedikit kecewa. Tapi tak apa, setidaknya nada suara Luna sudah tak sedingin tadi.
"Yank?" panggil Ariel.
"Hm," jawabnya.
"Buat dede bayi yuk," ujar Ariel membuat Luna memutar bola matanya, ia menatap wajah Ariel dengan malas.
"Males," sahutnya.
"Nolak suami dosa loh," godanya membuat Luna hanya bisa menghela nafas kasar. Ia tau, emang dosa besar menolak ajakan suami, tapi masalahnya ia malas untuk melayani suaminya di atas ranjang. Tak apa jika melayani dalam hal makan dan sebagainya, tapi untuk urusan ranjang, entah kenapa Luna benar-benar tak ada minat sama sekali.
"Please," pinta Ariel memohon.
"Tuhan ... apa yang harus aku lakukan, ingin menolak tapi aku masih istrinya. Sudah kewajiban aku untuk melayaninya dan sudah merupakan hak dia sebagai suami." Luna merasa gundah gulana. Di satu sisi, ia merasa jijik tapi di sisi lain, ia takut malaikat akan melaknatnya seperti sebuah hadist yang pernah ia baca.
"Yank," panggil Ariel karena Luna tak mengindahkan ucapannya.
__ADS_1
"Apa?" balasnya.
"Ayo dong, aku pengen nih," ucapnya dengan wajah memelas.
"Tapi aku malas, Mas," jawabnya ketus.
"Yah, kamu dosa loh yank nolak keinginan suami kayak gini. Mau di laknah para malaikat?" tanyanya membuat Luna sebal. OH Tuhan, jika bukan karena takut di laknat, ia tidak akan melakukannya.
"Ya sudah, matikan lampunnya," ucapnya ketus.
"Oke, okey," jawabnya senang. Ia segera mematikan lampunya.
Luna menduduki perut suaminya dengan keras, hingga Ariel mengeluh kesakitan. Sengaja, Luna melakukannya.
Namun entah kenapa, Ariel tak marah padanya. Ariel hanya diam sampai rasa sakit itu menghilang, barulah ia mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam baju Luna dan mulai meremas dua bukit kembar milik Luna. Awalnya Luna tak merasakan apa-apa karena di otak, hati dan perasaannya penuh dengan kebencian. Namun Ariel yang begitu pandai, membuat Luna akhirnya mulai fokus dengan apa yang Ariel lakukan.
Dia menarik tangan luna hingga bibir mereka menyatu, sedangkan kedua tangannya terus meremas bukit kembar milik Luna.
__ADS_1
Dan yah, akhirnya setelah Luna tak tahan lagi, mereka pun menyatukan apa yang seharusnya mereka satukan dan Luna yang jadi pemimpinnya.
Ariel senang, karena akhirnya ia mendapatkan Luna kembali. Ia percaya, masalah sebesar apapun, jika sudah dibawa di atas ranjang, maka akan segera selesai.
Dan mereka melakukan hingga jam satu hingga mereka pun tertidur pulas. Jam tiga, Luna bangun. Ia segera mandi dan setelah itu, ia segera ganti baju baru yang sudah ia siapkan dari rumah. Untungnya ia menyiapkan semuanya sehingga ia tak perlu pusing menggunakan baju apa.
Setelah memakai baju, menyisir rambutnya. Ia mengambil mukenahnya dan melakukan sholat malam. Di atas sajadah, Luna menangis dan mengadukan semuanya pada TuhanNya. Betapa ia sangat lemah dalam menghadapi semuanya.
Di saat Luna tengah menangis dalam sujudnya, Ariel bangun. Ia mendengar Luna menangis. Melihat hal itu, hati Ariel terenyuh.
"Luna, apakah kamu melayaniku karena terpaksa? Kenapa ini sangat menyakitkan?" tanya Ariel yang ikut menitikkan air mata. Ia fikir dengan Luna sudah mau melayani dirinya, semuanya berakhir, tapi ternyata tidak. Ia malah melihat Luna menangis sambil bersujud. Ia tau, setiap Luna mempunyai masalah berat, ia akan terus menangis di sepertiga malam. Mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.
Ariel terus menatap Luna, walaupun hanya menggunakan lampu meja, namun ia bisa melihat dengan jelas, bagaimana tubuh Luna bergetar karena menangis. Oh Tuhan, Ariel ingin mendektinya, memeluknya dan menenangkannya. Namun ia sadar diri, bahwa dirinyalah sumber dari kesedihannya itu. Dirinyalah sumber dari segala deritanya. Dan dirinyalah sumber kenapa ia sampai mengadu sama Tuhannya dan sampai terisak seperti itu.
"Maafin aku, Sayang. Maafin aku," gumam Ariel dalam hati. Bohong jika dirinya baik baik aja, ia juga sakit melihat istrinya seperti itu.
"Maaf sudah bikin kamu sakit hati, maaf sudah bikin kamu sedih, maaf sudah bikin kamu nangis. Maaf sayang, karena akulah sumber kesakitanmu." Ariel terus menatap Luna. Cukup lama Luna bersujud dengan tubuh yang terus bergetar hingga sejam lamanya, barulah tubuh Luna mulai berhenti bergetar dan tak lama kemudian, Luna akhirnya duduk dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu ia menengadahkan tangannya sambil memejamkan mata, entah apa lagi yang di lakukan oleh Luna. Mungkin ia masih melanjutkan sesi curhatnya sama Tuhan atau apa. Ariel tak mengerti. Yang ia tau, Luna kali ini tak lagi menangis seperti tadi.
__ADS_1
Setelah selesai, ia ia mengambil tasbih. Mungkin Luna mau mengaji tapi karena menggunakan lamput tidur dan tidak baik buat mata, jadai Luna memilih untuk berdzikir saja sambil nunggu adzan shubuh tiba.