Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Noah Dibuat Bungkam Oleh Luna


__ADS_3

Luna pergi ke rumah sakit membawa beberapa buah, seperti apel, pir, jeruk, strawberry dan salak. Entah mana yang mau di makan nanti, yang penting ia membawa beberapa buah itu. Apel empat biji, pir tiga biji, jeruk lima biji, strawberry sati mika dan salah satu kresek hitam, mungkin isi setengah kilo. Semuanya di kemas di keranjang yang Luna bawa dari Bandung. Tak lupa di atasnya juga di kasih camilan dan kue khas Bandung. Luna membawa sedikit, toh yang makan nanti pasti Noah. Tak mungkin Ariel makan makanan itu. Apalagi dalam kondisi sakit seperti itu.


Sepanjang jalan, Luna hanya bisa diam. Sesekali ia membalas pesan dari Dion yang kini masih dalam perjalanan menuju Bandung. Dion mengatakan jika pengacaranya akan datang seminggu lagi. Dan Luna pun menyiyakan. Sebenarnya bisa aja pengacaranya datang hari ini, hanya saja pengacara yang di tuju oleh Dion itu masih fokus dengan kasus perceraian rumah tangga orang lain, jadi harus gantian. Dan giliran Luna masih nunggu Minggu depan. Dan Luna pun hanya bisa berkata iya dan terima kasih. Karena Dion mau membantu dirinya bahkan membiayai masalah perceraiannya dan juga membiayai pengacaranya itu.


Sesampai di depan rumah sakit, Luna langsung turun setelah mengucapkan terima kasih ke sang sopir. Sebenarnya Luna malas untuk datang ke rumah sakit menjenguk suaminya itu, tapi ia juga gak bisa mengabaikannya begitu saja, bagaimanapun Ariel saat ini masih sah jadi suaminya, dan dia adalah ayah dari anak yang ia kandung. Jadi, ia gak bisa pura-pura cuek atau bersikap terlalu dingin pada suaminya yang tengah berbaring di rumah sakit.


Luna berjalan sambil menenteng keranjang yang cukup berat itu. Sesekali ia menaruh keranjang itu di atas lantai, agar ia beristrirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya menuju kamar Ariel. Setelah berjalan beberapa menit, ia pun sampai di depan kamar Ariel. Ia menghela nafas, dengan mengucap basmallah, ia pun mendorong pintu itu.


"Assalamualaikum," sapa Luna. Noah yang tengah memainkan hpnya itu tercengang melihat Luna ada di ruangan yang sama dengannya.


"Wa ... waalaikumsalam. Ka ... kamu kapan pulang, Lun?" tanyanya. Ingin rasanya ia memukul bibirnya sendiri, di saat seperti ini, kenapa ia malah menjadi laki-laki yang gagap.


"Tadi pagi jam sembilan. Maaf baru jenguk, karena Bibi Imah, baru ngasih tau barusan," ujarnya sambil memberikan keranjang yang berisi buah dan kue khas Bandung.

__ADS_1


"Terima kasih." Noah menerimanya dan menaruhnya di meja samping brankar.


"Mas Ariel belum sadar?" tanyanya sambil berdiri di samping brangkar sebelah kiri karena Noah sendiri ada di sebelah kanan brankar.


"Belum, kemaren kondisinya sempat drop lagi dan kejang-kejang," jawabnya. Noah bersyukur Luna masih mau menjenguk Ariel yang tengah sakit. Ia berharap dengan kedatangan Luna, bisa membuat Ariel lekas pulih. Karena Noah sendiri sudah bosan terus berada di rumah sakit menemani Ariel.


"Duduk, Lun." Noah memberikan kursi kosong kepada Luna. Luna pun menerimanya dan duduk di samping brankar, berhadap hadapan dengan Noah yang duduk di sebelahnya.


"Sakit apa kata dokter?" tanya Luna.


Luna yang mendengarnya pun hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Lucu ya," ucap Luna membuat Noah mengernyitkan dahi karena bingung maksud perkataan Luna apa.

__ADS_1


"Lucu gimana?" tanya Noah tak mengerti.


"Seharusnya yang sakit itu aku, yang stres dan depresi itu aku. Bukan Mas Ariel. Kan yang di selingkuhi itu aku. Aku yang sudah di khianati oleh suami dan sahabat aku sendiri. Tapi ini malah Mas Ariel yang sakit, kenapa seolah-olah di sini Mas Ariel yang jadi korbannya dan aku pelakunya," sahut Luna sambil menatap wajah Ariel yang begitu pucat.


"Saat aku melihat langsung perselingkuhan mereka di rumah aku sendiri, aku gak depresi tuh, malah aku bersikap biasa aja, seakan akan tak terjadi apa-apa. Seharusnya aku kan berteriak, menangis, memukul mereka atau membunuh mereka saat sedang asyik-asyiknya memadu kasih. Tapi aku membiarkan mereka menyelesaikannya di kamar mandi, satu satunya yang aku lakukan hanya saat mereka melakukan di kamar tamu, di saat itu aku menganggu mereka yang lagi enak-enaknya. Tapi aku tak sampai histeris, aku hanya menggaggu aktivitas mereka yang mungkin sudah hampir mencapai puncaknya," ujar Luna terkekeh. Noah yang belum pernah mengalami hubungan badan dengan lawan jenis pun hanya diam mendengarkan. Boro-boro mencapai puncaknya, lah mencicipi saja belum jadi Noah tak terlalu mengerti, namun ia faham jika saat ini mungkin Luna tengah menekan rasa sakitnya saat mengingat kejadian itu.


"Aku tak terlalu menyalahkan mereka, karena aku ikut andil di dalamnya. Yah, andai aku tak membawa Laras ke rumah, mungkin Mas Ariel masih setia sama aku dan tak tergoda oleh wanita lain. Namun aku juga tak mungkin terus menerus menyalahkan diriku, kan? Toh jika memang Mas Ariel mencintai aku, dia pasti akan tetap setia walaupun ribuan wanita di luar sana mencoba untuk merayu dan menggodanya. Tapi sayangnya, Mas Ariel kalah melawan hawa naf su. Dia bahkan malah berkali-kali melakukannya dengan Laras, di hotel, di resto, di mobil, dan di rumah. Bahkan saat aku memilih untuk pulang ke Jember lebih dulu, mereka malah asyik melakukannya siang malam di rumah itu tanpa memikirkan perasaan aku. Bahkan mereka juga menempati kamar utama yang selama ini menjadi kamar aku. Hebat, kan? Mereka melakukannya tanpa sadar jika di semua ruangan termasuk kamar aku di penuhi dengan banyak CCTV. Mereka gak sadar, bahwa apa yang mereka lakukan, aku bisa melihatnya dengan jelas, bahkan suara de sa han, mereka pun aku juga mendengarnya bahkan rencana mereka yang ingin menikah setelah mendapatkan restu dariku," ucap Luna yang ingin mengungkapkan perasaannya pada Noah.


"Aku juga sedih saat Mas Ariel membawa Laras memeriksa kandungannya, padahal saat itu aku juga tengah hamil. Aku sedih saat Mas Ariel menuruti semua ngidam Laras, sedangkan aku hanya bisa diam menahannya sendirian. Bahkan mereka juga mematikan hpnya, biar gak aku ganggu. Huefft ... jika di fikir-fikir, bukankah aku yang merasakan rasa sakitnya, tapi kenapa malah Mas Ariel yang tumbang? Apakah dia stres karena aku pergi bersama laki-laki lain dan bukan bersama dia? Jika Mas Ariel sampai tumbang gara-gara aku pergi bareng Mas Dion, lalu bagaimana perasaan aku saat melihat mereka bukan hanya jalan berdua, tapi juga berbagi keringat di atas kasur? Bukankah rasa sakit yang aku rasakan berkali-kali lipat dari pada yang di rasakan oleh Mas Ariel. Bahkan aku rasa seujung kukupun, dia belum bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya di khianati oleh orang terdekatnya. Yah, tapi Tuhan itu adil. Andai saat itu aku stres, mungkin itu juga akan berpengaruh sama janin yang aku kandung. Aku bersyukur Tuhan memberikan aku kekuatan, hingga aku bisa melalui semuanya sendirian," tutur Luna panjang lebar.


Noah masih diam mendengarkan. Entah kenapa Noah pun merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh Luna. Saat Noah melihat ke wajah Ariel, ia melihat Ariel menitikkan air mata. Noah ingat apa kata dokter kemaren. Walaupun Ariel menutup mata, namun telinganya berfungsi dengan baik dan bisa mendengar suara di sekililingnya. Ariel pasti dari tadi mendengarkan ucapan Luna hingga tanpa sadar menitikkan air mata.


"Walaupun Mas Ariel sakit, aku tetap akan menggugat cerai dia. Aku gak bisa menundannya hanya karena alasan Mas Ariel sakit. Aku tau, seharusnya aku menunggu sampai bayi ini lahir, baru aku menggugat cerai Mas Ariel. Namun aku gak bisa menahannya sampai selama itu, aku ingin segera bebas dan tak lagi terkekang oleh pernikahan yang hanya membuat aku sakit. Aku gak mau sampai stres yang bisa berakibat fatal pada bayiku."

__ADS_1


Noah hanya bisa diam, ia ingin mencegahnya, tapi ia hanya lah orang luar. Hanya Ariel yang bisa mencoba untuk mencegah agar perceraian itu tak sampai terjadi. Tapi melihat tekat bulat di mata Luna, Noah pun juga tak yakin, jika Ariel bisa membuat Luna mengurungkan niatnya untuk berpisah.


"Aku gak bisa lama-lama di sini, aku harus pulang. InsyaAllah besok aku akan ke sini lagi untuk membawakan kamu sarapan pagi. Aku titip Mas Ariel ya, karena aku gak bisa lagi menjaganya seperti dulu, saat semuanya masih baik-baik aja," ujar Luna sambil bangkit dari tempat duduknya. Setelah berpamitan, ia pun segera pulang dari sana. Karena entah kenapa, berlama-lama di ruangan itu hanya membuat dadanya begitu sesak.


__ADS_2