Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Mendengar teriakan Luna, Ariel dan Laras langsung melihat ke arah pintu dan mereka melihat Luna yang tengah berdiri di depan pintu dengan wajah memerah. Reflek Ariel langsung mendorong Laras hingga Laras terjatuh ke lantai. "Aw," ucap Laras karena pantatnya mendarat sempurna ke lantai. Tentu rasanya jangan di tanyakan lagi, karena sudah pasti sakit banget.


"Sayang, ini gak seperti yang kamu fikirkan. Tadi, Laras ingin memberikan laporan dan dia kesandung kakinya sendiri makanya jatuh ke pelukan aku. Maaf ya," ucap Ariel sambil menghampiri Luna dengan raut wajah memelas. Luna sendiri hanya bisa menghela nafas.


Mungkin Ariel masih berfikir jika Luna itu bodoh dan mudah di tipu, tapi sayangnya, Luna sudah tau semuanya. Namun Luna akan tetap pura-pura bodoh, karena ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Apalagi ia tau, jika Laras mendekati Ariel karena hartanya. Laras ingin seperti dirinya,  dan Luna tak akan membiarkan itu terjadi. Dia bukan wanita bodoh yang bisa mereka perlakukan seenaknya.


Laras segera bangun dan menatap sahabatnya itu.


"Luna, aku minta maaf. Tapi apa yang di katakan Mas Ariel itu benar. Kalau aku tadi tersandung kakiku sendiri, makanya jatuh ke pelukannya. Aku benar-benar minta maaf ya," tutur Laras dengan wajah yang di buat-buat. Membuat Luna muak melihatnya.


"Emang kalian tau apa yang aku fikirkan?" tanya Luna terkekeh. Membuat Ariel dan Laras saling pandang.


"Sudahlah, jangan di fikirkan, santai aja," jawab Luna sambil duduk di sofa membuat Ariel dan Laras menjadi tegang sendiri karena sikap Luna tak seperti biasanya.


"Kamu tumben ke sini, Sayang?" tanya Ariel sambil menghampiri Luna dan duduk di dekatnya.


"Enggak tau, kangen aja sih. Makanya aku ke sini, entah kenapa sejak kemaren firasat aku gak enak. Bawaannya tuh pengen deket ma kamu terus, Mas." jawab Luna dengan suara manja, ia juga menaruh kepalanya di dada suaminya itu, Laras yang melihat itu pun merasa cemburu, hingga ia melihat ke arah yang lain.


"Oh, maafin aku ya. Pasti karena aku akhir-akhir ini jarang ada waktu buat kamu, makanya kamu kangen gini," ucap Ariel sambil mencium pipi Luna. Andai tak ada orang, pasti ia akan menggosok pipinya itu, ia tak sudi di cium sama laki-laki yang sudah mencicipi wanita lainnya. Tapi demi akting yang sempurna, ia pun rela pura-pura bahagia.


"Makanya, Mas jangan sibuk terus dong," tuturnya manja banget.

__ADS_1


"Iya, lain kali aku akan kurangi kesibukan aku ya," ujar Ariel sambil menatap wajah Luna yang semakin cantik saja. Apalagi saat ini, Luna memoles wajahnya sehingga tampak memukau.


"Laras, kamu masih ada di sini. Aku fikir kamu sudah pergi, apa masih ada urusan dengan SUAMIKU?" tanyanya menekan kata suami, agar Laras sadar akan posisinya itu.


"Eh, gak ada kok Lun. Kalau gitu, aku pergi dulu ya." Dan setelah itu, Laras buru-buru pergi, tak lupa ia menutup pintunya dari luas. Dan kini menyisakan Luna dan Ariel di ruangan itu.


Setelah Laras pergi, Luna pun segera sedikit menjauh, ia menggeser duduknya agar tak terlalu dekat dengan sang suami.


"Kamu kenapa?" tanya Ariel yang merasa Luna sedikit menjaga jarak.


"Gak papa, Mas. Gerah aja rasanya," jawabnya tersenyum.


"Mas, Bulan depan ulang tahun aku ya," ucap Luna mengingatkan Ariel tentang tanggal dan bulan kelahirannya itu.


"Aku ingin ngerayaiin ulang tahun aku dong, tapi di rumah Ibu aku di kampung. Boleh ya, please. Aku juga kangen sama Ayah dan Ibu aku, karena akku sudah lama gak pulang."


"Tapi Mas di sini banyak kerjaan."


"Yah, Mas Ariel lebih memilih kerjaan ketimbang aku hem?" tanya Luna pura-pura marah.


"Baik deh, nanti aku atur agar aku bisa ikut kamu pulang ke kampung," jawabnya mengalah.

__ADS_1


"Makasih ya, Mas. Nanti bawa Laras juga ya, siapa tau dia kangen juga sama keluarganya yang ada di kampung," usulnya membuat Ariel menganggukkan kepala.


"Nanti aku yang akan bilang ke dia," tuturnya dan Luna pun mengiyakan saja. Toh ia punya rencana untuk membuat mereka jera agar tak seenaknya mempermainkan perasaan orang.


"Iya. Mas, apakah Mas masih mencinta aku?" tanya Luna membuat Ariel gugup.


"Kenapa kamu tanya seperti itu, Sayang?" tanya Ariel. Luna tersenyum sambil menatap wajah Ariel.


"Karena aku merasa Mas tak lagi mencintai aku. Jika Mas sudah gak sayang sama aku, bilang sama aku ya, Mas," ujarnya dengan mata yang berembun membuat hati Ariel terenyuh.


"Apakah karena tadi, makanya kamu berfikir Mas tak lagi sayang sama kamu. Padahal sudah Mas jelaskan, tadi itu gak sengaja Sayang. Itu gak seperti yang kamu fikirkan," ujar Ariel lagi membuat Luna hanya tersenyum miris. Sebodoh itu kah dirinya, sampai Ariel terus membohongi dirinya.


"Aku tau, aku tau kalau tadi itu ketidak sengajaan. Aku percaya sama Mas Ariel dan Laras. Aku percaya kalian berdua. Aku percaya karena Mas Ariel adalah suami aku, aku percaya karena Laras adalah sahabat aku yang sudah aku anggap seperti saudara aku. Aku percaya pada kalian karena Mas Ariel dan Luna adalah orang yang aku sayang. Aku yakin kalian gak akan tega menikam aku dari belakang, iya kan?" tanya Luna membuat Ariel tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Tentu, aku gak akan mengkhianati kamu. Karena kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai," jawabnya membuat Luna tertawa dalam hati.


"Iya, dan jika Mas sampai mengkhianati aku, Mas tau kan konsekuensinya. Kita sudah membuat perjanjian saat kita menikah dulu, jika Mas terbukti berkhianat, maka rumah dan seisinya, resto dan juga mobil sudah atas nama aku, dan akan resmi jadi milik aku tepat setelah kita bercerai. Aku harap, Mas gak akan lupa akan hal itu. Dan yah, Mas lihat aku. Aku cantik, aku ****. Jika Mas sampai berkhianta, bukan aku yang rugi. Tapi Mas Ariel, karena ketika aku jadi janda, aku pastikan akan banyak laki-laki yang mengantri untuk menggantikan posisi Mas Ariel," ucapnya penuh sarkas membuat Ariel tak berkutik.


"Kok kamu tiba-tiba bahas seperti itu."


"Aku hanya mengingatkan, Mas. Aku takut Mas lupa akan hal itu. Iya sudah aku mau pulang dulu ya, Mas renungi aja kata-kataku, okay," ujar Luna, sambil mengelus lengan Ariel sebelum akhirnya ia pergi dari sana.

__ADS_1


Saat ia akan keluar, ia melewati meja kasir. Ia hanya meantap Laras dengan senyuman, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Setelah itu, ia pun segera pergi dari sana.


__ADS_2