Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pertengkaran Ariel dan Luna


__ADS_3

Dua Minggu sudah Diana di rawat di rumah sakit dan Alhamdulillah keadaannya sudah membaik, Diana sudah bisa bab dan pipis yang banyak, dan sudah mau minum susu atau air dan makan MPASI yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Serta kadang makan biskuit nya untuk camilan.


Wajah Diana juga sudah tidak pucat lagi, dan kembali ceria merangkak ke sana kemari, hingga membuat Ariel mengawasinya secara ekstra agar jangan sampai putrinya kena bentur apapun. Ariel benar-benar menjaga Diana dengan sangat ketat sekali.


Dan saat Diana berdirii memegang kursi, di situ Ariel memilih duduk di belakang Luna, berjaga-jaga misak Diana jatuh atau apa, ia bisa langsung menangkapnya.


Selama Ariel yang menjaga Diana, Luna erus diam-diam memperhatikannya.


"Mas?" panggil Luna.


"Iya," jawab Ariel.


"Besok Diana sudah boleh pulang," ucap Luna mengingatkan. Mendengar hal itu, entah kenapa dada Ariel terasa sesak.


"Mas maunya gimana? Diana sudah lengket sama Mas Ariel dan seakan tidak ingin menjauh," tanya Luna.


"Aku pasrah aja, terserah kamu."


"Bagaimana jika Mas Ariel ikut aku pulang, ayo kita jaga Diana bersama-sama."


"Bagaimana dengan Dion?"


"Dia kan ada di Bandung mengurus pabriknya, hanya sesekali aja datang. Emang kenapa?" tanya Luna. Ia berfikir jika Ariel mungkin cemburu jika Dion datang ke rumah itu. Bagaimanapun dulu itu adalah rumah milik Ariel, yang di bangun dengan susah payah.

__ADS_1


Sedangkan Ariel menangkapnya dengan berbeda, ia berfikir Luna dan Dion lagi LDR. Sudah menikah, hanya saja Dion terpaksa pulang ke Bandung karena pekerjaannya sedangkan Luna menetap di sini karena dia punya rumah di Jakarta, apalagi Luna juga punya resto yang harus di kelola.


"Aku gak mau, lagian kita sudah jadi mantan. Dan dalam Islam tidak di perbolehkan tinggal satu atap lagi. Atau nantinya bisa terjadi hal tak terduga. Aku gak mau itu terjadi," tolak Ariel dengan halus.


"Lalu bagaimana dengan Diana. Kamu sudah tidak menemaninya selama dia berada dalam kandungan, dan sampai umurnya delapan bulan, kamu baru datang. Kamu tega, membiarkan Diana kekurangan kasih sayang. Dia juga butuh sesosok Ayah, dia butuh kasih sayang kamu, Mas. Apalagi dia terlihat bahagia saat ada di dekat kamu, bahkan sepertinya Diana lebih menyukai kamu dari pada aku. Sejak kamu datang, dia seakan tidak mau lepas. Padahal kalau sama aku, dia biasa aja bahkan saat aku kasih ke Bibi Imah dan Bibi Neni pun tidak menangis. Tapi sejak kamu hadir dalam hidupnya, Diana cuma fokus sama kamu dan mainannya. Aku tidak mungkin tidak membiarkan Diana jauh dari Ayahnya lagi," ujar Luna yang tak ingin egois. Luna ingin memprioritaskan Diana dari pada dirinya sendiri. Lagian dirinya sudah beberapa kali ceroboh dan hampir membuat putrinya itu kehilangan nyawa.


Ah, jika ingat itu. Kadang Luna ingin memukul kepalanya sendiri karena tidak becus jadi seorang Ibu.


"Lalu maumu bagaimana? Aku tidak bisa memperlakukan kamu seperti dulu lagi, karena kamu bukan istriku. Kita bisa bertemu dan mengobrol itu karena ada Diana di antara kita." tutur Ariel tegas. Walaupun dia masih sangat mencintai Luna, namun sekali lagi, Luna bukan lagi miliknya dan Ariel sudah belajar ikhlas akan hal itu.


"Aku juga tidak butuh perhatian kamu, tapi tidak dengan Diana. Dia butuh kamu, Mas," balas Luna.


"Tapi kalau kita tinggal satu atap itu bahaya, kamu harus juga jaga diri kamu, kehormatan kamu, aku gak bisa seenaknya seperti dulu, Lun. Tolong mengerti aku. Aku akan tinggal di apartemen deket rumah, misal Diana menangis, panggil aku aja. Nanti aku akan datang, tapi aku gak akan masuk ke rumah itu. Cukup kita bertemu di luar rumah, di teras mungkin agar tidak timbul fitnah."


"Panggil kamu? Lalu bagaimana jika Diana menangis karena kamu tidak ada di sampingnya? Diana butuh kamu dua puluh empat jam," ujar Luna.


Memang agak susah jika ada anak di antara mereka, sedangkan mereka bukan lagi duami istri. Ariel juga gak bisa dekat dengan Luna karena tidak ingin merusak hubungan Luna dan Dion.


Belum lagi, Ariel masih mencintai Luna, ia tak ingin kembali stres karena masalah dirinya yang masih belum bisa move on seratus persen.


Walaupun saat ini hati dan pikirannya kadang bisa dialihkan dengann kehadiran Diana, tapi tetap saja, ada kalanya Luna juga menganggu fikirannya.


Ia juga masih trauma dengan kejadian dulu, bagaimana ia harus terpuruk dan kehilangan Mamanya. Walaupun sudah belajar ikhlas, kadang trauma itu masih ada dan sampai dibawa ke alam mimpi.

__ADS_1


Papanya juga sampai detik ini, masih harus menenangkan dirinya. Masalah dengan tetangga dan saudara juga belum selesai. Semuanya masih amburadul.


Bahkan Ariel juga kehilangan semua teman-temannya, sahabatnya dan juga rekan kerjanya. Untungnya itu tidak mempengaruhi saham miliknya. Jika sampai terpengaruh, mungkin ia akan kere, sekere kerenya dan kehilangan sumber keuangannya. Untungnya Tuhan masih menyayanginya hingga ia masih bertahan dengan uang yang masih mengalir tiap bulannya.


Banyak hal yang harus di pikirkan oleh Ariel, ia tidak bisa hanya menuruti keinginan Luna lagi seperti dulu, yang akhirnya malah membuat dirinya hancur.


Ia harus bersikap tegas, selain itu demi dirinya sendiri, ia juga lakukan itu demi Luna agar jangan sampai lagi-lagi menghadirkan orang ketiga dalam sebuah hubungan.


"Kalau kamu bawa Diana, lalu aku bagaimana? Aku juga gak bisa jauh dari Diana," papar Luna dengan nada sedih.


"Inilah kenapa dulu aku tidak menginginkan sebuah perceraian, akan ribet jadinya kalau sudah seperti ini," tutur Ariel.


"Aku tidak akan menggugat cerai, misal kamu tidak selingkuh!" tegas Luna.


"Dan tidak akan ada perselingkuhan misal kamu dengerin kata-kataku dulu, jangan bawa Laras ke Jakarta. Kamu gak mau dengerin perintahku dan malah membantahnya. Kamu juga tidak mendengarkan nasihat Bibi dan orangtuamu sendiri. Kamu selalu memihak ke Laras dan mengabaikan perasaan suamimu. Kamu mendorongku untuk terus mendekatinya, padahal aku sudah berusaha jaga jarak. Lalu jika sesuatu terjadi, semua masalah di limpahkan ke aku tanpa berfikir akar masalahnya dimana. Siapa yang memulai? Kamu juga selingkuh, jangan dikira aku tidak tau. Hanya saja kamu tidak sampai ke tahap seperti apa yang aku lakukan. Tapi apapun itu, selingkuh tetaplah selingkuh."


"Aku gak selingkuh!" bantah Luna.


"Baiklah, lalu apa namanya? TTM, teman tapi mesra?" tanyanya sinis.


Untungnya Diana sibuk main pianonya sehingga tidak menghiraukan di sekelilingnya.


"Sudah cukup perdebatan kita! Aku tidak ingin telinga putriku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya dia dengar." Ariel memilih diam untuk menenangkan hatinya, ia juga beristighfar dalam hati agar tidak lagi bergemuruh. Ia mencoba mengalihkan pikirannya lagi dengan bermain bersama dengan Diana.

__ADS_1


Sedangkan Luna, ia langsung pergi dari sana menuju taman, untuk meluapkan emosinya dengan tangisan.


Ia butuh menangis, untuk membuat dadanya tidak lagi terasa sesak. Entah sampai kapan semua ini akan seperti ini.


__ADS_2