
Sesampai di ruangan di mana Diana di rawat, tanpa ngetuk pintu lebih dulu, Ariel langsung membuka pintunya. Dan ternyata di sana bukan hanya ada Luna, tapi juga Dion, kedua orang tua Luna dan juga adiknya Luna. Namun Ariel tidak memperdulikan mereka, ia hanya berjalan menghampiri Diana.
"Papa, atit. Papa hiks hiks, atit Pa." Diana menjulurkan kedua tangannya ke Ariel. Tentu Ariel dengan senang hati langsung menerima uluran tangan putrinya itu lalu memeluknya dengan erat.
"Atit Pa, atit." Diana terus menangis di dalam pelukan Ariel. Sedangkan yang lain memilih diam.
Melihat keakraban anak dan Bapak, kedua orang tua Luna dan adiknya pun memilih untuk keluar dari ruangan itu. Dan kini hanya menyisakan Dion, Luna, Ariel dan juga Diana.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Ariel lembut. Melihat putrinya menangis seperti ini, tentu membuat hati Ariel melemah. Bagaimanapun ia tak ingin Diana terluka, sekecil apapun luka itu.
__ADS_1
Diana memegang kepala belakangnya dan benar saja, ada jahitan di sana. Membuat Ariel langsung mengepalkan kedua tangannya.
"Atit, Pa." Diana terus saja menangis, dan Ariel hanya bisa mengelus punggung Diana dengan pelan.
Ariel menatap Luna dengan marah, namun setelahnya, dia mengalihkan pikirannya dan fokus sama Diana.
Ariel ingin memarahi Luna, tapi ia tidak bisa. Ia tak ingin hubungnnya dengan Luna akan renggang setelah ini. Bagaimanapun ia harus tetap bisa menjaga hubungan baik dengan Luna karena di masa depan, dia dan Luna pasti akan banyak interaksi satu sama lain untuk membahas masalah putri mereka.
Benar, tak sampai sepuluh menit, Diana sudah mulai tidur nyenyak. Ariel pun membaringkan tubuh Diana di atas brangkar dengan sangat hati-hati sekali. Lalu ia menaruh bantal di sisi kanan dan kiri. Ariel mencium kening Diana cukup lama. Baru setelh itu, ia menatap ke arah Luna seakan meminta penjelasan.
__ADS_1
Luna ingin ngobrol di luar biar tidak menganggu tidur putrinya, namun Ariel menolak. Karena jika sampai dirinya ikut keluar, tidak ada yang menjaga Diana. Bisa jadi Diana akan jatuh dari atas brankar, karena anak kecil masih belum mengerti apa-apa.
"Baiklah, kita bicara di sini. Aku minta maaf, maaf karena aku lalai menjaga Diana," ucapnya dengan menghela nafas kasar. Seakan ia sangat menyesali apa yang sudah terjadi.
"Bagaimana Diana bisa jatuh?" tanyanya dingin.
"Waktu itu aku lagi sibuk sama keluarga aku, dan kebetulan Diana mungkin kecapean main terus bersama anak-anak seusianya. Jadi dia tidur lebih awal. Aku menaruh Diana di kasur aku dan menaruh bantal di kanan kirinya. Lalu aku pergi membantu orang tua aku untuk menyambut kedatangan Mas Dion dan keluarganya. Dan saat sibuk-sibuknya, tiba-tiba aku mendengar Diana yang menangis histeris. Saat aku lihat, Diana sudah jatuh ke bawah dengan kepala yang sudah berdarah. Mungkin karena tempat tidurku terlalu tinggi jadinya jatuhnya cukup keras. Sebenarnya aku sudah mengobatinya, namun Diana terus saja menangis dan akhirnya aku membawa Diana ke rumah sakit dan mendapatkan jahitan. Dan mungkin karena tak tahan nahan sakit, jadi Diana sempat demam hingga dokter memutuskan agar Diana tetap di rawat di rumah sakit selama dua sampai tiga hari untuk memastikan semuanya baik-baik aja. Maaf karena setiap kali Dania sama aku, Diana selalu terluka," tutur Luna menitikkan air mata.
Dion yang gak tega melihat Luna menangis pun langsung memeluknya. Melihat hal itu, tak ada rasa cemburu sama sekali, hanya saja Ariel merasa risih mereka bermesraan tepat di depan matanya. Namun ia cukup sadar diri untuk tidak menegurnya, bagaimanapun dulu, ia bahkan jauh lebih parah dari itu.
__ADS_1
Ariel yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti. Lalu ia menitipkan Diana ke Luna dan Dion. Karena Ariel mau keluar untuk menemui kedua orang tua Luna untuk meminta maaf secara langsung. Bagaiamanapun ia belum pernah meminta maaf atas insiden yang terjadi di masa lalu