Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kehancuran Laras dan Ariel


__ADS_3

Luna menatap semua tamu dengan senyuman manisnya, lalu ia menatap Ariel dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, lalu ia memilih untuk menoleh ke layar yang kini sudah menyala sambil sesekali menatap ke Ariel, Laras, mertuanya dan kedua orang tuanya. Sebelum Luna membuka suara, ia menghela nafas lebih dulu, seakan-akan ia ingin menghilangkan keragu-raguan dalam hatinya.


"Bismillah," ucapnya dengan suara seperti berbisik pada dirinya sendiri.


"Assalamualaikum Warohmatullah HIwabarokatuh." ucapnya mengawali pembicaraan. Dan mereka pun menjawab salam Luna dengan sangat antusias sekali.


"Alhamdulillah hari ini saya sudah bertambah umur, dan saya mengucapkan syukur Alhamdulillah sebanyak-banyaknya kepada Tuhanku karena sampai detik ini saya masih bisa menghirup udara segar dan bisa bertemu dengan kalian semua dalam keadaan sehat wal afiat. Terima kasih karena kalian sudah berkenan hadir di acara ini. Walaupun mungkin ini hanya acara ulang tahun biasa yang mungkin tiada arti, namun kalian berkenan untuk menghadiri undangan saya di tengah-tengah kesibukan kalian. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.


Saya bingung sebenarnya mau ngomong, entah kenapa kata-kata yang sudah saya rangkai di otak seakan menghilang begitu saja," ucap Luna terkekeh membuat mereka yang mendengarnya pun ikut ketawa.


"Ayah, Ibu, Adek Lintang, terima kasih ya sudah menjadi keluarga yang baik buat aku, selalu mensuport apapun keputusan aku. Terutama Ayah sama Ibu, terima kasih atas perjuangan dan pengorbanan kelian selama ini hingga aku bisa seperti sekarang. Maafin aku, karena aku jarang pulang. Aku benar-benar minta maaf dan aku menyesali apa yang sudah terjadi. Tapi ke depannya, InsyaAllah saya usahakan akan pulang sebulan sekali. Bahkan bisa lebih dari itu. Terima kasih karena kalian selalu memahami keadaanku dan selalu mengalah demi kebahagiaan aku. Terima kasih, karena kalian tidak menuntut ini dan itu, berusaha untuk mengerti dan selalu mendoakan yang terbaik buat aku. Terima kasih atas segala nasihat kalian hingga aku bisa berdiri tegak dan bisa melalui banyak cobaan yang datang tiada henti. Ayah, Ibu, Adek Lintang, aku sayang kalian semua. Dan aku harap, semoga ke depannya hubungan kita semakin erat dan bisa saling merangkul satu sama lain. Terutama kamu Adek Lintang, kamu saudara aku satu-satunya, aku harap kita bisa saling merangkul untuk bisa membahagiakan orang tua kita dan saling mendukung satu sama lainnya," ujar Luna dengan tersenyum.


Lintang dan kedua orang tuanya menitikkan air mata mendengar ucapan Luna. Mereka sangat terharu dengan kata-kata manis yang dikatakan oleh Luna.


Lalu Luna menoleh ke arah Mama dan Papa mertuanya.


"Mama Ila, Papa Ardi. Kalian mungkin bukan orang tua kandung aku, tapi kalian adalah orang tua kedua yang sangat aku sayangi setelah Ayah dan Bundaku. Percayalah, aku menyayangi kalian sama seperti aku menyayangi orang tua aku. Kalian sangat berarti dalam hidup aku dan bersyukur karena Tuhan memperkenalkan kita, menjadikan aku bagian dari hidup kalian dan merasakan kasih sayang kalian ke aku selama ini. Aku bisa merasakan betapa kalian begitu tulus menyayangi dan mencintai aku. Terima kasih karena kalian terus mendukung aku, menyayangi aku begitu besarnya. Bahkan kalian tak mengungkit masalah anak, tidak protes saat aku belum bisa memberikan keturunan buat kalian. Terima kasih, karena kalian tidak seperti mertua di luar sana yang sangat benci akan menantu. Terima kasih Mama, Papa. Aku harap apapun yang terjadi ke depannya, hubungan kita akan terus seperti ini, saling menyayangi satu sama lain. Aku gak ingin hubungan kita berakhir apapun yang terjadi, bagiku kalian adalah orang tua aku sendiri. Jadi jangan pernah menganggap aku orang lain apalagi orang asing. Tetaplah jadi orang tua aku sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Mama, Papa. Aku sayang kalian, sangat menyayangi kalian, jangan meragukan cinta dan kasih sayang aku ke kalian, karena rasa sayang dan rasa cinta ini tak ada batasnya buat kalian berdua," ujar Luna, ia mulai menitikkan air mata saat mengingat kembali kebaikan mertuanya itu. Yang sangat menyayangi dirinya. Mama Ila langsung menangis, ia menghapus air matanya berkali-kali. Papa Ardi pun juga ikut menitikkan air mata.


Lalu Luna menatap ke arah Ariel.


"Mas Ariel, suamiku. Terima kasih sudah mencintai aku begitu dalam. Terima kasih sudah memilihku dari banyaknya kaum hawa yang ada di muka bumi ini, terima kasih sudah menjadikan aku istrimu. Menyayangiku, memanjakan aku, dan selalu berusaha membuat aku agar selalu tampil sempurna di manapun aku berada. Terima kasih atas perjuangan kamu selama ini, kerja siang malam demi bisa  membahagiakan aku, memenuhi semua kebutuhan aku dan selalu membelikan apapun yang aku mau. Tanpa adanya sebuah penolakan darimu. Terima kasih berkat dirimu menjadikan aku istri, aku bisa mengenal Mama dan Papa kamu dan menjadikan aku bagian dari keluarga kamu. Terima kasih sebanyak-banyaknya.


Mas Ariel, kamu adalah cinta pertamaku. Laki-laki pertama yang menyentuhku. Dan dulu aku berharap, kamu adalah laki-laki terakhir buat aku, dan aku ingin kita selalu bersama di dunia dan di surganNya. Namun, aku sadar, sekuat apapun aku mengikat dirimu, nyatanya jika Tuhan sudah berkehendak, apapun akan terjadi. Mungkin Tuhan merasa cemburu, karena aku terlalu mencintai hambaNya, sehingga Tuhan membuat aku merasakan rasa sakit, yang begitu dalam," ucap Luna meneteskan air mata. Ariel ikut menangis, namun ia masih bingung kenapa Luna berkata seakan-akan mereka akan berpisah.

__ADS_1


Luna lalu menatap ke arah Laras dengan air mata yang terus mengalir, "Laras, kamu adalah sahabat aku sejak remaja. Aku menyayangi kamu seperti saudaraku sendiri, aku benar-benar menyayangi kamu tulus. Dan aku harap, persahabatan kita akan awet sampai nenek-nenek. Setiap kamu butuh aku, aku berusaha untuk selalu ada. Bahkan ketika kamu mengeluh kamu gak ada kerjaan di sini. Aku dengan senang hati menyuruh kamu ke Jakarta untuk menyusulku. Memberikan kamu pekerjaan sebagai kasir di resto suamiku. Bukan maksudku untuk mengungkit-ungkit kebaikan aku, tapi selama di sana, aku sangat sangat memperlakukan kamu dengan baik, mencarikan kamu rumah yang nyaman untuk kamu tempati tanpa mikir masalah biaya rumah, karena aku yang membayarnya selama satu tahun ke depan. Aku memberikan kamu uang, baju bajuku yang bagus yang belum aku pakai, make up yang belum aku sentuh, dan memberikan apapun yang kamu mau. Aku berusaha melakukan apapun yang sekirarnya kamu betah dan nyaman tinggal di Jakarta bareng aku," ucap Luna.


Sedangkan foto di layar, sudah mulai menampilkan kebersamaan Luna dari Ariel sedari tadi, foto foto kemesraan mereka berdua dari sebelumm nikah sampai beberapa bulan lalu saat hubungan mereka masih baik-baik aja. Lalu menampilkan foto kebersamaan Luna dan Laras saat mereka remaja, betapa mereka melaluinya dengan tawa bahagia saling merangkul satu sama lain.


"Namun kenapa? Kamu mengkhianati aku?" tanya Luna menangis. Semua orang mulai ikut menitikkan air mata.


"Apa maksud kamu, Luna?" tanya Laras yang sedari tadi diam.


"Kenapa kamu harus menggoda suamiku, Laras. Kenapa harus suamiku yang kamu goda?" tanya Luna sambil menatap Laras dengan tajam.


"Jangan suka menuduh, Lun. Jangan kamu permalukan aku seperti ini," ujar Laras tak suka, ia merasa semua mata memandang ke arahnya dengan tatapan sinis.


Luna tersenyum, ia menghapus air matanya, dan melihat ke arah Ariel dan Laras bergantian.


"Stop," ucap Laras berteriak sedangkan Ariel menatap Luna dengan tatapan menyesal, ia tak menyangka jika Luna sudah tau semuanya.


"Kenapa Laras? Apakah kamu malu karena kamu tidur dengan suami sahabat kamu sendiri, dan bersikap seolah-olah kamu adalah Nyonya di rumah aku hemm? Bahkan saat ini kamu tengah hamil anak suamiku!" tanya Luna dengan nada tinggi. Suanasa sudah semakin panas dan tak terkendalikan apalagi foto di layar terus ditampilkan, adegan panas walapun di samarkan, tetap merkea bisa melihat betapa panasnya Laras dan Ariel melakukan adegan itu seakan akan tak merasa bersalah. Bahkan hasil percakapan mereka juga di tunjukkan dengan jelas sehingga semua orang bisa melihat dan membacanya.


"Luna, tolong hentikan semua itu?" bentak Ariel yang juga malu karena hal privasinya di pertontokan seperti ini. Ia malu sama orang tuanya dan saudara-sauradanya yang hadir di sana. Ia malu karena ketahuan bahwa ia telah bermain hati dengan sahahabat istrinya sendiri. Ia juga taku kehamilan Laras kenapa napa karena tekanan dari Luna.


"Kenapa? Mas Ariel malu Hah?" tanya Luna sinis.


"Jangan sampai Laras kenapa napa gara-gara sikap kamu yang kekanak-kanakan itu, Lun. Saat ini Laras tengah hami anakku," ucapnya mengakuinya sendiri tanpa sadar hingga membuat orang orang pada geram.

__ADS_1


"Kamu hanya memikirkan kandungan Laras, terus gimana dengan kandungan aku!" bentak Luna.


"Apa maksud kamu Lun? Ka ... kamu hamil?" tanya Ariel tak percaya.


"Ya dan kehamilan aku sudah tiga bulan lebih, apakah selama ini kamu ada waktu buat aku, Mas. Kamu terlalu sibuk bermesraan dengan Laras sampai kamu lupa sama aku, lupa bahwa kamu punya istri yang harus jadi perioritas kamu," ucap Luna menangis.  Ia megnsuap perutnya yang ternyata emang menonjol membuat Ariel merasa lemas, tak menyangka jika anak yang ia nanti-nantikan sudah hadir di sana.


Mendengar hal itu membuat Ariel dan semuanya pun semakin kaget, karena Luna tak terlihat seperti orang hamil, mungkin efek baju yang Luna pakai terlalu longgar hingga terliaht samar.


Mendengar hal itu, papanya Ariel langsung menampar Ariel dengan keras.


"Dasar menjijikkan. Aku membesarkan kamu bukan untuk jadi laki-laki pecundang, bukan untuk jadi laki-laki tak bermoral seperti ini," ucap Papa Ardi menahan rasa malu, ia segera pergi dari sana karena gak sanggup menampakkan muka di depan saudaranya, di depan besannya dan di depan banyak orang.


Mama Ila pun menghampiri Ariel dan juga menamparnnay berulang-ulang. "Mama kecewa sama kamu. Terima kasih sudah melempar kotoran ke muka orang tua kamu sendiri. Mulai sekarang, jangan pernah sekalipun kamu muncul di hadapan Mama, karena Mama gak punya anak sebrengsek kamu. Kamu menyakiti Luna, sama seperti kamu menyakiti Mama. Dan selamat, atas rasa sakit dan rasa malu yang sudah kamu lakukan buat Mama dan Papa," ujarnya, ia pergi menyusul suaminya yang pergi lebih dulu entah kemana.


Laras pun dari tadi tak henti hentinya mendapatkan pukulan dari orang tuanya dan saudaranya sendiri. Mereka gak menyangka jika Laras akan bertindak seperti ini, padahal selama merantau, Laras gak mengirimkan uangnya dengan alasan bayar kontrakan dan untuk biaya hidup. Nyatanya selama ini Laras tinggal di rumah yang sudah di bayar lunas oleh Luna. Mereka malu sama Luna dan keluarganya karena sudah menyakiti Luna dan membuat rumah tangga Luna jadi berantakan.


"Dasar wanita murahan, gak punya otak. Kalau tau kamu pergi ke sana untuk menjual selangakangan kamu dan menghancurkan rumah tangga Luna, lebih baik aku tak izinkan kamu pergi ke sana. Di kasih hati, malah kau khianati sahabat kamu sendiri. kamu gak mikir hidup kamu enak itu dari mana Hah?" tanya Ibunya sambil menarik rambut Laras. Ia tak lagi peduli saat Laras meringis kesakitan. Bapaknya luna pun hanya diam, namun ia merasa hancur, hancur karena sudah salah mendidik putrinya hingga semua ini terjadi.


"Sudahlah, Bu. Kita tinggalkan anak ini. Malu di lihat orang," ucap Pak Rahman, bapaknya Laras.


"Bapak tunggu kamu di rumah," bisik Pak Rahman, lalu ia menyeret istrinya pergi dari sana dengan hati menangis. Mereka datang ke sini dengan hati bahagia, namun mereka pulang dengan hati merana karena ulah putrinya sendirii.


Sedangkan saudara-saudara Laras pun menghina Laras dan mencaci maki Laras atas sikapnya yang tak bermoral itu. Diajarkan agama dari kecil, malah seperti ini jadinya. Merkea menjadi jijik dan ilfil melihat Laras yang terlihat menyedihkan itu. Apalagi orang-orang juga mulai melemparkan Laras dengan makanan yang ada di tangan mereka, tak peduli lagi itu makanan enak. Karena mereka terlalu benci melihat kelakukan Laras dan Ariel yang sangat menjijikkan itu. Sebagian tamu ada yang pulang membawa makanan karena gak mau ikut campur, sebagian lagi masih melihat ke layar dan melihat betapa ganasnya Laras di atas ranjang, walaupun di blur, mereka masih bisa melihat betapa Laras sangat menikmatinya tanpa memikirkan bahwa ada hati yang terluka.

__ADS_1


__ADS_2